Perilaku Umat Saat Hari Raya Agama, Seharusnya Lebih Religius

Ada suatu informasi dari te-man yang sempat dapat keliling di beberapa negara di daratan Eropa. Konon di sana ada dua negara, katanya kegiatan beragama rakyatnya yang juga menganut agama tidak terlalu menonjol dalam ritual dan seremonial agamanya. Namun, beragama itu diwujudkan dengan langkah nyata menata hidup yang semakin bermoral dengan daya tahan mental yang kuat dan tangguh. Dengan langkah tersebut secara terus menerus menyebabkan perilaku umat semakin bermoral dengan mental yang semakin kuat.

Hal itu menyebabkan kehidupan bersama semakin aman, damai, sejahtera dan adil. Akibatnya, di negara tersebut penjaranya semakin sedikit penghuninya. Ada yang hanya 15 orang, bahkan hanya 10 orang. Rumah sakitnya hanya berisi di bawah 50 persen. Sedangkan, banyak negara, apalagi di Indonesia, kegiatan beragama sangat semarak dengan menghabiskan dana yang sangat banyak. Tetapi, apa yang kita saksikan. Penjara selalu melebihi kapasitas sampai tidak layak karena kelebihan penghuni. Rumah sakit juga demikian, selalu berlebihan penghuni. Ini artinya, kehidupan beragama masih belum berhasil; secara signifikan mencegah pelanggaran hukum.

Belum berhasil membangun manusia sehat, segar dan bugar secara jasmani dan tenang secara rohani untuk mendukung profesinya. Dalam berbagai media, sering kita baca dan saksikan bahwa justru saat ada hari raya keagamaan angka-angka negatif meningkat. Misalnya, meningkatnya pelanggaran lalu lintas. Meningkatnya mabuk-mabukan, kerusuhan massal, malahan meningkatnya judian, timbunan sampah meningkat, hidup lebih boros. Bahkan, ada media menyindir bahwa habis puasa kok celananya tidak bisa dipakai karena tambah gemuk. Padahal, nilai-nilai spiritual yang melatarbelakangi hari raya keagamaan itu sangat luhur. Kalau nilai-nilai spiritual untuk menjiwai kehidupan itu sangat jelas dan gamlang untuk meningkatkan keluhuran moral dan daya tahan mental.

Misalnya, beberapa waktu lagi umat Hindu di Nusantara ini akan merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Hari raya keagamaan Hindu disebut rerahinan. Kata rerahinan berasal dari kata ra dan rahina. Ra dalam bahasa Kawi berarti yang dihormati. Rahina artinya hari. Rarahina artinya hari yang sangat dihormati. Menghormati hari raya keagamaan logikanya mematuhi nilai-nilai keagamaan yang menjadi latar belakang hari raya keagamaan tersebut dirayakan. Dengan mematuhi nilai-nilai tersebut, semestinya umat penganut agama tersebut semakin mampu menunjukan sikap yang lebih religius dari hari biasanya. Setidaknya, tidak ada pelanggaran norma hidup seperti norma agama, kesusilaan, kesopanan dan norma hukum.

Misalnya, merayakan hari raya Galungan untuk mengingatkan umat Hindu agar mengedepankan upaya menyinergikan ilmu pengetahuan sebagai media menegakan dharma untuk memenangkan kehidupan dengan mewujudkan Raksanam dan Dhanam atau rasa aman, damai, dan sejahtera dalam masyarakat. Itulah isi teks Lontar Sunarigama mengenai Galungan yang menyatakan: Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang Jnyana Sandhi galang apadang jnaryakena bya-paraning idep. Artinya: Budha Kliwon Dungulan namanya Galungan mengarahkan terpadunya ilmu pengetahuan untuk membuat cerahnya hati masyarakat mengatasi kacaunya hati nurani (idep).

Tahap-tahapan perayaan Galungan demikian sangat jelas dinyatakan dalam Lontar Sunarigama. Misalnya, hari Sugian Jawa dinyatakan dalam Lontar Sunarigama: Pinaka mratistha bhuwana Agung. Sedangkan, Sugian Bali dinyatakan: Pinaka mratistha raga tawulan. Kata Jawa dan Bali dalam hal ini, tidak ada hubunganya dengan pulau Jawa dan Bali. Jawa adalah jaba artinya di luar diri, maksudnya alam semesta ini. Sedangkan, Bali dimaksudkan untuk memperhatikan kesucian kekuatan yang ada dalam diri manusia.

Bali itu dalam kamus Sansekerta artinya kekuatan yang maha agung. Ini artinya gunakanlah ilmu pengetahuan Jnyana itu secara terpadu untuk menjaga kelestarian Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Menegakan Rta untuk menjaga alam dan dharma menuntun umat manusia demikian seperti dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VII.14. Itulah modal dasar memenangkan kehidupan.

Selanjutnya, alam dan manusia dibina dengan menerapkan secara terpadu ilmu pengetahuan itu. Karena itu Embang Sugian dinyatakan: Anyekung Jnyana nirmalakena. Artinya padukanlah ilmu itu dengan sungguh-sungguh untuk mengatasi berbagai persoalan hidup sehingga umat jiwanya terang dan cerah seperti apa yang disebut dengan "galang apadang". Dengan jiwa yang "galang apadang" itu umat dapat menenangkan hatinya dengan mengatasi apa yang disebut dengan "Byaparaning Idep".

Dengan jiwa yang Galang apadang itu umat akan siap mengatasi Sang Kala Tiga Galungan, yaitu sifat yang suka bertengkar suka dengan kegaduhan yang disimbulkan dengan Butha Galungan. Ingin menang sendiri disimbulkan dengan Butha Dungulan, Butha yang ketiga adalah Butha Amangkurat yaitu sifat yang haus kekuasaan.

Butha Amangkurat itu bukan haus dengan pengabdian pada masyarakat, tetapi gila hormat untuk dilayani dan gila harta benda untuk hidup berfoya-foya. Ini artinya pada hari raya Galungan ini hal yang paling utama adalah menerapkan ilmu secara terpadu untuk meredam sifat-sifat yang digambarkan dengan simbol Sang Kala Tiga Galungan itu. Artinya, dengan merayakan Galungan umat seyogianya dapat mengatasi tiga sifat buruk itu dengan ilmu pengetahuan. Ini artinya ciri perayaan Galungan itu berhasil apabila keadaan umat semakin baik tidak ada pertentangan dalam mengatasi setiap masalah yang ada dalam hidup ini.

Kalau sungguh-sungguh ini dilakukan maka umat akan dapat mencapai apa yang disebut "Wiweka Jnyana" yaitu kemampuan membeda-bedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kesungguhan itulah yang amanatkan dalam Hari Panyajahan dan Wiweka Jnyana itu dengan Penampahan Galungan. Dengan modal spiritual itulah hidup ini dapat dimenangkan berdasarkan Dharma.

Source: Drs. I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Kliwon 31 Januari 2016