Perayaan Saraswati dengan Mengakrabi Kitab-kitab Suci

Peringatan atau perayaan suatu hari raya bagi umat Hindu adalah merupakan momentum untuk mengingat kembali, bahwa kita memiliki suatu petunjuk atau jalan pada setiap aspek kehidupan, memiliki pedoman kebenaran mutlak yaitu Veda (Sruti). Veda Sruti diyakini sebagai kitab wahyu yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Brahman), yang dikodifikasikan oleh Maharsi Vyasa (Rsi Vyasa Deva) dengan dibantu oleh beberapa murid-murid Beliau, selanjutnya kitab Sruti dijadikan sumber hukum pertama (Srtishuveda vidnevo) disamping sumber-sumber hukum Hindu lainnya seperti Smerti (kitab tafsir), Sila (prilaku orang sadhu suci), Acara atau Cistacara (adat istiadat yang telah turun-temurun) dan Atmanastuti (kepuasan bathin hasil musyawarah kelompok), semuanya itu sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia dalam menata kehidupan demi tercapainya kesejahtraan lahir dan kebahagiaan bathin di muka bumi ini, maupun dalam kehidupan setelah kehidupan ini, mengatur individu dan masyarakat baik dalam kehidupan sosial, maupun yang bersifat religius. Aforisme (Vedantasutra) yang disampaikan selalu relevan untuk mengatasi problem yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman atau pada setiap generasi manusia (manuvantara).

Wahyu (sabda) diturunkan dari zaman ke zaman, selanjutnya diajarkan melalui garis-garis perguruan kerohanian (parampara) secara lisan dari guru kepada murid (bhakta), kemudian setelah ditemukannya huruf barulah kemudian dibukukan menjadi himpunan (samhita) seperti Rg Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan Atharva veda. Kitab-kitab yang berisi himpunan mantra (samhita) tersebut ternyata tidaklah mudah untuk dipahami oleh manusia pada umumnya, kemudian oleh beberapa Rsi (orang suci) dibuatlah kitab tafsir (Smrthi) dengan bahasa yang lebih mudah, kitab-kitab dimaksud adalah kitab-kitab Dharma Sastra (petunjuk ajaran kebenaran) yang jumlahnya juga cukup banyak, namun yang paling terkenal adalah Manu-smrthi (Manuvadharmasastra) yang disusun oleh Bhagavan Brghu. Didalamnya berisi buah pikiran Mahai Rsi Manu, juga kitab Parasarasmrthi yang disusun oleh Rsi Parasara (ayah Sang Kresna Dvipayana).

Sang Kresna Dvipayana yang lebih dikenal dengan sebutan gelar Maharsi Vyasa, berpengetahuan sempurna, beliau menyusun juga kitab-kitab Purana dan juga Itihasa (sejarah). Karya terbesar Maharsi Vyasa adalah Itihasa Mahabharata yang tidak lekang ditelan zaman hingga saat ini, Itihasa Mahabharata terdiri dari 18 parwa (bagian) yang memuat seluruh peristiwa yang pernah terjadi di Bharatavarsa (India) pada ribuan tahun yang lampau (pada zaman Dvaparayuga) termasuk kisah kehadiran Sang Avathara Vishnu di muka bumi yang dikenal sebagai Sang Avhatara Kreshna.

Dalam Bhisma Parwa (salah satu parwa dari 18 parwa) karyanya itu Sri Kreshna menyampaikan wejangan sucinya kepada Arjuna yang bertindak sebagai murid (bhakta) saat menjelang terjadinya perang besar antara keturunan wangsa Kuru. Wejangan-wejangan Sri Kreshna dimulai ketika fenomena hidup yang dirasa bertentengan dengan idealisme yang diyakini oleh Arjuna. Ketika Arjuna menjadi gelap bathin, rasa putus asa, kehilangan sifat keksatriaannya serta ingin melalaikan kewajiban yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang keturunan ksatria. Dialog-dialog tentang kebenaran tersebut sekarang ini kita kenal sebagai kitab Bhagawadgita (nyanyian suci Sang Bhagavan) di dalamnya berisi filsafat Hindu (Veda, Vedanta dan Upanisad), yang terbagi atas 18 bab berisi 700 sloka.

Kitab Itihasa Mahabharata disusun oleh Maharsi Vyasa dengan dibantu oleh Deva Ganesha mendapat pujian dari Bhagavan Wararuci karena kelengkapan isinya yang serba mulia, paparan dialognya dapat mencerahkan mereka yang sedang dalam kegelapan pikiran, menuntun umat manusia untuk menuju ke jalan yang benar dan menghindari apa yang seharusnya dilarang untuk dilakukan. Intisari dari kitab Astadasa Parwa (18 parwa) itu dimuat pula dalam suatu kitab yang dikenal sebagai Sarassamuscaya (himpunan saripati satra suci, ajaran hidup yang luhur) yang disusun oleh Bhagawan Wararuci atau diyakini sebagai nama lain dari Rsi Katyayana, salah seorang Rsi yang sangat terkenal pada masa pemerintahan Raja Vikramadetya pada abad ke-5 S.M di India. Kitab Sarassamuscaya memuat nasehat-nasehat, ajaran kesusilaan, petunjuk praktis dalam menjalankan kehidupan sehingga tujuan hidup menusia yaitu "mokshartham jagadhita ya ca iti dharma" (catur purusartha) dapat dicapai.

Nasehat-nasehat dalam kitab itu juga disampikan dalam wujud dialog antara Bhagawan Vayspayana kepada Raja Jana Mejaya (cucu Arjuna) di kerajaan Astinapura pada saat menjelang dilakukan upacara Sarpa-yajna. Menurut G. Pudja, MA, SH. (teks terjemahan komentar, 1980 III) Sarassamuscaya diberi judul atau pembagian menjadi 34 Bab, berisi 511 bait (pasal).

Sekarang ini banyak pedharma wacana pada saat perayaan hari Saraswati menyampaikan dalam ceramahnya, bahwa "yang terpenting dalam peringatan atau perayaan hari Saraswati adalah tidak hanya seremonia belaka, tetapi setelah perayaan, persembahyangan ada pemaknaan yang mendalam dibalik itu, hari raya Saraswati hendaknya mengingatkan kita, bahwa tidak hanya datang ke Pura lalu mencakupkan tangan atau menaruh sesajen diatas kitab suci dan juga harus mau memahami isinya serta tidak kalah pentingnya adalah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari" paparnya.

Pedharma wacana yang lainnya juga menguraikan bahwa "Arjuna sebagai contoh, yang umat manusia bertindak sebagai murid untuk menerima ajaran dari Sri Kreshna, yang tertuang dalam kitab Bhagawadgita tersebut, sekarang ini sudah sangat mudah didapatkan, sudah banyak penyusun, Perilaku para Pandava (Putra-putra Pandu), Sanjaya dan Arya Vidura dapat dijadikan teladan dalam setiap langkah dan perbuatan kita" tambahnya.

Selanjutnya penulis berpendapat, bahwa pada praktiknya, membaca dan mengamalkan ajaran-ajaran kitab suci (kitab wahyu) atau kitab-kitab yang merupakan bagian (angga) atau yang mendekati kitab suci (kitab wahyu) atau kitab-kitab yang merupakan bagian (angga) atau yang mendekati kitab suci (upa) seperti Bhagawadgita dan Sarassamuscaya tergantung pada minat individu masing-masing. Setidak-tidaknya melalui momentum perayaan Sarasvati dapat diambil makna, bahwa persembahyangan adalah bagimana mengungkap rasa terimakasih yang telah diberi rasa keindahan, sehingga lahirlah keindahan-keindahan dari musik, nyanyian, tarian dan aneka rupa karya seni-seni lainnya.

Dengan melakukan upacara/upakara kita diingatkan untuk bagimana kita bisa mengerti semua rasa indah itu sebagai dasar bagimana kita menjaga hubungan sesama ciptaan Tuhan ini yang satu sama yang lainnya saling memiliki rasa ketergantungan. Di saat perayaan ada yang mengingatkan kita kembali kepada pentingnya menerapkan prinsip-prinsip dharma sebagai pedoman dalam kehidupan kita.

Momen ini pula kita gunakan untuk mencharge kembali kesadaran, sraddha dan bhakti kita supaya kembali mendalami ajaran filsafat (tattwa) agama Hindu sebagai dasar kerangka dasar agama yang utama. Dalam mengejar harta misalnya (harta benda) dan kama (kesenangan) manusia hendaknya selalu berdasarkan kebenaran (dharma) petunjuk sastra (dharma sastra) membenarkannya. Tidak jarang kalau petunjunk yang kita gunakan hanya meniru prilaku orang lain, maka bisa saja kita terbawa oleh arus yang salah atau melanggar aturan. Sebagai contoh bila kita ingin bepergian untuk menuju ke suatu tempat kita akan selalu mencari petunjuk arah (peta) kemana tempat yang kita akan tuju.

Kitab suci adalah petuntuk atau peta jalan dalam kehidupan manusia yang tidak pernah salah karena kitab itu ditulis oleh mereka yang berkompeten (Rsi, Maharsi, Rajarsi, Devarsi, Brahmarsi) tentu ditulis tanpa kebohongan sedikitpun, kecuali kita sendiri yang keliru dalam memahami, mengamalkan, serta menyebarkan ajaran agama adalah wajib bagi umat Hindu sesuai dengan porsi swadharma masing-masing sesuai yang diatur dalam catur warna (Brahma, Ksatria, Vesya dan sudra).

"Pemahaman akan isi kitab suci sedapat mungkin ditanamkan sejak usia dini menurut tingkatan umur dalam Catur Asrama (Brahmacari, Grehastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka). Dalam masa Brahmacari misalnya dalam usia 7-10 tahun anak-anak mulai diajarkan cara membaca. Pada usia 10-15 tahun kepada mereka dianjurkan belajar menghafal beberapa sloka (ayat), selanjutnya pada usia 20-25 tahun mereka sudah harus bisa mengamalkannya dalam kehidupan berumah tangga atau dalam pergaulan di masyarakat. Usia 25 tahun mereka hingga akhir hayat semestinya sudah melekat  dan membudaya  dalam kehidupan kita" demikian harapan yang ingin dicapai dalam setiap lomba (utsawa) pembacaan sloka (ayat-ayat kitab suci yang kita kenal denga sebutan Utsawa Dharma Gita, sebagi model pembinaaan kepada umat Hindu yang digagas Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Oleh: Rauh Ariawan
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010