Peran Tembang Dolanan dalam Pengajaran Hindu

Arus globalisasi yang mengalir deras akhir-akhir ini, ternyata membawa dampak yang besar bagi perkembangan kebudayaan masyarakat di Indonesia. Mengalirnya alat-alat canggih seperti televisi, telepon, handphone dan sejenisnya menyebabkan arus komunikasi menjadi semakin mudah. Orang tidak harus kesulitan mengirim kabar kepada teman atau saudaranya yang jauh. Cukup dengan "kriing" saja mereka sudah dapat mengirim kabar tersebut. Bahkan sekarang dengan canggihnya teknologi pada handphone cukup dengan sms (short message service) saja kabar atau informasi yang ingin disampaikan dari satu orang ke orang lain pun dengan mudah terkirim dan biaya untuk ini juga cukup murah.

Namun demikian, kecanggihan teknologi itu juga membawa keseluruhan arus informasi yang mengalir dari berbagai penjuru dunia tanpa adanya filter yang memadai. Budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia pun ikut terbawa arus ini. Lebih-lebih dengan adanya internet, masyarakat Indonesia pun semakin mudah dalam mengakses kebudayaan asing yang negatif.

Masuknya budaya asing yang tidak selektif tersebut membawa dampak yang besar dalam pendidikan kebudayaan di Indonesia umumnya dan di Jawa pada khususnya. Secara kognitif, Damami (2002:68 - 69) menilai bahwa dengan adanya arus informasi tersebut pendidikan budaya Jawa memang tidak mengecewakan, tetapi dari segi afeksi dan psikomotorik rasa Jawa seperti kepedulian sosial, sopan-santun dan sebagainya sudah semakin memudar. Sekarang ini banyak guru yang tidak dihargai oleh muridnya, orang tua mengeluh karena anaknya sering menentang dan durhaka kepada mereka, para pejabat dan aparat tidak bisa lagi dijadikan sebagai suri teladan dan masih banyak lagi lainnya. Kesemuanya itu menggambarkan keme-osotan kebudayaan di Indonesia (Jawa).

Soedarsono mengatakan bahwa lemahnya kebudayaan itu menyebabnya sebagian besar orang Jawa meninggalkan tata cara Jawa yang diwariskan oleh leluhurnya. Seraya mengutip apa yang pernah disampaikan oleh seorang pujangga Jawa zaman dahulu, Soedarsono menyatakan hal ini dengan unen-unen (semacam ungkapan) "cina walanda kari sajodho, wong Jawa kari separo". Ungkapan ini menurutnya lebih bermakna pada keniscayaan, interaksi antara budaya Jawa yang dahulunya dominan terhadap budaya asing. Keadaan ini menurut Damami lebih banyak disebabkan oleh lemahnya manajemen pengelolaan penggalian budaya Jawa.

Memang penggalian budaya semestinya harus dimulai sejak dini. Pengenalan budaya Jawa kepada masyarakat harus dilakukan dengan memulainya dari anak-anak karena anak-anak kelak yang akan menjadi tulang punggung bangsa sekaligus sebagai penerus budaya. Kepada merekalah masa depan budaya bangsa ini dipertaruhkan. Oleh karenanya sangatlah penting untuk mengenalkan dan mentransformasikan budaya leluhur kepada anak-anak ini sedini mungkin.

Untuk memperkenalkan budaya leluhur kepada anak-anak diperlukan kesadaran dan sikap telaten. Transformasi budaya dari satu generasi ke generasi pun memerlukan waktu yang cukup panjang ibarat evolusi kehidupan itu sendiri. Hal ini selaras dengan salah satu sesanti di Jawa yang menyebutkan "alon-alon waton kelakon" atau sebagaimana pepatah Bahasa Indonesia yang menyatakan "pelan tapi pasti".

Pentingnya Seni dalam Budaya

Guna pentransferan budaya dari generasi ke generasi sebagaimana disinggung di atas diperlukan suatu media yang tepat dan sesuai dengan objeknya. Dalam ilmu pendidikan, media tersebut sangat penting adanya bagi proses pembelajaran. Media itu tentunya media yang harusnya menarik untuk bagi anak-anak. Media yang dapat digunakan untuk membina dan memperkenalkan budaya leluhur kepada anak-anak tersebut adalah seni atau kesenian. Salah satu jenis seni yang tidak memerlukan sarana yang cukup rumit adalah seni suara. Setiap orang dapat melakukannya meskipun tidak sempurna.

Di Jawa seni suara ini dikenal melalui tembang atau sekar. Raden Mas Sudira atau yang lebih akrab dengan sebutan Gusti Pangeran Arya Mangkunegara Surakarta IV dalam Serat Wedatama menyebutkan secara tersirat bahwa keindahan tembang dapat membentuk moral anak. Pernyataan Sudira ini dilukiskan dalam sebuah bait Tembang Pangkur sebagai berikut.

Mingkar mingkuring angkara,
akarana karenan mardi shoi,
sinawung resmining kidung,
sinuba sinukarta,
mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,
kang tumrap neng tanah Jaiva,
agama ageming aji.

Terjemahan bebas :

Menghindarkan diri dari angkara.
Apabila hendak mendidik sang putra, (sebaiknya),
dikemas dalam keindahan syair.
Dihias agar tampak indah.
Supaya tujuan ilmu luhur ini tercapai.
Kenyataannya, di tanah Jawa, agama dianut raja.

Dari uraian tersebut, jelas sekali bahwa untuk mendidik seorang putra dibutuhkan kehalusan budi yang harus diformulasikan dalam bentuk kidung atau tembang (sinawung resmining kidung). Selain itu supaya anak didik tersebut dapat menguasai ilmu-ilmu luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang pada ratusan tahun silam (mrih kretarta pakartining ngelmu luhung). Dan kesemua itu adalah bagian dari budaya Jawa.

Dalam masyarakat Jawa sendiri, budaya nembang sudah ada sejak dahulu. Sebagian besar warisan budaya nenek moyang Jawa dikemas dalam bentuk tembang atau kidung. Salah satu tembang yang dahulu digemari oleh anak-anak adalah Tembang Dolanan. Konon jenis tembang ini dapat membentuk keluhuran watak dan moral anak. Tembang dolanan bukan hanya sebagai lagu nina bobok yang tanpa makna dan mesti dinyanyikan supaya anak lekas tidur. Lebih dari itu tembang dolanan adalah seni yang cukup menarik untuk dikaji. Karena di dalam seni ini terdapat misteri yang penting untuk kehidupan manusia.

Agama Hindu sendiri memandang seni sebagai suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Seni baik itu seni sastra, seni tari, seni rupa, seni suara termasuk tembang sebagaimana telah disinggung di atas merupakan media yang sangat cocok untuk mentradisikan Veda sebagai Kitab Suci Agama Hindu. Hal ini sebagaimana terungkap dalam Sarasamuscaya 39 yang menyebutkan :

ndan sang hyang veda, paripurna-kena sira,
makasadhana sang hyang itihasa, sang hyang purana,
apan atakut, sang hyang veda ring akedik ajinya, ling nira,
karnung hyang, haywa tiki umara ri kami,
ling nira mangkana rakwa atakut
.

Terjemahan:

Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari Itihasa dan Purana,
sebab Veda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahu-annya,
sabdanya "wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang kepada-ku", demikian konon sabdanya, karena takut.

Dari uraian Sarasamuscaya itu diketahui bahwa Veda sendiri dipelajari melalui Itihasa dan Purana. Itihasa adalah jenis karya seni yang termasuk susastra Hindu. Dalam dunia sastra Itihasa biasa dikenal sebagai epos besar yang tidak akan ditemukan pada jaman sekarang. Epos besar yang termasuk Itihasa adalah Mahabharata dan Ramayana. Di Jawa, Mahabharata dan Ramayana ini dikenal dalam bentuk sastra parwa, kekawin dan serat. Sastra parwa biasanya dibaca dengan cara palawakya, sedangkan kekawin dan serat dilagukan dengan suatu wirama atau tembang.

Jadi secara tidak langsung dengan melagukan tembang-tembang dalam serat-Bharatayuddha (Mahabharata), maka seseorang sudah belajar ilmu pengetahuan suci yang akan membawanya menuju pencerahan. Jika hal ini dipelajari oleh anak-anak sebagai generasi penerus bangsa maka kedepan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar.

Tembang Dolanan

Kata "tembang" merupakan kata atau istilah dalam bahasa Jawa yang berarti "lagu" (Mangunsuwito, 2002 : 263). Lagu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ragam suara yang berirama. Biasanya irama tersebut berupa rangkaian tangga nada yang tersusun secara urut dan harmonis sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang mengandung unsur-unsur keindahan atau estetik.

Budaya tembang sebagai ekspresi estetik mengandung ciri-ciri utama seperti : bersifat kontemplatif-transedental; bersifat simbolik dan bersifat filosofis. Sebagai ekspresi esetik, tembang kadang kala menimbulkan multi tafsir. Lebih-lebih ketika sang penulis tembang tersebut telah tiada, sebelum ia menafsirkan makna tembang yang ditulisnya. Menurut Darnawi (1982 : 11), tembang disebut juga dengan istilah sekar. Tembang memang berasal dari kata kembang yang mempunyai persamaan makna dengan kata sekar. Kata ini dapat diartikan sebagai bunga.

Bunga biasanya sering digunakan untuk mengungkapkan isi hati seseorang kepada orang lain yang mempunyai tempat spesial di hatinya. Suatu misal seorang remaja memberikan bunga mawar untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya kepada kekasihnya pada waktu Hari Valentine yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. Sebagaimana sekuntum bunga yang digunakan sebagai ungkapan hati seperti disebutkan di atas, tembang sendiri juga sering digunakan untuk mengekspresikan perasaan atau hati seseorang. (Bersambung)

Source: Miswanto l Warta Hindu Dharma NO. 499 Juli 2008