Pengruwatan dan Penyucian Dalam Cerita Rakyat yang Siwaistik

Kalau disimak dan dikaji di lingkungan desa-desa Adat di Bali banyak sekali terhadap versi cerita yang Siwaistis   yang   lebih   domestik. Dikatakan sebagai cerita-cerita yang aistis karena pada dasarnya mengungkapkan kebesaran dan kekuatan Siwa sebagai Istadewata yang dipuja dan dimuliakan. Dikatakan sebagai Istadewata yang lebih domestik karena eksistensinya amat merakyat. Casting figur-figur yang ditampilkan dalam cerita-cerita yang Siwaistis yang lebih domestik, itu pun bermacam-macam pula.

Dari figur dan tokoh yang berupa manusia, binatang, sampai bentuk binatang yang lebih sederhana. Termasuk juga para Dewa, tetapi akhirnya ending dari cerita-cerita yang Siwaistis yang lebih domestik itu akan disudahi oleh kemahakuasaan Siwa bersama saktinya Parwati (mountainees; Penduduk gunung/ putri gunug), Uma Bright and a type of beauty: tipe sinar kecantikan), Gauri (the Yellow or Brilliant = yang kuning atau cemerlang) yang semuanya masih berwujud Somia, setelah diruwat kembali atau disucikan oleh Siwa, dalam berbagai perubahan wujudnya. Pengruwatan, penyucian kembali sehinggga menjadi somia biasanya terjadi setelah shaktinya mengalami pemurtian, berupa Durga (the inaccessible: yang telah dapat diterima ataupun dalam pengertiannya sebagai Chandi dan Chandika (the fierece: galak/buas) dan Bhairawa (the terrible: hebat/mengerikan).

Dalam cerita-cerita yang Siwaistis yang domestik itu, yang biasanya dituturkan oleh para orang tua untuk menidurkan anak cucunya, biasanya bersumber pada berbagai mithologi atau pantheon Hindu yang tertulis dalam versi-versi Lontar Siwagama di Bali. Selanjutnya dikembangkan lagi dalam bentuk karya tulis maupun karya penuturan satua-satua Bali yang lebih domestik, agar selaras dengan kemampuan daya tangkap penghayat dan pengamalan ajaran Siwaistis yang merakyat atau menurut term para indoolog atau dalam dunia ilmu pengetahuan sosial biasa disebut secara domestik itu. (termasuk diselaraskan dengan daya nalar dan persepsi anak-anak yang mendengarkan penuturan satua-satua Bali yang Siwaistis itu pada waktu menjelang tidur, yang dituturkan oleh para orang tua.

Betapapun pengembangan versi, plot ceritanya, penambahan tokoh ceritanya, dari dewa sampai manusia ataupun binatang, tetapi endingnya tetap merupakan pengruwatan atau penyucian kembali, sehingga menjadi somia, berkat kemahakuasaan Siwa (Siwa Mahadewa) bersama saktinya, (apakah Parwati Dewi, Uma Dewi, Gauri Dewi) sampai pemurtiannya (perubahan wujudnya yang hebat) sebagai Durga Dewi, Chandi atau Chandika Dewi, Bhairawi Dewi bahkan sampai Kali Dewi (the black: kekuatan hitam).

Purana dan Panca Laksana

Kalau kita kaji lebih dalam lagi, terlepas dari aspek pengruwatan, penyucian kembali perwujudan tokoh-tokoh dalam cerita yang Siwaistis dari yang berbentuk kakawin, kidung, geguritan, sampai ke bentuk-bentuk cerita Siwaistis yang domestik, ada yang tanpa selaras dengan konsep Panca Laksana, yang merupakan lima butir pokok dalam konsep purana (old hence an anciant legend or tale of older times).

Menurut Amara Sinha, seorang Lexicographer Sanskrit, purana sebagai karya sastra yang tergolong upaweda pada umumnya mengungkapkan lima topik, yang disebut Panca Laksana: 1). Penciptaan alam semesta; 2). Peleburan dan Pembangunan pembaharuan kembali 3). Silsilah atau asal-usul para dewa serta kepala-kepala keluarganya 4). Masa kekuasaan para Manu, dari periode ke periode, yang disebut Manwantara, masa kehidupan atau periode kehidupan mana yang lamanya 4.320.000 tahun. 5). Sejarah raja-raja keturunan Surya dan Chandra.

Baik dalam Mahapurana maupun pada Upapurana, Panca Laksana dengan kelima butirnya atau aspeknya tersebut selalu tampak. (Yang tergolong Mahapurana ada 18 kitab yaitu Wisnupurana, Naradiya Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Keenam Purana tersebut tergolong Waisnawa Purana. Sedangkan Purana-Purana yang tergolong menjabarkan ajaran konsep pemujaan Siwa adalah Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga purana, Siwa Purana, Skanda Purana, dan Agni Purana. Sedangkan purana yang tergolong menjabarkan konsep pemujaan untuk Brahma adalah Brahma purana, Brahmandapurana, Brahma Waiwarta Purana, Markandeya Purana, Bhawisya dan Wamana Purana. Sedangkan yang tergolong Upa Purana, yang jumlahnya juga ada 18 Purana adalah Sanatkumara, Narasingha, "Naradiya, Siwa Purana, Durwasa Purana, Kapila Purana, Manawa Purana, Ausanasa Purana, Waruna purana, Kalika purana, Samba Purana, Nandi Purana, Saura Purana, Parasara Purana, Aditya Purana, Maheswara Purana, Bhagawata Purana, dan
Wasistha Purana).

Dalam pantheon Hindu yang kemudian, unsur-unsur Panca Laksana dari purana yang telah dikemukakan, selalu tampak terutama dari Maha-Purana. Bahkan dalam pantheon Hindu di Indonesia yang kemudian seperti yang dikonfigurasikan di dalam kakawin Semaradahana (Lahirnya Ganesa) beberapa unsur Panca Laksana Purana seperti yang telah dikemukakan tampak juga. Antara lain konsep penciptaan, silsilah asal-usul Ganesa, kepala keluarganya yakni Siwa dan Umadewi. Termasuk pula unsur Panca Laksana itu tampak dalam lontar Tattwakala (kelahiran Bhatara Kala) dan lontar Siwa Lingga (kelahiran Bhoma). Disamping itu kenyataan telah membuktikan, terlepas dari eksistensi unsur-unsur Panca Laksana dari purana (di atas, adalah terungkapnya peran Siwa yang tak terpisahkan. Sehingga pantheon Hindu yang telah dikemukakan adalah pantheon Hindu yang Siwaistis. Siwa sebagai Hyang Widhi berperan sebagai Pancipta (utpati), pemelihara (stithi) dan pelebur (pemralina). Dan konsep ini, tentu menurut mereka yang menganut ajaran Siwa.

Konsep-konsep yang Siwaistis, termasuk unsur-unsur Panca Laksana kalau disimak dengan teliti akan tampak juga dalam cerita-cerita yang lebih domestik lagi di Bali. Bahkan ada kekhasannya pula yang tampak yakni Pengruwatan penyucian, atau pemarisuda, sehingga menjadi somia kembali, walau sebenarnya konsep ini masih tampak selaras dengan konsep stiti dan Siwa masih tetap juga berperan. Contonya adalah dalam cerita-cerita I Sibakan, I Sudamala, I Mrereng. Dan yang terakhir ini sempat dikenal dan memasyarakat pada tahun 1953-1958 karena dijadikan lakon raja Roras dari sekaa Arja Gerana dan Arja Bon Bali. Topoh Mrereng biasanya diperankan seorang pragina (pameran) Kartala, yakni almarhum I Dembelan, seorang pemeran Kartala, kelahiran Banjar Batulumbang, Desa Adat Gerana Kec. Abiansemal Badung.

Hal yang perlu dipertanyakan, cerita-cerita Siwaistis yang lebih domestik yang biasa dituturkan di Bali apakah tersentuh juga oleh unsur-unsur Panca Laksana Purana? Hal ini belum jelas, karena memang belum pernah ada para sarjana yang mengungkapkan berdasarkan hasil-hasil penelitiannya. Berbeda dengan sastra-sastra kakawin dan kidung, tentunya tak dipungkiri lagi dengan adanya sentuhan konsep-konsep purana, karena para Rakawinya adalah orang-orang yang bijaksana dan intelek. Tampaknya berbeda dengan cerita-cerita rakyat di Bali yang tampak sangat Siwaistis, walaupun pengungkapannya secara lebih domestik. Di samping itu, pencipta satua seperti I Sibakan, I Sudamala, I Mereng, adalah tidak diketahui atau anonim. Walaupun demikian bobot kontekstual kehadiran sebagai Siwamahadewa, dalam satua-satua Bali yang Siwaistis ini, seperti halnya Kitab-Kitab Purana yang Siwaistis tetap dominan.

I Mereng Putra Bhatara Siwa, Yang Lahir Dari Paku Liking

Satu hal yang selaras dengan konsep pengruwatan, penyucian (penyudamala) dalam pantheon Hindu dari yang pure konsep kitab Purana, sampai yang tertulis dalam berbagai versi kitab Siwagama di Bali, sehubungan dengan pemurtian, sehingga menjadi somia kembali, adalah kelahiran tokoh-tokoh cerita yang jelek, dalam cerita Siwaistis yang lebih domistik itu. Ada yang lahir bermuka seliwah, seperti I Sibakan dan I Wereng, yang bermuka sebelah berwarna hitam dan sebelah berwarna putih.

Tetapi selalu diungkapkan memiliki 'high power' sehingga tokoh-tokoh cerita yang Siwaistis, yang lebih domestik ini selaslu merupakan tokoh yang 'The Bad Boy, The Bad Values, but they have the high power'. Tetapi setelah diruwat oleh Siwa dan Parwati Dewi biasanya selalu dalam wujud pemurtian akan menjadi ksatria yang sempurna, seperti halnya Sang Apsara adat Sang Widyadara. Contohnya adalah tentang kelahiran I Mereng, yang cerita ini juga semi legendaris karena kejadiannya berhubungan dengan tempat yang pasti, di daerah tertentu di Bali. Sinopsisnya adalah:

Dikisahkan di sebelah Timur Desa Kintamani, di Pedukuhan Tanah Abang, hidup Dane Jero Dukuh Abang dengan istrinya Ni Luh Lantari. Entah berapa lamanya Jero Dukuh Abang hidup mesra, tiba-tiha Jero Dukuh Abang sakit keras dan meninggal. Maka Ni Luh Lantari hidup menjanda. Jro Dukuh Istri, yang selalu mengikuti suaminya pada waktu masih hidup, dan bersama-sama menekuni Dharma. Ni Luh Lantari tidak lama berduka, ia segera mulai membina ekonomi rumahnya. Setiap hari ia harus mencari kayu api dan memetik sayur, yang dijualnya di pasar Kintamani. Pekerjaannya inilah yang mengusir kesepiannya menjanda.

Diceritakan Bhatara Siwa sedang ngagana di udara di atas hutan Pandukuhan Tanah Abang. Bhatara Siwa datang dari Gunung Semeru dan terus ke Gunung Agung, yang pada akhirnya melanjutkan ke Gunung Batur. Betapa indahnya pemandangan alam di sekitar Gunung Batur. Sehingga pada waktu menimati keindahan itu, diluar kesadarannya Bhatara Siwa mengalami 'kamanungsan' (Jawa) atau Katugan (Bali), kamanya meleleh keluar, jatuh ke bumi dan menimpa jukut paku yang kekeringan.

Menyadari hal itu, Bhatara Siwa segera berkata dan mengeluarkan kutuk pastunya, "Rupanya hal ini memang harus terjadi. Karena terjadi diluar kesadaranku semoga ada seorang wanita yang memakan paku jukut yang subur dan tumbuh kamaku, jah ta semat agar mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki". Setelah mengeluarkan kutuk pastunya, Bhatara Siwa kembali lagi ke Gunung Agung dan akhirnya ke Payoganya di gunung semeru.

Rumpun paku jukut yang kekeringan di kawasan hutan Pandukuhan Tanah Abang itu, setelah disirami kamanya Bhatara Siwa, tumbuh subur. Daunnya yang muda liking-liking. Demikian pada suatu saat, ketika Luh Lantari melakukan tugasnya, tibalah ia di tempat tumbuhnya paku jukut itu. Ia Kehausan dan kelaparan, segera ia tertarik pada daun paku yang muda itu. Setelah puas memakannya, juga dipetik dan dijualnya ke peken Kintamani.

Setelah lewat sebulan memakan jukut paku, Luh Lantari menjadi hamil, kemudian melahirkan bayi laki-laki, sehat tapi amat aneh. Yang sebelah berwarna putih dan sebelahnya berwarna hitam. Sang jabang bayi bermuka poleng, sehingga Men Balu Kajanan dan Men Balu Kelodan memberikan nama I Mereng kepada sang bayi.

Sejak kanak-kanak I Mereng telah sering mengikuti ibunya pergi ke pasar Kintamani. Setelah remaja I Mereng tak asing lagi dengan lingkungan pasar. Walaupun ia sering dihina dan diejek sebagai anak yang bermuka poleng, I Mereng tenang saja dan tak pernah menggubrisnya.

Demikian pada suatu pagi, diceritakan Prabhu Dharmakusuma yang diiringi oleh para bandandanya sedang duduk-duduk di Bale Bengong pasar Kintamani, yang sedang dihadap pula oleh Ki Bendesa Mas, karena Prabhu Dharmakusuma menghendaki Ni Luh Mas, anaknya yang cantik dan ayu kebetuan lewat ikut ke pasar. Ki Bendesa tidak dapat membantah, ia merelakan Ni Luh Mas menjadi permaisuri Prabhu Dharmakusuma.

Pada waktu itu Luh Mas terus duduk bersanding dengan Sang Prabhu di Bale Bengong Pasar, dan segera akan ditandu ke Puri Kelodan, istana Prabhu Dharmakusuma. Pada waktu itulah pada saat I Mereng lewat di sana tertumbuk pandang dengan Ni Luh Ma's. Pada waktu itu juga I Mereng jatuh cinta. Tanpa menghiraukan sikap-sikap atttikrama dsixatiti bhakti I Mereng segera duduk diantara Ni Luh Mas dan Prabhu Dharmakusuma. Tentu saja polah kurangajar itu tak dibiarkan oleh para bandanda yang mengiringi Sang Prabhu. I Mereng segera diseret dan dikririm ke puri Kelodan, terus dipenjarakan. Sang Prabhu dan Ni Luh Mas, dan segenap pengiringnyapun segera kembali ke Puri Kelodan.

Begiti Sang Prabhu Dharmakusuma tiba di Puri, terus meme-rintahkan agar I Mereng disiksa sejadi-jadi dan setelah itu harus dibuang ke setra. Betapa sedih hati Ni Luh Mas mendengar perintah Sang Prabhu yang tanpa perikemansiaan. Para prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung, segera melaksanakan perintah Sang Prabhu. I Mereng segera dikeluarkan dari penjara, terus disiksa sampai tak sadarkan diri. Tumenggung segera memerintahkan prajurit agar segera "melagbag" I Mereng dan segera membawanya ke setra. Para prajurit melaksanakan perintah itu. Selesai mengusung I Mereng yang telah melagbag, kemuidan di tinggalkan sendirian di setra.

Dalam kisahnya, I Mereng di datangi oleh Bhatara Siwa, yang membebaskannya, dan memberikan anugrah sebuah suling tiying gading, yang kalau dimainkan oleh I Mereng siapa saja menjadi luluh hatinya kalau mendenganya. Maka datanglah kembali I Mereng ke Bencingah Puri Kelodan. Ia duduk di Bale Tajuk sambil memainkan serulingnya. Ni Luh Mas terpikat hatinya, seperti ditarik hatinya ke luar bencingah. Ni Luh Mas Segera keluar bencingah, segera pergi ke bale Tajuk tempat I Mereng memainkan seruling¬nya. Betepa gembiranya hati mereka berdua. Tanpa sadar mereka berpelukan.

Melihat ulah I Mereng dan Ni Luh Mas yang tak bertatakrama itu, Ki Patih Murka segera melapor kehadapan Prabhu Dharmakusuma. Setelah mendengar laporan Ki Paatih, segera memerintahkan agar menghabisi I Mereng. Ki Patih murka beserta pasukannya segera melaksanakan perintahnya. I Mereng dengan senjata seruling gading tak melawannya, iapun tak terlawankan. Akhirnya Sang Prabhu sendiri yang maju menghadapi I Mereng, Sang Prabhu kalah dan tewas. Segeralah I Mereng abhiseka ratu dengan Ni Luh Mas sebagai pendampingnya, dengan gelar Mekel Jayakalangon. Tidak bergelar Prabhu, karena asal-usulnya yang tidak jelas, walaupun sebenarnyanya ia adalah putra Bhatara Siwa.

Keagungan Siwa

Demikian masalah sebuah contoh cerita yang Siwaistis yang domestik, yang banyak sekali versinya di Bali. Pada hakekatnya merupakan pengakuan keagungan, kemahakuasaan Siwa, sebagai Siwamahadewa, Sang Hyang Widhi bagi penganut Siwaisme.

Cerita-cerita seperti itu perlu dipelajari dan dikaji lebih dalam lagi dalam penghayatan ajaran Siwaisme yang utuh, walaupun penuturannya tetap dari mulut-kemulut oleh Sang Nenek kepada cucunya. Karena selaras dengan konsep-konsep dan methode serta sistem penyebarannya, ia tetap mengandung unsur-unsur Panca Laksananya kitab-kitab Purana. Terutama unsur ciptaan, genealogi, keluarga, pemimpin keluarga dan berkembang ke arah pengruatan, pamarisuda, sehingga menjadi somia kembali, ke wujud asalnya.

Dalam usaha penghayatan akan ajaran-ajaran Siwaisme yang utuh kebesaran, kemahakuasaan Siwa sebagai Widhi, bagi penganut Siwaisme pun segera terungkap dengan nyata. Tentunya, tak terlepaskan pula akan pengungkapan aspek-aspek ajaran Nyasa yang lainnya, seperti konsep perwujudan, aspek ajaran Nyasa yang lainnya seperti konsep perwujudanm aspek ajaran ketuhanan yang imanent dan transendental, yang mempunyai titik temu dengan sistem kehidupan beragama bagi Karmamargin dan Bhaktimargin yang di anut oleh sebagian terbesar Umat Hindu di Indo-nesia dan Bali pada khususnya.

Oleh: Ngurah Oka Supartha
Source: Warta Hindu Dharma NO. 534 Juni 2011