Pengekangan Indria Melalui Puasa

Agne vratapate vrataṁ
Cariṣyāmi tacchakeyaṁ tan me rādhyatām,
Idam aham anṛtāt satyam upaimi
(Yajur Veda I.5)

Artinya:
Ya Tuhan dalam wujud Anda sebagai Sang Hyang Agni …., Penguasa dari sumpah puasa, hamba bertekad untuk melaksanakan sumpah puasa. Semoga hamba mampu menyelesaikan sumpah puasa hamba ini dengan sukses. Bersama ini hamba bersumpah untuk meninggalkan kebohongan dan menjalankan kebenaran.

Ajaran Sanātana Dharma memberikan penekananan penting pada puasa karena ia merupakan dasar penting dari ajaran Veda. Upavāsa berasal dari akar upa dan vasa; Upa artinya dekat, dan vasa artinya tinggal. Upavāsa artinya praktik pengendalian diri dalam segala hal, khususnya pengendalian indria-indria dalam segala hal agar tidak tertlalu bebas bersentuhan dengan objek-objek indria, agar orang bisa datang mendekat pada Tuhan. Upavāsa yang dalam bahasa Indonesia menjadi puasa dikenal sebagai pengendalian diri terhadap makanan dan minuman.

Pepatah mengatakan "anda adalah apa yang anda maka", you are what you eat. Orang akan dibentuk menjadi apa dan bagaimana oleh makanan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya sebab makanan itulah yang akan menjadi apa dan bagaimana orangnya.

Puasa ada sangat banyak jenisnya, ada jenis puasa berdasarkan hari, tanggal/tithi, Naksatra (perbintangan), bulan, dan lain-lain yang menunjukkan ajaran Sanātana Dharma sangat kaya raya akan jenis-jenis puasa berikut dengan manfaatnya.

Secara kesehatan, puasa merupakan “alat” sangat penting untuk menghindari dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Sakit anu tidak boleh makan anu dan lain-lain. Semua hal itu sudah menjadi pengetahuan umum. Hanya masalahnya, kebanyak orang tidak bisa dan tidak mau mengontrol lidahnya. Ketika orang sakit datang kepada dokter, selain diberikan obat pasti akan diangjurkan jangan makan ini dan itu. Orang akan disuruh berpuasa.

Ayur Veda, yaitu ilmu kedokteran tertua di dunia, menyebutkan bahwa puasa akan mengembalikan kesehatan yang baik kepada orang jika puasa dilakukan dengan patuh. Menurut Ayur Veda, dalam tubuh ada dikenal yang namanya dosha, terdiri dari vāta (udara, merupakan gabungan unsur vāyu dan ākāśa), pitta (panas, merupakan gabungan unsur agni dan apah), dan kapha (air, merupakan gabungan antara unsur pṛthivi dan apah). Ketika terjadi ketidakseimbangan diantara dosha tersebut maka akan terjadi berbagai jenis penyakit di dalam diri seseorang.

Kitab suci Veda dan tradisi leluhur bangsa mengajarkan bahwa puasa tidak pernah dilakukan dengan tujuan melangsingkan tubuh dan lain-lain sejenis itu, tidak diakui dan dimasukkan ke dalam jenis puasa karena dilakukan tanpa tujuan serta tanpa doa. Puasa merupakan keharusan dilakukan bersama-sama dengan doa (sekalian dalam tata caranya). Pada hari pertama orang berpuasa, mereka akan mandi, kramas, berpakaian bersih luar dan dalam, lalu mereka menyalakan api Dīpaka dan melakukan sembahyang. Setelah itu mereka akan menempatkan setets air di telapak tangan kanan, lalu melakukan tekad Saṁkalpa bahwa mereka akan melakukan puasa tersebut dengan teguh hati tanpa gagal. Atau, dalam makna penegasan diistilahkan sebagai “dalam tekad hidup atau mati”. Setelah mengucapkan “sumpah Saṁkalpa” maka air tersebut dituangkan ke atas tanah dan mulailah mereka berpuasa sampai waktu yang ditentukan.

Menurut leluhur, mereka yang tidak pernah melaksanakan puasa tapa brata (hana mara janma tan pamihutang brata-yoga-tapa-samādhi), lalu bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon sesuatu, maka tujuan atau permohonannya tersebut tidak akan dipenuhi oleh Tuhan, dan mereka akan mendapatkan berbagai jenis kedukaan, kesedihan, dikelilingi oleh rajah tamah dan juga selalu hidupnya akan berada dalam keprihatinan, sakit hati. Tuhan akan menganugerahkan kebalikan dari apa yang akan diminta oleh mereka yang dalam hidupnya tidak pernah melakukan puasa (angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lěwih tiněmunya lara, sinakitaning rajah tamah inanděhaning prihatin).

Puasa berhubungan erat dengan pengekangan dan pengendalian indria-indria. Ketika orang menahan diri, mengekang indria, dan mengendalikan indria-indria tersebut kepada tujuan yang dituju, maka diam-diam dalam diri orang akan timbul kekuatan “cipta shakti” yang membantu terbukanya masa depan cemerlang. Kekuatan “cipta shakti” tersebut akan meminggirkan segala jenis halangan yang menghalang di depan  dan kemudian menciptakan masa depan yang gemilang. Seorang anak diberikan uang, dengan pesan, “Jika seribu rupiah ini kamu tidak belanjakan, bulan depan bapak akan berikan dua ribu rupiah…..” – si anak cenderung tidak akan membelanjakan uangnya. Setelah terkumpul jumlah yang cukup maka dalam pikiran anak tersebut akan berkembang berbagai “rencana-rencana indah”, barangkali untuk membeli buku, baju baru, atau membelikan boneka untuk adiknya. Daya cipta anak akan tumbuh berkembang akibat dari “puasa” tidak membelanjakan seribu rupiah yang diberikan oleh bapaknya.

Waktu kecil, emlihat orang berpuasa, saya merasa tercengang karena orang berpuasa bahkan ada yang tidak ke luar kamar sama sekali. Berpuasa bukan hanya mengekang diri dalam masalah makan minum melainkan juga dalam “makan dan minum” indria-indria lainnya. Sebagai orang tidak membiarkan lidah menikmati makanan dan minuman dalam waktu yang ditentukan, demikian pula orang tidak membiarkan indria-indria lainnya “bertemu” dengan objek-objek indria. Bagi orang yang memang bertekad melaksanakan puasa yang Upavāsa maka mereka akan mengadakan pengekangan suluruh indria dan bukan hanya satu indria.

Seperti anak kecil, semakin dimanjakan, apapun diminta, langsung dipenuhi. Sering bahkan anak tidak minta apa-apa, tetapi orang tua memberikan barang mahal menyenangkan, maka anak itu akan menjadi anak yang bertambah manja. Segala keinginannya harus dipenuhi. Anak tersebut juga akan kehilangan segala kemuliaan yang ada di dalam dirinya. Demikian pula, ketika indria-indria diberikan bebas bertemu dengan objek-objek indria maka selain orang akan menjadi semakin ketagihan, juga akan kehilangan kekuatan di dalam dirinya. Daya tahan tubuh akan menjadi semakin berkurang. Terlalu banyak makan akan menyebabkan berbagai jenis penyakit bermunculan. Terlalu banyak membaca akan menyebabkan orang membeli kaca mata, alias mata tidak akan dapat dipergunakan dengan baik sehingga memerlukan bantuan dari luar untuk melihat, berupa kaca mata. Demikian pula indria-indria lain termasuk pikiran, ia akan mengalami kelemahannya jika segala yang diinginkan olehnya segera atau langsung dipenuhi.

Upavāsa mengarahkan orang menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan bukan menjadi semakin lengket dengan ikatan badani. Upavāsa membentuk jiwa yang kuat dan mulia. Hanya jiwa yang kuat dari tempaan puasa yang akan mengangkat hidup manusia ke tingkat manusia sejati, manusia yang terbentuk jiwa raganya dengan sempurna.

Umat dapat memilih jenis puasa dari ribuan jenis puasa yang disediakan oleh kitab suci Veda. Ada yang memilih berpuasa sekli seminggu pada hari kelahirannya, ada yang melakukan puasa Senin dan Kamis, ada yang melakukan puasa pada hari-hari raya tertentu akan menyebabkan yang bersangkutan mendapatkan karunia luar biasa karena pada hari-hari raya tertentu “niskala” mengkaruniai jenis tertentu kemuliaan hidup.

Jika orang ingin berpuasa yang betul-betul Upavāsa, mereka dapat melakukan jenis Upavāsa yang dinamakan Catur Māṣya Vrata. Upavāsa ini dilakukan selama empat (catur) bulan (masha, mashya). Setiap bulan orang melakukan pantangan tertentu dan pada bulan terakhir, selama sebulan, mereka akan melakukan praktik spiritual berat. Sedangkan untuk makan, mereka akan makan hanya untuk sekali dalam sehari, hanya maka kichri (semacam bubur berbumbu) tanpa garam dan cara makannya adalah dengan duduk menghadap kea rah timur, ke dua tangan dilipat di belakang punggung, lalu memakan makanan kichri dengan cara memakai bibir sambil menunduk. Sesekali bangkit tegak maka ia tidak boleh melanjutkan makanannya. Sudah cukup makannya hanya segitu.

Puasa Catur Māṣya biasanya mulai sekitar bulan Juli s/d Oktober, pada Śayana Ekādaśi, Śuklapakṣa, bulan Ashadha, dan berakhir pada Prabhodini Ekādaśi, pertengan bulan suci Kārtika. Puasa jenis apapun yang menjadi pilihan untuk dilakukan, ia harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh dalam pengekangan indria-indria secara menyeluruh serta dengan tujuan pencapaian kesejahteraan hidup lahir-batin (sekala-niskala).

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggi Kliwon, 4 Juni 2017