Pengaruh Jiwa Hindu Terhadap Islam dan Kristen [2]

(Sebelumnya)

Pengaruh Hindu terhadap Kristen merupakan penelitian yang lebih menarik lagi, di mana ditemukan indikasi pertentangan di antara tradisi dan pengalaman di dalam pemikiran orang Kristen. Sikap tradisional adalah yang tercermin di dalam kidung Bishop Heber. Sejarahnya panjang. Sikap tersebut menggunakan kekuatan politik untuk propaganda religius. Saat ini sikap tradisional diwakili oleh Kari Barth dengan tulisannya yang terkenal "Dialectical Theology". Dia menandai agama-agama non-Kristen sebagai tandingan bagi Dunia Kristen, persekutuannya yang harus di hindari.

Respon seorang Kristen sejati terhadap keyakinan lain haruslah tanpa toleransi, katakan tidak!. Barth menulis: "Apakah Dunia Kristen tahu betapa dekat godaan, dengan sedikit saja penghianatan terhadap apa yang benar, untuk menghindarkan pertikaian dengan agama-agama asing tersebut? Apakah ia tahu bahwa dengan sendirinya dia mempersekutukan diri dengan agama-agama asing? Tindakan apapun untuk mengetahui apa yang bernilai di dalam agama lainnya harus dijauhi tanpa menoleh lagi ke belakang.

Dunia Kristen seharusnya lebih maju selangkah dari pada agama-agama apapun namanya, dan membiarkan mereka datang, menyampaikan kabar tentang satu Tuhan dan pengasihannya terhadap penderitaan manusia, tanpa menjalin sehelai rambut pun dengan "kejahatan". Kenyataannya agama-agama lain tersebut tak tersentuh. Laporan dari Komisi Pendidikan Kristen Tingkat Menengah di India, yang diawali oleh Dr. A. D. Lindsay, mengungkapkan pola Kristen sebagai berikut:

"Orang-orang Kristen meyakini bahwa mereka memiliki pedoman yang merupakan jalan keluar bagi masalah kemanusiaan dan dalam hal ini yang terjadi di India. Mereka percaya bahwa diri mereka adalah pembawa kabar baik yang ingin mereka bagikan juga kepada orang lain. Harapan dan keinginan mereka adalah bahwa India dapat menjadi penganut Kristen. Mereka tidak akan bisa menerima bahwa agama lain baik untuk masyarakat lain, bahkan semua agama pada dasarnya adalah sama dan bahwa setiap kelompok agama dalam pencarian untuk berbuat yang terbaik menurut agamanya."

Ini adalah tulisan tentang sikap Kari Barth yang lebih lunak, catatan selanjutnya, "ada hal kecil, baik dalam Hindu maupun Islam yang dapat menahan pengaruh ireligius dalam ekonomi dan determinisme psikologis. Laporan tersebut mencatat bahwa "karakteristik Hindu Modern adalah tidak mendiskriminasikan penghayatan-penghayatan.

Meskipun pandangan ini memiliki otoritas tinggi dan bertahan lama, hal tersebut tidaklah memperoleh dukungan secara umum. Bahkan dari biografi resmi tentang Yesus, dipahami bahwa Dia lebih mengerti dan lebih mengasihi daripada pengikut-pengikutnya.

Tidak dapat diabaikan perasaaan akan keagungan Tuhan dan pembedaan konsekuen pada upacara keagamaan yang jelas di dalam Islam, simpati yang mendalam terhadap penderitaan dunia dan cara pengosongan diri dalam pembebasan menurut ,Buddha, hasrat untuk bersatu dengan kenyataan sejati dalam Hindu, kepercayaan terhadap aturan moral di alam semesta dan keharusan menjalankan tindakan moral di dalam ajaran Konfusius. Adalah sulit dewasa ini untuk meyakini bahwa hanya ada satu agama yang memberikan wahyu surgawi dan yang lain tidak memilikinya.

Kari Barth menandai bahwa pandangan dan institusi Tuhan yang ditemukan pada agama-agama lainnya tidak dipersiapkan bagi penyempurnaan wahyu dalam Kristus melainkan salah arah. Dalam hal ini, Kari Barth mungkin didukung oleh pemikiran-pemikiran yang rumit, namun tradisi Kristen secara umum tidak berpihak kepadanya. Bahkan di dalam Kitab Perjanjian Lama, kepercayaan-kepercayaan lokal tidak dihancurkan, melainkan dibentuk kembali. Memang benar para Nabi menolak kultus Ratu Surga, namun kepercayaan tersebut diubah menjadi Bunda Perawan.

Kepercayaan agama Trinitas mendorong ungkapan yang memanipulasi bahwa mereka percaya satu Tuhan, dan bagian yang terbaik adalah dikatakan bahwa ada misteri yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Adalah sulit membedakan secara nyata: berdoa kepada Madonna, Para orang Suci dan Malaikat dengan upacara persembahan kepada Dewa-Dewa sebagai simbol Kemahakuasaan. Ajaran Kristen tidak berkembang dalam ketiadaan dan hubungan langsung di antara Tuhan dan jiwa.

Kristen muncul dalam kata yang penuh keraguan akan sekte-sekte dan perbandingan keyakinan, dan penggunaan apapun yang di peroleh. Palestina memberikan moralitas dan monothéisme, Seni dan filsafat Yunani, aturan dan pengorganisasian Roma, sampai Mistisisme dan persembahan sesaji Timur. Para Bapa Gereja tidak meniadakan keyakinan non-Kristen dengan cara-cara seperti pengikut Kari Barth. Clément tidak hanya seorang Pendeta Kristen namun juga seorang filsuf yang terpelajar, yang membaharui agama baru dalam kegembiraan pemikiran Yunani.

Demikian pernyataan Origen menanggapi kritik Celcus: "Saat Tuhan mengutus Yesus bagi umat manusia, hal tersebut tidah semudah terbangun dari tidur yang panjang, Yesus telah setiap waktu dan seterusnya berbuat kebaikan kepada umat manusia. Tidak ada perbuatan mulia di antara manusia yang pernah bisa dilakukan tanpa firman Tuhan yang menghampiri jiwa-jiwa mereka, sejauh kemauan membuka diri bahkan ruang yang sempit dalam jiwa tersebut sekalipun dapat menerima kerja firman Tuhan." "Itulah yang disebut agama Kristen", kata Agustine, "berada di antara agama kuno, dan selalu ada, dari awal mula umat manusia sampai (firman) Kristus datang sebagai daging, dan saat agama yang sejati, yang telah ada mulai dinamakan Kristen."

Pandangan yang kedua mengakui elemen surgawi di dalam agama lain di dunia, namun demikian terjadi argumen bahwa Kristen adalah puncak perkembangan agama. Kristen adalah mahkota dan kesempurnaan agama manusia, yang memenuhi persyaratan sejauh dibandingkan dengan semua agama lain. Sementara pada pandangan yang pertama, tidak ada pengakuan yang diberikan terhadap pekerjaan-pekerjaan roh agama lainnya, di sini dipahami bahwa agama lain juga mencari untuk mengetahui Tuhan dan melakukan kehendakNya, namun mereka hanyalah persiapan bagi agama Kristen, ini bagian yang unik.

Perbedaan antara Kristen dengan agama lainnya ada pada yang terbaik dan yang baik, yang baik adalah musuh bagi yang terbaik. "Tuhan, Yang telah berbicara di zaman kuno... dengan bentuk dan cara yang berbeda, di akhir zaman berfirman melalui PutraNya", ini menjelaskan bahwa dia yang telah bersabda dengan sempurna dan pada akhirnya. "Kristus memang cahaya yang sejati, terang dari terang yang abadi, sementara kita anak-anak manusia, membakar lilin, membakar gaharu, menyalakan segala macam yang dahtilu dinyalakan dengan pertolongan Tuhan, namun kini, lampu-lampu yang bernyala redup yang hanya memancarkan sinar lagi apabila dinyalakan lagi dengan mengisi kembali bahan bakar lampunya.

Mereka yang mengembangkan pemikiran ini, seperti Dr. Marnicol dan mendiang Dr. Farquhar, barangkali mempelajari kitab-kitab India dan ritus-ritusnya dengan tujuan menaturalisasikan agama Kristen. Namun demikian pada tingkatan tertentu proses ini dirasakan oleh mereka seperti menghadapi batu karang yang tidak boleh mereka abaikan begitu saja. "Ada inti mutlak dalam Kekristenan kami yang tidak dapat ditukar, atau dijual ataupun dibeli. Terjadi pertarungan antara Benar dan Salah. Selain Kristen tidak perlu terlepas dari agama-agama lainnya, Kristen juga tidak dikatakan satu-satunya yang sempurna, satu di antara berbagai usaha umat manusia.

Ada dua sikap yang biasa bagi semua misionaris agama. Setiap misionaris mengklaim bahwa dengan kesetiaan mutlak, sendirinya menemukan terang sejati sementara yang lain membawa orang pada kebutaan terhadap kebenaran dan mengumpan orang itu hingga jauh dari kebenaran. Ketika terjadi pencapaian ke arah pemahaman yang lebih mendalam, pengalaman tersebut menegaskan bahwa cahaya dalam agamanya seperti juga yang lainnya adalah bagaikan matahari di antara bintang-bintang, dan cahaya minoritas mungkin dapat ditole-ransi selama mereka dapat menerima keberadaannya yang kecil. (Selanjutnya)

Oleh: S. Radhakrishnan
Source: Warta Hindu Dharma NO. 520 April 2010