Pengampunan Dosa dalam Hindu

Sungguh malang nasib Bunga (bukan nama sebenarnya). Belum genap satu oton, ke dua orang tuanya sudah berpisah. Dia diajak oleh ibunya, yang kemudian kawin lagi dengan duda beranak tiga. Belum genap satu tahun berkeluarga, ibunya meninggal dunia. Bunga dipelihara oleh ayah tirinya. Dua tahun berikutnya, sang ayah tiri menyusul ibunya ke alam baka. Bunga dan kakak-kakak tirinya diasuh oleh keluarga bapak tirinya itu. Setelah menginjak remaja, keluarga pengasuhnya menyarankan agar Bunga juga sekali-sekali mengunjungi ayah kandungnya. Dengan diantar oleh kakak tirinya, suatu hari dia datang ke rumah guru rupakanya. Bunga menginap di rumah ayahnya, dan sang kakak tiri kembali pulang.

Malam itu adalah awal bencana gadis malang itu. Bunga diperkosa oleh ayahnya sendiri. Entah berapa kali nafsu bejat itu dilampiaskan, yang jelas kini telah terlahir seorang bayi mungil dari peremuan terlarang itu. Sang kakek, sekaligus ayah, bayi merah itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik terali besi, dan Bunga hidup dengan penuh nestapa. Masyarakat memvonis mereka sebagai orang-orang penuh dosa, para chandala, yang dosanya tak terampuni. Benarkah Hindu tidak menyediakan ruang hidup buat mereka? Apakah Bunga dan bayinya memang betul diliputi dosa yang tidak terhapuskan itu? Mengapa mereka harus menanggung dosa yang dibuat oleh roang lain? Jika itu benar, betapa fatalistiknya agama kita! Apakah Bunga dan putranya harus beralih ke agama lain agar dia bisa memohon pengampunan?

Menengok ke agama lain

Sebagai perbandingan, dalam agama lain, khususnya Islam, membebaskan diri dari dosa dapat dilakukan dengan tobat. Dalam Ensiklopedi Islam (terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta), fungsi dan tujuan tobat bukan hanya sebagai penghapus dosa, melainkan juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tobat berasal dari kata taba, yatubu, yang berarti kembali. Maksudnya, kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. Makna lainnya, kembali dari yang jauh menuju semakin dekat dengan Tuhan. Di sisi lain, para ulama meyakini, tobat adalah pembersihan hati dari segala dosa. Tobat dianggap sah dan dapat menghapus dosa jika telah memenuhi tiga syarat, yaitu : menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukannya, meninggalkan perbuatan maksiat itu, dan tidak mengulanginya.

Dalam agama Parsi, penebusan dosa dapat dilakukan dengan ketulusan hati melalui pengucapan gatha sakral. Penyesalan yang sungguh-sungguh akan membebaskan orang dari dosa-dosa yang dilakukannya. Pengakuan dosa itu harus dilakukan di hadapan seorang pendeta Parsi yang dikenal sebagai Dastur. Pengakuan yang sungguh-sungguh dan pembasuhan muka dengan air mata yang tulus dianggap cukup untuk menebus dosa seseorang. Berikutnya, agama Yahudi memberikan peluang untuk melakukan pertobatan dengan berpuasa, pemberian sedekah, mempelajari kitab suci Taurat, dan bila perlu penyiksaan diri.

Dalam agama Kristen, Tuhan ditampilkan sebagai pribadi yang mencintai, mengampuni, dan menebus dosa umat manusia. Tuhan mengutus putra tunggal-Nya, yang tetap tanpa dosa hingga akhir hidupnya. Bahkan, dia mengurbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia, seperti dilakukan terhadap binatang-binatang kurban di masa lalu. Kematian Yesus menunjukkan, bahwa Tuhan mencintai manusia dan siap mengampuni dosa-dosanya.

Pertobatan dalam Hindu

Menurut Ramanujacharya, dosa timbul dari tindak pendurhakaan kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada umat manusia, dan sastra-sastra Veda telah memberikan tuntunan agar kita bisa hidup di jalan Dharma. Sarasamuscaya 18 menyatakan Dharma dapat melebur dosa jagat tiga ini. 'dharma mantasakenikang triloka'. Sebelumnya, sloka 17 menyebutkan, bagaikan prilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikian pulalah orang yang melakukan Dharma. Dharma akan memusnahkan segala macam dosa. Sebaliknya, mereka yang melanggar Dharma akan dihukum dengan siklus kelahiran dan kematian (punarbhava) yang tidak jelas kapan berakhirnya. Semasih hukum Karma dan Punarbhawa mengikat kita, maka selama itu kebebasan (moksha) tidak akan tercapai.

Permohonan ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan diajarkan dalam Sruti. Melalui pemujaan kepada Varuna. Tuhan memberi peluang agar manusia bertobat. Disebutkan, "Bila melalui kehendak pikiran, kami melanggar hukum-Mu, sudilah Engkau tidak menghukum kami "(Rgveda VII.89.5). Mengingat mantram itu ada dalam Sruti, maka dapat dijadikan jaminan bahwa Tuhan Veda pun memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk melakukan pertobatan. Pertobatan, yang dalam Hindu disebut prayascita, dapat dilakukan dengan upacara samskara (penyucian dari luar) tetapi yang lebih penting adalan penyucian dari dalam diri, lewat tapa, brata, yoga, dan samadhi.

Manawa Dharmasastra II. 102 memberikan petunjuk, bahwa dosa terhapus dengan melakukan sandhya mengucapkan mantra Savitri. Mantra Savitri lebih dikenal sebagai Gayatri Mantram, karena memakai chanda Gayatri. Mantram tersebut sesungguhnya terdapat dalam Rgveda III. 62.10, serta Yajurveda 11.35 dan XXX.2. Itu berarti, mantra bait pertama Puja Trisandhya itu sesungguhnya sangat utama karena dapat menghapuskan dosa orang yang merafalkannya dengan penuh ketulusan hati, apalagi dilakukan
dengan berjapa.

Lewat upacara samskara, khususnya yang berkaitan dengan manusa samskara, kita sering menggunakan banten beakala (bayakaon), pengelukatan, prayascita, sampai sesayut guru piduka. Semua itu mengemban makna mengusir sumber dosa, pembersihan diri dari dosa-papa, dan permohonan maaf kepada Tuhan. Tindakan tersebut akan semakin efektif jika dilengkapi dengan penyucian diri dari dalam dengan asucilaksana. Yajur Veda XIX. 30 menyatakan bahwa kesucian (diksa) diperoleh melalui pengendalikan indria (brata). Brata sendiri adalah disiplin akan tapa.

Berikutnya, Manawa Dharmasastra V. 109, secara bertahap menuntun umat manusia melakukan penyucian diri mulai dari pembersihan tubuh dengan air, pikiran dengan kebenaran, jiwa dengan tapa brata, kemudian kecerdasan (buddhi) dengan pengetahuan yang benar (jnana). Kitab-kitab susastra, menegaskan perlunya melaksanakan japa, dan pemakaian bhasma (Wrhaspati Tattwa dan Panca Siksa). Bahkan, bhasma sendiri dianggap sebagai pelebur dosa. Lebih rinci lontar Silakrama menyebutkan bahwa prayascita mesti akukan dengan mandi, nyurya sevana, melakukan pemujaan, berjapa, dan melaksanakan homa (agnihotra).

Dari uraian di atas, prayascita sebagai bentuk peleburan dosa, telah diajarkan dalam Veda dan susastranya. Karena itu, permohonan dalam Tri Sandhya tidaklah sia-sia. Pada bait keempat mantram tersebut ada pengakuan penyembah yang penuh nestapa. "Papo ham papakarmaham papatma papasambhavah. Lebih lanjut, pada bait kelima penyembah memohon pengampunan kepada Mahadewa. Sang Penyelamat segala makhluk. Permohonan ampun atas segala dosa yang dilakukannya, disampaikan lagi pada bait keenam (terakhir). Om ksantavyah kayiiko dosah (ampunilah segala dosa karena perbuatan hamba), ksantavyo vaciko mama (ampunilah dosa karena ucapan hamba), ksantavyo manaso dosah (ampunilah dosa yang berasal dari pikiran hamba), tat pramadat ksama-svamam (ampunilah segala kelalaian hamba).

Itu adalah mantram harian umat Hindu, yang secara eksplisit pula menepis pandangan bahwa Hindu tidak mengenal pengampunan dosa! Pandangan itu keliru, karena Sri Krishna sendiri mewejangkan, bahwa orang-orang yang telah meninggalkan (menyelesaikan) semua swadharmanya, dan datang mohon perlindungan kepada Brahman, akan dibebaskan dari segala dosa (Bhagavad gita. XVIII. 66).

Brata Sivaratri

Mengingat Veda tidak banyak dikenal oleh masyarakat awam, maka para Maharsi membuatkan menu spiritual buat mereka dalam bentuk ceritera yang mudah dimengerti. Dalam kitab-kitab Purana, pengampunan atau peleburan dosa dikemas dalam bentuk brata Sivaratri. Brata yang dilakukan pada setiap purwanining Tilem, khususnya Maha Sivaratri pada Purwanining Tilem Kepitu, ditujukan kepada Dewa Siva. Berbagai kitab Purana menyebutkan keagungan dan keutamaan brata tersebut. Ada yang mengatakan mampu menyeberangkan penyembahnya dari alam neraka (Garuda Purana), ada pula yang menyatakan akan mendatangkan kebahagiaan dan kebebasan (Agni Purana).

Sementara itu, Padma Purana menyebutkan sebagai malam peleburan atau pembebas manusia dari kepapaan. 'Sivaratri wijneya sarvapapa paharini' atau 'tesam papaninasyanti sivaratri prajagarat'. Lebih rinci lagi, dalam Siva Purana disebutkan, bahwa di antara berbagai brata, seperti tirtayatra, dana punya, yajna, tapa dan japa, semua itu tidak ada yang melebihi keutamaan brata Sivaratri. Hal senada disampaikan dalam Sivaratri Kalpa 37, 7-8 : walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, membunuh orang tidak bersalah, congkah dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu lenyap dengan melakukan brata Sivaratri.

Label brata menunjukkan Sivaratri tidak cukup dilakukan sekali dalam setahun, tetapi harus setiap saat sepanjang hayat. Kata ratri yang bermakna malam mesti dimaknai sebagai kegelapan pikiran yang disebabkan oleh avidya dalam bentuk Sapta Timira, yang disimbolkan dengan Purwanining Tilem Kapitu. Brhadarannaka Up. 1.3.28 menyebutkan, tamaso ma jyotirgamaya, tuntunlah hamba dari kegelapan pikiran menuju cahaya suci-Mu, ya Tuhan. Agar bisa lepas dari peteng pitu, maka kita harus jagra, bangkit dari tidur (turu). Dalam Vrhaspati Tattwa, tidur berarti dibelenggu oleh indria dan berbuat menurut tuntutan nafsu (raga). Orang-orang demikian disebut manusia papa (khilap). Agar bebas dari papa, Deva Siva memberikan petunjuk, " ... yan matutur ikang atma ri jatinya ..." Maknanya, kesadaran akan sang diri. Orang yang sadar akan jati dirinya, bahwa dia atma bukan badan (deha), akan berbuat atas dasar kedasaran atma, sehingga bebas dari dosa.

Dalam kesadaran atma, orang melakukan upavasa yang pada akhirnya menyatu dengan Sunya. Upavasa berarti mendekatkan diri dengan penguasa, dalam hal ini Tuhan. Dalam aktivitas fisik diwujudkan dengan tidak makan. Mengingat makanan menentukan pikiran, dan pikiran menjadi pengendali perbuatan (karma), maka pengendalian pikiran secara langsung mengendalikan gerak karma kita. Monabrata yang berarti tidak berbicara, mengandung makna penyucian ucapan. Mona melahirkan kesunyian, yang merupakan simbolik Sunya, Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, secara simbolik brata Siwaratri membuat Tri Kaya menjadi suci (suddhi). Jagra menyucikan buddhi dan manah, upavasa menyucikan karma, dan mona memprayascita ucapan.

Upaya prayascita Tri Kaya menurut brata Sivaratri sejalan dengan petunjuk Lontar Agastya Parva yang bersifat Sivaistik. Lontar tersebut menyebutkan ada tiga cara untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan, yaitu tapa, yajna, dan kirti. Tapa mengandung makna pengendalian indria. Mereka yang tidak melakukan tapa, secara spiritual sesungguhnya adalah mayat (sava) berjalan. Berdasarkan pengendalian diri, orang-orang melakukan yajna, dan jadilah mereka penyembah yang mencintai Tuhan. Mencintai Tuhan tidak cukup dengan yajna semata, tetapi mereka harus melakukan pelayanan kepada makhluk lain, sebagai wujud fisik Tuhan. Pelayanan itulah yang disebut kirti, sadhana atau seva. Mereka kini menjadi orang-orang yang dicintai Tuhan, yang pada akhirnya mereka akan menyatu dengan Siva.

Orang-orang yang mendapat berkah Sivaratri akan memiliki keluarga bahagia bagaikan keluarga besar Dewa Siva. Dalam keluarga Siva yang pluralistik semua hidup harmonis. Kata keluarga sendiri berasal dari kata kula (=pelayanan) dan warga (=jalinan). Karena itu, keluarga bermakna jalinan pelayanan atas dasar cinta. Wahana Dewa Siva berupa lembu Nandini, sementara di leher-Nya melilit ular kobra yang sangat berbisa. Parwati, Sakti Dewa Siva, mengendarai singa, sementara kedua putranya, masing-masing Ganesha mengendarai tikus dan Kumara berwahana burung merak. Dalam kehidupan nyata, betapa susahnya menyatukan sapi dengan singa, ular dengan tikus, dan buruk merak dengan ular. Namun dalam keluarga Siva, semua itu bisa hidup berdampingan karena mereka memiliki cinta sebagai unsur pemersatu. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Source: I Wayan Suja l Warta Hindu Dharma NO. 481 Februari 2007