Pengalaman Sebagai Guru Utama dan Pengalaman Berguru [2]

(Sebelumnya)

Berguru-khususnya berguru spiritual bukanlah sekedar menimba pengetahuan spiritual dari sumurnya-yang adalah Guru itu sendiri melalui mendengarkan wejangan-wejangan atau membaca tulisan-tulisan beliau. Banyak peminat spiritual tampaknya masih berprasangka-keliru seperti itu. Bagi seorang siswa spiritual mengetahui, mengerti dan kemudian memahami apa-apa yang diajarkan, memang merupakan suatu keharusan. Inilah fungsi dari kehadiran seorang Guru. Tetapi itu belumlah cukup. Itu akan sangat mudah terhapus begitu saja, untuk kemudian digantikan dengan pemahaman yang lain, yang dianggap baru, yang dirasakan cocok oleh si siswa Guru yang baik di kemudian hari, menjadikannya siswa yang baik saja tidak.

Nah.... Sampai disini kita kita disadarkan kalau berguru spiritual jelas bukanlah sekedar menimba ilmu dan mengumpulkan pengetahuan dan mengkristalisasikan pengetahuan-pengaetahuan itu secara mandiri untuk menjadinya suatu pemahaman yang utuh. Beguru spiritual juga bukan sekedar berlatih dan berlatih, tanpa pengetahuan kemana sebetulnya kita diantarkan oleh latihan-latihan itu. Berguru itu sendiri sebetulnya merupakan proses ralisasi yang lengkap.

Memang benar kalau ada sementara Guru yang bisa langsung memberikan rasa plus pengetahuan secara sekaligus. Inilah yang disebut dengan berkah Sang Guru (guru-kripa) Namun sayangnya, Guru yang seperti ini sudah kian langka. Kalaupun masih ada, beliu tidak akan sering-sering memberi berkah seperti itu kepada siswanya kendati yang terkasih sekalipun. Kenapa? Bukan saja itu akan memanjakan si siswa, tapi memang tak begitu banyak hal yang mesti diberikan dengan cara seperti itu. Ini tergantung pertimbangan beliau saja apa yang perlu beliau berikan kepada siapa.

Pada sisi lain, tidak banyak siswa yang benar-benar layak menerima guru-kripa ini. Ini berkaitan erat dengan karma kehidupan sebelumnya (sancita-karmavasana) dari si siswa itu sendiri. Bagusnya adalah, seorang Guru dalam artian yang sebenar-benarnya akan tahu kalau beliau memang punya keterkaitan karma guru-siswa (guru-sishya) dengan sang siswa dari kelahiran-kelahiran lampaunya. Dan guru maupun siswa seperti ini agaknya kian langka di jaman ini. Hanya siswa-siswa seperti inilah yang kelak akan menjadi Guru untuk meneruskan garis-perguruan (guru-parampara) yang ada, melanjutkan tongkat estafet yang ada.

Bagusnya adalah, di jaman modern ini kita masih diberikan beberapa contoh akan guru-kripa itu. Sri Ramakrishna Paramahansa misalnya, pernah menerima berkah seperti itu dari Swami Vivekananda-justru ketika itu Swami Vivekanana sudah wafat; J.Krishnamurti pernah menerima berkah serupa dari Guru-nya, Mahatma Koot Hoomi; dan banyak lagi untuk disebutkan.

Fakta ini seharusnya tidak mengecilkan hati kita. Walaupun Guru yang bisa melihat calon siswanya, tapi tetap si calon siswa itulah yang menerima seseorang sebagai Gurunya. Tanpa itu, proses transmisi Guru-sishya tidak pernah mungkin dilangsungkan.

Pembelajaran-diri dan Pengalaman

Mungkin tidaklah begitu sulit bagi seorang untuk setidak-tidaknya mengambil hikmah dari apa yang dialaminya, atau bahkan memperoleh pembelajaran-diri daripadanya. Kitapun mewarisi ungkapan yang sangat mengena-"Pengalaman adalah guru utama". Namun apakah kita benar-benar bisa secara efektif menjadikan pengalaman kita sebagai guru utama?, merupakan sebuah pertanyaan yang senantiasa perlu dipertanyakan pada diri kita masing-masing dalam setiap kejadian yang kita alami.

Sementara itu, mesti diakui kalau tidak semua orang mampu untuk benar-benar bertindak efektif, dan tidak pada setiap kesempatan atau setiap kondisi memungkinkan kita bisa bertindak efekif. Padalah, pembelajaran-diri adalah persoalan pribadinya yang seharusnya berlangsung sepanjang waktu, seumur hidup. Ia jelas tak terbatas hanya di bangku hanya di bangku sekolah atau perkuliahan saja. ia bisa mengambil tempat dimana saja dan kapan saja di dalam kurun kehidupan seseorang.

Makanya, sesungguhnyalah tidak selalu mudah bagi setiap orang untuk benar-benar bisa secara efektif menjadikan pengalaman kita sebagai "guru utama". Dibutuhkan seporsi kecerdasan, kejelian dan ketajaman membaca situasi dan kondisi yang ada, pola penyikapan kreatif dan inovatif, kecermatan serta serta tingkat dan kewaspadaan yang tinggi pada setiap kesempatan. Sedikit saja lengah bisa berarti kehilangan momentum-momentum penting yang-sangat moleh jadi-merupakan materi yang sangat berharga bagi pembelajran-diri yang sedang berlangsung. Oleh karenanya, masalah pembelajaran-diri adalah juga masalah pengarahan perhatian betapa mestinya dalam intensitas secukupnya pula. Dan ini adalah meditasi.

Berkaitan dengan itu ada sebuah kisah purana yang amat mengena. Begini kisahnya: "Suatu ketika Hyang Siwa berhasrat menguji watak dan bakat dari kedua putranya- Dewa Kumara dan Dewa Ganesa, dimana sebagai jurinya ditunjuk Dewi Uma, ibu mereka. Beliau menyelenggarakan lomba mengelilingi alam semesta dari kedua putranya itu. Segera setelah mendengar perintah ayahandanya, Kumara bergerak cepat. Dengan mengendarai burung merak, wahananya, ia terbang mengelilingi semesta, namun tidak demikian halnya dengan Ganesa. Ia tampak masih duduk diam. Tentu saja hal ini mengherankan Uma, ibunya, yang dengan antusias menanyainya mengapa tidak segera pergi mengelilingi alam semesta seperti Kumara. Mendengar pertanyaan ibunya, Ganesa bangkit perlahan dan berjalan mengelilingi Hyang Siwa, ayahandanya".

Masih diliputi keheranan akan perilaku putranya yang satu ini, Dewi Uma menanyainya mengapa melakukan itu, padahal ini adalah lomba mengelilingi alam semesta. Masih dalam sikapnya yang tenang, didahului dengan sujud memberi hormat Ganesa berkata: "Wahai bundaku tercinta. Ibunda tentu amat memahami kalau alam semesta tiada lain dari tubuh ayahanda Siwa. Mengelilingi Beliau, sama artinya dengan mengelilingi alam semesta".
Mendengar jawaban dari putranya, dengan roman wajah sedikit kaget, Dewi Uma menoleh kepadanya Hyang Siwa yang telah tersenum sejak mendengar jawaban dari putra-Nya yang satu ini. Beliau mengangguk kecil kepada Dewi Uma tanpa setuju.

Hyang Ganesa dikenal sebagai sosok dewa yang punya intelijen tinggi, sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan Luhur. Beliau seringkali digambarkan dalam sikap duduk tenang, sikap meditasi. Melalui meditasi, Anda bisa secara efektif menjadikan setiap pengalaman Anda, setiap kejadian, sebagai guru utama. Dan oleh karenanya juga Anda akan bisa secara efektif melangsungkan pembelajaran-diri menyeluruh di dalam kehidupan Anda.

Semoga Cahya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011