Penerapan Asta Bratha dalam Mencetak Pemimpin Hidnu Modern

Sebagai pencinta dan pengelana buku tidaklah mengherankan jika buku-buku karya Anand Krishna ini menjadi populer sampai saat ini, salah satunya adalah buku Sel-Leadership ini. Pada bagian pertama Bung Karno berkata bahwa dia tidak akan pernah berhenti belajar, serta jangan pernah melupakan sejarah supaya kita bisa mengulangi sejarah masa lalu dan tidak mengulang kegagalan masa lalu. Nilai-Nilai Asta Bratha mengajak kita untuk hidup lebih alami sesuai dengan kodrat (wasana) kita sebagai anak alam.

Seorang pemimpin hendaknya senantiasa harus mempuyai sifat serta dapat menjalankan ajaran Asta Bratha untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam percakapan Anand Krishna dengan Ayu Dyah Pasha dijelaskan “One Earth, One Sky, One Humankind” yang artinya satu bumi, satu langit, satu umat manusia-satu kemanusiaan sesuai dengan sila dalam Pancasila ke-2 Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab”. Jadi tidak akan ada lagi perbedaan ataupun pembeda di antara manusia itu sendiri.

Kembali pada sosok pemimpin yang ideal adalah bila seorang pemimpin dapat menyehjaterahkan rakyatnya, dan sebaliknya jika tidak dapat menyejaterahkan rakyatnya maka ia bukanlah sosok pemimpin yang ideal. Dalam mencari sosok pemimpin yang ideal haruslah benar-benar orang yang memiliki sifat Asta Bratha, seperti dalam Sejarah Ramayana bagaimana Sang Rama memberikan nasehat kepada Wibhisana untuk bisa mengatur sistem Pemerintahan Alengka yang aman, tentram, makmur, dan sentosa.

Tetapi dalam era modern saat ini sangatlah sulit mencari sosok pemimpin yang mempuyai delapan karakter (Asta Bratha) tersebut, dikarenakan zaman kaliyuga ini diibaratkan kaki manusia tinggal satu yang artinya bahwa manusia telah banyak melakukan Adharma daripada Dharma itu sendiri (Krisis Kepemimpinan). Untuk mengatasi tentang krisis kepemimpinan maka pendidikan yang universal sangat diperlukan terutama Pendidikan Budi Pekerti yang sudah luntur bahkan mulai hilang pada perjalanan waktu.

Budaya bukanlah urusan seni, kuliner, peninggalan sejarah dan lain sebagainya tetapi budaya adalah rasa terdalam yaitu kasih yang artinya bagaimana memanusiakan manusia sehingga tidak ada lagi perbedaan yang bisa mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradap saling menghormati satu sama lain. Pemimpin yang berbudaya adalah pemimpin yang memberikan keleluasaan kepada bawahannya dalam melaksanakan tugas tetapi masih dalam peraturan yang berlaku. Seorang pemimpin akan turun tangan jika bawahannya dalam menjalankan tugas sudah full power mengeluarkan skill mereka, namun masih tetap belum berhasil. Pemimpin akan tetap dicintai rakyat jika percaya diri, mencintai semua rakyat dan melayani semua rakyat.

Dalam bagian lain dalam buku ini dijelaskan tentang berkarya tanpa beban stres, dimana untuk bisa mewujudkan itu seseorang harus senang mencari kata-kata yang paling disukai sebagai kata motivasi diri, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan merenungkan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik latihan untuk berkarya tanpa beban stres ada beberapa langkah yaitu latihan pernafasan perut, memberdayakan diri dengan kasih, kedamaian hati, ketenangan pikiran dan ketepatan dalam bertindak.

Dalam bagian akhir buku ini diisi testimoni beberapa orang yang berhasil mengunakan program berkaya tanpa stres seperti “Organisasi Sebagai Media Implementasi Self Leadership” oleh Ir M. Yudanegara, “Know Yourself Through Ayureda” oleh Maya Safira Much tar, “Menjadi Sukses Tanpa Beban Stress” oleh Dian Martin, “Pribadi Mandiri Pribadi Yang Bebas Dari Rasa Takut” oleh Putu Harumini Warsa, SIP, “Kepemimpinan Yang Utuh” oleh Ir. Marhento Wintolo, M.Eng, “Membangun Teamwork Yang Baik Ala Yoga Sutra Patanjali”, oleh Zeembry, S.Kom, serta “Bertindak Tepat Kunci Meraih Total Sukses,” oleh Norma Liesje Tanoko. Secara keseluruhan buku Self-Leadership ini merupakan buku inspirator bagi pemimpin-pemimpin di masa modern ini.

Buku Self-Leadership merupakan buku yang sangat bagus di mana isi didalamnya merupakan komunikasi/wawancara langsung dengan beberapa narasumber yang telah bisa membuktikan keberhasilannya dalam memimpin. Isi buku sangat kental dengan ajaran-ajaran yang syarat dengan Hindu yaitu Asta Bratha. Setiap bagian memberikan kupasan yang sangat menarik tentang kepemimpinan, pendidikan budi pekerti yang perlu dimunculkan lagi untuk membentuk jiwa Pemimpin yang berwawasan budaya.

Saran: hendaknya dalam bagian depan setelah cover ada simbol romawi untuk memudahkan pembaca dalam melihat hal sebelum masuk ke Bab pertama. Contoh i, ii, iii dan seterusnya. Bagi pembaca awam akan kesulitan untuk memahami isi buku ini karena masing-masing bagian membahas hal yang berbeda. Kertas yang digunakan terlihat seperti kertas bekas daur ulang/kertas buram, harusnya dengan kertas putih yang digunakan akan lebih menarik lagi.

Kesimpulan dalam bagian akhir bahwa secara garis besar buku Self-Leadership ini sangat bagus untuk dibaca dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari guna bisa menciptakan Pemimpin-pemimpin diri yang handal bagi orang-orang modern yang tetap berpegang dalam susastra Hindu utamanya Ajaran Asta Bratha.

Oleh: Rubi Supriyanto, dosen STAH Malang
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 167, Januari 2018