Pendidikan Yang Bernuansa Hindu

Tujuan hidup menurut agama Hindu sebagaimana diuraikan dalam Brahmana Purana 22845 adalah; tubuh adalah suatu alat untuk mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa atau disebut pula Catur Purusan Artha yang berarti empat tujuan hidup umat manusia tersebut diatas yang terjalin satu dengan yang lain yang mewujudkan satu yang utuh.

Untuk mencapai tujuan hidup tersebut diatas selanjutnya antara lain diajarkan jalan yang sepatutnya ditempuh yaitu Catur Marga yaitu Bhakti Marga, Jnana Marga, Karma Marga dan Raja Marga. Jalan ini yang sepatutnya ditempuh umat secara seimbang, harmonis dan terpadu untuk mencapai tujuan hidup terseut diatas. Untuk bisa tercapainya Catur Marga tersebut sepatutnya melalui pendidikan, latihan/sadhana.

Berbicara soal pendidikan/latihan untuk mencapai tujuan hidup atau Catur Purusa Artha diperlukan Guru/Sad Guru. Dalam Agama Hindu dikenal adanya Catur Guru yang tugasnya sangat berat dan terhormat, membimbing, membina, menyelamatkan umat, supaya umat manusia mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin. Adapun Catur Guru dimaksud adalah : Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadyaya. Dari adanya guru-guru tersebut, bukan berarti pendidikan hanya di sekolah saja, tetapi ditempuh dalam keluarga dan di masyarakat.

Apabila hal-hal tersebut berjalan diatas relnya yang tepat dan benar, umat akan mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Namun kenyataannya saat ini telah timbul gejala-gejala kelakuan oknum anggota masyarakat yang menyimpang dari ajaran agama, bukan hanya menggejah pada generasi muda tetapi juga pada angkatan sebelumnya pun sudah demikian pula adanya sehingga terjadi berbagai krisis dalam kehidupan masyarakat. Adanya hal-hal tersebut diatas bukan berarti tidak diajarkannya pendidikan budi pekerti, ajaran agama maupun ceramah tentang kebenaran lainnya, tetapi kiranya disamping belum pasnya sistim pendidikan yang dilaksanakan juga karena lunturnya disiplin dalam berbagai kehidupan di masyarakat. Gejala kehidupan tersebut diatas, secara psychologis akan semakin mempengaruhi kearah kehidupan yang semakin negatif.

Dalam menilai hal-hal tersebut diatas penulis memberanikan diri urun pendapat, walaupun penulis tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai untuk membicarakan pendidikan dan agama serta masih baru Apara Bhakti dalam agama Hindu, sebagai berikut : Bahwa umat Hindu di Bali dalam melaksanakan Agama Hindu masih belum pas. Hal mana sesuai pula dengan tulisan Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi dalam Harian Bali Post tanggal 7-11-2001 dengan judul Tatwa dan Ritual Khusus Hindu Bali, dimana menguraikan rakyat menghayati Hyang Widhi hanya melalui dua jalur yaitu Karma Marga dan Bhakti Marga. Hal ini sedikit banyak membawa pengaruh kurang pas dalam budi pekerti, susila dan moral terlebih dalam spiritual.

Kegiatan dalam agama lebih banyak ditujukan pada ritual/upacara-upacara dibanding ajaran Catur Marga? lainnya seperti Jnana Marga, Raja Marga. Sedangkan menyangkut budi pekerti, susila, moral dan spiritual kuncinya ada pada Raja Marga dan yang penting Catur Marga keempat sepatutnya dilaksanakan secara seimbang, harmonis dan terpadu sebagaimana diuraikan diatas.

Sedang pendidikan yang dilaksanakan termasuk bidang agama jauh lebih banyak bertumpu pada pendidikan formal dan verbal. Pendidikan diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan umat/ bangsa, untuk mendapatkan nila; tinggi, supaya kelak berhasil menjadikan si , anak berkedudukan tinggi, orang berpangkat, sukses dibidang ekonomi.

Dalam Undang-Undang RI tentang Pendidikan Nasional pada pokoknya diuraikan pendidikan bertujuan mengembangkan manusia sesuai dengan kitrahnya untuk menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak, mulia, demokratis, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Selanjutnya memiliki kesehatan jasmani dan rohani, memiliki keterampilan yang mantap dan mandiri serta mempunyai tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan agar mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Pokok-pokok pendidikan tersebut adalah sangat aspiratif. Tetapi bila sistim pendidikan dalam penerapannya masih belum pas sehingga sulit diharapkan akan memberi hasil sebagaimana diharapkan.

Tujuan pendidikan sebagaimana diuraikan diatas pada hakekatnya adalah untuk menjadikan seseorang, menjadi seorang anak yang benar. Untuk bisa menjadi seseorang yang benar harus menempuh jalan yang benar yaitu jalan menuju Tuhan. Tuhan itulah kebenaran sejati. Dalam Sutra Dewata dijelaskan kebenaran adalah setiap langkah menuju jalan Tuhan. Jalan Tuhan bukan hanya percaya dan bhakti kepada Tuhan, mengabdi juga jalan Tuhan, membangun suatu kehidupan yang dinamis menuju keharmonisan individu dan sosial juga jalan Tuhan dan untuk mencapai hal tersebut seseorang disamping mendapatkan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupannya harus pula mendapatkan pendidikan, latihan/ Sadhana Raja Marga Yoga/ spiritual yang tepat dan benar.

Menurut Raja Marga Yoga/ Spiritual pendidikan yang benar bertumpu pada pikiran, dimana pikiran harus dilatih supaya lurus, bersih dan jernih. Panca Budindrya dan Panca Karmendrya akan dapat bekerja dengan bijaksana dan bekerja untuk hidup bila indra-indra tersebut diatas ada dibawah kendali pikiran yang kuat, tangguh dan jernih. Sehingga sifat-sifat sadripu, trimala, sapta timira dan Iain-lainya bisa ditaklukkan setidak-tidaknya dikendalikan. Hal ini bisa terwujud bila pikiran tersebut selalu dilatih secara kontinyu dalam Sadhana yoga.

Sri Amanda Murti seorang tokoh spiritual menguraikan bahwa pendidikan tersebut pada hakekatnya adalah latihan/ sadhana pisik, mental dan spiritual yang tepat dan benar semenjak sebelum TK. Latihan spiritual tidak mengajarkan penolakan terhadap dunia, tetapi hanya mengajarkan pendayagunaan secara tepat potensi baik yang kasar maupun yang halus. Sebagaimana diperlukan kepatuhan terhasap suatu sistim yang cocok dalam bidang sosial dan ekonomi, sama halnya dengan perilaku yang sama diperlukan untuk maju secara ilmiah disiplin yang tepat dibidang pisik dan mental. Jalan spiritual ini memberikan dorongan kemajuan komplit kepada manusia agar tercapai martabat tertinggi yang mungkin dapat dicapainya.

Menurut Patanjali Sutra/ sastra-sastra Hindu, meditsi, Yoga/ semadi baru bisa mantap apabila telah memahami/ menghayati serta melatih/ sadhana secara tekun, kontinyu, disiplin penuh konsentrasi tahapan Astangga Yoga (Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratahara, Dharana, Dyana dan Samadhi). Dalam meningkatkan pendidikan yang bernuansa Hindu, UNHI : untuk meningkatkan SDM Hindu sehat jasmani dan rohani mewajibkan seluruh Mahasiswa UNHI untuk mengikuti Yoga untuk segala jurusan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang merupakan salah satu syarat untuk bisa mengikuti ujian skripsi. Karenanya dalam pendidikan latihan/ sadhana yoga meditasi tersebut sangat diperlukan untuk menyukseskan pendidikan yang bernuansa Hindu dibawah bimbingan guru yang sudah menghayati Astangga Yoga tersebut diatas.

Syukur sudah waskita Pemerintah daerah menyadari waktu di sekolah secara formal sangat sedikit disediakan dalam pendidikan agama/ spiritual, sehingga oleh karenanya Pemda memberikan bantuan dan untuk pendirian asrama-asrama di desa-desa pakraman di Bali untuk menambali kegiatan dibidang pendidikan latihan agama/ spiritual. Bantuan tersebut akan sangat tepat bila dilengkapi dengan bantuan guru-guru yoga semadhi/para acarya.

Bila perlu pemerintah Bali minta bantuan pada pemerintah India untuk menyediakan guru-guru Yoga Semadhi/ Master spiritual tersebut. Penulis yakin bila para Master spiritual bisa didatangkan mereka tidak akan banyak tuntutan seperti mobil mewah, Hotel berbintang dan lain-lain sebab mereka umumnya hidup sederhana dan lagi vegetarian. Yoga semadhi, meditasi, vegetarian, puasa adalah upaya latihan pengendalian diri untuk sehat jasmani dan rohani.

Source: I Made Sudana l Warta Hindu Dharma NO. 507-508, Maret - April 2009