Pendidikan dan Nilai Kemanusiaan

Secara terminology, Pendidikan dapat berarti menuntun, membesarkan memelihara, mendewasakan, dan menanamkan nilai-nilai. Di dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahuri  2003,  dinyatakan  bahwa pendidikan adalah: "Suatu usaha sadar yang dilakukan melalui bimbingan dan latihan atau pengajaran dalam mengembangkan potensi anak mencapai kedewasaan jasmani dan rohani". Pendidikan  mempunyai   ciri-ciri keilmuwan atau syarat-syarat keilmuan sehingga bisa dikatakan sebagai ilmu. Pendidikan berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Di dalam kitab Bhagawad Gita IV.33, dinyatakan sebagai berikut: "Persembahan berupa ilmu pengetahuan, paramtapa lebih bermutu dari persembahan materi. Dalam keseluruhan semua kerja ini terpusat pada ilmu pengetahuan oh parta". Pendidikan mengajarkan bahasa dan pengetahuan, pengetahuan mengajarkan suatu sistim nilai yang bergerak keluar dari yang tampak kepada yang tidak tampak, yang diketahui kepada yang tidak diketahui dan dari yang dimengerti kepada yang misterius. Pengetahuan dinyatakan sebagai penggali suatu kebenaran. Penelitiannya diarahkan pada bukti-bukti yang tidak dipengaruhi oleh kekuasaan.

Ilmu pengetahuan sebagai pencari kebenaran dapat dilihat sebagai prinsip dasar dalam perkembangan keterampilan etik manusia yang tinggi. Untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan maka manusia mempunyai kewajiban belajar sepanjang hidupnya (long live education), sebagaimana disebutkan dalam kitab Manawa Dharma Sastra, sebagai berikut : "Hendaknya ia setiap memperdalam ilmu pengetahuan kesusastraan klasik, kesusastraan kuno, filsafat, ilmu ekonomi, ilmu obat-obatan, astrologi dan lain-lain, yang dengan cepat dapat menumbuhkan kebijaksanaan, mempelajari segala yang mengakarkan bagaimana mendapatkan harta, segala yang berguna untuk hidup keduniawian, demikian pula mempelajari nigama yang memberikan keterangan tentang wea".

Apakah tujuan pendidikan menurut Hindu? Adanya hujan membuat lembutnya tanah, lembutnya tanah menyuburkan tanaman. Pendidikan hendaknya menjernihkan hati seseorang dan melembutkan watak serta karakternya. Ada suatu cerita tentang orang berpendidikan tinggi yang memiliki bermacam-macam (gelar). Pada suatu hari ia mengunjungi kawannya yang tinggal di daerah terpencil, seberang sungai. Penyeberangan sungai ini dilayani oleh seorang tukang feri dengan mendayung perahu tua. Orang itu melihat tukang feri tertidur lalu bertanya, apakah ia mau menyeberangkan. Tukang feri setuju. Orang terpelajar tadi mencari tempat duduk yang enak lalu mulai membaca harian Washington Post. Ia merasa heran membaca berita bahwa transaksi wali street anjlog 508 angka dalam satu hari. Lalu bertanya pada tukang perahu, "bagaimana pendapat bapak apakah anjelognya dolar di wali strett yang terhebat sejak depresi 1929, suatu hal yang ganjil atau disebabkan oleh goyahnya dasar-dasar ekonomi?". Tukang perahu tidak menjawab, lalu orang terpelajar bertanya lagi, "Saya menanyakan masalah yang amat penting, seluruh dunia seperti kesetanan karenanya, semua presiden dan perdana menteri pusing memikirkan hal ini.

Apa yang bapak kira dan terjadi?'' Tukang perahu menjawab, Tuan saya tidak mengerti apa itu wall street". Orang terpelajar tai terkejut, "Jika di abad keduapuluh ini tidak tahu apa itu wali street, 25% dari hidupmu sia-sia." Sementara perahu melaju terus, orang terpelajar bertanya lagi, "Saya mengerti karena bapak tidak pernah ke Amerika, bapak tidak tahu apa dan dimana itu wall street, tetapi tentunya bapak tahu tentang Stock market (pasar bursa). Tidak, saya tidak pernah mendengar pasar bursa. Saya hanya tahu pasar sayur. Orang terpelajar berkata, "kalau hidup di abad sekarang ini bapak hanya tahu pasar sayur, ya..aa 50% hidupmu tersisa?! Perahu diam-diam meluncur terus dan orang terpelajar berkata lagi "Oh rupanya bapak tidak mengalami kehidupan bisnis modern, tetapi tentunya bapak bisa baca koran ini. Tukang perahu berkata, "maaf tuan, saya lahir dari keluarga miskin dan tidak pernah sekolah, tidak ada yang mengajar saya membaca". Orang terpelajar berseru, "Koran jiwanya masyarakat, jika di abad sekarang ini membaca Koran saja tidak bisa, 75% dari hidup bapak tersia-siakan. Tukang perahu hanya tertunduk, sementara perahu melaju terus langit mulai mendung, orang terpelajar menanyakan jam. Tukang perahu mengatakan tidak tahu jam. Orang terpelajar marah, keterlaluan jam saja tidak tahu, lalu mengatakan 90% hidup tukang perahu itu sia-sia. Perahu masih melaju dan tiba-tiba ada sesuatu Yang terjadi. Perahu mengalami kebocoran sehingga air menyentuh kaki orang terpelajar tadi. Tukang perahu bertanyan kepadanya. Apakah tuan bisa berenang?" Orang terpelajar menjawab, "Oh tidak selama saya Bersekolah dan menempuh pendidikan saya tidak punya waktu untuk belajar berenang". Tukang perahu berkata, "Tuan, dalam keadaan seperti sekarang ini satu-satunya yang menyelamatkan jiwa tuan hanyalah dengan cara berenang maka 100% dari hidup tuan sia-sia. Adapun pengetahuan tuan tentang Wall Street, Stock market dan pengetahuan bahasa tuan, tidak bisa menolong tuan". I

nilah yang menyedihkan dalam pendidikan dewasa ini. Pendidikan mengajarkan kepada kita bahasa dan pengetahuan, tetapi tidak ada (atau kalau tidak mau dikatakan demikian) jarang sekali ada pendidikan/pelajaran tentang bagaimana kita hidup tenang, bahagia atau dalam kedamaian di antara kita sendiri maupun dengan orang lain. Pendidikan seharusnya merupakan proses perkembangan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan kata lain mekarnya rasa kemanusiaan yang luhur. Dikatakan rasa kemanusiaan (nilai kemanusiaan) yang baik, karena bila kepribadian berkembang ia menuju keluhuran, dan itulah yang ingin dicapai oleh pendidikan. Oleh karena itu kepribadian dan kita memberikan input (masukan) berupa pendidikan dan menerima output (keluaran) atau hasil yang berupa nilai-nilai yang luhur.

Pendidikan untuk seumur hidup bukan untuk sekedar hidup. Pendidikan bukan hanya untuk mencari title atau sarana mencari nafkah. Demikian ... orang-orang bijaksana mengatakan! Pendidikan adalah perwujudan kesempurnaan dan kepribadian yang telah ada pada manusia. Apakah yang menjadikan kepribadian manusia itu? Apakah kepribadian itu ditentukan oleh pakaian yang kita pakai, bila seorang yang berpakaian rapi, kita katakan berkepribadian luhur. Jadi siapa yang membuat kepribadian manusia.

Setiap manusia mempunyai tiga aspek kepribadian. Yang pertama bagaimana kita berpikir tentang diri kita, yang kedua bagaimana orang lain berpikir tentang diri kita dan yang ketiga bagaimana kita sebenarnya. Jadi yang kita pelajari bagaimana kita berpikir, berpikir tentang diri kita, bagaimana kita yang sebenarnya bukan bagaimana orang lain berpikir tentang, kita. Untuk mengetahui siapa kita sebenarnya, maka kita harus memahami diri kita. Setiap orang mempunyai pikiran, perasaan, dan dapat berbuat sesuatu. Kita mempunyai kemampuan untuk mencintai (Chith). Kesadaran murni, tidak terpengaruh oleh nafsu, egoisme atau keinginan. Oleh karena itu nilai kemanusiaan adalah universal

Source: Made Awanita, S.Ag., M.Pd l Warta Hindu Dharma NO. 469 Pebruari 2006