Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) - early chilhood education adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan agar anak dapat mengembangkan potensinya sejak dini, sehingga mereka dapat berkembang secara wajar sebagai anak. Tujuan PADU adalah agar anak memperoleh rangsangan intelektual, sosial, dan emosional sesuai dengan tingkat usianya. Hal ini perlu ditekankan, agar PADU tidak te/gelincir pada praktek-praktek bernuansa akademik sebagaimana terjadi di sebagian Taman Kanak-kanak (TK) dewasa ini. Misalnya, anak dipaksa untuk mengenal baca tulis, sampai-sampai sebelum masuk SD sudah bisa baca koran. Si anak memang hebat, tetapi yang lebih hebat adalah ambisi, orang tua dan gurunya, yang sedemikian tega merampas kebebasan dan masa kecil anak. Kelak anak-anak itu tumbuh menjadi orang dewasa dalam usia, berintelektual tinggi, tetapi prilaku dan mentalnya tetap seperti anak-anak.

PADU dimulai pada waktu bayi baru lahir. Setelah dimandikan, orang tuanya membisikkan "sesuatu" pada lubang telinga si jabang bayi yang baru lahir. Itulah pelajaran pertama yang diterima anak. Pustaka Susruta Samhita memberikan petunjuk agar orang tuanya menuliskan aksara Omkara (OM) dengan madu pada lidah si bayi, dan mengucapkan Om Veda asi pada telinga kiri dan kanannya, dengan maksud memberikan nama Veda kepada bayi itu. Dewasa ini, umat Hindu umumnya membisikkan Gayatri Mantram pada lubang telinga kiri dan kanan bayi yang baru lahir dengan harapan agar si bayi mendapatkan perlindungan dari pengaruh-pengaruh negatif, termasuk sifat-sifat keduniawian.

Penyambutan bayi yang baru lahir dengan aktivitas spiritual seperti itu sangat sejalan dengan keadaan di bayi. Pada awalnya, kekuatan spirit atma memegang peran utama terhadap perkembangan fisik dan mentalnya. Lingkungan spiritual sangat berpengaruh terhadap kehidupannya karena ia ada dalam keadaan trance (kesurupan) oleh atma. Sebagai bukti, kita sering memperhatikan bayi tersenyum, tertawa, atau bermain sendiri pada waktu malam atau siang. Terkadang, ekspresi wajahnya datar dengan pandangan jauh tanpa batas. Dia menikmati dunianya dengan bimbingan spirit yang bersemayam di dalam dirinya.

Kondisi kesurupan oleh atma semestinya dimanfaatkan untuk memupuk potensi mental dan spiritual anak. Mengingat pada awalnya, anak cendrung meniru apa yang dia amati, maka orang tua dan keluarga, bahkan lingkungan, harus mampu menjadi panutan yang baik bagi si anak yang sedang tumbuh. Anak harus dibimbing berkata-kata manis, bersifat sopan, dan berbagi upaya untuk menumbuhkembangkan cinta kasih dalam hati dan prilakunya. Sebaliknya, anak harus dicegah jika bermain-main dengan menyakiti makhluk lain, misalnya memotong ekor capung, kemudian menggantikannya dengan bulu ayam. Anak jangan dibiarkan merasakan kesenangan di atas penderitaan makhluk lain. Jika kebiasaan itu tidak dicegah, maka bisa jadi kelak dia akan tumbuh menjadi bobotoh tajen, yang sangat menikmati semburan darah dari badan ayam yang tertusuk taji lawannya. Yang lebih bengis lagi, bisa jadi dia memperlakukan orang lain seperti memperlakukan hewan-hewan kurban.

Pendidikan mental spiritual harus dimulai sejak dini, dimulai dari rumah, dan itu tanggung jawab kedua orang tuanya. Dalam bahasa Rsi Canakya, orang tua harus mengajarkan kebenaran dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Jika melalaikan hal itu, sesungguhnya dia adalah musuh bagi anak bersangkutan. Orang tua tidak boleh mempercayakan pendidikan mental dan spiritual anak-anaknya, selain pada dirinya sendiri. Sekolah formal tidak akan mampu membimbing anak-anak dalam urusan mental spiritual, karena dalam kedua urusan ini anak lebih memerlukan panutan dari pada ceramah. Jika orang tua tidak melakukan bimbingan, maka dia akan dibentuk oleh lingkungan pergaulannya. Beruntung, jika dia tidak tumbuh menjadi anak-anak salah pergaulan.

Namun apa yang terjadi sekarang, sungguh sangat jauh dari harapan. Anak kecil dilatih untuk mengucapkan kebohongan. Sebagai misal, orang tua yang tidak mau diganggu oleh kehadiran tamu menyuruh anaknya agar bilang bahwa Bapak dan Ibu tidak di rumah. Anak juga diperkenalkan dengan kekerasan, baik lewat tayangan di layar kaca, maupun adegan langsung dari orang-orang disekitarnya! Orang-orang dewasa tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata pedas, cemohan, makian, dan sejenisnya dihadapan anak-anak kecil, yang selalu siap merekam dan meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Anak juga diajak menonton film-film mistik yang membuat dia mejadi takut, dsb. Sejalan dengan ini, puisi yang ditulis oleh Dorotty Nolte sangat baik untuk direnungkan. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan perlakuan baik, ia belajar bertindak adil. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. Lalu, kita ingin anak kita belajar apa, semuanya sangat tergantung pada kondisi aksi yang kita berikan kepadanya.

Pendidikan mental spiritual dalam keluarga sesungguhnya tidak perlu media khusus. Hanya satu yang diperlukan, yaitu panutan yang baik dari orang-orang yang ada di sekitar anak. Seekor anak singa yang disusui oleh induk sapi dan dibesarkan dalam lingkungan sapi, dia akan tumbuh sebagai hewan yang jinak. Apalagi manusia yang pada dasarnya lebih bermental positif dan spiritual dibandingkan hewan. Dalam upaya untuk membimbing mental spiritual anak, cara-cara belajar tradisional, misalnya tradisi orang Bali, dapat kita hidupkan kembali. Sebagai contoh, melajah sambil megending (belajar sambil bernyanyi), melajah sambil mesatwa (belajar sambil berceritera), melajah sambil mecanda (belajar sambil bermain), melajah sambil megae (belajar sambil bekerja), dan sekarang muncul lagi melajah sambil melali (belajar sambil berkunjung).

Kita memiliki warisan lagu-lagu sekar alit yang sangat sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga memiliki ceritera-ceritera lokal, ceritera sebelum tidur, yang kaya nilai kearifan. Jaman dulu sebelum tidur anak-anak biasa masuk ketiak orang tuanya untuk mendengarkan ceritera Siap Selem, Ni Bawang ajak Ni Kesuna, dsb. Kini, kebiasaan itu telah hilang. Sebelum tidur semua orang duduk di depan TV. Anak-anak lebih suka lagu-lagu cinta, dan lebih doyan pada ceritera-ceritera import. Permainan tradisional yang sangat kaya dengan nilai kerja sama dan ketaatan akan aturan digeser dengan permainan modern yang mementingkan diri sendiri dan kelihaian untuk mempermainkan hukum.

Kesenangan anak masa kini sudah sangat berbeda dengan anak-anak masa lampau. Anak masa kini berprilaku seperti orang dewasa, tetapi berbadan kecil. Sebaliknya, orang dewasa, yang berbadan besar, berprilaku sebagaimana anak kecil. Semua ini dapat terjadi karena kita kurang menghargai proses kehidupan, semua ingin dipercepat. Pertumbuhan bisa dipacu, kecerdasan bisa diasah sejak dini, tetapi tindakan itu telah mengkerdilkan perkembangan mental dan spiritual anak. Akibatnya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sulit tantangan yang dihadapi para pendidiknya karena anak-anak didik mereka tetap bermen-talkan play group.

Source: I Wayan Suja I Warta Hindu Dharma NO. 455 Desember 2004