Pendidikan Agama Hindu di Luar Bali, Haruskah Bali Sentris?

Seiring dengan perkembangan dan kebangkitan (agama) Hindu dewasa ini, sudah sepatutnya para tokoh dan intelektual Hindu untuk membuat terobosan baru dalam menyusun kurikulum pendidikan Agama Hindu, khususnya untuk daerah luar Bali.

Sepanjang pengetahuan penulis, buku-buku pendidikan Agama Hindu yang selama ini dipakai sebagai bahan ajar (pelajaran) di sekolah-sekolah yang dikeluarkan oleh Departemen Agama (Dirjen Bimas Hindu dan Budha), sangat kental dengan nuansa Bali sentris.

Sebagai mahasiswa yang berasal dari luar Bali (transmigran, yang nota bene adalah Hindu etnis Bali), penulis merasa sangat sulit sekali untuk memahami dan mengerti materi pendidikan yang ada dalam buku-buku pelajaran agama Hindu tersebut, apalagi saudara-saudara kita yang beragama Hindu non Bali. Misalnya: Hindu etnis India di Sumatera Utara, Hindu etnis Dayak (Kaharingan) di Kalimantan, Hindu etnis Batak Karo di Sumatera, Hindu etnis Toraja dan Bugis di Sulawesi, Hindu etnis Ambon di Maluku, Hindu etnis Jawa dan Sunda di Jawa, dan Hindu etnis-etnis lain yang ada di luar Bali. Bukanlah maksud penulis untuk mengkotak-kotakkan para penganut Hindu yang ada di luar Bali, tetapi inilah persoalan yang harus dicarikan solusi yang terbaik untuk memberikan kebebasan dalam melaksanakan tatacara cara upakara dan upacara sesuai kebiasaan/adat istiadat setempat.

Bagi sebagian mahasiswa luar Bali yang memperdalam ilmu agama Hindunya di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, ibarat makan buah simalakama, kalau dimakan (dipelajari) sungguh sangat bertentangan dengan upakara dan upacara serta pelaksanaannya di daerah asal, kalau tidak di makan (tidak dipelajari) mereka adalah Hindu. Lalu, siapa yang harus disalahkan? Para penyusun buku-buku itu, para pengajar atau mahasiswa itu sendiri?

Dalam hal ini tidak ada yang perlu di salahkan, tetapi sistemlah yang salah, adalah sangat keliru apabila tata cara pelaksanaan ibadah Hindu etnis Bali diajarkan di sekolah-sekolah luar Bali kepada siswa-siswa non-Bali, mungkin untuk sekedar mengenal dan tahu tidaklah jadi soal, tapi kalau "dipaksa" harus melaksanakannya sesuai dengan kebiasaan seperti di Bali, sungguh sangat tidak relevan, dan secara tidak langsung mematikan adat dan budaya mereka.

Memang Bali kita kenal sebagai pusat Hindu di Indonesia plus Asia Tenggara, tetapi tidaklah etis kalau segala sesuatunya yang berbau Bali tidaklah sulit untuk diterima. Tetapi bagi mereka yang dibesarkan dan di lahirkan di luar Bali, harus bisa dan mampu melaksanakan kebiasaan orang tua mereka. Nah, kalau yang memeluk Hindu itu adalah etnis non Bali, bisakah mereka masuk ke dalam adat dan budaya Bali, sesuai dengan materi pelajaran agama Hindu yang mereka terima di sekolah?.

Adalah tugas berat buat Bapak Simon Kendek Parantan dan bapak Ferdmandus Nanduq dari Sulawesi, bapak A.S. Kobalen, Hindu etnis India keluarga besar Samuel Luhulima di Ambon, Maluku, Bapak Rangkap I Nau di Kalimantan, dan saudara-saudara kita yang lain di luar Bali yang tak mungkin penulis sebut satu persatu. Untuk membuat gebrakan baru dalam menyusun buku-buku pelajaran agama sesuai dengan adat dan kebiasaan Hindu setempat, dengan tidak menyimpang dari intisari Weda.

Dalam Bhagawadgita ada diuraikan bahwa, Tuhan tidak hendak meng-haipus harapan tiap-tiap orang yang tumbuh menurut kodratnya dan tiada berat sebelah. Hanya pada masing-masing orang menurut jalan dan kepercayaannya sendiri untuk mencapai Tuhan-lah terletak perbedaan, yang bukan merupakan pilihan-Nya. Jadi, adat kebiasaan Hindu Bali tidaklah harus diterapkan kepada Hindu non Bali. Bukankah Hindu itu agama yang dinamis dan fleksibel, dan tidak berkiblat pada arah tertentu seperti agama Islam yang berkiblat ke Arab Saudi?

Semua kitab Suci Hindu, baik Sruti maupun Smrti, adalah pedoman yang harus dipakai dalam melaksanakan yajna, tapi tata cara pelaksaannya-lah yang berbeda. Perbedaan itulah merupakan keunikan dan kekayaan adat-budaya yang menjadi kelebihan tersendiri bagi pemeluk Hindu yang tidak di miliki oleh agama lain.

Kembali pada persoalan awal, yaitu masalah buku-buku Hindu. Kurikulum yang ada sekarang sangat kaku dan 99% masih berkutat pada upakara dan upacara ala Hindu Bali Memang kita tidak bisa menampik bahwa Bali menjadi contoh kebesaran Hindu, setelah kerajaan Majapahit ratusan tahun yang lalu. Namun haruslah dipikirkan, bahwa Hindu yang telah bangkit karena perbedaan itu, jangan sampai menjadi bumerang kalau dipaksakan tata cara pelaksaannya seperti Hindu Bali, mereka jangan di Bali kan.

Sungguh sangat memprihatinkan, banyak saudara-saudara kita yang kurang mendapat pengetahuan dan pembinaan tentang Hindu, berpindah agama (terutama di luar Bali). Di jaman modern yang serba canggih ini, membuat sajen (banten), bagi mereka yang berpikiran sangat logis adalah sesuatu yang sangat ribet dan njlimet, jangankan di luar Bali, di Bali sendiripun kenyataan itu sudah mulai kelihatan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Inilah yang perlu di pikirakan dan dicarikan solusi yang tepat untuk mengantisipasinya. Dari mana awalnya? Adalah tugas Parisada Hindu Dharma Indonesia, baik di pusat maupun di daerah, serta para tokoh dan intelektual Hindu yang berkompeten, untuk merumuskannya. Tidak ada persoalan yang tidak bisa di selesaikan dengan kepala dingin dan pikiran jernih, asalkan persoalan tersebut diselesaikan dengan tujuan yang mulia dan untuk kepentingan kita semua sebagai umat Hindu. Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Source: I Gede Mustika l Warta Hindu Dharma NO. 463 Agustus 2005