Pemuda Hindu dan Soempah Pemoeda

Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia, begitu Bung Karno pernah berujar. Dalam berbagai pidatonya, Bung Karno kerap berseru, ”Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan dengan mereka aku akan mengguncang dunia”.

Ungkapan Bung Karno di atas, dapat kita tarik makna, pemuda adalah semangat. Semangat diartikan keinginan untuk bergerak, sederhananya hidup adalah gerak seperti apa yang telah agama Hindu ajarkan, bahwa hakekat hidup adalah Karma (gerak). Semangat juga diartikan spiritualitas, dimana bathin tergerak untuk bertindak ketika melihat ketidak-adilan, kesewenang-wenangan pada alam, sesama manusia maupun Tuhan yang diyakini sebagai pemberi hidup. Semangat pemuda yang diikrarkan pada masa lampau saat kongres pemuda di Batavia, tidaklah dapat dimaknai secara sempit. Semangat sumpah pemuda tidak hanya dijadikan monumen simbolik semata, tetapi harus diimplementasikan dengan baik, seperti semangat kecintaan terhadap tanah air, semangat kebangsaan dan menjunjung tinggi bahasa persatuan.

Kecintaan pemuda terhadap tanah air khususnya di Bali, dicontohkan salah satunya dengan menentukan sikap terhadap wacana reklamasi teluk Benoa. Pemuda-pemudi Hindu, secara bulat menentukan sikap menolak. Bentuk penolakan itu lalu dilakukan dengan turun kejalan meneriakan yel-yel menolak rencana mega proyek reklamasi teluk Benoa yang digaungkan oleh pemerintah dan swasta tahun-tahun belakangan ini. Mereka berpendapat reklamasi tidak sesuai dengan ajaran agama, khususnya yang tertuang dalam ajaran Sad Kertih. Reklamasi sangat dikhawatirkan dapat merusak pelemahan (lingkungan), menyebabkan konflik antar masyarakat (Pawongan), merusak wilayah yang sering dipakai tempat ritual (perahyangan).

Gerakan ini bentuk konsistennya pemuda Hindu dalam menerapkan konsep Tri Hita Karana. Alasan rasional yang lainnya, laut dan pantai merupakan salah satu tempat bergeliatnya ekonomi bagi masyarakat, laut merupakan tempat melakukan ritual (ibadah), laut merupakan tempat bertemunya manusia satu dengan yang lainnya. Artinya laut dan pantai merupakan pusat peradaban. Peduli pada pusat-pusat peradaban yang kita pahami dahulu dan kini telah berkembang menjadi budaya bahkan menjadi agama.

Semangat pemuda yang lain juga ditunjukkan ketika saudara-saudara kita dari Karangasem mendapat musibah gejala Gunung Agung yang dikhawatirkan meletus. Sehingga tidak sedikit jiwa yang mengungsi keberbagai wilayah aman di Bali. Pemuda terketuk hatinya bergerak memberikan bantuan kemanusiaan dalam berbagai bentuk. Hal ini mencitrakan pemuda Hindu memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, implementasi terhadap konsep pawongan, yang diajarkan tetua di Bali. Begitu juga konsep Tatwam Asi yang telah mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama bangsa, antar manusia satu dengan yang lainnya tanpa membedakan soroh maupun kasta. Kepedulian itu lalu dibahasakan dengan penggalangan dana di jalan-jalan dan diberbagai tempat dengan membawa kotak amal tanpa peduli teriknya “Sang Raditya”.

Namun dibalik fenomena tersebut, akhir-akhir ini tidak sedikit para pemuda yang telah mengabaikan makna, tujuan dan semangat sumpah pemuda. Bisa kita lihat dari hal-hal yang remeh-temeh seperti kesadaran membuang sampah sehabis sembahyang misalnya. Ketidak pedulian terhadap sesama dengan tindakan mengolok-olok (bullying) yang sering berujung pada pertikaian, perselisihan sampai menimbulkan korban baik fisik maupun mental. Begitu juga ditunjukkan kurangnya kesadaran dalam hal pelestarian bahasa daerah.

Hal yang paling mengkhawatirkan, tidak sedikit pemuda-pemudi cenderung mendewakan budaya asing. Seperti berbusana ke India-indiaan salah satunya, dampak dari mempelajari aliran kepercayaan tertentu, lalu mengekspresikan dirinya secara berlebihan pada aktivitas religius maupun kesehariannya di ruang publik. Begitu juga mengkritik tradisi, padahal ia dibesarkan oleh tradisi yang ia kritik dan konyolnya tempat ia mencari makan dimana tradisi itu lahir dan mengakar. Begitu juga mengkritik ajaran dan bahasa “ibu” nya dengan istilah ajaran tamasik dan lain sebagainya, sungguh ironis.

Hal itu salah satu bukti kepekaan dan kesadaran akan nilai-nilai kebangsaan, serta penghargaan terhadap kearifan lokal menyurut. Seiring dengan kesalahpahaman dalam memaknai ajaran-ajaran spiritual, sehingga terjadi kekeliruan persepsi. Ajaran-ajaran spiritual beserta variable budayanya yang notabene dari luar, seharusnya menjadi bahan ajar komplementer. Bukan sebaliknya merubah strukturyang sudah ada bahkan berkeinginan merombak tradisi luhur yang telah diwariskan turun-temurun dengan membabi buta. Selain itu aliran-aliran kepercayaan cenderung bersifat eksklusif, sehingga tidak sedikit pengikutya menjaga jarak dalam pergaulan di masyarakat yang bukan kelompoknya. Sikap ini sangat dikhawatirkan tergerusnya budaya ngayah yang sudah lama dipancangkan.

Tradisi ngayah mengajarkan kita untuk saling berinteraksi antar individu satu dengan lainnya dan saling membantu. Tujuan yang lain, merekatkan rasa persaudaraan, saling asah, asih dan asuh. “Sagilik-Saguluk Salunglung Sabayantaka, Paras-Paros Sarpanaya, Saling Asah, Asih, Asuh". Seperti apa yang juga diajarkan dalam Atharwa Weda yang menyebutkan: “Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih Samjnanam asvina yuvam ihasmasu ni acchatam”. Yang artinya: ’’Semoga kami memiliki kerukunan (sikap yang ramah) yang sama dengan orang-orang yang sudah dikenal akrab dan dengan orang-orang asing. Yang para Dewa Asvin semoga Engkau keduanya memberkahi kami dengan keserasian".

Tradisi kerukunan, kekerabatan dan ngayah ini, dalam perjalannya dilembagakan menjadi institusi non formal di setiap desa dinas dan desa adat. Institusi ini dikenal dengan nama karang taruna dan sekehe teruna. Institusi non formal ini seharusnya menjadi garda depan dalam pelestarian tradisi, adat dan nilai-nilai agama di masing-masing desa pekraman, tentunya atas bimbingan dan arahan tetua adat dan pemerintah. Namun kenyataannya, saat ini belum mendapatkan perhatian lebih dari para pemuda hindu. Gaya berpikir yang pragmatis kemungkinan besar menjadi penyebab ketidak pedulian atau kurangnya ketertarikan dalam kegiatan ngayah. Pola pikir pragmatis ini dicurigai menggeser makna ngayah yang sering diikuti dengan kata harus mayah (bayar).

Gaya berpikir seperti ini, lalu menjadi tindakan sebagai pemicu menurunnya semangat kebangsaan, ketidak pedulian terhadap lingkungan, melunturnya rasa kemanusiaan, maupun kurangnya kepedulian berbahasa daerah, seperti apa yang diikrarkan oleh sumpah para pemuda, yang di rumuskan oleh Moehamad Yamin saat kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Hal yang membingungkan, justru sikap pragmatis tidak menyurutkan semangat religius. Malahan setiap rahinan semangat religiusitas tidak menyurut, tetapi kenyataannya tidak diimbangi dengan rasa kepedulian diberbagai aspek kehidupan bermasyarakat, dengan kata lain tidak dibarengi keluaran (output) kesadaran spiritual yang baik. Tidak salah lantas dunia sains (sekuler) mengkritik, bahwa kebenaran religius (agama) tidak selalu berbanding lurus dengan akal sehat (rasionalitas).

Sebagai generasi muda yang berpengetahuan dan berilmu, seharusnya mampu berpikir kritis dan bijaksana. Budaya dan tradisi leluhur di Bali merupakan ajaran mulia, tanpa sadar ajaran itu telah menjadi way of life dalam kehidupan sehari-hari pada sebagaian besar masyarakat Bali, baik dalam kontek relasi sosial maupun beragama. Tanpa pengetahuan yang hebat dari leluhur, kita tidak mungkin bisa bertahan sampai saat ini dan bahkan dunia mengagumi keunikan budaya dan kekayaan teks yang kita warisi. Sungguh disayangkan bagi pemuda hindu yang tidak mampu memfilter dan memproteksi dirinya terhadap ajaran-ajaran aliran kepercayaan dan salah dalam memahaminya, sudah dapat dipastikan dampak logisnya mereka terjebak oleh dogma ajaran yang sering menawarkan hadiah surga yang menggiurkan, lalu bagi kalangan yang terdidik, mereka menyebut ajaran itu sebagai kesadaran palsu.

Di zaman serba cepat dan praktis ini, tantangan pemuda hindu kedepan sangat berat. Dimana idealisme mereka diuji terus menerus seiring kepentingan ekonomi dan politik global. Pertanyaan yang pasti akan muncul adalah seberapa kuat pemuda hindu mampu memproteksi dirinya, sehingga idealisme pelestarian lingkungan (pelemahan) dapat berjalan dengan baik, wujud dari kecintaan terhadap tanah air? Seberapa besar rasa persaudaraan terjaga yang tertuang dalam konsep ngayah akan tetap ajeg, implementasi ajaran tatwam asi dan konsep pawongan? bagaimana mereka menghadapai kehidupan religiusnya, dalam memahami bahasa Hindu (Perahyangan)? Mari berpikir lalu bertindak baik.

Oleh: Putu Wawan
Source: Majalah Wartam, Edisi 32, Oktober 2017