Pemilikan, Pengakuan dan Kewajaran

Mengakui Dan Pengakuan
Pengakuan pihak luar seringkali merupakan sesuatu yang amat penting bagi banyak orang. Dalam pengejaran pengakuan demi pengakuan inilah orang harus menunjukkan prestasinya, kemampuannya. Mengapa? Apakah kita butuh pengakuan kalau tak ada sesuatupun yang kita anggap sebagai "karyaku", "prestasiku", "kemampuanku", "milikku", "diriku"? Tidak bukan? Selaras dengan "aku" yang merupakan kata dasar pembentukannya, harapan untuk memperoleh peng-aku-an hanyalah ekspresi dari kuatnya cengkraman "si aku", "si ego" pada diri seseorang.

Dimana ada hasrat yang kuat untuk memperoleh pengakuan. Diakui atau tidak, dihargai atau tidak oleh orang-orang, karya-karya dan prestasi-prestasi Anda tetap menghadirkan kepuasan tersendiri, menghadirkan sebentuk kebahagiaan tersendiri bagi Anda. Dan ini, jauh lebih berharga dibanding bentuk-bentuk pengakuan atau penghargaan luar itu.

Oleh karenanya, berkaryalah selalu: ke arah segenap daya dan kemampuan yang ada dan lakukan yang terbaik, do you best; hadirkanlah hal-hal yang prestisius; jangan pedulikan apakah itu dihargai atau tidak, apakah anda memperoleh pengakuan-pengakuan atasnya atau tidak!

Jangan jadikan pengakuan sebagai tujuan. Apakah secara luas atau terbatas, menghebohkan atau tidak, pengakuan hanya dampak-samping; bukan sesuatu yang memang menjadi tujuan anda. Tujua anda hanyalah berkarya dan berkarya, berprestasi dan berprestasi.

Sadarilah kalau segala bentuk pengakuan pun penghargaan seringkali amat subjektif dan temporer sekali sif atnya. Ia bisa amat jauh dari "apa adanya". Oleh karenanya, lepaskan segera belenggu harapan akan pengakuan dan penghargaan. Itu hanya akan meghalangi laju pendewasaan diri anda.

Walaupun kita sendiri tidak mengharapkan semua itu, tidak menjadikan itu sebagai tujuan, sadar bahwa hidup di tengah-tengah masyarakat yang masih kekanak-kanakan, kita perlu memberi pengakuan, penghargaan dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan kita kepada siapapun yang layak untuk itu. Lakukan itu dengan penuh kesadaran kalau kekanak-kanakan merekalah yang membutuhkan semua itu, dan bukan sebagai sebentuk 'penjilatan' atau dimotivasi oleh harapan memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

Milik dan Rasa Memiliki
Harapan akan pengakuan dan penghargaan sebetulnya lahir dari rasa memiliki atau rasa kepemilikan. Anda tidak akan pernah berharap untuk memperoleh pengakuan dan penghargaan atas apa yang anda tidak akui sebagai milik anda bukan? Oleh karena sesuatu atau seseorang itu anda akui sebagai milik andalah makanya harapan akan pengakuan atau penghargaan Anda anggap "wajar" bukan?

Pemilikan dan rasa pemilikan tampaknya nyaris tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Umumnya kita merasa "wajar", kalau kita memiliki sesuatu, kemudian muncul pula rasa kepemilikan yang kuat terhadap sesuatu itu. Padahal, tidaklah harus demikian. Rasa kepemilikan, apalagi rasa kepemilikan yang kuat, tidaklah harus menyertai apa yang anda anggap sebagai milik anda. Kita tak pernah merasa kehilangan atas sesuatu yang bukan anda anggap sebagai milik anda? Bahkan, terhadap sesuatu yang jelas-jelas adalah milik anda, namun ia kotor, buruk dan memalukan, anda tak sudi mengakuinya sebagai milik anda bukan? Hilangnya mereka, bukan saja tidak menghadirkan penyesalan dan kesedihan, bahkan anda syukuri bukan?

Pemilikan dan rasa kepemilikan tak ubahnya bayang-banyang dari ke-aku-an. Dimana hadir keakuan, hadir pula rasa kepemilikan. Ekspresi dari rasa kepemilikan terhadap apapun, menandakan hadirnya keakuan. Makanya orang bijaksana mengatakan : "dimana ada harapan, di sana menanti kekecewaan. Semakin kuat harapan, semakin besar pula kekecewaan yang menanti. Dimana ada rasa kepemilikan, di sana menanti kepedihan. Semakin kuat rasa kepemilikan, semakin besar pula kepedihan yang menanti".

Kalau begitu apakah kita boleh berharap? Apakah kita mesti membuang semua harapan ataupun segala sesuatu yang telah menjadi milik kita? Bukan begitu. Seperti telah kita bicarakan sebelumnya, adanya harapan itu 'wajar" bagi mereka yangbelumbenar-benar dewasa secara mental-spiritual. Kalaupun ada sebentuk harapan, maka sepantasnyalah ia disertai dengan upaya terarah dan berkesinambungan dan memadai untuk mencapainya, disamping siap mental kalau-kalau tidak tercapai sesuatu yang diharapkan.

Menjaga dan memelihara baik-baik milik kita merupakan kewajiban melekat, sebagai konsekwensi dari memilikinya. Namun sadar bahwasannya akan tiba saatnya mereka tak membutuhkan penjagaan dan pemeliharaan kita, dimana mereka bisa saja sewaktu-waktu berpindah tangan, pindah pada pemiliknya yang baru tak-ubahnya barang titipan, kita tidak perlu merasa kehilangan besar, tak perlu terpuruk sedemikian sedihnya ketika telah tiba saatnya ia bukan lagi sebagai milik kita.
Seorang bijak pernah berkata: " Jangankan kekayaanmu, istri atau suami dan putra-putrimu itu, dirimu saja bukan milikmu".

Istimewanya Kewajaran
Kita sudah sangat akrab dengan kata "wajar". Sejak tadi kita berkali-kali menggunakan kata "wajar". Namun, tidaklah mustahil kalau saat mengguna-kannya, kita tak sepenuhnya sadar kalau ia bersifat subjektif dan oleh karenanya relaitf. Sesuatu yang wajar menurut saya, boleh jadi malah tidak wajar buat anda. Adalah wajar bagi seekor kuda untuk telanjang bulat di depan umum, Kita tak perlu memaksakan kewajarj kita padanya dengan memaksanya bercelana. Memaksakan kewajaran kepada apa atau siapapun malah mencerminkan ketidak-sadaran kita akan sifat subjektif dan relatif dari kewajaran itu bukan?

Sesuai derajat kesadaran dan tingkat kematangan mental-spiritual masing-masing, kewajaran masing-masing orangpun berbeda-beda. Lalu, mana yang bisa disebut 'lebih wajar" atau "kurang wajar" dari yang lainnya? Hanya mereka yang telah benar-benar sadar, yang telah benar-benar matang dalam mental-spiritual bisa bersikap dan bertindak benar-benar wajar. Adalah mustahi untuk mengharapkan sesuatu yang wajar dari mereka yang belum benar-benar sadar dan masih mentah secara mental-spiritua. (Bagi mereka yang telah benar-benar sadar, yang telah benar-benar matang secara mental-spiritual, apapun yang diper-buatnya adalah kewajaran, walaupun tak seorangpun bisa melihatnya demikian.

Sesuatu yang wajar, apa adanya, jujur, tanpa pretensi apalagi kepura-puraan. Oleh karenanya, sesuatu yang wajar tampak biasa-biasa saja, tampak tidak istimewa; padahal, di dalamnya-lah tersembunyi keistimewaan.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011