Pemikiran Upanisad

Jika di dalam bagian mantra dan brahmana benih-benih filsafaf masih belum nampak jelas, maka pada bagian upanisad pemikiran-pemikiran spekulatif para rsi telah memulai memperliahatkan pencarian kedalam, sehingga perhatian kepada agama-agama yang bersifat eksternal tidak lagi dilakukan. Zaman ini tidak lagi zaman local dengan segala aturan dan kompleksitasnya, tetapi sebuah zaman reflektif dan kontemflatif.

Perkembangan filsafat secara jelas mulai dari kitab-kitab upanisad yang lebih kuno. Chari mengatakan bahwa ajaran-ajaran filsafat kitab-kitab upanisad mencakup rentangan permasalahan yang luas. Ajaran-ajaran itu tidak disajikan didalam suatu urutan teratur didalam sebuah kitab upanisad dengan semua detailnya yang rinci, tetapi terpencar di dalam upanisad-upariisad yang berbeda-beda. bahkan sebuah teori tertentu sering dijelaskan di dalam cara-cara yang berbeda sehingga seolah-olah memberikan kesan bahwa ada komflik diantara ajaran-ajaran pada teori yang sama. Oleh kerena itu perlu mengumpulkan berbagai ajaran yang ditemukan di dalam upanisad-upanisad yang berbeda-beda dan mengkonsolidasikan merekan ke dalam doktrin-doktrin yang koheren. Upaya-upaya penelitian yang dilakukan untuk tujuan menemukan suatu doktrin yang koheren dari seluruh kitab-kitab Upanisad merupakan usaha yang perlu terus didorong sehingga lebih mudah memahami isi dan amanat kitab-kitab tersebut.

Sistem filsafat Vedanta secara jelas mengembangkan sistem filsafatnya dari kitab-kitab Upanisad yang membentuk Pranastraya, yaitu upanisad, brahmasutra dan bhagavadgita. Tiga komentator kitab Brahmasutra, yaitu samkara, Ramanuja dan Madhva menggunakan, kitab-kitab upanisad sebagai titik pijakan membangun posisinya di dalam dunia filsafat India (darsana). Sistem-sitem darsana lainnya walaupun tidak secara langsung mengambil dari kitab-kitab tersebut, mereka mengembangkan sistemnya masih tetap sesuai dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Veda secara umum. Hal ini membuktikan betapa besar daya tarik pemikiran filsafat yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut.

Pembahasan berikut ingin melihat pemikiran-pemikiran filsafat di dalam kitab-kitab upanisad yang diharapkan bisa mambantu memahami sistem filsafat India (darsana) lebih lanjut. Analisis umum masing-masing upanisad utama memberikan gambaran yang lebih jelas ajaran-ajarannya. Secara garis besarnya topik-topik yang dibahas di dalam kitab-kitab upanisad adalah Brahman, Atman, Dunia (jagat), Shadan, dan Moksa. Masing-masing berbicara mengenai topik-topik tersebut dengan cara dan daya penyajiaannya masing-masing.

Studi Upanisad

Di dalam sejarah perkembangan pemikiran mausia, upanisad telah menempati posisi yang sangat penting, kitab-kitab ini telah secara signitif mempengaruhi sistem filsafat, agama, kebudayaan, dan kehidupan sebagai umat manusia selama berabad-abad, terutama negara-negara di belahan Timur dunia. Kehidupan kebudayaan kuno di Tibet, Thailand, Cina, Jepang, Korea, Sri Langka, Semenanjung Melayu, negar-negara Indo-Cina, dan Indonesia telah mendapat pengaruh yang kuat dari ajaran-ajaran upanisad melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha ke luar India. Ke arah Barat pengaruh tersebut sangat terasa hingga ke Asia Tengah.

Di dalam arus informasi dunia modern, semakin banyak sarjana Eropa yang tertarik memplajari ajaran-ajaran upanisad sehingga informasi penyebaran nilai-nilainya juga semakin meluas. Radhakrishna mencatat bahwa ajaran-ajaran upanisad telah mempengaruhi ajaran upanisad telah mempengaruhi ajaran mistik sufisme, ajaran Logos Neo Platonics dan Mistik Kristen Alexanderrian dari Eckhart dan Tauler dan juga filsafat mistik besar Jerman pada abad ke-19, schopenbauer. Bahkan Schopenbauer mempunyai kebiasaan membacanya sebelum tidur.

Upanisad telah melampaui zaman yang sangat panjang dan perubahan-perubahan zaman yang sangat beragam. Ibarat aliran sungai dari hulu ke hilir berliku melalui bebagai wilayah yang beragam. Namun nilai-nilai upanisad tetap dijadikan sumber inspirasi, motivasi oleh sebagai umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. Ajaran-ajarannya mampu membuka wawasan berfikir dan rohani manusia yang mencari kedamaian hati. Mereka merasa sangat dibantu di dalam merumuskan pandangan-pandangan mereka yang baik menyangkut hal-hal duniawi maupun rohani. Hal ini membuktikan bahwa Upanisad memperhatikan daya tarik yang tiada taranya di dalam abad yang panjang dan telah dikagumi oleh orang-orang besar dari berbagai ras, wilayah, kebudayaan dan sistem keyakinan.

Di dalam tradisi intelektual India, Upanisad selalau dihubungkan dengan pergerakan keagamaan. Artinya gerakan-gerakan yang ingin melakukan reinterpretasi atau reformasi kehidupan religius dan sosial mencari inspirasinya di dalam kitab-kitab Upanisad. Pengarang Bhagawadgita kira-kira dua ribu lima ratus tahun yang lalu untuk petamakalinya mensintesekan kebenaran halus upanisad dengan puisi surgawi abadi yang telah banyak membentuk karakter manusia dan kebudayaan India. Betapa besar pengaruh kebudayaan dan manusia India. Betapa besar pengaruh Bhagawadgita dalam kehidupan masyarakat India hingga sekarang. Hal ini dilakukan untuk memberi impuls baru terhadap pemikiran yang religius.

Kemudian kira-kira seribu dua ratus tahun yang lampau, untuk kedua kalinya, pendiri-pendiri sistem filsafat Vedanta muncul membangun sistem realitas dari materi-materi yang diambil dari kitab-kitab Upanisad, yaitu suatu sistem yang lebih mengedapankan intelektualitas dari pada mistik. Pada abad ke dua puluh intelektual India dihadapkan pada situasi sulit menghadapi pengaruh-pengaruh peradaban Barat dengan perkembangan ilmu dan teknologinya yang demikian pesat. Masalah ini menuntut mereka untuk melakukan rekonsiliasi mistikisme dengan intelektualisme agar terdapat hubungan yang harmonis antara pikiran yang berlandaskan kebenaran upanisad dengan tuntutan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama, sehingga dengan demikian pandangan filsafat tentang realitas tidak diganggu tetapi sebaliknya tetap ditopang oleh ilmu pengetahuan modern.

Pergerakan keagamaan dan sosial, seperti Arya Samaj dibawah pimpinan Swami Dayananda Saraswati ingin mengem¬balikan peradaban India kepada sumber aslinya, yaitu Veda dengan penafsiran yang monistik. "Kembali kepada Veda (back to Veda) merupakan konsep pemurnian peradaban India sebagai reaksi atas perkembangan jaman yang dinilai tidak menguntungkan peradaban Veda. Konsep ini dengan jelas dapat dilihat di dalam kitab-kitab upanisad yang mengedepankan paham-paham monistik.

Demikian pula pergerakan-pergerakan berikutnya, seperti Ramakrishna Mission di bawah pimpinan Swami Vivekananda, murid Ramakrishna ingin mengadakan reformasi kehidupan sosial-keagamaan dengan konsep Vedanta ke tengah-tengah masyarakat luas, tidak semata-mata milik sekelompok elit tokoh agama. Konsep 'membantu sesama umat manusia adalah pada dasarnya memuja Tuhan" (Serving others is wor-shipping God) diperkenalkan dengan meluas oleh Swami Vivekananda. Demikian juga Sri Aurobindo di India Selatan menekankan aspek mistik didalam membangun superman. Pada diri Aurobindo-lah, oleh pengamat dikatakan berpadunya pemikiran intelektual Barat dan India.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh mengambil ilham pergerakannya dari studi upanisad yang mendalam. Renade berpendapat bahwa kitab-kitab upanisad mampu memberikan kita suatu pandangan tentang realitas yang mampu memuaskan aspirasi-aspirasi ilmiah, filsafat dan juga agama manusia; karena mereka memberi kita suatu pandangan yang dapat dilihat dan ditopang oleh pengalaman langsung, pertama, intuitif dan mistik. Tidak ada ilmu pengetahuan yang mampu memberikannya.

Renade lebih lanjut mengatakan bahwa kitab-kitab upanisad sungguh menempati suatu tempat yang unik di dalam  perkembangan  pemikiran intelektual India. Semua sistem filsafat India belakangan berakar pada kitab-kitab upanisad. Terdapat perbedaan fundamental di dalam metodelogi upanisad dan Vedanta. Di dalam satu kasus, kita mempunyai metode intuisional, pada kasus lain hanya logika. Kitab-kitab upanisad telah dikagumi oleh sarjana-sarjana baik India maupun Eropa.

Dr. Goldstrucker mengatakan bahwa kitab-kitab Upanisad membentuk dasar keyakinan berpenerangan India. Dr. R. C. Dutt, ketika membaca kitab upanisad, merasakan sejenis emosi di dalam hatinya, dan melihat sebuah sinar baru di depan matanya. Ram Mohun Roy merasakan seluruh hidupnya ditransformasikan ketika ia membaca halaman-halaman isi upanisad. Pratt memandang kitab-kitab upanisad secara esensial sebagai karya religius dari pada karya filsafat. Mead telah meneliti dan akhirnya menyebut upanisad sebagai "kitab suci dunia".

Dari ungkapan-ungkapan mereka di atas dapat dilihat betapa tinggi nilai spiritualitas upanisad dipegang oleh baik sarjana Barat maupun Timur. Tidaklah berlebihan mengatakan, kecuali Bhagawadgita, bahwa kitab upanisad sebagai karya yang benar-benar religius di dalam keseluruhan filsafat India. Apalagi didalam pemikiran modern, kitab-kitab upanisad mendapatkan tempat istinewa yang cocok dengan pola-pola pemikiran ilmiah didalam mendekati suatu persoalan dunia. Upanisad sangat menghargai intelektualitas manusia.

Upanisad Sebagai Sumber

Upanisad mementuk bagian akhir Veda, setelah Aranyaka dan oleh karena itu disebut juga dengan "Vedanta" (veda+anta), artinya 'akhir Veda'. Secara implisit Vedanta mengandung esensi ajaran-ajaran Veda. Kitab-kitab upanisad merupakan pondasi sebagian besar filsafat dan agama India. Seperti dikatakan oleh Bloomf ield dalam The Religion of Veda, hal. 51 bahwa tidak ada pemikiran Hindu, Buddhisme yang tidak dikembangkan dari inspirasi prinsip yang terkandung di dalam upanisd.

Upanisad mengandung catatan tertua spekulasi pemikiran India. Mantra-mantra dan buku-buku liturgis Veda lebih banyak berhubungan dengan agama praktis daripada dengan pikiran orang Arya. Kita temukan di dalam upanisad sebuah kemajuan dari mitologi Samhits, Brahmana dan bahkan teologi Aranyaka. Penulis-penulis upanisad mentrans-formasikan masa lalu yang ereka miliki dan perubahan-perubahan mereka pengaruhi ke dalam agama Veda menandakan kegairahan hati mereka untuk bisa mendapatkan pembebasan (moksa).

Tujuan utama Upanisad adalah bukan mengajarkan kebenaran filsafat melainkan kedamaian dan kebebasanlah yang menjadi cita-citanya. Upanisad bukan berisi latihan-latihan berfikir kering yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan mutu rohani. Solusi-solusi tentatif pertanyaan-pertanyaan metafisika diajukan dalam bentuk dialog dan penyangkalan, walaupu sesungguhnya Upanisad lahir dari tradisi puitik zaman mantra-mantra Rg-Veda. Tidak berisi filosofi sistematik atau hasil dari penulis tunggal, atau bahkan zaman yang sama, kitab-kitab ini mengandung ketidak-konsistenan dan tidak ilmiah. Mereka memberikan kepada kita keykayaan pikiran ligurtis reflektif zamannya.

Di dalam kancah filosofi intuitif perolehan mereka dianggap satu. Filsafatnya mampu memberikan kepuasan pada pikiran-pikiran yang telah maju. Dengan demikian bisa dikatakan pikiran-pikiran yang belum bisa puas dari pelaksanaan ritual yang begitu dominan pada zaman Brahmana, bisa dipuaskan oleh sistem upanisad walaupun belum sitematis dalam pengertian filsafat. Ada kemajuan tingkat berfikir para rsi dengan tidak kehilangan kaitannya dengan masa-masa sebelumnya. Munculnya upanisad boleh dikatakan sebagai reaksi atas agama Brahmana yang emnekankan pada aspek karmaphala, aspek tindakan yaitu yajna. Upanisad sesuai dengan hakikatnya termasuk ke dalam Jnana Kanda dari Veda.

Oleh karena hampir seluruh kesusasteraan India kuno anonim, maka Upanisad pun penulisannya anonim Mereka yang membukukan-membukukan Upanisad tidak mempunyai hak untuk mengharumkan namanya di dalam karyanya, karena ia hanyalah sebagai penghubung saja wahyu-wahyu yang diterimanya. Karya-karya tersebut adalah milik masyarakat dan untuk kebaikan masyarakat. Beberapa doktrin upanisad sering diasosiasikan dengan nama-nama rsi -rsi terkenal seperti Aruni, Yajnavalkya, Balaki Svaketu dan Sandilya. Mereka barangkali, eksponen awal doktrin-doktrin yang dihubungkan dengan mereka. Mereka boleh disebut sebagai filosof-filosof upanisad.

Ajaran-ajaran upanisad dikembangkan di dalam parishad atau perdebatan spiritual dimana guru-guru dan muridnya melangsungkan pengajarannya dan mendefinisikan pandangan-pandangan metafisika mereka. Metode penyampaian ajaran dari guru ke murid adalah dengan menggunakan pendekatan dialektif. Yang dibicarakan adalah masalah-masalah pendakian spiritual. Atman, Brahman, Dunia Gagat)/ Disiplin Spiritual (Sadhana), Pembebasan (Moksa) merupakan topik-topik kitab-kitab Upanisad. (Bersambung)

Oleh: I B.P. Suamba
Warta Hindu Dharma NO. 530 Februari 2011