Pemikiran Bijak Ajaran Tantra [2]

(Sebelumnya)

Meskipun jika percakapan tersebut dimengerti secara harfiah dan ajaran tantra diterima sebagai wahyu, tidak akan ada ketidaksesuaian. Ajaran tantra diwahyukan oleh Tuhan di satu pihak, dan hal itu dirasakan sebagai pengalaman oleh para yogi dan para pendeta di pihak lain adalah cukup sesuai, karena apa yang diwahyukan dapat pula dipertegas dalam pengalaman diri kita sendiri. Tradisi tantra menerima keduanya.

Jadi kita melihat bahwa tradisi Agama atau tantra, terpisah dari wujud yang amat penting dalam kebenarannya sendiri, adalah juga melengkapi tradisi Weda atau Upanisad. Sebagaimana telah disebutkan, ide-ide dalam ajaran Tantra tertuang secara implisit (dan kadang-kadang diekpresikan secara ekplisit) di dalam Weda-Upanisad, ajaran tanntra secara jelas dan lengkap menyebut-kannya. Jadi, Weda Tantra membentuk sebuah dan jalan pemikiran yang sama.

Jadi, Weda dan Tantra membentuk sebuah dan jalan pemikiran yang sama. Mereka yang menghimpun ajaran-ajaran Tantra pada periode setelah Weda (Post-polic), 1) sadar atas kebenaran ini (yaitu kontinuitas dan kesatuan dari tradisi Weda Tantra), dan oleh sebab itulah mereka telah menyebutkannya secara jelas. Di dalam Kularnava Tantra Dewa Siwa menegaskan kepada permaisurinya, Dewi Parwati, "keenam sistem dari Filsafat Weda adalah bagian -bagian tubuhku seperti kaki, perut, tangan, dan kepala, hal-hal yang membedakan mereka, sesungguhnya memecahbelah tubuhku. Dan disini pula keenam anggota tubuh dari Kula tersebut; oleh sebab itu, Oh Kekasih, mengetahui pengetahuan Weda menjadi Kaulic (Tantrik)."2).

Seharusnya juga dijelaskan bahwa ajaran Tantra tidak hanya memiliki status sebagai pelengkap Weda dari Weda. Sebagai pelengkap Weda adalah kebetulan. Kenyataannya, ajaran tantra memiliki status yang berdiri sendiri, hal terawal dari tradisi tantra atau Agama terletak pada situasi ketika para pendeta menyempurnakan himpunan pengetahuan Weda tersebut atau menyempurnakan tradisi lainnya untuk persoalan itu adalah hanya kebetulan. Hal yang pokok adalah bahwa arti dari tradisi Tantra terletak bukan pada sebagai pelengkap Weda atau tradisi lainnya, melainkan arti tersebut terletak pada kemampuannya untuk memberikan sebuah filsafat hidup mandiri, yang lengkap dan sempurna.

Di satu sisi, ajaran Tantra bahan lebih lengkap dan penting daripada Weda. Alasan bagi pernyataan ini sederhana. Ajaran Tantra adalah isi Weda ditambah ajaran Tantra itu sendiri, dimana isi Weda tersebut adalah Weda ditambah ajaran Tantra secara implisit. Itu berarti, ajaran tantra, selain pemikirannya bijak yang terkandung didalamnya sendiri penuh, berisi pemikiran bijak yang terdapat di dalam Weda, namun Kitab Weda berisikan pemikiran bijak dari ajaran Tantra hanya secara implisit dan memerlukan ajaran Tantra menjadikannya jelas dan menjelaskannya menjadi lebih panjang lebar, dengan kata lain, Weda memerlukan ajaran Tantra untuk menjadi lengkap, di mana ajaran Tantra menjadi lengkap dengan sendirinya, ia tidak memerllukan Weda untuk menyempurnakannya. Agar lebih jelas, apabila kita memahami Weda, kita tidak dapat melaksanakannya tanpa mengerti tentang ajaran Tantra.

Selain itu, Agama (Tantra) secara epistemilogis lebih terdengar daripada Nigama (Weda). Apa yang diperoleh dari pengalaman adalah pengetahuan ilmiah dan ditegaskan olehnya sendiri: hal tersebut tidak memerlukan wahyu untuk menugaskannya, namun sebaliknya, wahyu memerlukan pengalaman bagi penegasnya: wahyu tanpa pengalaman tetap hanya sebuah obyek keyakinan dan tidak menjadi pengetahuan, penegasan berasal dari pengalaman dan bukan dari wahyu.

Dalam konteks ini adalah tepat menyatakan bahwa ajaran Tantra dapat disebut sebagai suatu ilmu pengetahuan. Dalam menyebut Tantra sebagai suatu ilmu pengetahuan, kita tidak mengubah makna yang mendasar dari istilah "ilmu pengetahuan" tersebut, dan juga tidak melakukan sebuah penerapan yang salah terhadap istilah tersebut. Penalaran dan pengalaman adalah dua buah pilar yang mendasari ilmu pengetahuan. Menalar adalah metode ilmiah umum yang mendasar; ilmu pengetahuan adalah penelitian secara rasional tentang apa saja. Menalar membuatnya jelas bahwa sebuah penelitian yang berdasarkan renungan atau keyakinan tidak dapat diandalkan, kita dapat berpatokan hanya pada suatu yang kita amati atau kenali. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan berpedoman tidak pada perenungan atau keyakinan melainkan pada pengalaman aktual atau pengertian.

Sejak penalaran membuatnya lebih jelas bahwa secara wajar kita telah memperoleh hanya satu bentuk pengalaman dan itu adalah secara empiris atau dengan menggunakan pancaindera, pengalaman dalam konteks ilmu pengetahuan bermakna pengalaman secara empiris. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat juga didefinisikan sebagai sebuah penelitian empiris.

Tetapi dengan menggunakan alasan yang sama hal itu akan juga menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan berdasar pada pengalaman empiris bukan menurut definisi akan tetapi secara sederhana karena saat ini ilmu pengetahuan tidak mengenal bentuk pengalaman yang lain kecuali yang empiris tersebut. Apabila ditemukan beberapa bentuk pengalaman yang lainnya, seharusnya tidak ada keagu-raguan atas peranan kami dalam menyebutnya ilmiah; satu-satunya hal pokok yang akan menjadi pembuktian (bukan bahwa itu adalah ilmiah melainkan) bahwa hal itu adalah pengamatan sejati dan bukan sesuatu dari jenis angan-angan atau halusinasi atau ilusi. Hal itu akan menjadi ilmiah dengan kebaikan dari pengalaman.

Tantra berdasarkan pada pengalaman aktual dari para pendeta, Yogi dan peneliti spiritual. Mereka harus menyelidikai hingga ke alam yang terdalam dan kekuatan potensial manusia serta membuat eksperimen-eksperimen ruas pada tingkatan individual seperti juga pada tingkatan sosial Laboratorium mereka manusia secara pribadi (dan juga masyarakat pada beberapa tingkatan). Mereka tidak memiliki metode-metode modern dan fasilitas-fasiltas untuk merekam, mengolah dan memelihara data tersebut. Tentu saja mereka memilki metode-metode sendiri. Selain itu, agar catatan penemuan mereka menjadi masuk akal dan menghibur, mereka tidak menggunakan bahasa ilmiah yang lazim dipakai melainkan mereka mengungkapkan penemuan-penemuan mereka dalam istilah-istilaah puitis dengan menggunakan metafora, simbol-simbol, dan allegori.

Penemuan-penemuan dari para pendeta Tantrik diuji dan ditegaskan oleh sebuah tradisi para yogi yang lama bertahan yang muncul pada waktu itu. Siapapun dapat menguji kebenaran itu bagi dirinya sendiri; juga tidak ada resiko yang meliputi. Jadi, Tantra adalah sebuah ilmu pengetahuan-sebuah ilmu pengetahuan spiritual. Tidak hanya terdapat ilmu pengetahuan material, juga ada ilmu pengetahuan spiritual dengan metodelogi penyelidikan spiritualnya.

Ilmu pengetahuan material memiliki bentuk terapan, sebuah teknologi. Di jalan yang sama, ilmu pengetahuan spiritual juga mempunyai sebuah bentuk terapan ,sebuah teknologi. Bentuk terapan atau teknologi dari ilmu pengetahuan spiritual tersebut adalah apa yang disebut 'Yoga'. Tantra adalah juga yoga. Tantra menampilkan Yoga dalam sebuah variasi dari bentuk-bentuk. Hanya sebagai teknologi dari ilmu pengetahuan material. Sebagaimana teknologi dari ilmu pengetahuan material memiliki sebuah variasi dari bidang-bidang, Tantrik yoga tersebut, teknologi dari ilmu pengetahuan spiri¬tual, diterapkan dalam sebuah keanekaragaman dari sub-sub bidang.

Dalam konteks di atas kita seharusnya tidak bekerja keras di bawah khayalan bahwa segala sesuatu yang disebut di dalam kesatuan kumpulan tulisan-tulisan yang lebih luas tentang Tantra adalah seluruhnya pengalaman. Sebagaimana apapun yang dikatakan di dalam Weda adalah tidak semuanya wahyu, apapun yang dikatakan di dalam Tantra juga adalah tidak semuanya pengalaman. Naskah Tantrik juga memuat, banyak bahan yang hiperbolik dan spekulatif. Hal itu mungkin saja memuat beberapa jenis pokok permasalahan sebagai yang dapat diatur disamping sebagai sampah yang menyimpang. Apabila kita harus mengambil sebuah pandangan tentang ajaran Tantra yang realistis tanpa pemujaan sentimental apapun yang tidak semestinya terhadap naskah Tantrik, kita seyogyanya membuang dengan hati-hati bagian-bagian yang tidak penting dengan tujuan tercapainya pemahaman kita tentang posisi ajaran Tantra yang sebenarnya.

Dapat tidak diragukan bahwa nalar adalah satu-satunya alat yang tersedia untuk melaksanakan tugas di atas tersebut dan satu-satunya patokan untuk membuat penilaian apapun. Bahkan kekuatan supra rasional tidak menentang nalar. Mnjadi melebihi nalar berarti menjadi yang tidak dapat diketahui dengan nalar, dan bukan bahwa hal tersebut adalah irrasional atau anti-rasional. Oleh sebab itu nalar adalah peralatan terbaik untuk menentukan pokok isi yang sesungguhnya dari ajaran tantra, seperti juga pada penilaian apapun gerangan, bahkan ketika kita menerima Sruti atau wahyu, kita melaksanakan karena nalar mengatakan kepada kita bahwa kita menjadi waspada terhadap batasan-batasan dari penalaran itu sendiri dan mengenali kebutuhan akan penerimaan wahyu terebut.

Realitas itu adalah melebihi nalar ini pun dibuat menjadi jelas hanya oleh nalar. Nalar dibutuhkan bahkan dalam memutuskan untuk mengabaikan nalar, yang kita benar-benar tidak bisa dilakukan. Intinya adalah bahwa nalar diperlukan tidak hanya paling awal untuk menjadiftan kita waspada terhadap sifat yang menyebabkan orang menginginkan Sruti. (BERSAMBUNG)

Oleh: Dr. Kalamakar Mishra
Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011