Pemikiran Bijak Ajaran Tantra

Di antara orang-orang kebanyakan terdapat sebuah kesalahpahaman secara umum tentang Tantra dan Tantrika; adalah sangat diyakini bahwa di dalam pelaksanaan pengalaman ajaran Tantra seseorang menggunakan rumus mistik atau Mantra, memuja roh-roh halus dan dewa-dewa mistik, dan sebagai hasilnya mendapatkan kekuatan-kekuatan gaib dan pengalaman-pengalaman aneh. Akan tetapi pengertian tentang Tantra ini adalah benar-benar naif, karena Tantra memiliki sebuah makna tersirat yang lebih luas.

Tantra bermakna sebuah gambaran khusus tentang Realitas (metafisik) dari sebuah pandangan hidup yang khusus setelah itu (agama dan kebudayaan). Hal tersebut menampilkan nilai yang di satu pihak yang sangat mulia dan luhur dan 'di pihak lain lebih dapat dipraktekkan dan lebih realistis. Nilai-nilai kehidupan dalam ajaran Tantra bersifat sangat menyeluruh dan luas dimana tidak ada satu aspek kehidupan pun yang tidak tersentuh. Berdasarkan pengalaman secara khusus yang memperoleh kesimpulan yang bersifat umum (Agama atau Agamana) dari para Pendeta dan para Yogi secara besar-besaran diuji dan dibuktikan oleh sebuah tradisi yang bertahan dalam jangka panjang, ajaran Tantra membentuk sebuah kehidupan yang bahagia dan sehat, keduanya bermanfaat bagi sendiri maupun bagi masyarakat.

Ajaran Tantra menunjukkan cara menerima dan menggunakan dunia ini (dan nilai-nilai duniawi) dalam sebuah cara yang sedemikian rupa sebagai yang terjadi atas sebuah arti dari Kesadaran Diri. Hal tersebut menyajikan sebuah pandangan integral tentang kehidupan yang mempersatukan Bhoga (kesenangan) dan Moksa (pembebasan), sebagaimana juga Pravrtti (kehidupan di dunia) dan Nivrrti (Pembebasan Diri) dan yang menganjurkan suaru Yoga positif yang memeluk semua dalam dadanya serta membuat segalanya menjadi suci dan baik. Makna dari ajaran Tantra tersebut adalah berlaku pada waktunya dan tak terbatas waktu.

Ada kesalahpahaman lainnya, yang lazim bahkan diantara beberapa sarjana, bahwa tradisi Weda itu sendiri membentuk kecenderungan yang mendasar dari kebudayaan India, tradisi Tantra menjadi sebuah arus yang berlawanan atau bahkan menjadi sebuah perbuatan yang tidak wajar. Ada kesalahpahaman yang besar tentang Agama (Tantra) yang memiliki sebuah peran penting yang sebanding dalam membentuk kebudayaan India. Tradisi Tantra menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk disampaikan, dan ini harus diperhitungkan apabila kita harus membentuk sebuah pandangan yang menyeluruh tentang filsafat dan agama India.

Baik Weda (Nigama) maupun Tantra (Agama) diterima sebagai wahyu yang khas, yang menyinggung tentang pengalaman yang lebih luas dan pengetahuan yang lebih realitas yang hanya dapat dipahami oleh orang tertentu saja. Jika memang demikian lalu apakah hal yang penting dari Tantra, apabila Weda telah ada? Dengan kata lain, pertanyaannya adalah : Apakah Tantra itu berlebihan, atau apakah Tantra memiliki beberapa arti khusus; kenyataannya bahwa, Tantra yang melengkapi Weda. Baik menurut Weda maupun Tantra, Realitas yang utama adalah kesadaran (Citi atau Samvit) yang disebut Brahman atau Siiua.

Alam dari kesadaran ini adalah pengetahuan (Jnana) dan aktivitas yang dinamik (Kriya), dan kriya sebagai aspek dari realitas yang bertanggungjawab terhadap manifestasi dunia ini. Konsep Kriya, meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, hal itu dimunculkan secara mutlak di dalam Weda dan Upanisad; dan yang mutlak tersebut dipertegas di dalam Agama (Tantra). Ungkapan-ungkapan dalam Upanisad mengenai Penciptaan secara jelas mengajarkan asas Kriya dalam Brahman. Hal tersebut secara jelas di dalam upanisad bahwa dunia muncul, atau berasal dari Brahman.

Yato va imani bhutani jayante- Taittiriya Upanisad 3/1
atau bahwa "Ia menginginkan atau berhasrat-biarlah Diriku menjadi banyak dan berketurunan,"

Tadaikssata bahusyam prjayeyeti-Chandogya Upanisad, 6/2/3
Pernyataan-pernyataan ini cenderung mengajarkan Kriya atau Spanda. Pernyataan bahwa "semua benda-benda ini muncul dari kebahagiaan itu sendiri"

Anandadheyeva khalvimani bhutani jayante- Taittriyi Upanisad
Mengacu pada istilah-istilah yang tegas terhadap Spanda.

Pernyataan-pernyataan ini tidak dapat dijelaskan begitu saja dengar menyebutnya sebagai perumpamaan-perumpamaan (akhayayikas). Dewi Uma atau Parwati (Uma Haimavati) berasa! dari cerita yang terdapat di dalam Kena Upanisad. Cerita ini mengisahkan bahwa Brahman (Yaksa) adalah Siwa dan Uma adalah simbol dari Sakti.

Jadi, Upanisad menerima aspek dinamis dan realitas, namun tidak menyebutkannya secara menyeluruh. Tugas-tugas yang tersisa ini telah dilengkapi oleh Tantra. Di dalam ajarar Tantra, kedinamisan dari Realitas disebutkan sampai puncaknya terpenuhi; aspek Brahman yang tetap ada itu secara penuh ditunjukkannya. Sebagai hasilnya, di dalam ajaran Tantra terdapat suatu sikap yang sangat positif terhadap Penciptaan.

Ada makna penting lainnya di dalam pernyataan bahwa Tantra adalah pelengkap dari Weda. Weda yang juga disebut Nigama atau Nigamana yang berarti penalaran dari hal yang umum menuju kesimpulan yang bersifat khusus. Sebaliknya Tantra disebut Agama atau Agamana yang berarti pengambilan keputusan yang bersifat umum dari fakta-fakta yang mengkhusus. Weda diyakini telah diungkap dari sebuah sumber yang lebih tinggi, para pendeta tidak pernah mengarang pernyataan-pernyataan yang terdapat di dalam Weda; mereKa telah benar-benar menerima atau merasakannya rsayomantradrastarah.

Begitu saja, pernyataan-pernyataan di dalam Weda telah diambil sebagai dasar pemikiran yang diterima dari kesimpulan-kesimpulan yang telah ditarik. Oleh sebab itu pengetahuan tentang Weda adalah penalaran (Nigama) dari dasar-dasar pemikiran yang terungkap. Agama atau Tantra, sebaliknya, berdasarkan pada bukti dari pengalaman para pendeta atau para Yogi. Hal ini adalah benar-benar sebuah tradisi Yogi. Itulah mengapa Abhinavagupta menyebutnya sebagai 'Tradisi sebagai pengalaman' (Anubhavasampradaya).

Hal ini bukanlah bahwa Weda tidak mempercayai pembuktian dari pengetahuan yang turun langsung dari Tuhan, atau bahwa Tantra tidak mempercayai Wahyu. Keduanya saling mempercayai; namun pengetahuan Weda secara pokok diperoleh dari proses turunnya wahyu dari tuhan dimana pengetahuan Tantra secara pokok berasal dari pengalaman. Dalam tradisi India, Wahyu dan pengalaman dijalankan untuk saling melengkapi satu sama lain, apa yang diungkap dapat juga diperkuat dalam pengalaman aktual. Pengetahuan Weda dipertegas di dalam pengalaman, dan penegasan secara pengalaman ini adalah sebagai fungsi dari ajaran Tantra. Pada makna ini, Tantra (Agama) adalah sebagai pelengkap bagi Weda (Nigama).

Bentuk eksternal dari Tantra menyatakan bahwa jalan tersebut diungkap oleh Dewa Siwa, sebagaimana ditampilkan dalam bentuk dialog antara Siwa dan Parwati permaisuri (Dewa Siwa). Adalah cukup masuk akal untuk memahami Tantra sebagai wahyu; akan tetapi kekhusussan dari ajaran Tantra adalah bahwa itu berdasarkan kepada pengalaman (seperti telah disebutkan sebelumnya), dan bahwa mengapa itu disebut Agama (atau Agamana-pengalaman induktif). Para Yogi dan para pendeta telah berpengalaman mengenai kebenaran itu; Tantra mungkin dipahami sebagai sebuah catatan dari pengalaman mereka, percakapan antara Siwa dan Parwati menjadi sebuah alat yang berhubungan dengan kesusastraan untuk membuat catatan tersebut menarik.

Dalam kaitannya dengan hal ini mungkin harus diungkapkan bahwa Abhinavagupta menafsirkan dialog antara Siwa dan Parwati sebagai sebuah percakapan dengan kesadaran diri kita sendiri-antara kedua tingkatan kesadaran tersebut. Ia berkata, "Diri yang ditampilkan dalam setiap bentuk dan adalah diri yang berbahaya, baik bertanya maupun menjawabnya sendiri seolah-olah membagi dirinya sendiri menjadi penanya dan pembicara, dan pada saat yang bersamaan keduanya adalah diri itu sendiri."

Saddarsani me'nani padau kuksih karau sirah tesu bhedantu yah kuryanmamarigam shedayettu sah etanyepa kulasyapi sadangani bhavanti hi tasmad vedatmakam sastram viddhi kaulatmakam priye - Kularnava Tantra 2/84-85.

Svatma sarvabhavasvabhavah svayam prakasamanah svagmanamev svatma-vibhinnena prasnaprativacanat prastr Prativaktr-svatmamayena ahamataya camatkurvan vimrsati" -Paratrimsika -Vivarana, pp.14-15

Guru-sisya-pade sthitva svayam devo sadasiva purottarapadairvakyaih tantram samavatarayat -ibid,p.l2.

Dikatakan pula bahwa Dewa Siwa (sang diri) sendiri yang mengambil wujud sebagai Guru dan muridnya, mewahyukan ajaran Tantra itu dengan cara tanya-jawab. Hal ini berarti bahwa percakapan antara Siwa dan Prawerti diterima menjadi benar-benar sebuah percakapan antara Sang Diri yang mencitai dan Sang Diri yang mejawab (jawaban itu disempurnakan dari dalam Sang Diri). Sang Diri yang bertanya adalah anu (diri yang lebih rendah) dan Sang Diri yang menjawab adalah Dewa Siwa (diri yang lebih tinggi). (Interprestasi yang serupa mungkin berlaku dalam persoalan percakapan antara Arjuna dan Kresna dalam Gita). (Selanjutnya)

Oleh: Dr. Kalamakar Mishra
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011