Pemberdayaan Pasraman Menuju Peningkatan Kualitas SDM Hindu

Bali adalah dwipa spiritual. Predikat ini sangat lazim diberikan buat pulau Bali. Bila orang asing menyebutnya dengan "sorganya dunia", "pulau dewata", pulau seribu pura" dan berbagai sebutan lainnya ke arah spiritual, maka sebutan itu dapat dikatakan apakah sudah pas atau sebaliknya? Hal ini menjadi tantangan besar bagi pulau Bali. Kalau dilihat dari realita masyarakat Hindu, bahwa secara keseharian (nitya karma) dan secara insidental (naimitika karma), umat Hindu melakukan ritual atau upacara Agama Hindu sesuai dengan etika mulia (susila) dan filsafatnya (tattwa).

Gema pemujaan oleh para sulinggih setiap hari di Bali memberikan suasana segar dan cerah bagi kehidupan keagamaan Hindu. Begitu pula alunan mantra atau puja tri sandhya oleh para sedharma di seluruh pelosok Bali dan jagat Indonesia, telah memberikan pencerahan spiritual dan kemantapan moral yang baik bagi pemeluk Hindu dan tatanan sosial masyarakat Hindu dimanapun mereka berada.

Begitu pula adanya kesemarakan pelaksanaan ritual atau persembahan yang sambung-menyambung setiap hari menurut tuntunan subha dewasa dan subhacara, telah memberikan suasana yang religius, suasana estetis, suasana yang penuh dengan etis, ditambah lagi kemantapan dalam memaknai dan memahami isi ajaran agama Hindu secara filosofis, telah menjadi tuntunan yang sangat berarti untuk membangkitkan kondisi religiusitas dan sportivitas sosial Hindu di bawah payung yang sejuk dari susastra agama Hindu.

Alunan kidung keagamaan Hindu dari penyanyi keagamaan Hindu dari para juru kidung, telah melantunkan nyanyian suci berupa dharma gita dengan kidung kawitan wargasari, kidung wargasari, pupuhnya dengan tembang macepat yang ngulangunin dan ngeresresin bagi insan Hindu yang patuh dengan petunjuk susastra agama Hindu untuk menyatukan pikiran ke jalan samadhi untuk berbhakti kehadapan bhatara-bhatari, dewa-dewi, pitara-pitari, serta sasuhunan yang meraga suci.

Suasana suci, hening, henung, heling miwah hawas dengan keadaan sosial Bali yang semakin ditantang oleh adanya suasana konflik, perselisihan antar banjar dan antar desa pakraman, juga perampokan, pencurian, dan model pembunuhan dengan gaya mutilasi yang semakin bertambah di Bali. Belum lagi menggejalanya penyakit masyarakat atau penyakit sosial yang merebak ala narkoba, ganja, hasis, sabu-sabu, miras, HIV Aids, PSK yang semakin membludak, adanya banyak gepeng, dan berbagai penyakit sosial yang semakin merebak yang meracuni masyarakat ala togel, judi ceki, judi sabungan ayam, judi kocokan, judi bola adil, judi kelas dusunan yang suka kucing-kucingan, jika ada petugas yang sidak, dan masih banyak lagi sikon sosial Bali yang memberikan tantangan dan permasalahan sosial yang tiada henti-hentinya belakangan ini sebagai fenomena sosial yang latah dalam kekinian. Akankah semua hal itu menjadi-jadi di kemudian hari?

Pada sisi lain, kalau dilihat dari kacamata pariwisata, bahwa pulau Bali teramat terkenal di manca negara terutama oleh para wisatawan asing dari berbagai benua dan dari berbagai belahan negara di pelosok dunia. Semua mengunjungi Bali. Semua memilih Bali sebagai destinasi berwisata. Alasannya sangat kompleks, karena penduduknya yang ramah-tamah, budayanya yang adi luhung, pemandangannya yang indah, pantainya yang cocok untuk berjemur dan aktivitas sport, alam pegunungannya yang indah-sejuk dengan model sawah yang terasnya meliak-liuk mengikuti lika-liku jurang dan pangkung yang teramat indah dan cocok dijadikan lokasi vila maupun rafting bagi wisatawan yang suka menjelajah sungai-pangkung yang memiliki tantangan arung jeram yang mengasikkan.

Lahan di pantai-pantai sudah semakin habis dijadikan area hotel, restaurant dan lokasi swimming pool. Begitu juga alam perbukitan juga dijamah untuk dibeli sebagai tempat fasilitas berwisata tanpa mengindahkan norma-norma lokal yang berlaku karena yang utama adalah duit dan duit yang menjadi raja. Para pemilik tanah menjadi terlena dan terpesona dengan harga tanah yang dibeli berlipat ganda, akhirnya sampai pada tebing, jurang, pangkung, dan disisi danaupun diseliksik investor dengan alasan menanam modal dan mengembangkan potensi alam Bali serta alasan klasik untuk meningkatkan PAD kabupaten dan propinsi Bali. Jika hal ini terusmenerus merajalela, maka tidak lebih dari sepuluh tahun ke depan, akhirnya pulau Bali tidak lagi menjadi idola spiritual, tetapi akan beralih menjadi idola material.

Kegundahan dan keresahan sudah semakin dirasakan disana-sini di Bali. Kota kecil yang namanya Kuta sudah di bom yang memporak-porandakan tempat itu tujuh tahun yang silam. Pada setiap banjar saat ini dikepung oleh para pemulung yang cluntang-clantung datang ke kampung yang nadtad kampil puyung seolah-olah berbaur untuk mengais rejeki di tengah-tengah keasikan para krama banjar untuk berkarya dengan susah payah tanpa mengenal kondisi yang lelah untuk mencari nafkah di tengah-tengah situasi sulit kejepit dan peluang selalu dipersempit oleh para new comers yang aluh-aluh nagih nuduk barang-barang yang diklaim sudah rongsokan, padahal itu masih berguna untuk keperluan keluarga.

Timbul lagi perilaku usil, yang akhirnya berujung pangkal banyak terjadi pratima, arca, pralingga bhatara-bhatari yang kecolongan di siang bolong, sampai-sampai juga pis bolong yang sangat diperlukan untuk keperluan upacara dan upakara yajna juga dicolong. Cek kali cek ternyata si new comer itu pelakunya. Setra-setra digerayangi maling sebagai orang yang tak diundang, lalu membongkarnya untuk alasan mencari rejeki ngulah aluh. Kali-kali juga dijamah sambil membawa magnit dengan dalih mencari besi rongsokan, tahu-tahu ada berita bahwa pura dicongkel palinggihnya atau pratimanya sudah raib dibawa kabur oleh orang usil yang tidak bertanggung jawab.

Masih banyak berita unik dan menyedihkan di koran sampai di media elektronik yang memberitakan terjadinya kemalingan di sana-sini di Bali. Kapankah Bali, tetap menjadi pulau Dewata? Sampai kapan pula Bali menjadi sorga dunia? Apakah sudah saatnya Bali akan menjadi dan mendapatkan predikat baru sebagai tempat yang tidak aman lagi?

Jawaban mengenai permasalahan tersebut di atas perlu menjadi renungan bersama, pemikiran, perhatian, upaya positif untuk antisipasinya sejenis solution ala orang asing. Apanya yang salah mengenai Bali? Apakah karena masyarakat Hindu di Bali terlalu asik dengan pujian, sanjungan, isapan jempol, atau orang Bali selalu berpredikat 'DK' atau demen kajum? Atau mungkin orang Bali, masih latah dengan cemoohan miring bahwa orang Bali adalah senang 'BA' atau belog ajum? Atau orang Bali apa masih banyak yang pikun-pukunan atau engsap ken raga, sehingga lupa untuk memikirkan Bali dalam kekinian, apalagi untuk memikirkan untuk di masa yang akan datang.

Masih terkesan bahwa masyarakat Hindu di Bali masih demen untuk macongkrah dan majugjag ngajak timpal padidi. Masih banyak dijumpai ada krama yang merebatin serra, mauyutan ngajak timpal padidi makerahin tapal batas desa pakraman, masih ada banyak yang mapairian ngajak nyama padidi, juga masih banyak ada warga yang maprakara ulian warisan tetamian reramane, masih banyak juga krama Bali ane magama Hindu yang dibantu pakaian, material, uang, dan sebagainya yang ujung-ujungnya akhirnya sanggah merajan tidak di-bantenin atau ditinggalkan karena telah mengalih ke agama lain, ke agama aneke ane suba ngemaang artha brana.

Jika hal ini terjadi di era modern ini, betapa umat Hindu di Bali sangat rendah dan murahan kualitas moralnya dan spiritualnya, yang awal-awalnya selalu dipuji-puji orang lain. Kalau begini, apanya yang salah? Apakah karena lembaga umatnya yang lemah syawat, atau karena para pengurus lembaga umatnya yang tidak memiliki rasa jengah, bahwa umatnya yang dikerjain orang lain, sampai-sampai karena gara-gara studi ke luar Bali, akhirnya banyak generasi muda Bali, atau dari para taruna Bali yang paid bangkung uli dura Bali.

Masih banyak lagi model lain yang menggerogoti nyama Bali dalam era modern ini. Untuk semua itu, maka kita sebagai warga Bali yang beragama Hindu, secara bersama-sama untuk selalu sengeh, celang, rung., urati, melaksana, dan mengabdi untuk kebaikan dan kelestarian kondisi Bali yang dijiwai oleh nafas Hindu yang sudah terkenal telah ada mendunia secara universal di berbagai lapisan jagat raya ini. Kita sebagai warga Bali yang masih punya kepedulian, mari secara bersama-sama menjaga, mengembangkan, dan membuat kondisi Bali menuju kualitasnya yang sejati, dalam upaya memenuhi tuntutan jaman yang semakin menggelobal.

Berdayakan Pasraman

Permasalahan yang banyak muncul di jagat raya ini, bahwa salah satu solusinya adalah melalui dunia, pendidikan. Bukti nyata adalah bagaimana umat Hindu di Bali sejak dahulu yang selalu tertinggal dengan umat beragama lainnya di Indonesia, maka perguruan pertama yang membangkitkan pendidikan agama Hindu adalah perguruan dari Yayasan Dwijendra Denpasar Bali. Kehadiran dari Yayasan Dwijendra Denpasar di tahun 1950-an merupakan cikal bakal pertama dari lembaga pendidikan yang peduli dengan visi dan misi agama Hindu di Bali khususnya dan pendidikan agama Hindu di Indonesia pada umumnya.

Betapa malunya tempo dulu para tokoh Hindu di Bali, bahwa agama Hindu masuk ke dalam 'aliran' dalam struktur kementrian agama RI Jakarta. Berkat perjuangan yang tulus dari para tokoh Hindu di masa lalu yang dimotori pada Yayasan Dwijendra Denpasar, maka berangsur-angsur kondisi pendidikan agama Hindu mengalami dinamikanya yang positif dan berjalan sesuai dengan visi dan misi agama Hindu yang diwarisi hingga kini di Indonesia.

Pada masa lalu bahwa Yayasan Dwijendra Denpasar telah mendirikan sekolah-sekolah bernafaskan Hindu yang sekaligus sebagai cikal bakal sekolah Hindu yang eksis di era kekinian di Indonesia. Saat itu, telah didirikan SMP Dwijendra, PGAAHB (Pendidikan Guru Atas Agama Hindu Bali), juga telah didirikan IHD (Institut Hindu Dharma). Berkat kehadiran Yayasan Dwijendra Denpasar di Bali, maka dinamika pendidikan ae Hindu menjadi semakin menunjukkan jati dirinya bagi umat Hindu Indonesia saat itu hingga kini. Bermodalkan SMP Dwijendra Denpasar, sampai sekarang ada TK, SD, dan SMA Dwijendra Denpasar, maka pada tahun 1968 berhasil dinegerikan menjadi PGAHN Denpasar, dan tahun 1969 ada muncul PGAHN Singaraja dan PGAHN Mataram NTB. Selain itu ada juga muncul PGAAHB atau PGAH di Blitar-Jatim, PGAH di Klaten-Jateng, PGAH di Lampung-Sumatra, PGAH di Palangka Raya-Kalteng, PGAH di Bangli, PGAH di Gianyar, dan PGAH di Tolai Sulteng.

Itu di masa tahun 1970-an yang terjadi tentang pendidikan agama Hindu di Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1990-an tepatnya tahun 1993 bahwa PGAHN Denpasar ditingkatkan statusnya menjadi APGAHN Denpasar, tahun 1999 berubah menjadi STAHN Denpasar, tahun 2004 berubah menjadi IHDN Denpasar. Sedangkan IHD di Tembau Denpasar pada tahun 1993 berubah menjadi UNHI Denpasar sampai sekarang. Sedangkan sekolah PGAH yang ada banyak di tanah air, juga telah sirna dan ada beberapa yang berubah menjadi STAH, seperti : di Klaten menjadi STHD Klaten, di Mataram menjadi STAHN Gde Pudja Mataram, di Palangka Raya menjadi STAHN Tampung Penyang, di Jakarta berdiri STAH Dharma Nusantara, di Lampung juga berdiri STAH, di Palu Sulawesi Tengah berdiri STAH Dharma Sentana, dan di Malang berdiri STAH Tri Murti.

Keberadaan dari semua sekolah Hindu di tanah air belakangan ini, cikal bakalnya ada di Yayasan Dwijendra Denpasar. Hal ini patut disyukuri , bahwa Yayasan Dwijendra Denpasar telah mampu memberikan pengaruh yang sangat fundamental dan monumental bagi kemajuan pendidikan agama Hindu di Indonesia sejak tahun 1950-an sampai kini di era tahun 2009.

Pada era kekinian, bahwa Yayasan Dwijendra Denpasar diharapkan tetap berkarya terus untuk memajukan pendidikan agama Hindu dan pendidikan keagamaan Hindu Indonesia menuju persaingan yang semakin ketat dalam bidang pendidikan di Indonesia dan pendidikan pada berbagai negara di dunia. Negara India bisa mencapai kemajuan dalam bidang pendidikan yang dapat bersaing dengan negara-negara maju di bidang pendidikan seperti : Jepang, Inggris, Amerika, Singapura, dan lain-lainnya, adalah tidak terlepas dari kejelian para pengelola kependidikan untuk mendinamiskan pendidikan di negaranya.

Negara India saja bisa maju, kenapa Bali yang sama agamanya, budayanya, ada kemiripan sumber SDM-nya, dan model pendidikannya, yang harapannya bahwa Bali termasuk di Yayasan Dwijendra Denpasar akan mampu menjawab kebutuhan dan harapan umat Hindu di Bali untuk memiliki perguruan yang maju dan berkembang dengan baik di era kekinian sejalan dengan kemajuan di bidang pendidikan mengikuti rekan-rekan yang lain dari agama non Hindu. Pada agama Islam misalnya, telah memiliki TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, dan Perguruan Tinggi Agama Islam baik negeri dan swasta.

Dengan adanya payung hukum yang jelas dari pemerintah yakni UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan PP Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Sesuai dengan PP 55 tahun 2007 bahwa Departemen Agama RI, terutama pada Direktorat Jendral Pendidikan Islam telah ada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Lalu di Hindu apa yang mesti diperbuat ke depan? Dalam pasal 1 ayat (1) dan ayat (2) dijelaskan bahwa pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan ketrampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Kemudian dalam pasal yang sama terutama ayat (5) dan (6) dijelaskan bahwa Pasraman adalah saruan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan baik jalur fomal maupun nonformal. Pesantian adalah satuan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan nonformal yang mengacu pada sastra agama dan/atau kitab suci Weda.

Kemudian pada pasal 38 ayat (1) sampai (7) ditegaskan bahwa (1) pendidikan keagamaan Hindu merupakan pendidikan berbasis masyarakat yang diselenggarakan dalam bentuk pasraman, pesantian, dan bentuk lain yang sejenis. (2) Pengelolaan satuan pendidikan keagamaan Hindu dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. (3) Pendidikan pasraman diselenggarakan pada jalur formal dan nonformal. (4) Pendidikan Pasraman diselenggarakan pada jalur formal setingkat TK disebut Pratama Widya Pasraman, yaitu tingkat Pratama Widya Pasraman A (TK A) dan tingkat Pratama Widya Pasraman B (TK B). (5) Pendidikan Pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan dasr setingkat SD disebut Adi Widya Pasraman terdiri atas 6 (enam) tingkat. (6) Pendidikan Pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan dasar setingkat SMP disebut Madyama Widya Pasraman terdiri atas 3 (tiga) tingkat. (7) Pendidikan Pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan menengah setingkat SMA disebut Utama Widya Pasraman terdiri atas 3 (tiga) tingkat. (Selanjutnya)

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 509 Mei 2009