Pelangkiran

Sri Rsi Anandakusuma dalam Kamus Bahasa Bali, mengartikan kata plangkiran sebagai tempat sajen yang ditempatkan pada kamar (1986). Sejatinya plangkiran telah lama menjadi pilihan untuk menstanakan Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya yang paling praktis, mudah dibuat, didapat, atau ditempatkan, dan memenuhi fleksibilitas fungsi dalam kesederhanaan bentuknya. Plangliran menjadi pusat orientasi religious umat Hindu dalam segala swadharma ‘profesi’, sehingga keberadaannya dengan mudah dapat dijumpai di kamar dalam arti luas, seperti: kamar tidur, ruang kerja, kamar suci, warung, gerobak/rombong dagang keliling, di pasar, bahkan di dalam mobil.

Bentuk plangkiran menyerupai bagian atas dari pelinggih padma. Pelinggih Padma sendiri secara arkeologi diperkirakan berkembang dari bentuk pemujaan tahta batu jaman pra sejarah. Sutaba (1995) memperkirakan tahta batu bersusun yang mempunyai sandaran tangan kiri-kanan dan punggung, seiring perkembangan system pemujaan menjadi bentuk jempana, gayot/joli, dan wadah (bake) serta kembang secara vertical menjadi bentuk padmasana.

Perkembangan ini mengarahkan pemahaman plangkiran juga merupakan simbolik gunung. Puncak-puncak bukit dan gunung diyakini menjadi stana roh suci leluhur maupun para dewa manifestasi Tuhan sejak era pra sejarah nenek moyang Nusantara, dan semakin dipermulia oleg ajara Hindu India. Plangkiran menjadi salah satu stilirisasi sebuah bentuk puncak gunung yang dikultus menjadi stanaNya, disamping bentuk-bentuk pelinggih yang lebih bersifat permanen dalam arsitektur pemujaan Hindu.

Plangkiran pada awalnya terbuat dari bahan yang temporer, seperti: rangkaian bamboo, triplek, papan kayu sederhana, dan non finishing, karena memang difungsikan hanya untuk sementara. Namun, perkembangan kekinian, plangkiran dibuat dengan papa kayu pilihan (nangka, jati, majagau, cempaka atau cendana), bahkan dengan finishing diukir, dicat, dihias ornament aneka warna dan prada emas.

Plangkiran ditempatkan secara permanen pada ruang-ruang khusus seperti diuraikan di atas, dengan berbagai kelengkapan wastra, hiasan gantungan dan lamak kain atau pis bolong. Plangkiran menjadi tempat meletakkan daksina tapakan dan banten sesajian, serta persembahan harian maupun pada hari raya. Dewata yang distanakan pada plangkiran sangan bervariasi, misalnya; stana nyama catur sanak (kanda pat) untuk plangkiran dikamar tidur; Dewa Saraswati, Dewa Ganesha atau Guru Spiritual di plangkiran ruang kerja atau kamar suci. Dewata lainnya yang distanakan di plangkiran juga sesuai swadharma pemilik, contohnya Balian Usada akan menstanakan aspek Dewa-dewa Pengusada (Ratu Gde Nusa, Siwa Mahausadhi, Danuantari, dan lainnya); para pedagang/pengusaha cenderung menstanakan berbagai aspek Dewi Laksmi, Betari Melanting, Ratu Niang Tanah Kilat, Ratu Syahbandar, dan lainnya).

Ada juga dewata yangs stanakan berdasarkan penempatan pelangkiran, misalnya; Dewi Sri akan distanakan pada plangkiran lumbung, Dewa Wisnu atau Dewi Gangga pada pelangkira air suci atau sumber air bersih (sumber/dekat meteran PDAM) dan sebagainya. Pelangkiran memang menjadi pilihan “pelinggih” yang bersifat sementara, jika belum memiliki pelinggih yang permanen, dan dapat dipasang juga pada ruang-ruang tertentu secara permanen, meskipun sudah ada pelinggih permanen di merajan (tempat suci lainnya).

Ketentuan buku desain plangkiran belum ada ditemukan dalam lontar arsitekturan Bali. Para seniman atau perajin merancangnya berdasarkan interpretasi terhadap kebutuhan luasan ruang untuk menampung sebua daksina dan banten soda atau dampulan yang membutuhkan luasan sekitar paling kecil 25X25 cm’, 25X40 cm’, atau yang lebih besar 40X60 cm’. ukuran di pasaran sangan variatif, pun desain, bahan, dan finishingnya. Plangkiran kini telah dikomodifikasi menjadi salah satu komoditas ‘barang dagangan’ yang banyak diminati, dan terdistribusi secara luas pada berbagai sentra dagang sarana yadnya, ataupun pasar tradisional maupun modern. Hal ini tentu sangat membantu masyarakat yang akan mengkonsumsinya.

Namun demikian, plangkiran tidak dibuat sembarangan sebelum menjadi stana manifestasi Hyang Widhi, plangkiran disakralisasi melalui proses penyucian (prayascita), setelah sebelumnya ditempatkan pada utama mandala, seperti: di sisi kaja (arah gunung/bukit terdekat) atau sisi kangin (matahari terbit), dalam sebuah ruangan (kalau tempat memungkinkan). Ketinggian rong plangkiran (bagian depan tempat sesajian) ditentukan minimal di atas kepala (siwadwara) maurip aguli (tambah satu ruas jari).

Oleh: I Putu Gede Suyoga
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017