PAUD, Pendidikan Agama Usia Dini

Berita mutakhir yang bikin hati ketar-ketir dan tidak habis pikir, adalah semakin seringnya terjadi peristiwa yang mencabik-cabik perasaan dan hati nurani manusia. Di antaranya, di Rejang Lebong-Bengkulu, seorang gadis 14 tahun diperkosa 14 remaja mabuk kemudian dibunuh, lalu seorang dosen wanita dibunuh mahasiswanya di Sumatera Utara gara-gara persoalan nilai. Di Makasar seorang ayah tega membunuh anak kandungnya dengan cara memukulkan tabung gas 3 kg ke kepala anaknya yang sedang tidur. Di Denpasar beberapa waktu lalu juga terjadi insiden pertarungan antaranggota ormas hingga jatuh korban jiwa.

Pertanda apakah itu? Dunia semakin maju, ternyata bukannya bertambah luhur peradabannya, tetapi justru kian mundur pengagungan terhadap nilai-nilai peradaban, budaya dan agamanya. Semakin mudah saja manusia bertindak ngawur, satu sama lain baku hantam hingga babak belur, bahkan sampai masuk liang kubur. Semua itu bisa terjadi akibat perilaku manusia semakin jauh dari tutur-tutur luhur ajaran leluhur. Mengapakah manusia mulai mengaburkan dan menghancurkan rasa kemanusiaannya?

Tanpa disadari perkembangan zaman dengan kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat "perasaan hati" manusia kian menipis dan terkikis akibat pengaruh modernis yang kental dengan gaya hidup individualis, materialis, konsumeris dan hedonis yang berorientasi pada penumpukan pipis (kekayaan). Kekayaan materi menjadi terget utama gerak manusia di dalam kehidupannya. Akibatnya naluri dasariah manusia sebagai homo homini lupus lebih dominan mengendalikan gairah hidupnya. Akhirnya manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya. Hidup dan kehidupan manusia digerakkan hukum rimba, siapa kuat main sikat, siapa lemah mudah dijajah, siapa tak berdaya, selalu diperdaya.

Mencermati keadaan itu, siapakah yang patut dipersalahkan, dan bagaimana solusi terbaik mengatasinya? Tidak pada tempatnya mengacungkan telunjuk mencari siapa yang salah, sebab setiap manusia adalah penanggung jawab atas apapun yang terjadi dalam kehidupan ini. Manusia oleh Tuhan telah diberikan anugrah "idep" selain "bayu-sabda". Dengan idep (pikiran) itulah manusia semestinya menyiasati bagaimana jalan terbaik agar naluri dasariah manusia yang cenderung hewani dapat bertumbuh menjadi nurani manusiawi, penuh rasa cinta kasih (welas asih), kepada sesama manusia, dan semua makhluk ciptaan Tuhan. Untuk itu diperlukan penanaman bibit cinta kasih itu sejak dini, di antaranya lewat "PAUD", Pendidikan Agama Usia Dini.

Di dalam kitab Niti Sastra, IV.20 dengan jelas dan lugas ditegaskan "Anak yang sedang berumur lima tahun, hendaknya diperlakukan seperti anak raja; jika sudah berumur tujuh tahun, dilatih supaya suka menurut; jika sudah sepuluh tahun, dipelajari membaca; jika sudah enam belas tahun diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukkan kesalahannya, harus dengan hati-hati sekali; dan jika sudah beranak, diamat-amati saja tingkahnya, kalau hendak memberi pelajaran kepadanya, cukup dengan gerak dan alamat".

Menurut praktisi Pendidikan Anak Usia Dini. Anak Agung Oka Purnamawati, S.Pd.AUD (2015), "Sejatinya anak usia dini itu masih murni, polos, ibarat buah manggis, apa adanya, apa dan seberapa isinya dengan jelas tampak di permukaan. Kepolosannya itu bisa tetap bertahan atau dipertahankan jika orang tua, pendidik dan lingkungan sosial tidak merekayasanya untuk berubah, apalagi ke arah negatif. Senada dengan itu, teori Empirisme John Locke, menyatakan, bahwa anak itu tak ubahnya seperti kertas putih, ia menjadi indah jika ditulis dan atau dilukis dengan jiwa artistis, berdasarkan landasan filosfis, etis, moralis dan religis. Sebaliknya jika kertas putih bersih itu dipoles apalagi digores dengan garis dan guratan tak beraturan maka hasilnya adalah coretan, corat-coret bahkan coreng-moreng yang tak jelas desain konsepnya.

Mengembalikannya seperti keadaan semula tidaklah mudah, benar-benar berat dan berliku. Jika anak terlanjur keluar dari skema arahan, bimbingan dan tuntunan agama, maka rusak dan hancurlah masa depan anak. Karena itu perlu disadari semua pihak terutama lembaga pendidikan, dari keluarga, dan sekolah bahwa anak-anak itu bukanlah produk cetakan melainkan campuran buah karma genetika dan intelegensia yang di dalam pendidikannya wajib dilandasi atas tuntunan ajaran agama.

Sebagaimana penegasan suratan Niti Sastra di atas, pendidikan agama wajib diberikan dengan perlakuan menurut jenjang usianya, sejalan dengan fase pertumbuhan fisiologi dan perkembangan psikologi anak, yaitu: usia 0-5 tahun diperlakukan dengan penuh cinta kasih sebagai seorang raja, usia 5-7 tahun mulai diterapkan aturan tentang kewajiban sebagai seorang anak tentu dengan segala haknya, saat berumur 7-10 tahun mulai memasuki dunia persekolahan, ia bisa diperintah untuk memenuhi tugas dan tanggungjawab sebagai siswa, usia 10-17 tahun diperlakukan sebagai kawan, mendengar dan mengakomodasi pikiran/ide/gagasannya, dan ketika sudah berusia 17 tahun hingga memasuki masa berumahtangga, cukup dengan melakukan pengamatan, karena sudah tumbuh menjadi anak dewasa yang bisa berbuat sekaligus mempertanggung-jawabkan hasilnya.

Memahami jenjang usia anak di atas. pendidikan agama memang sangat tepat dilakukan sejak usia dini, sebagai usia emas di mana dapat ditanam tumbuhkan bibit-bibit religiositas anak agar dalam perkembangannya dapat hadir sebagai insan manusia berbobot, berkualitas baik sebagai sosok individual maupun makhluk sosial, yang dicirikan dengan semakin positifnya sikap mental, akhlak bermoral dan berkembangnya kesadaran spiritual anak.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Bali Post, Minggu Umanis 5 Juni 2016