PAUD Menurut Pandangan Hindu

Mungkin semua orang akan sepakat jika dikatakan bahwa setiap anak yang lahir dalam keluarga merupakan harta yang terindah dan tak ternilai harganya. Anak-anak itu dapat diibaratkan bagaikan bejana-bejana suci yang tidak seorang pun di dunia ini mampu menakar secara material berapa nilai (harga) kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga yang senantiasa berharap akan kehadiran rnereka.

Demikian pula dalam praktiknya tidak seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti bagaimana pengaruh orang tua terhadap masa depan kehidupan seorang anak yang ditakdirkan hadir di tengah-tengah kehidupan keluarga mereka.

Meski pun demikian, bukan berarti orang tua berhak memperlakukan anak yang hadir di tengah-tengah keluarganya sesuai kehendak atau sesuka hatinya, melainkan mereka harus dirawat, dididik, dan dibina sesuai dengan prinsip-prinsip dasar teori perkembangan anak. Berkaitan dengan proses pembentukan kepribadian anak ada beberapa teori psikologi perkembangan yang dapat dijadikan refrensi oleh orang tua dalam membina anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai yang diharapkan. Misalnya, teori perkembangan yang disebut teori Nativisme oleh Schopenhouwer mengatakan, bahwa anak-anak sejak dilahirkan telah membawa bakat-bakat khusus yang akan menentukan garis hidupnya kelak di kemudian hari.

Menurut penganut aliran ini, peran orang tua, termasuk lingkungan tidak terlalu penting dalam konteks perkembangan anak. Dalam pandangan Hindu inilah yang disebut dengan teori karma, yakni anak-anak yang terlahir ke dunia ini diyakini sudah membawa "karma wesana” masing-masing (bekasbekas perbuatannya pada masa kehidupan yang lampau). Artinya, apapun yang dicapai oleh anak-anak dalam hidupnya nanti, menurut keyakinan Hindu itu, sudah merupakan karma mereka masing-masing. Bila bekas perbuatan (karma wesana) yang dibawanya itu baik, maka kehidupan mereka kelak akan baik pula, sebaliknya jika karma wesana yang dibawanya adalah jelek, maka nasib yang dialami oleh anak-anak dalam kehidupannya kelak juga akan jelek. Jadi, dalam konteks keyakinan ini orang tua tidak dapat berperan banyak dalam menentukan nasib anak-anak mereka di kemudian hari.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya, teori Nativisme yang dikemukakan oleh Schopenhouwer ditentang oleh John Locke dengan teorinya Empirisme, yang mengatakan bahwa anak-anak ketika dilahirkan adalah seperti kertas putih bersih (tabularasa) yang belum berisi apa-apa. Pengalamanlah yang kemudian akan mengisi lembaran kehidupan anak, sehingga menurut teori ini apa pun jadinya anak-anak setelah besar nanti, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan yang berperan sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak itu sendiri. Dalam konteks Hindu pengaruh lingkungan ini dapat berupa pergaulan anak-anak dengan teman sebayanya, pengaruh lingkungan keluarganya, dan juga bisa berupa pengaruh ritual daur kehidupan, seperti upacara kepus puser, upacara ngerorasin, nelubulanin, dan upacara otonan, semua ini merupakan pengaruh lingkungan yang dapat berperan terhadap pembentukan karakter anak- anak, di samping adanya faktor karma wesana yang memang sudah di bawa oleh anak-anak sejak mereka dilahirkan.

Terhadap dua teori yang telah disebutkan sebelumnya, kemudian munculah teori Konvergensi yang dikemukakan oleh William Stern dan dibantu oleh Cllara Stren, yang mengatakan bahwa perkembangan kepribadian anak-anak sesungguhnya dipengaruhi oleh dua faktor yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya (interdevendensi), yakni faktor bawaan dan lingkungan. Berangkat dari pandangan penganut teori Konvergensi ini dan berdasarkan hasil penelitian para ahli, maka dapat dikatakan bahwa sifat dan kepribadian seseorang pada masa dewasanya secara umum merupakan hasil perpaduan antara pembentukan tabiat dan pendidikan yang telah diberikan kepadanya pada saat mereka masih kanak-anak (baca: Pendidikan Usia Dini) dengan bakat-bakat khusus yang telah dibawanya sejak dalam kandungan.

Misalnya, E.G. White dalam Wauran (1982:13) mengemukakan bahwa pengalaman yang dialami oleh anak-anak selama tujuh tahun pertama dalam kehidupannya akan lebih banyak menyangkut pembentukan tabiat mereka, dari pada pengalaman tahun-tahun berikutnya. Oleh karena itu, maka dapat dipahami betapa pentingnya perhatian orang tua terhadap pembinaan sikap dan perilaku anak-anak di tahun-tahun sebelum mereka mamasuki pendidikan dasar dan menengah, di samping faktor bawaan anak itu sendiri.

Berangkat dari pandangan tersebut, maka bagi masyarakat Hindu melakukan upacara daur kehidupan (mulai kepus puser, ngerorasin, nelubulanin, ngotonin, sampai telling oton, dan seterusnya) tidak bisa dianggap hanya sekadar rutinitas ceremony tanpa makna apa-apa. Akan tetapi hal itu mengandung makna sebagai upaya orang tua untuk menciptakan prakondisi, agar tercipta lingkungan di mana anak-anak dididik dan dibesarkan kondusif bagi pembentukan kepribadiannya, sehingga kelak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang dewasa dan bertanggung jawab (anak yang suputera), di samping mereka telah mebawa karma wesana masing-masing. Jadi, menurut pandangan E.G. White, landasan untuk masa yang gemilang bagi anak-anak di kemudian hari seharusnya diletakan oleh orang tua (bapak dan ibu) dari anak-anak itu sendiri, bukan oleh orang lain. Jadi, menurut pandangan Hindu, selain faktor karma wesana, upacara daur kehidupan juga tidak kalah pentingnya bagi upaya pembentukan kepribadian anak.

Apa yang dikatakan E.G. White, sebenamya secara konseptual dalam padangan masyarakat Hindu sudah ada jauh lebih dulu. Hal ini terbukti, pada masyarakat Hindu pendidikan bagi anak-anak usia dini sudah mulai dikondisikan sejak anak-anak dalam kandungan, yakni dengan melakukan upacara magedong-gedongan. Demikian pula setelah mereka lahir, mulai dari upacara kepus puser, upacara roras lemeng, telu bulanan, otonan, sampai mereka meninggal dunia juga telah disiapkan berbagai macam upacara, yang secara filosofis kesemuanya itu merupakan upaya untuk menciptakan suasana lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat dipahami bahwa sebenarnya anak kecil sebelum berumur satu tahun pun, sudah dapat menangkap dan mengerti dengan baik apa yang diucapkan oleh orang-orang di sekitamya, terutama para orang tua mereka. Mereka juga dapat mengerti bagaimana perlakuan orang tua terhadapnya, sehingga perlu sikap hati-hati bagi orang tua dalam hal berkata, bersikap, dan bertidak di hadapan anak-anak mereka, terutama di hadapan anak-anak yang sedang mengikuti pendidikan usia dini (PAUD). Sebab menurut pandangan Hindu pada usia inilah pada diri anak-anak sudah mulai dibentuk keperibadiannya melalui berbagai bentuk ritual (upacara). Melalui praktik upacara seperti inilah umat Hindu di Bali telah meletakan dasar-dasar pendidikan bagi anak-anak usia dini, di samping melalui berbagai model pembiasaan dan peneladanan oleh orang tua di lingkungan keluarganya.

Pada usia-usia ini, anak-anak umumnya sudah memahami apakah dirinya dapat mengalahkan prinsif ibunya atau ayahnya, ketika mereka meminta sesuatu kepada orang tua mereka. Dalam arti, apakah ayah atau ibunya akan mengabulkan atau tidak permintaan mereka akan sesuatu? Akan sangat berbahaya, jika pada masa pendidikan usia dini ini, orang tua membiarkan tabiat-tabiat yang salah dikembangkan dalam proses pendidikan anak-anak itu sendiri.

Oleh karena itu, orang tua jangan sampai membiarkan tabiat-tabiat anak yang kurang baik, itu terbentuk melalui proses sosialisasi, adaptasi, dan melalui proses asimilasi. Artinya, orang tua harus memahami prinsip-prinsip dasar dari teori psikologi perkembangan, atau dalam konteks Hindu orang tua harus memahami prinsip-prisip dasar orang beryajna, yakni salah satunya adalah dengan keikhlasan. Sebab pada kenyataannya, banyak orang tua sekarang yang memaknai pelaksanaan yajna (upacara) dari perspektif simbolik, yakni memandang kegiatan upacara sebagai arena sosial untuk melakukan kontestasi, bukan sebagai arena spiritual untuk melakukan penajaman hati, penumbuhan kebijakan, dan pencerahan spiritual.

Konsisi ini tidak dapat dilepaskan dari pola kehidupan masyarakat dewasa ini yang telah terjebak pada filsafat hidup materialisme dan hedonisme. Dalam kaitan ini Piliang (2004:109) menyatakan bahwa kondisi di dalam masyarakat konsumer dewasa ini adalah hampir seluruh energi dipusatkan bagi pelayanan hawa nafsu, yakni nafsu kebendaan (kekayaan), kekuasaan, seksualitas, ketenaran (popularitas), kecantikan kebugaran, dan kesenangan (hedonisme), sementara hanya menyisakan sedikit ruang dan waktu bagi penajaman hati, penumbuhan kebijakan, peningkat kesalehan, dan pencerahan spiritual. Dalam kebudayaan yang lebih dikuasi oleh hawa nafsu, dibandingan kedalaman spiritual, maka sebuah revolusi kebudayaan tidak lebih dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu.

Ketika pola-pola hidup seperti ini tidak dapat dikendalikan oleh para orang tua terutama saat berada di depan anak-anak, maka proses transformasi kebudayaan bisa berubah menjadi penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu. Jika ini yang terjadi jangan salahkan jika anak-anak kita kemudian juga akan terjebak pada pola-pola kehidupan individualisme-materialisme dan hedonisme-konsusmerisme. Sebab orang tua di depan anak-anak adalah figur dan merupakan model bagi anak-anak untuk melakukan identifikasi diri. Agar anak-anak tidak ikut-ikutan terjerat pada pola-pola kehidupan seperti itu, maka orang tua hendaknya mampu menghindarkan diri dari pola kehidupan individualisme-materialisme dan hedonisme-konsumerisme.

Oleh: I Ketut Suda I Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan, Program Pascasarjana, UNHI Denpasar
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017