Pasraman di Lintas Zaman

Orang tua wajib membesarkan anak-anaknya. Tidak hanya membesarkan badan, tapi orang tua juga bertanggungjawab membangun mental dan jiwanya. Pembangunan itu terus berlanjut hingga tingkat dewasa. Dewasa menurut Hindu adalah ketika anak telah mencapai usia 25 tahun. Masa ini disebut masa belajar atau brahmacari. Pada masa inilah anak-anak ditempa sampai ia mampu hidup dan berkehidupan, dan siap memasuki jenjang kehidupan selanjutnya, grhasta.

Zaman purba pendidikan yang tersistematis belum ada. Tapi secara kodrati orang tua punya rasa tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Pendidikan pada zaman purba tentu saja sifatnya tidak terstruktur dan tersistem seperti sekarang; anak-anak diajar memanjat pohon, menangkap ikan, berburu, bertani, dan beternak, sesuai dengan keahlian hidup masing-masing orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, menurut salah seorang pakar pendidikan Hindu, I Gede Sura (2014), pendidikan yang terstruktur dengan baik baru muncul pada zaman Hindu dan Buddha begitu juga ketika keduanya masuk Indonesia pada awal tarikh masehi. Peninggalan dalam bentuk tulisan maupun tradisi lisan menunjukkan bahwa pada jaman itu telah ada kegiatan pendidikan yang memakai sistem asrama memiliki kesamaan arti dengan sistem gurukula, gurushisya parampara, dan aguron-guron. Berdasarkan keterangan beliau, dalam sastra-sastra kuno, tempat asrama itu di hutan yang udaranya sejuk dengan pohon-pohon kayu yang rindang, bunga-bunga mewangi, air jernih mengalir, dan sebagainya.

Guru dan murid tinggal bersama sehingga hubungan mereka adalah hubungan akrab. Pendidikan dengan sistem asrama, belakangan lebih dikenal dengan istilah "pasraman"-dari bahasa Sanskerta ashram, yang sebenarnya berarti tempat tinggal para pertapa atau brahmana (guru), lalu dilokalkan menjadi asrama dan mendapat pengaruh bahasa Jawa Kuno dengan prefiks /pa-/ dan sufiks /-an/ menjadi /paasramaan/ (bunyi/aa/ berasimilasi atau mengalami proses sandi menjadi /a/) yang akhirnya menjadi pasraman. Yang diajarkan di dalam pasraman itu lebih banyak mengarah kepada pengetahuan hidup sesuai dengan ajaran Hindu dan Buddha sesuai bidang yang ditekuni guru. Karena sifatnya yang lebih terstruktur, terang saja menjadi pilihan sempurna bagi masyarakat waktu itu untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka.

Perkembangan sistem pendidikan pasraman mengalami goncangan setelah kehadiran Islam melalui Walisongo yang membawa sistem pendidikan pesantren (diperkirakan dimulai sejak tahun 1596). Bersamaan dengan itu, Belanda mulai masuk dan menjajah Nusantara, khususnya Jawa. Selain pesantren, akhirnya terdapat juga sistem pendidikan Barat yang dibawa oleh Belanda ketika itu. Orang Belanda mendirikan sekolah-sekolah formal dengan model klasikal (guru mengajar sejumlah siswa dalam satu ruangan dengan asumsi bahwa kemampuan seluruh peserta didik adalah sama atau teacher-centered learning). Padahal, jika dikaji lebih dalam, pasraman sebenarnya telah mengacu pada tren pendidikan saat ini, yaitu student-centered learning, dengan model pembelajaran individual dan kooperatif. Namun sayang selanjutnya justru pendidikan formal (moderen) bawaan Belanda menjadi lebih populer.

Dengan kehadiran pesantren dan sistem pendidikan formal Belanda di model pendidikan pasraman akhirnya diwarisi di Bali. Walaupun pada zaman penjajahan Belanda tidak ada lembaga pendidikan formal agama Hindu namun pendidikan agama dan sastra Hindu berlangsung di masing masing keluarga (home schooling). Buktinya di Bali terdapat orang-orang terpelajar dalam bidang sastra dan agama Hindu.

Rintisan ini dilanjutkan dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama Atas Hindu Bali 1959 yang menjadi cikal bakal PGA Hindu Negeri kini IHDN. Karena ini sekolah guru agama Hindu, maka pendidikan agama menjadi lebih rapi dan lebih teratur, dan alumninya menjadi guru-guru agama Hindu sampai sekarang. Dengan terbitnya kurikulum '75, pendidikan agama Hindu tahun 1975 menjadi cikal bakal kurikulum berikutnya Bila diamati, terasa isi kurikulum agama Hindu tahun 1975 lebih menonjolkan aspek kognitif daripada aspek afektif dan psikomotor. Pengajaran tidak banyak berorientasi pada anak, tetapi berorientasi kepada guru. Guru menyajikan bahan pelajaran dengan metode ceramah dan murid mendengarkan tertib.

Ini berakibat aspek psikomotor dan afektif tidak banyak disentuh sehingga pendidikan agama Hindu lebih bersifat verbalisme. Menurut Sura (2014), pendidikan formal menyisakan bidang-bidang yang belum dipenuhi dengan sempurna, seperti bidang penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Untuk mengimbangi kekurangan itu, Yayasan Widya Wrddhi Sabha tahun 1975 menghadirkan kembali sistem pendidikan pasraman. Namun, pasraman pada waktu itu menjadi agenda di luar sekolah, yaitu sebagai pendidikan agama Hindu non-formal.

Belakangan, pasraman akhirnya direspon positif oleh Pemerintah Provinsi Bali dengan mendanai program pasraman yang diselenggarakan oleh desa pakraman di Bali, dengan penjenjangan usia SD, usia SMP, usia SMA. Menurut Sura (2014) mata pelajaran yang diberikan hampir semuanya mata pelajaran yang praktis sifatnya seperti dasar-dasar keimanan Hindu Dharma, budi pekerti, yoga asana, dharmagita, keterampilan lain-nya yang bertujuan untuk merawat iman dan menunjang kehidupan beragama di desa pakraman masing-masing.

Zaman terus berubah, uniknya, pasraman selalu menjadi solusi ketika musim paceklik pendidikan datang. Sekarang ini, atas prakarsa Badan Litbang, Pemerintah RI melalui Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI merespon positif dengan membangun pasraman di seluruh Indonesia yang justru mengadopsi sistem pendidikan formal dan boarding school. Semoga saja program ini berjalan sesuai ideal yang diharapkan.

Secara ideal, pasraman menuntun anak-anak agar dapat mengimani ajaran Hindu Dharma dan mencintai kebudayaannya sehingga mereka menjadi Hindu seutuhnya dan berguna di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan begitu, maka penerus bangsa dapat merawat dan membina kehidupan mereka dalam arus perubahan zaman.

Oleh: W.A. Sindhu Gitananda (gitanandas@yahoo.com)
Source: Majalah Wartam, Edisi 23, Januari 2017

Oleh: W.A. Sindhu Gitananda
Source: Wartam/Edisi 23/Januari/2017