Pasraman dan Pembentukan Karakter Bangsa

Berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 terutama dalam pasal 12 ayat 4, pasal 30 ayat 5, dan pasal 37 ayat 3, maka Pemerintah RI telah menetapkan PP nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Kemudian kalau dicermati kandungan isi pp nomor 55 tahun 2007 pada pasal 1 point angka 5 ada dijelaskan "Pasraman adalah satuan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan formal dan non formal''. Kemudian dalam pasal 8 ayat 1 dan 2 ditegaskan tentang pendidikan keagamaan, bahwa "pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis,kreatif,inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia".

Terkkait dengan penyelenggaraan pendidikan keagamaan Hindu, dalam pasal 38 dinyatakan : "1) Pendidikan keagamaan Hindu merupakan pendidikan berbasis mayarakat yang diselengggarakan dalam bentuk pasraman, pesantian, dan bentuk lain yang sejenis . 2) Pengelolaan satuan pendidikan keagamaan Hindu dilakukan oleh pemerinah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. 3) Pendidikan pasraman diselenggarakan pada jalur formal dan nonformal. 4) Pendidikan pasraman diselenggarakan pada jalur formal setinkat TK disebut Pratama Widya Pasraman, yaitu tingkat Pratama Widya Pasraman A (TK A) dan tingkat Pratama Widya Pasraman B (TK B). 5) Pendidikan Pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan dasar setingkat SD disebut Adi Widya Pasraman terdiri atas 6 (enam) tingkat. 6) Pendidikan pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan dasar setingkat SMP   disebut Madyama Widya Pasraman terdiri atas 3 (tiga) tingkat. 7) Pendidikan pasraman pada jalur formal jenjang pendidikan menengah setingkat SMA disebut Utama Widya Pasraman terdiri atas 3 (tiga) tingkat". Kemudian dalam pasal 40 dinyatakan "1) Maha Widya Pasraman atau pendidikan keagamaan tinggi Hindu, diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. 2). Penamaan satu jenjang Maha Widya Pasraman yang diseleng¬garakan oleh masyarakat merupakan hak penyelenggara saruan pendidikan yang bersangkutan. 3) Maha Widya Pasraman diselenggarakan sesuai dengan ketentuan tentang pendidikan tinggi dalam Standar   Nasional Pendidikan".

Sehubungan dengan dasar aturan yang berlaku untuk mengatur tentang Pasraman sebagaimana telah dikutip di atas, maka dapat ditegaskan bahwa 1) Pasraman diselenggarakan secara formal (oleh pemerintah) dannon formal (oleh masyarakat). 2) Pasraman pada jalur formal antara lain: Pratama Widya Pasraman (TK A dan TK B), Adi Widya Pasraman (SD), Madyama Widya Pasraman (SMP), Utama Widya Pasraman (SMA), dan Maha Widya pasraman (Perguruan Tinggi Agama Hindu). Bilamana aturan tersebut benar-benar dapat dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan Hindu, maka hal ini dapat sebagai  suatu  dinamaika  dalam pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan keagamaan Hindu di Indonesia. Dalam realita bahwa secara formal masih belum maksimal dalam perwujudannya, oleh karena jalur Pratama Widya Pasraman (TK Adan TK B), Adi Widya Pasraman (SD), Madyama Widya Pasraman (SMP), Utama Widya Pasraman (SMA) yang diselenggarakan di bawah naungan atau binaan Kementrian Agama RI belum ada di selenggarakan. Tentu harapan positif untuk memenuhi PP 57 tahun 2007 adalah sebagai langkah maju untuk mewujudkan pendidikan keagamaan Hindu yang lebih memadai. Selain ini yang baru terselenggara adalah Maha Widya Pasraman (Perguruan Tinggi Agama Hindu) yang dibina oleh pemerintah  melalui kementrian Agama RI yakni IHDN Denpasar, STHN Gde Pudja Mataram Nusa Tenggara Barat, dan STAHN Tampung Penyang Palangka Raya Kalimantan Tengah. Pasraman yang nampak eksis dalam era kekinian adalah pasraman yang, dikelola oleh masyarakat secara nonformal.

Pasraman dan Nilai-nilai Agama Hindu

Dalam konteks ini, bahwa pasraman yang ada, baik formal maupun non formal adalah masih bersifat terbatas secara kuantitas. Hal ini disebabkan karena masih minimnya pihak masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Hindu melalui pasraman. Namun demikian upaya ke arah untuk membangkitkan dan menumbuhkan perkembangan pasraman oleh masyarakat secaa nonformal maupun oleh pemerintah secara formal, telah memberikan peluang yang positif dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Hindu Indonesia.

Selanjutnya mengenai nilai-nilai agama Hindu yang dapat dijadikan sebagai tuntunan hidup dan kehidupan dalam masyarakat pada khususnya, dapat mencakup berbagai nilai. Adapun nilai-nilai agama Hindu yang dimaksudkan, seperti: nilai sosial, nilai pendidikan, nilai filosofi, nilai ritual, nilai etika, nilai ekonomi, nilai politik, nilai seni, nilai budaya, dan sebagainya. Masih banyak lagi nilai-nilai agama Hindu yang dapat memberikan kontibusi kemanusiaan dan sosial. Bila di rinci lagi nilai-nilai Agama Hindu yang dimaksudkan seperti berikut ini:

1) Nilai Sosial terdapat dalam ajaran Catur Wania

Setiap insan ditanamkan nilai sosial sebagai figur yang intelek (Brahmana), memiliki keberanian dalam mewujudkan dan membela kenebenaran (Ksatriya), meningkatkan diri untuk ekonomi kerakyatan (Wesya) mampu dan trampil sebagai insan yang siap pakai dan berusaha keras dalam berkarya (Sudra). Nilai-nilai tersebut sebagai    peletak    dasar    dalam membentuk insan yang sosialis dan humanis.

2) Nilai Pendidikan terdapat dalam ajaran Catrur Asrama

Sebagai insan yang bermutu, maka dituntut adanya kemampuan untuk membina berbagai pengetahuan dan teknologi (Brahmacari), membina dan memendidik anggota keluarga secara runut dan bertanggung jawab (Grhastha), memiliki kemampuan untuk menggembleng, menasehati, serta melakukan pengendalian diri maupun pengendalian sosial (Wanaprastha), dan memiliki kemampuan untuk menjadi insan yang tahan uji, siap menderita demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin (Sanyasin). Nilai-nilai seperti itu sesungguhnya sebagai acuan dalam menekuni dan membina berbagai pengetahuan demi keberhasilan hidup (sarwa jnana).

3) Nilai Filosofi terdapat dalam ajaran Panca Sradha

Terkait dengan nilai filosofi, maka insan sejati agar mampu memaknai hidup dan melalui nilai filosofi Hindu, seperti memaknai hakiakat ketuhanan (Brahman Sraddha), memaknai hakikat kemanusiaan yang berkualitas (Atman Sraddha), memaknai hakikat berkarya dan pengabdian yang tulus dengan selalu iklas tanpa pamrih (Karmaphala Sraddha), memaknai hakikat hidup yang selalu berputar secara lahir dan batin di antara suka dan duka (Samsara Sraddha), dan memaknai hakikat hidup bahwa semua kehidupan berharap untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahtraan lahir dan batin (Moksa Sraddha yang santha jagadhita). Semua nilai tersebut memberikan pencerahan hidup secara filosofi Hindu guna terwujudnya hidup yang harmonis.

4) Nilai Ritual terdapat dalam ajaran Panca Yadnya

Nilai ritual merupakan nilai penting yang dapat ditanamkan kepada insan Hindu dalam pasraman, di antaranya : memiliki keiklasan untuk berbakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (dewa yadnya), memiliki keiklasan untuk menghormati sesama manusi di alam raya ini tanpa adanya diskriminatif (manusa yadnya), selalu hormat dan bakti kepada para figur, tokoh, sesepuh, orang tua dengan dasar nirmala (pitra yadnya), mewujudkan keharmonisan yang konsisten dengan lingkungan dan komponen lainnya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara berkesinambungan (bhuta yadnya), dan memiliki jati diri yang taat dan patuh pada ajaran suci dari para orang suci dan pemuka agama Hindu (rsi yadnya).

5) Nilai Etika terdapat dalam ajaran Tri Kaya Parisudha

Nilai etika merupakan nilai regulasi yang bersumber dari ajaran agama Hindu, salah satunya adalah selalu beretika mulia dan suci melalui pikiran jernih dan positif (manacika parisudha), pembicaraan dan wacana yang bertanggung jawab dan nirmala (wacika parisudha), dan berbuat, mengabdi atau berkarya dengan lascarya atau tulus (kayika parisudha).

6) Nilai Ekonomi terdapat dalam Ajaran Artha Sastra

Nilai ekonomi yang bisa dipetik maknanya adalah nilai ekonomi yang bersumber dari Artha Sastra dengan irvtA pannya adalah catur purusa artha, Seperti: kewajiban mulia atas kebenaran (dharma), mewujudkan ekonomi yang berimbang (artha), mewujudkan tercapainya cita-cita masyarakat yang sejahtera (kama), dan tercapai hidup damai dan sejahtera lahir dan batin (moksha).

7) Nilai Politik terdapat dalam ajaran Niti Sastra

Nilai politik ada dalam ajaran niti sastra atau raja nitisastra. Selain itu juga diajarkan dalam artha sastra dan manawadharmasastra. Setidaknya dapat dimaknai nilai mengenai catur pariksa, asta dasa paramiteng prabhu, dan sebagainya.

8) Nilai Seni terdapat dalam ajaran Dharma Gita

Nilai seni merupakan nilai yang mampu membentuk insan yang memiliki kehidupan estetis, seperti seni dalam nyayian keagamaan Hindu, berupa kidung, kakawin, phalawakya, sloka, dan macepat. Seni yang lainnya juga berupa seni tari, tabuh, lukis, dan sebagainya.

9) Nilai Budaya tedapat dalam ajaran Panca Drsta Sanskriti

Nilai budaya merupakan media utama dalam mendukung pengem¬bangan dan kebangkitan nilai spirit keberagaman Hindu, seperti : budaya setempat yang bersifat lokal genius (loka drsta sankriti), keluarga yang berbudaya (kula drsta sanskriti), dinamika budaya pedesaan (desa dresta sanskriti), budaya yang bersumber dari makna susastra Hindu (sastra drsta sanskriti), memelihara dan mengembangkan budaya yang langka, kuna, dan tradisional (kuna drsta sanskriti).

10) Nilai tradisi atau adat-istiadat sesuai konsep Desa Kala Patra

Dalam pasraman juga diperoleh nilai untuk menanamkan semangat tradisi atau adat istiadat yang berlaku sesuai dengan tata krama daerah setempat berdasarkan nilai local genius dan nilai dalam konsep desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan) pada masing-masing lokasi pasraman. Nilai tradisi sesunguhnya sangat pantas sebagai peletak awal untuk pembentukan karakter atau keperibadian para kader uamat Hindu, mengingat nilai tradisi atau adat-istiadat merupakan kegiatan nyata dan secara rutin dilaksanakan oleh peserta didik dalam pasramaan. Bila nilai tradisi atau adat-istiadat yang berkepribadian lokal, tetapi semangatnya menuju wawasan nasional dan internasional.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 520 April 2010