Parasara

Seorang Bhagawan yang masih rrmda bernama Parasara berdiri di tepi sungai Yamuna. Beliau tengah menunggu sebuah perahu yang akan menyeberangkannya ke seberang. Setelah lama menunggu datanglah perahu yang dikemudikan oleh seorang gadis yang cantik. Bhagawan Parasara sungguh terkejut melihat seorang gadis mengambil pekerjaan mengemudi perahu. Tidakkah orang tua gadis ini sayang kepadanya, atau kalau dia telah bersuami tidakkah suaminya kasihan padanya?

Sang gadis tiada lain adalah Durgandhini. Ayahnya bernama Dasabala. Sang ayah memintanya menjalankan perahu adalah untuk meminta obat kepada orang yang melintasi sungai Yamuna. Durgandhini memang tengah kena penyakit berbau busuk, seluruh badanny mengeluarkan bau busuk. Sang ayah berpesan padanya, "Setiap orang yang dapat menghilangkan baumu yang busuk itulah hendak dijadikan suami".

Bhagawan Parasara naik ke dalam perahu, lalu mengenali sang gadis itu secara dekat. Sang Bhagawan ternyata jatuh cinta kepada gadis yang berbau busuk itu. "Adindaku yang cantik, kalau demikian halnya aku akan menyebuhkanmu sekarang juga". Bhagawan Parasarapun lalu meraba tubuh Durgandhini. Dan sekarang bau wangi memancar dari tubuh itu, tercium sampai jauh. Sang gadis lalu diberi nama Sayojanagandhi.

Sesuai dengan janji Bhagawan Parasara lalu mengawini gadis yang kini telah berbau wangi itu. Perahu sang gadis kini dijadikan sebuah pulau di tengah-tengah sungai Yamuna, pulau yang diselimuti oleh awan sehingga tidak terlihat dari tepian. Pulau itulah dijadikan tempat peraduannya berdua. Tiada beberapa lama kemudian Sayojanagandhi mengandung.

Putra yang lahir ternyata seorang putra yang luar biasa: begitu lahir begitu dewasa, begitu dilahirkan begitu dapat merapalkan Weda Mantra. Sang bayi lahir dari muka, karena itu diberi nama Byasa. Ia dilahirkan di sebuah pulau, karenanya diberi nama Dwaipayana. Tak lama kemudian Bhagawan Parasara meninggalkannya, sedangkan Sayojanagandhi kembali menjadi seorang gadis.

Demikianlah kisah Bhagawan Parasara, sekaligus kisah Bhagawan Byasa yang terkenal itu. Di awal kitab Adi Parwa beliau disembah oleh penyadur kitab tersebut, karena sesungguhnya Astadasa Parwa atau Mahabharata adalah karya beliau : Yayati Parasarasunus Satyawatihrdaya nandano Byasah parasya sukarthi pathayitwa Wamadakhya sakalajagatam siwam itu.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 529 Januari 2011