Panorama Filsafat India

Tradisi filsafat yang berkembang di India tidak sebanyak seperti yang terdapat di Barat. Semua sistem filsafat di India berkembang hampir bersamaan dan berdampingan satu sama lain serta menampilkan suatu petunjuk buat hidup yang ideal, dengan cara pendekatan yang berbeda-beda. Sebagai ciri umum Prof. Radhakrishnan menunjuk tujuh sifat yang mewarnai hampir seluruh sistem filsafat India. Yang pertama adalah motif spiritual yang mendasarinya. Motif ini mewarnai usaha filsafat India ataupun pada umumnya. Kecuali aliran materialis 'hidonistis seperti Carvaka, semua aliran yang lain mengakui adanya esensi spiritual. Maka penghayatan keagamaan dan agama amat terkait erat dengan usaha filosofis dan filsafat.

Ciri umum kedua ialah bahwa filsafat india ditandai dengan sikap introspektif dan pendekatan introspektif terhadap realitas. Filsafat dipahami sebagai atniavidya, pengetahuan akan diri. OLeh karena' itu, perhatian lebih diletakkan pada subjekvitas daripada objekvitas. Karena ini pula psikolog dan etika dianggap lebih penting dari pada ilmu pengetahuan alam atau ilmu pengetahuan positif yang tetap men jadi bagian dari kesibukan mereka juga.

Ciri umum ketiga adalah adanya hubungan erat antara hidup dan filsafat. Tendensi ini kita temukan dalam setiap sistem filsafat India. Filsafat bukan sekadar sport otak, tetapi merupakan usaha mencari kebenaran yang dapat membebaskan manusia. Ini suatu bentuk pragmentisme, tetapi bukan berarti bahwa kebenaran diukur sehubungan dengan sifat praksisnya, melainkan bahwa kebenaran itu sendrri diakui sebagai satu-satunya petunjuk yang terpercaya buat praksisnya. Kebenaran itu sendiri dapat membawa keselamatan. Keselamatan yang dimaksud disini biasanya didekati secara negatif sebagai bebas dari penderitaan, kelahiran kembali, dan sebagainya, tetapi secara positif dapat dikatakan bahwa yang dimaksud adalah pencapaian hidup yang lebih penuh, kebahagiaan abadi. Itu terwujud bila jiwa mencapai kemurnian yang semula, atau bila terjadi identifikasi dengan yang absolut, persatuan dengan Tuhan, atau bila jiwa mencapai eksestensi abadinya.

Tendensi introspektif ini membuat filsafat India lebih bersifat idealis. Inilah ciri umum keempat. Tendensi filsafat India, khususnya Hinduisme, mengarah pada monisme idealis. Bukannya berarti bahwa tidak ada dualisme dan pluralisme itu telah diresapi oleh ciri monistik yang kuat. Bila kita lebih memperhatikan tendensi yang mendasari filsafat India daripada bermacam pendapat yang ada, akan kita temukan tendensi kuat untuk mengin terprestasikan hidup dan realitas dengan pandangan monistis idealis. Ini hanya membuktikan bahwa monisme idealis itu sedemikian luwes dan dinamis sehingga dapat mengambil bentuk ekspresi yang bermacam-macam yang kelihatannya saling kontradiksi, tetapi yang sebenamya hanya berbeda dalam ekspresi-ekspresi dari keyakinan dapat yang mempersatukan semua sistem filsafat India secara keseluruhan.

Hanya intuisilah yang diakui sebagai mampu menyingkap kebenaran tertinggi. Inilah ciri kelima. Ini tidak berarti bahwa pemikiran ditolak. Pemikiran, pengetahuan intelektual dianggap tidak mencukupi. OLeh karena itu, kata yang tepat untuk filsafat adalah darsana yang dari kata dasarnya "drs" berarti melihat, suatu pengalaman intuitif langsung. Pemikiran diakui sebagai mampu menunjukkan kebenaran, tanpa ia sendiri mampu menemukan dan mencapainya.

Ciri keenam adalah penerimaan terhadap otoritas. Kendati dalam tingkat tertentu sistem-sistem filsafat india berbeda-beda dalam keterikatannya dengaii sruti, namun tidak satupun sistem-sistem yang ada kecialui Carvaka yang secara terang-terangan mengabaikan insight intuitif yang diajarkan baik oleh para guru Upanisad, Budha, atau Mahavira. Para filsuf India selalu memperhitungkan tradisi, Ini berpengaruh terhadap metode bersilsafat. Karena tradisi kerap diperhitungkan, langkah pertama dalam berfisafat adalah mengajarkan (sarvana) ajaran dari teks-teks suci lalu memperbincangkannya (manana) dan duduk diam dengan pikiran berpusat pada ajaran sampai ia diesapi oleh pengetahuan intuitif (ingat ciri kilima), hingga filsafat bukan lagi sekadar pengetahuan teoretis, tapi kekuatan yang mengubah manusia (ingat ciri kedua).

Ciri urnum ketujuh dari sistem-sistem filsafat India adalah adanya tendensi untuk mendekati berbagai aspek pengalaman dan realitas dengan pendekatan sintetis. Ciri ini setua dengan Rg Veda yang memahami bahwa agama yang benar akan mencangkup semua agama sehingga "Tuhan itu satu, tetapi manusia menyebutnya dengan banyak nama". Agama dan filsafat, pengetahuan dan perbuatan, intuisi dan pemikiran, Tuhan dan manusia, noumena dan fenomena, semua dipandang sebagai dan diletakkan dalam suatu harmoni justru karena adanya tendensi sintensis ini. Visi sisntesis ini yang menyebabkan semua sistem dapat hidup dengan toleransi.

Karena sejak semua filsafat tidak terpisah dari agama, sebelum secara khusus memasuki soal-soal filosofis akan amat berguna kalau kita juga melihat tahap perkembangan agama India dengan sekilas melihat juga latarbelakang historis peradaban Indus. Ini akan kami tempatkan pada bagian pertama.

Kami minta perhatian khusus untuk kata "agama" itu. Dalam pemikiran India agama adalah "hidup ideal" yang ditunjuk oleh sistem filosofis yang hidup itu. Sejalan dengan Radhakrishnan, agama adalah keselamatan itu sendiri, lebih merupakan transformasi pengalaman manusia daripada pemahaman akan Tuhan atau deita. Maka agama dapat muncul tanpa konsep deitas tertentu, namun tidak pernah ia akan meninggalkan distingsi antara yang spiritual dengan yang profan, yang "kudus" dengan yang "sekuler", walaupun disini kita juga harus mengeksklusifkan (sekurang-kurangnya) Carvaka, suatu materialisme hedonis ala Epicurean. Ini merupakan pandangan humanitis yang paling dalam. Humanisme yang benar mengajarkan bahwa di dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih daripada sekeda kesadaran sehari-hari yang kerangka cita-cita dan pemikirannya, presensinya spiritualitas yang membuat manusia tidak puas terhadap apa saja yang melulu bersifat duniawi, dalam rangka Budhisme) sutu ketidakcukupan akan aksistensi duniawi, yang mcngarahkan manusia pada The Transphenomenal Beyond.

Dalam bab berikut kami akah memasuki "Panorama Sistem Filsafat India" dengan menampilkan filsafat materialisme Cavaka, Jainisme dan Buddhisme, Nyaya dan Veisesika, Sankhya dan. Yoga, serta filsafat Mimamsa serta Vedanta, dengan terutama mcm-fokuskan perhatian lebih pada masalah metafisika.

Perkembangan Agama di India
a. Latar Belakang Historis

Lembah Indus merupakan tempat kelahiran peradaban dunia yang tertua. Zaman perunggu muncul di sana kurang lebih tahun 2.500 SM. Dua situs purbakala, Harapan di tepi sungai Ravi dan Mahenjo Daro di sungai Indus, memberikan banyak penemuan purba yang menunjukkan peradaban umum di lembah Indus yang kemudian diperkuat oleh hasil temuan di hampir enam puluh situs purbakala yang tersebar di daratan India. Peninggalan-peninggalan tersebut menunjukkan bahwa selama ber-langsung peradaban Indus itu tidak terdapat gejolak perkembangan yang hebat. Perubahan tidak terlalu tidak terlalu mencolok dan pada usianya yang mencapai seribu tahun (2.500-1.500) peradaban itu hancur.

Dari fosil yang ditemukan diketahui adanya dua katagori penduduk. Yang pertama diperkirakan sebagai penduduk asli dengan ciri-ciri: kulit agak gelap (hampir mendekati hitam), kecil dan pendek hidung lebar dan pesek dengan bibir tebal menonjol. Keturunan dari jenis ibi sampai sekarang masih dapat kita jumpai di antara kasta rendah dalam masyarakat India. Yang Kedua adalah mereka yang seketurunan dengan suku Mediteranian. Ini berhubungan erat dengan orang-orang yang hidup pada masa pra dinasti di Mesir, Arab dan Afrika Utara. Kulit mereka lebih terang, tubuh langsing hidung mancung dan bermata lebar. Orang-orang ini berimigrasi ke lembah Indus karena terpikat oleh daerah-daerah pertanian subur yang dapat kita temukan hampir di seluruh Asia Timur dan Barat.

Dari barang galian tersebut ditemukan juga adanya kultus lingga yang dihubungkan dengan pemujaan dewi Kesuburan yang biasanya juga disertai dengan kurban manusia. Bersama itu tersingkap juga dua ciri peradaban Indus ini, pertama: banyak tanda atau goresan yang menyatakan posisi yoga (lotus). Beberapa sarjana menganggap ini sebagai prototife dari dewa Hindu: Shiva. Kedua, perencanaan pembangunan menunjukkan status sosial yang berbeda. Kota memiliki perkampungan miskin (slum) dan tempat tinggal kelas atas. Pembagian kelas ini menandai perkembangan sistem kasta yang lebih kemudian, yaitu ketika bangsa Arya datang dan menundukkan penduduk asli. (Bersambung)

Oleh: Suwandi Sandiwan Brata
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Oktober 2011