Panca Sthiti Dharmaning Prabhu

Negara ini sedang butuh pemimpin yang berani, tegas, berintegritas, pekerja keras, kreatif dan inovatif. Artinya pemimpin yang mampu membawa perubahan positif bagi rakyatnya. Mampu menjadi tauladan bagi generasi peneras dan memberikan motivasi untuk kemajuan bangsa dan Negara. Tetapi di zaman sekarang mencari pemimpin yang ideal sangat sulit dilakukan. Apalagi adanya banyak kepentingan diluar dari tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin. Artinya pemimpin tidak mampu melakukan sebuah kebijakan berkaitan dengan idealismenya sebagai pemimpin, karena banyak tuntutan dan kepentingan yang harus dipenuhi. Apakah itu kepentingan kelompok yang mendukungnya atau pun kepentingan partai yang mengusungnya. Inilah tantangan ke depan dalam upaya menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Diharapkan masyarakat mampu memilih pemimpin secara cerdas dan bijak, bukan karena diberikan uang (money politic). Bila politik uang yang terus terjadi, maka ujung-ujungnya adalah tercipta pemimpin yang korup. Maka dari itu harapan yang muncul adalah adanya pemimpin yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang luas serta memiliki kewajiban seperti yang tertuang dalam Panca Sthiti Dharmaning Prabhu yang merupakan ajaran dari Arjuna Sasrabahu. Pemimpin yang sesuai dengan Panca Sthiti Dharmaning Prabhu adalah pemimpin yang memiliki lima kewajiban utama, yaitu: (1) IngArsa Sung Tulada, (2) Ing Madya Mangun Karso, (3) Tut Wuri Handayani, (4) Maju Tanpa Bala, dan (5) Sakti Tanpa Aji.

Ing arsa sung tulada artinya seorang pemimpin berada di depan dalam memberikan contoh atau keteladan kepada rakyatnya. Pemimpin menjadi suritauladan dalam setiap perilaku dan perbuatan yang berlandaskan etika dan nilai kebenaran. Jangan sampai pemimpin memberikan contoh yang tidak baik dengan melakukan kebohongan, korupsi, perilaku yang hina dan tercela. Kewibaan seorang pemimpin akan terlihat dari bagaimana dia mampu menjadi sosok yang bisa diteladani oleh rakyatnya. Bukan pemimpin yang menjadi gunjingan dan cemoohan masyarakat akibat dari perbuatan yang melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Apabila seorang pemimpin sudah menggadaikan kepercayaan rakyatnya, maka jangan harap reputasi yang sudah terbangun sekian lama akan bisa diperbaiki lagi, ibarat panas setahun yang dihapus oleh hujan sehari. Di sinilah pentingnya pemimpin mampu menjaga, menghormati dan menjalankan tugas dan fungsinya dengan penuh tanggung jawab dan pengendalian diri.

Ing madya mangun karsa artinya pemimpin berada di tengah-tengah rakyatnya untuk membangun jiwa dan semangat untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Pemimpin semestinya membangun tekad bersama untuk mensejahterakan rakyatnya, bukan mensejahterakan diri sendiri, sanak keluarga dan saudara, apalagi kelompok pendukungnya. Peran pemimpin sepatutnya mewujudkan aspirasi rakyatnya untuk mendapatkan rasa aman, nyaman dan sejahtera menjadi prioritas utama. Apalagi mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. Jangan sampai pemimpin lupa pada amanat rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Hal inilah yang menyebabkan sosok seorang pemimpin belum mampu berada di tengah rakyatnya. Semestinya pemimpin berada di tengah-tengah masyarakat untuk mendengarkan aspirasi rakyat, mengakomodir dan mewujudkannya dalam bentuk tindakan yang nyata.

Tut wuri handayani artinya pemimpin berada di belakang rakyatnya untuk memberikan dorongan, motivasi dan kebebasan untuk berkreasi serta berinovasi. Pemimpin mampu memberikan semangat untuk maju dan berkembang kepada rakyatnya dengan memberikan dukungan berupa dana, fasilitas, pembinaan dan pengawasan. Setiap kebijakan yang dilakukan adalah kebijakan yang pro rakyat. Memberikan motivasi dan dukungan kepada masyarakat, utamanya generasi mudanya untuk kreatif, aktif dan inovatif dalam berkarya, menciptakan peluang dan menggerakkan ekonomi kerakyatan. Peran penting pemimpin dalam menjalankan program-program peningkatan kemampuan dan daya dukung masyarakat dilakukan dengan motivasi dan dorongan yang bersifat memajukan.

Maju tanpa bala artinya seorang pemimpin memiliki keberanian untuk mengutamakan kepentingan rakyat. Berani membela kebenaran dan melawan segala tindakan-tindakan yang dapat merugikan rakyat, bangsa, dan Negara terutama tindakan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Pemimpin dengan keberanian yang dimiliki mampu bersikap tegas dan adil dalam melakukan tugas dan kewajibannya. Di samping itu seorang pemimpin haras berani mengambil sebuah kebijakan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Begitu juga seorang pemimpin berani mengambil resiko sebagai upaya untuk membela hak-hak rakyatnya dan berani mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat. Inilah yang disebut Dharmaning Ksatria Mahottama.

Sakti tanpa aji artinya seorang pemimpin selalu menggunakan pendekatan humanistic dan pendekatan pemikiran dengan komunikasi (diplomasi) dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Seorang pemimpin tidak perlu mempergunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau lawan politiknya. Cara yang dipergunakan lebih banyak dalam bentuk negosiasi dan diplomasi berkaitan dengan pelaksanaan program-program yang telah direncanakan, sehingga dapat diterima oleh semua pihak. Bila hal ini mampu dilakukan, maka kewibawaan dan juga karisma seorang pemimpin dapat disegani oleh semua rakyatnya.

Keutamaan seorang pemimpin adalah mampu melakukan amanat, tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Mengutamakan kepentingan masyarakat, peka terhadap aspirasi rakyat, tulus, berintegritas, berani dan peduli. Maka dari itu bila criteria ini sudah ada dalam diri seseorang, maka dia layak untuk dipilih menjadi pemimpin. Marilah kita bersama-sama memilih pemimpin secara cerdas, selektif, obyektif, dan bertanggung jawab. Janganlah memilih pemimpin karena diberikan uang atau adanya money politic, hal ini berdampak pada mundurnya demokrasi dan kehancuran bangsa maupun Negara kita. Semoga terlahir pemimpin yang memiliki dasar-dasar kemampuan sesuai dengan Panca Sthiti Dharmaning Prabhu.

Oleh: Ni Wayan Madiani, Guru SMP Negeri 1 Amlapura
Source: Majalah Raditya, Edisi 233, Desember 2016