Panca Sila dan Bhineka Tunggal Ika

Dalam sidang Dokuritsu Tyoosakai yang membahas dasar negara Indonesia merdeka, Bung Karno menyatakan : "Nama bukan panca darma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli Bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi."

Siapakah nama tokoh yang menjadi teman Bung Karno, yang ahli Bahasa, dan yang memberi petunjuk tentang penanaman dasar negara dengan kata Pancasila?. Walau tokoh tersebut masih menyimpan misteri, namun dapat ditentukan bahwa tokoh bersangkutan adalah seorang yang akrab dengan Kekawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Karena kata Pancasila terdapat dalam kakawin tersebut. Demikian juga prase Bhineka Tunggal Ika yang telah menjadi motto pemersatu bangsa Indonesia terdapat dalam kakawin yang sama.

Kata Pancasila terdapat dalam Kekawin Sutasoma (145.2) berbunyi: "Bwat barayana panca sila ya gegen denteki haywalupa/ mwang tekang dasa sila dharma kinenep sang srawakapet hayu/ tan hopen gati sang Mahayana tiga ng wak kaya citteniwo/ yekanung wekas ing mahabrata tekap sang boddhapaksan laku// Artinya : "Bagi pelaksana Bajrayana maka Pancasila yang dipegang teguh tanpa pernah lupa/ dan juga dasasila sebagai kebenaran yang selalu menjadi renungan bagi orang terpelajar dalam mengusahakan keselamatan/ Terlebih-lebih lagi bagi orang seorang pelaksana Mahayana maka tiga perilaku berupa perkataan, perbuatan, dan pikiran selalu dijaga/ Itulah puncak utama dari sumpah agung seorang penganut ajaran Buddha//

Sekitar sepuluh tahun kemudian, sejak Bung Karno mengucapkan pidato tentang lima prinsip dasar negara Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila, maka Bung Karno berpidato pada pembukaan Konperensi Asia-Afrika yang melahirkan rumusan beruapa sepuluh prinsip yang dinamakan Dasasila. Kesepuluhan prinsip ini dikenal dengan nama Dasasila Bandung karena diselenggarakan di kota Bandung.

Sedangkan prase Bhineka Tunggal Ika terdapat dalam bait (139.5) yang berbunyi : "Rwaneka dhatu winuwus warabuddha wiswa/ bhinneki rakwa ring apan kenaparwanosen, mang-kang jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa." Artinya : Disebutkan dua perwujudan Beliau adalah Buddha dan Siwa/ berbeda konon, namun kapan dapat dibagi dua/ demikian juga kebenaran Buddha dan kebenaran Siwa adalah satu/ berbeda itu, satu itu, tidak ada kebenaran yang mendua//

Gagasan tentang keragaman dalam kesatuan bukan muncul secara spontan ketika Mpu Tantular mengarang Kakawin Sutasoma, melainkan telah mengendap dalam renungan Mpu Tantular sekitar sepuluh tahun sebelum kakawin Sutasoma ditulis. Karena gagasan tersebut sudah muncul dalam karya Mpu Tantular terdahulu yang berjudul Kakawin Arjuna Wijaya.

Dalam kakawin Arjuna Wijaya, (27.2) disebutkan : "Ndah kantenanya haji tan hana bheda sang hyang/ hyang Buddha rakwa kalawan Siwarajadewa/ kalih sameka sira sang pinakesti dharma/ ring dharmasima tuwi yan lepas adwitiya// Artinya : Adapun tampaknya tiada perbedaan diantara Beliau/ Sang Hyang Buddha dan Sang Hyang Siwarajadewa/ keduanya sama sebagai sumber dan tujuan kebenaran/ baik kebenaran dalam masyarakat maupun kebenaran dalam kelepasan tiada dua//

Bangsa Indonesia boleh berbangga sebagai bangsa yang satu dalam keragaman budaya yang lahir di bumi pertiwi. Kebanggaan yang perlu di sempurnakan dengan pemahaman dan penghayatan yang tulus.

Source: I Putu Gede Suata l Wartam Edisi-7, September 2015