Panca Balikrama Di Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun terletak di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, 18 kilometer dari Denpasar. Halaman pura begitu luas dengan candi bentar dan candi kurung menghadap ke selatan, dikelilingi oleh kolam yang luas pula, sementara bangunan induk terletak di ketinggian yang menciptakan keagungan pura ini. Pura ini pertama bernama Taman Ayun, yang berarti taman yang indah atau taman yang menyenangkan. Nama ini diambil mungkin karena letak pura ini serta pandangan alam sekitarnya yang dikelilingi dengan kolam memang memberikan suasana yang indah. Penguasaan terhadap tata ruang dan perawatannya yang bersih dan tertata rapi memang pantaslah pura ini disebut taman yang menyenangkan.

Sebelum tahun 1634 didirikanlah sebuah tempat persembahyangan yang berstatus sebagai Pura Kerajaan yang bersifat umum pada masa pemerintah I Gusti Agung Putu yang kemudian bergelar Ida Cokorda Sakti Blambangan, raja pertama dan pendiri dari Kerajaan Mengwi, di suatu tempat di sebelah utara Desa Mengwi dan tempat tersebut diberi nama Taman Ganter.

Setelah Kerajaan Mengwi bertambah besar, menguasai hampir setengah Pulau Bali dan ditambah lagi dengan Blambangan (Jawa Timur) maka Ida Cokorda Sakti Blambangan bermaksud untuk memperluas tempat pemujaan beliau itu, sehingga dipindahkan Taman Ganter ke tempat yang sekarang dan diberikan nama Taman Ayun. Diadakanlah upacara besar Panca Balikrama pada hari Anggara Kasih Medangsia Sasih kapat Isaka 1556, dan kalau diperhitungkan menurut penanggalan Masehi akan menjadi Selasa Kliwon Wuku Medangsia Bulan April Tahun 1634.

Disamping itu pada pintu Kori Agung bertuliskan Candrasangkala "Sad Bhuta Yaksa Dewa" yang menunjukkan angka tahun saka 1556 (sad = 6; bhuta = 5; yaksa = 5; dewa =1). Jadi Panca Balikrama telah pernah dilaksanakan di Pura ini beberapa puluh tahun yang silam, berkaitan dengan pfodalan di pura ini yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia. Panca Balikrama kembali diselenggarakan pada piodalan kali ini yaitu bertepatan dengan Anggara Kasih Medangsia, yang juga bertepatan dengan hari Tilem Kanem, tanggal 19 Desember 2006.

Bhuta Hita, Jagat Hita
Upacara Agung Panca Balikrama biasanya dilaksanakan sepuluh tahun sekali yaitu ketika tahun Saka berakhir dengan 0, digelar di pusat dunia (Madya nikang bhuwana) dan Bancingah Pura Agung Besakih ditetapkan untuk itu. Terakhir upacara Panca Balikrama di selenggarakan pada Tilem Kesanga Tahun Saka 1920, atau bulan Maret 1999 yang lalu.

Upacara Panca Balikrama menurut sastra Hindu dapat juga dilaksanakan di pusat kerajaan, dan Pura Taman Ayun adalah pusat Kerajaan Mengwi. Dan upacara ini adalah upacara terbesar di pusat kerjaaan tersebut. Sementara di Pura Agung Besakih masih ada rangkaian upacara besar setelah Panca Balikrama yaitu Karya Agung Eka Dasarudra diselenggarakan seratus tahun sekali yaitu pada Tilem Chaitra tahun saka berakhir dengan 00, dan Karya Agung Baligya Marebu Bumi diselenggarakan seribu tahun sekali yaitu pada Tilem Chaitra tahun Saka berakhir dengan 000.

Karya Panca Balikrama pada hakekatnya ialah Bhuta Yadnya yang terangkai dengan upacara Dewa Yadnya. Bhuta Yadnya memiliki tujuan untuk membangun bhuta hita atau jagat hita, kerahayuan seluruh jagat. Setelah upacara bhuta yadnya dilaksanakan upcara dewa yadnya dimaksudkan untuk mendapat kecemerlangan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sungguh sangat mulia tujuan upacara tersebut, sebuah upacara yang digerakkan oleh sang Yajamana atau pendeta dengan kekuatan rohani beliau, diiringi oleh para Tapini dengan membangun candi banten atau candi upakara yang suci dan mencerminkan ketinggian peradaban dan budaya masyarakat, dan digerakkan secara phisik oleh pengerajcg karya, atau dia yang dapat menggerakkan bala kosa wahana, kebutuhan material bagi pelaksanaan upacara tersebut.

Semuanya sebenarnya bergerak di jalur kesucian, oleh karena itu dalam setiap upacara senantiasa ditegaskan supaya masyarakat melaksanakan Yasa Kerti dengan menegakkan Tri Kaya Parsuda : kesucian pikiran, kesucian kata-kata, dan kesucian tindakan. Kitab suci Sarasamuscaya pun menegaskan sebagai berikut: Upalaksana tika, ring ahuti, weweh, tapa, saluiring ulah dharma, yang tan padulur sradhaning manah, manista ngaran ika, tan phala ring ihatra paratra (Sarasamuscaya, sloka 218). Artinya: Syarat pelaksanaan yadnya, sedekah, tapa dan segala macam perbuatan dharma, jika tidak disertai kepercayaan pikiran yang sungguh-sungguh, itu bernama hina tingkatannya dan tidak ada pahalanya di dunia ini maupun di akhirat.

Budaya Adiluhur
Pelaksanaan upacara Panca Balikrama di Pura Taman Ayun disisi lain telah menampakkan betapa perhatian umat Hindu pada pura yang. begitu indah yang tidak saja menjadi obyek wisata tetapi juga menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh UNESCO. Ternyata umat Hindu tak henti-hentinya dengan penuh keikhlasan memelihara warisan budaya leluhurnya, yang juga mendapat perhatian dunia. Bali memang menyimpan warisan budaya adi luhur dan adi luhung, dan sampai saat ini ternyata masyarakat tetap memelihara warisan tersebut. Hanya saja pemerintah diharapkan dapat memberi perhatian lebih kepada warisan budaya tersebut, karena kadang-kadang masyarakat berbuat sendiri sementara pemerintah tidak memberi dukungan yang memadai.

Kita memang tidak ingin kehilangan warisan luhur budaya bangsa, yang juga menjadi warisan luhur budaya dunia, di tengah-tengah kita juga mengejar kemajuan peradaban dan kebudayaan. Kita harus dapat membangun nilai-nilai budaya yang menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh memiliki rasa hormat kepada kebudayaan yang luhur, bersamaan dengan itu mengembangkan kreativitas dan imajinasi membangun kebudayaan yang segar dan luhur pula.

Di Bali nilai-nilai kesucian, nilai-nilai kerohanian, nilai-nilai spiritual, menyatu dan terbangun harmonis dengan nilai-nilai kebudayaan yang luhur. Inilah nilai-nilai yang universal yang disumbangkan oleh sejarah Bali di masa lalu, diharapkan dapat diteruskan dan dipupuk bagi perkembangan sejarah kebudayaan Bali di masa datang.

Sumber: Warta Hindu Dharma NO. 480 Januari 2007