Palasa, Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

6. Palasa

Nama Latin : Butea monosperma, Butea frodosa

Nama Inggris : Flame of The Forest, Parrot Tree

Nama India :

- Bengali : Palash
- Hindi : Dhak, Palasa
- Malayalam : Brahmavriksham, Palasi
- Marathi : Kakracha, Palas, Paras
- Sanskrit : Kimsuka
- Tamil : Parasu
- Teluga: Moduga

Rumun : Leguminosae

Nama Butea diberikan untuk menghormati seseorang pelindung Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, John Stuart (1713-92), bergelar Earl of Bute. Monosperma artinya berbiji satu dan frendosa artinya berdaun. Kata Sanskerta Kimsuka artinya 'seperti burung betet' atau 'betapa cemerlangnya!' Palasha berarti kedua daun dan cantik dalam bahasa Sanskerta. Nama sebelumnya dari pohon tersebut, Parna, yang juga berarti daun.

Disebutkan berkali-kali dalam kitab suci Weda bahwa tiga rangkaian daunnya melambangkan Tritunggal Hindu dengan Brahma pada sisi kiri, Wisnu di tengah, dan Siwa pada sisi kanan. Ketika seorang anak laki-laki menjadi seorang Sadhu, ia diberi daun Palasa untuk dimakan dan tongkat yang terbuat dari kayu pohon Palasa. Bunga-bunga Palasa digunakan untuk membuat pewarna tidak permanen yang berwarna kuning muda atau oranye merah pekat. Para pemuja Siwa dan Wisnu mewarnai dahi mereka dengan pewarna tersebut. Dalam ceritera Mahabharata. Penasehat Jamadagni melaksanakan upacara persembahan bagi Dewa-Dewa di Palasvana atau hutan Palasa, suatu upacara yang diikuti oleh seluruh sungai.

Pohon tersebut bila sedang berbunga, terlihat seperti api di kaki langit. Dalam Ritusamhara. Kalidasa menjelaskan bahwa hutan-hutan pohon Dhak menyerupai api yang berkobar, menjadikan Bumi terlihat seperti seorang pengantin wanita yang baru menikah dengan pakaian serba mewah. Penyair Amir Khusrau mengumpamakan bunga-bunga itu sebagai cakar-cakar singa yang berlumuran darah.

Pohon Palasa dikeramatkan bagi Dewa Bulan. Seekor Rajawali mencelupkan kedua sayapnya pada Soma yaitu minuman  para dewa, yang dianggap dibuat di Bulan atau berasal dari Bulan. Sebuah sayapnya melayang jatuh ke Bumi dan menjadi pohon Palasa.

Penganut Buddha juga mencatatnya dalam legenda yang menceritakan bahwa Ratu Mahamaya mencengkeram sebuah cabang dari pohon Palasa pada saat melahirkan putranya Sang Buddha Gautama.

Sebuah tahyul Hindu menceritakan bahwa apabila akar pohon Palasa dikumpulkan ketika konstelasi perbintangan Dewa Aswin yang mengatur musim (pada pertengahan September simpai pertengahan Oktober) dan diikatkan pada lengan seorang laki-laki, wanita manapun yang disentuhnya akan jatuh cinta kepadanya.

Sebuah bentuk menakjubkan tentang bunga-bunga Palasa adalah sebagai isi pokok pada banyak teka-teki di Bihan. Salah satunya adalah:

Sebuah gading gajah Tetapi bukan sebuah gading
Tubuh seorang pendeta
Tetapi bukan seorang pendeta
Kepala seekor burung gagak
Tetapi bukan seekor burung gagak
Melainkan seekor Parkit

Daun pelindung bunganya yang berwarna hitam pekat dan halus adalah kepala burung Gagak. Warna kelopak buinga adalah warna jubah seorang pendeta. Benang sarinya yang mencolok adalah gading. Dan bagian bawahnya adalah paruh burung Parkit.

Meskipun bunganya cantik, namun tidak berbau harum. Dalam buku-buku kuno, seseorang yang memiliki kecantikan tanpa moral atau kualitas intelektual diperumpamakan sebagai Manusia Palasa.

Bagaimana Palasa Turun ke Bumi
(Sebuah Dongeng Indo Arya Kuno)

Suatu hari Dewa Indra, Ketua Para Dewa, merasa amat haus. Dewa-Dewa di istananya meminta Dewi Gayatri untuk pergi ke pegunungan surgawi Mujawana dimana tumbuhan menjalar, Soma, tumbuh, dan membawanya kembali sehingga Dewa Indra selanjutnya akan memiliki persediaan Soma yang tak akan habis selama-lamanya.

Gayatri berubah wujud menjadi seekor elang, Ia terbang ke pegunungan itu dan menemukan tanaman tersebut dijaga oleh para pengawal Dewa Bulan. Ia menukik ke bawah dan dalam sekejap mata menyembunyikan tanaman merambat itu di dalam paruhnya. Sebelum prajurit-prajurit yang terkejut itu dapat bertindak sesuatu, ia telah terbang jauh, menukik dengan kemenangan.

Salah satu dari para pengawal, Krishanu, membidikkan anak panah ke arah burung itu. Panahnya tidak mengenai Gayatri melainkan menyambar tanaman merambat tersebut. Salah satu daunnya jatuh ke Bumi dan tumbuh menjadi pohon Palasa.

Dua Kekasih
(Sebuah Legenda Suku Karaput)

Dahulu, Suku Pengu, Muria, dan Bhattra mempunyai seorang pemimpin bernama Chaitu Bhattra. Putri Chaitu Bhattra dinikahkan dengan orang yang tidak sesuai dengan harapannya. Segera setelah pernikahannya, ia jatuh cinta kepada seorang pemuda dari Suku Muria yang tampan dan berkulit gelap. Mereka berdua biasa bertemu secara rahasia.

Pasangan itu telah diketahui oleh penduduk desa dan mereka pun memberitahukan Sang Suami tentang pertemuan rahasia istrinya. Sang Suami ingin membuktikan sendiri dan ia mengatur perangkap bagi istrinya. Suatu hari ia berkata kepada putri Chaitu Bhattra itu, "Istriku, aku akan pergi ke rumah saudara perempuanku di desa sebelah. Aku akan kembali dalam beberapa hari." Ia berpura-pura tidak melihat senyum yang mengembang di wajah istrinya. Setelah mengikat semua pakaiannya, ia membawa tongkatnya dan pergi.

Tetapi ia hanya pergi ke hutan. Ia bersembunyi sepanjang hari dan kembali ke rumah tengah malamnya. Ia menemukan pemuda Suku Muria itu di dalam gubuknya. Sang Suami amat marah dan memukul pasangan itu dengan tongkatnya hingga mereka mati. Kemudian ia membawa mayat mereka keluar dan membuangnya ke hutan.

Darah yang keluar dari tubuh mereka mengalir dan bersatu menjadi sebuah sungai kecil. Dari aliran sungai ini tumbuh sebuah pohon. Bunga-bunganya berwarna merah untuk Si Perempuan dan Si Laki-laki berwarna hitam. Dan inilah pohon Palasa yang pertama.

Pohon Palasa adalah sebuah pohon yang berukuran sedang, meranggas, dengan sebuah batang dan cabang-cabang yang melengkung. Daunnya yang besar dan bersusun tiga, kaku seperti beludru pada awal pertumbuhannya dan menjadi kasar kemudian, dan berwarna hijau pucat kemerahan. Ketika daun-daun tersebut gugur, bunga-bunganya muncul dan hal ini mengubah penampilan pohon tersebut.

Bunga-bunganya tumbuh berkelompok pada pohon tersebut. Tiap bunga berwarna merah padam oranye seperti nyala api. Berkedudukan pada tangkai yang kaku, tiap bunganya memiliki panjang lebih dari dua inchi dan Setiap dari kelima kelopaknya lembut dan diliputi oleh bulu yang halus agar berkilau terkena sinar Matahari. Kelopaknya melengkung terbalik dan salah satunya terbentuk seperti bentuk paruh terbalik yang tidak biasa sehingga menjadikan pohon itu dinamai pohon Betet atau Totaphul.

Buahnya datar, memiliki polong yang panjang dan menyempit pada ujungnya. Warnanya dari hijau pucat kemudian menjadi kuning kecoklatan dan terdapat hanya satu biji.

Produk yang paling berguna dari pohon ini adalah getah astringent merah dari ranting-rantingnya yang digunakan untuk menyamak kulit. Serangga tak hidup pada pohon Palasa ini dan cairan pernis yang dikeluarkannya digunakan sebagai lak penyegel dan pewarna. Daun-daunnya berlapis-lapis dan cukup kuat, sehingga pada sebuah pentas digunakan sebagai payung-payung! Daun-daunan itu juga dibuat makanan hewan di peternakan. Serabut akarnya dibuat tali. Para petani membakar ranting-rantingnya dan mencampur abunya dengan kotoran sapi untuk ditebarkan di sawah sebagai pupuk. Kayunya tahan terhadap api sehingga dapat dibuat gayung air. (Selanjutnya)

Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 436 Juni 2003