Pahala Melaksanakan Sepuluh Norma Hidup

Dhritih ksama dama asteyam Saucam indriyanigrahah Dhirawidya satyamakrokdha Dasakam dharmalaksana.
(Manawa Dharmasastra-VI.92)

Maksudnya: Mantap menjalankan tugas (Dhritih), suka mengampuni (Ksama), pengendalian diri (Dama), tidak melakukan kecurangan (Asteya), taat akan aturan penyucian diri (Sauca), indria terkendali (Indriyanigraha), teguh menghadapi godaan (Dhira), berilmu (Widya), berpegang pada kebenaran (Satya), berhasil mengendalikan nafsu marah (Akrodha).

Untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia, Weda Sm-rti ini menunjukkan adanya sepuluh norma hidup yang disebut Dasa Dharma Laksana untuk mewujudkan dharma.

Sepuluh Dharma Laksana itu, Dhritih adalah sikap hidup yang mantap dan konsentrasi dalam menjalan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Latihan konsentrasi bukan semata-mata untuk tujuan rokhani mencapai Moksha. Dalam melakukan tugas-tugas duniawi juga dilakukan dengan penuh konsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara profesional dan bertanggung jawab. Sesungguhnya latihan meditasi atau Dhyana itu hasilnya untuk meningkatkan keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental.

Dhyana itu menurut Sarasamuscaya 260: Dhyana ngarania ikang Siwa smaranam. Artinya: Dhyana namanya selalu mengingat-ingat nama Tuhan Siwa, Maksudnya kemantapan diri itu akan dicapai dengan terus mengingat Tuhan. Moral yang luhur dan mental yang tangguh dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas-tugas duniawi maupun kemantapan rokhani. Sikap Dhritih itu adalah kunci keberhasilan untuk mencapai keseimbangan hidup duniawi dan rokhani. Kalau hanya sehat dan terampil atau akhli dalam bidang tertentu tanpa moral yang luhur dan mental yang tangguh, bisa juga gagal dalam mengarungi hidup ini.

Ksama artinya suka memaafkan. Salah satu ciri orang yang dapat disebut penyembah Tuhan atau Bhakta menurut Bhagawad Gita XII. 13 dan 14 adalah menjadi seorang pemaaf atau Ksami. Menjadi seorang Ksami itu membutuhkan wawasan yang benar dan baik juga dalam hidup ini. Mengapa orang yang menghina kita misalnya harus dimaafkan. Yakinlah kalau tidak pantas kita kena hina, Tuhan pasti melindungi kita. Kita kena hina dapat dipastikan kita pernah menghina orang lain, mungkin saja pada penjelmaan yang lalu. Dengan dibiarkan kita kena hina tidak dilindungi olah Tuhan, berarti penghinaan itu sebagai proses pembersihan pada diri kita. Karena itulah Slokantara 81 menyatakan, yang memuji dan menghina keduanya kawan.

Dama artinya mampu me-nasehati diri sendiri. Rajinlah membaca-baca pustaka sastra agama yang mengandung banyak ajaran untuk kita jadikan sesuluh dalam hidup ini. Suatu saat kita berhadapan dengan berbagai macam masalah. Dengan sastra suci itulah kita jadikan sesuluh atau norma untuk mengatasi berbagai persoalan hidup ini. Hidup tanpa tuntunan rohani ibarat berjalan di malam hari tanpa penerangan. Bahkan dalam Sarasamuscaya 69 menyatakan: lewih ikang Dama sang-keng Daana. Artinya: lebih utama Dama dari pada Daana. Lebih tinggi nilainya kemampuan untuk menasehati diri sendiri daripada ber-Daana Punia. Tetapi kalau keduanya kita bisa lakukan, tentunya; lebih utama lagi hidup kita di dunia ini.

Asteya artinya hindari mencuri milik orang lain. Dalam Sarasamusacaya 74 ada dinyatakan, salah satu cara untuk mengendalikan pikiran adalah: si tan engin adeng kya ri drebyaning len. Artinya: orang yang tidak ingin membenci dan mengharapkan milik orang lain. Pustaka Wrehaspati Tattwa 60 menyatakan, Asteya itu bagian dari Yama Brata yang dinyatakan sbb: Asteya nga-rania tan amaling-maling tan angalap drewya ning len yan tan ubhaya. Artinya: Asteya namanya tidak mencuri tidak mengambil milik orang lain tanpan izin.

Saucam artinya bersih dan suci. Untuk memproleh kesucian pikiran dan kebersihan badan ini, ada banyak sastra Hindu yang mengulasnya. Sauca ini salah satu dari ajaran Yoga yang tergolong Niyama Brata. Lontar Wrehaspati Tattwa 61 menyatakan: Sauca ngaran nitya majapa maradina sarira. Artinya: Suci namanya senantiasa berJapa dan menjaga kebersihan badan. Bagaimana cara melakukan Japa, dinyatakan dalam pustaka Sarasamuscaya 369 sbb: -mapawaluy-waluyning kojaran sang hyang mantra japa ngarania. Artinya: Mengulang-ulang mengucapkan mantram suci ber-Japa namanya. Ajaran untuk melakukan Japa ini sudah diajarkan dalam waktu yang cukup lama bagi umat Hindu di Jawa dan Bali. Terbukti, sudah ada dalam pustaka yang berbahasa Jawa Kuno. Cuma, dalam tradisi beragama Hindu di Bali kurang dilakukan.

Indriyanigraha artinya senantiasa mengendalikan indria. Dalam Katha Upanisad .1.3.3-4 menyatakan bahwa indria itu diibaratkan kuda kereta. Agar kereta itu baik pengunaannya maka kuda itu harus dipelihara agar sehat, segar dan bugar. Tetapi harus dilatih agar patuh pada arahan tali lis kereta. Ini artinya, Indriyanigraha itu adalah memelihara kesehatan indria agar dapat berfungsi betapa mestinya. Demikian juga Indria harus dilatih agar patuh pada kendali pikiran dalam melakukan kehidupan ini.

Dhira artinya teguh atau punya ketetapan hati. Bhagawad Gita 11.15 menyatakan: Duhkha sukham dhiram. Artinya: Seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Demikian juga salah satu ciri orang yang dapat disebut penyembah Tuhan atau Bhakta dalam Bhagawad Gita XII. 13-14 adalah: Sama duhkha sukha. Artinya: Senantiasa seimbang dalam kedaaan suka dan duka. Hal ini perlu dilatih di samping mengembangkan wawasan hidup spiritual.

Widya artinya ilmu. Dalam Isa Upnisada 1.1.4-5 menyatakan, manusia hendaknya dapat menguasai Para Widya dan Apara Widya. Para Widya artinya menguasai ilmu tentang ketuhanan dan Apara Widya yaitu menguasai ilmu tentang keduniaan dengan segala isinya ciptaan Tuhan. Sarasamuscaya 236, bahwa dari Weda itu ada dua ilmu yaitu Adyatmika Widya yaitu ilmu untuk menuntun rohani dan Lokaika Widya ilmu tentang kehidupan di masyarakat.

Satya artinya untuk mewujudkan Dharma haruslah kebenaran dan kejujuran dasarnya. Satya itu kebenaran Weda yang tertinggi. Akrodha artinya tidak dikuasai oleh nafsu marah. Marah itu kesadaran budhi dan kecerdasan pikiran berada di bawah kegelapan nafsu marah menutup kesucian Atman.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Kliwon, 9 Agustus 2015