Pada Hakekatnya Kita Semua Sama

Yang didambakan oleh sang mahayogi hanyalah sunya,

ketika pikiran diam, ketika wujud sirna;

sunya sangat indah, juga sangat sukar diungkapkan dengan kata-kata

(Danghyang Nirartha)

Pada hakekatnya kita semua sama. Mahavakya "Tat tvam asi" menegaskan itu. Akan tetapi secara faktual, mengapa kita berbeda-beda satu-sama-lain? Mengapa ada laki-laki dan perempuan, ada yang pintar dan ada yang bodoh, ada yang cantik dan ada yang jelek, ada yang cacat dan yang sempurna, ada yang lahir dari rahim seorang ratu dan ada terlahir dari rahim pengemis, ada yang mulia ada yang nista, dan sejenisnya? Apa yang menyebabkan secara faktual kita berbeda satu-sama-lain? Apa yang menyebabkan terjadi penyimpangan dari hakekat itu?

Yang membedakan hanyalah karma-vasana masing-masing, bekas-bekas perbuatan kita dalam kehidupan lampau masing-masing. Pada dasarnya perbuatan-perbuatan (karma) kita sendirilah yang telah menjadikan kita seperti apa adanya kini. Bagi kita, persoalannya hanyalah ketidak-mampuan kita untuk mengetahui perbuatan-perbuatan kita pada kehidupan-kehidupan sebelumnya, sehingga sulit menerima apa yang sekarang ini menjadi fakta buat kita. Ketidak-mampuan itu pulalah yang menyebabkan kita sulit menerima apa adanya kita kini, apalagi kalau itu ternyata inferior dibanding yang lainnya.

Sekedar baru mengetahui bahwasanya 'pada hakekatnya kita semua sama' sebetulnya jauh dari cukup, sejauh secara faktual dan dalam kekinian kita jelas sekali terlihat adanya banyak perbedaan-perbedaan, yang tak jarang malah mengundang kecemburuan, iri-hati hingga kedengkian. Alih-alih memperjelas duduk persoalannya, kita malah telah menodai diri sendiri dengan muncul dan bekerjanya iri-hati dan kedengkian.

Penyimpangan dari hakekat terjadi akibat ulah kita sendiri, baik yang diingat maupun dilupakan, baik yang disadari maupun yang tidak, baik yang mau kita akui maupun kita sangkal, baik yang diterima dengan lapang dada maupun yang ditolak.
 
Obor-penerang di dalam meniti kehidupan

Karma-vasana masing-masing telah menetapkan kwalitas dan kondisi jasad yang kita kenakan sekarang ini, telah menetapkan sifat atau karakter bawaan, bakat dan beraneka-ragam kecenderungan kita masing-masing. Karma-vasana masing-masing telah menetapkan keberadaan mendasar kita di dalam kelahiran ini. Apa adanya kita dalam kelahiran ini merupakan hasil 'cetakan' karma-vasana itu.

Lebih jauh lagi, dalam ketidak-tahuan dan ketidak-sadaran kita, hingga usia sekarang ini kita malah telah menimbun berbagai kesan-kesan mental (samskara)—yang baik maupun yang buruk—dalam kelahiran ini, yang telah membentuk minat dan berbagai kegandrungan kita, hasrat dan berbagai keinginan kita, hal-hal yang kita sukai dan kita benci, serta berbagai bentuk penguatan naluri jasmaniah lainnya. Dan detik ini jadilah perwujudan vasana-vasana dan samskara-samskara itu. Pertemuan kita disini, lewat tulisan, adalah bahagian daripadanya. Tanpa adanya vasana dan samskara yang relevan, tulisan ini tak pernah Anda baca dalam kelahiran ini.

Kesadaran dan pemahaman kita akan keberadaan kita, akan kekinian kita merupakan sang penuntun yang senantiasa mendampingi kita di dalam kehidupan ini, pun kehidupan sesudah ini —kalau masih ada. Mereka juga bertindak sebagai obor-penerang di dalam meniti kehidupan, di dalam menjalani swakarma —karma-pribadi—masing-masing.
 
Sanghyang Swakarma membangun Dunia kita

Hingga sejauh ini kita telah membangun dunia kita masing-masing lewat sanghyang swakarma, di dunia mana senyatanya kita hidup, di dunia mana kita mengalami susah-senang, sedih-gembira, sengsara-bahagia, dan sebagainya. Bukan hanya dunia subjektif kita, namun dunia objektif kita juga. Ia terus-menerus membangun dan membangun dunia kita masing-masing, kendati kita sedang tertidur-lelap. Derajat kesadaran-diri dan tingkat pemahaman kita akan keberadaan kita sampai detik ini, juga merupakan hasil dari kerjanya. Bagi kita, semuanya merupakan hasil kerjanya, baik yang telah lalu, kini, maupun yang akan datang.

Beda kita dengan mereka yang telah sadar dan telah paham adalah, kalau beliau-beliau itu selalu didampingi oleh sang penuntun, maka kita tidak; kalau beliau selalu melangkah dengan penerangan secukupnya, maka kita meraba-raba dalam kegelapan. Hanya itu bedanya. Namun sekali lagi, pada hakekatnya kita tetap sama. Derajat kesadaran dan pemahaman kita akan hakekat dari keberadaan kita masing-masing inilah yang membedakan dan, sekali lagi, yang akan membedakan di dunia macam apa kita, secara faktual, hidup.

Hanya bila seseorang telah berhasil menon-aktifkan sanghyang swakarma, maka tak ada lagi dunia yang tercipta buat dihidupinya, tak ada lagi kehidupan berjasad yang harus dikenakannya. Secara pribadi ia telah mengalami pralina, dan mencapai alam sunya. Baginya Kasunyatan telah mengejawantah, tak peduli apakah ia masih berjasad ataukah tidak. Hakekat keberadaannya kini sudah sama sekali lain dari sebelumnya. Beliaulah yang disebut dengan seorang jivan-mukta, yang telah sepenuhnya merdeka.

Semoga ada manfaatnya. Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita! Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu setiap insan!

 

Source: Ngestoe Raharjo l Hindu-Indoensia.com