Orang-Orang Mahardika

Ketika kita memasuki bulan Agustus kita tentu teringat dengan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yang kini telah memasuki tahun yang ke-66. Betapa pentingnya tonggak sejarah ini bagi Bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar, berbudaya besar pula. Merdeka adalah sebuah kata penuh makna, berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna jiwa atau pikiran yang besar, maha-hredika. Siapa yang disebut sebagai orang yang memiliki pikiran mahardika, pikiran yang merdeka.

Dalam konteks sejarah kebarigsaan kita kemerciekaan bangsa berhubungan erat dengan nilai-nilai Pancasila, motto bangsa Bhinneka Tunggal Ika sekaligus dengan lambang negara burung garuda. Ketika memberikan kursus-kursus tentang pancasila di istana negara, presiden Sukarno menyatakan sebagai berikut : "Saudara-saudara, lihatlah lambang negara kita di belakang ini. Alangkah megahnya, alangkah hebat dan cantiknya. Burung Gamda yang sayap kanan dan sayap kirinya berelar 17 buah, dengan ekor yang berekor 8 buah, tanggal 17 bulan 8, dan yang berkalungkan prisai itu bergambar Pancasila. Yang dibawahnya tertulis slogan buatan Mpu Tantular "Bhinneka Tunggal Ika, Bhina Ika Tunggal Ika, berjenis-jenis tetapi tunggal".

Para pemimpin kita di masa lalu memang memiliki jiwa besar dan berpikiran besar. Hal ini tentu diilhami oleh makna Mahardika itu sendiri. Para pemimpin banyak membaca buku-buku filsafat dan sastra sehingga menemui konsep-konsep dan pikiran-pikiran besar yang terdapat di dalamnya, termasuk motto bangsa yang termuat di dalam karya sastra Sutasoma karya Mpu Tantular, Garuda yang termuat dalam Mahabharata.

Di dalam kitab Nitisastra dapat kita baca kutipan berikut ini: "Ikang dumadi janma rupa maka bhusananika sumilih tekeng sabha/ surupa maka bhusanannya kula suddha piniliha merek ri jong haji/ suwastra maka bhusane kula minukya sira teke ri madhyaning sabha/ susastra maka bhusana ksama mahangresepi manahi sang mahardika// (Orang yang menjelma menjadi manusia wajahnya bagai busana di dalam pergaulan; orang yang rupawan, bangsawan kebersihan dirinya bagaikan busana bila menghadap sang raja; pakaian sebagai busana, dimuliakan oleh masyarakat luas bila dalam pertemuan; namun susastra dan ilmu pengetahuan yang suci dan kesabaran adalah busana orang-orang mahardika atau berpikiran besar yang telah menyusup ke dalam diri.)

Jadi busana seorang Mahardika tiada lain adalah susastra dan pengetahuan suci, bukan pakaian-pakaian mewah dengan bertaburkan emas pemata. Oleh karena itu pada bagian lain kitab Nitisastra dijelaskan bahwa yang disebut seorang mahardika adalah orang yang tidak mabuk lagi oleh kekayaan, ketampanan, kepandaian, keturunanjuga kemudaan. Nitisastra menyuratkan: yan wwanten sira sang dhaneswara surupa guna dhana kulina yowana/ yan tan mada maharddhikeka pengarannya sira putusi sang pinandita// ( artinya : kalau ada seorang yang kaya raya, tampan atau cantik, pandai, keturunan bangsawan dan masih muda; kalau ia. tidak mabuk, maka ia disebut seorang mahardika, ia sungguh-sungguh disebut sebagai orang yang bijaksana).

Seorang pemikir India yang sangat dihormati oleh Bung Karno, bernama Wiwekananda senantiasa dapat membangun pikiran-pikiran generasi muda untuk memiliki jiwa yang besar. Bung karno pernah menyatakan bahwa Wiwekananda telah memberikan demikian banyak inspirasi kepada dirinya, inspirasi untuk menjadi kuat, inspirasi untuk menjadi pengabdi tanah air, inspirasi untuk menjadi pengabdi umat manusia. Wiwekananda menyatakan bahwa ajaran Wedanta menjelaskan bahwa adalah kesalahan besar jika manusia menganggap dirinya lemah dan berdosa, menganggap dirinya tidak dapat melakukan atau mengerjakan sesuatu.

Kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian, kekuatan adalah kejayaan, kelemahan adalah penderitaan dan kesukaran. Kelemahan adalah sebab utama dari penderitaan. Kita menjadi takberdaya oleh karena kita lemah. Kita lalu menjadi pembohong, pencuri, pembunuh dan kejahatan-kejahatan lain, oleh karena kita lemah. Kekuatan adalah suatu unsur yang amat dibutuhkan. Kekuatan adalah obat yang dapat menyembuhkan penyakit dunia ini. OLeh karena itu bangunlah, beranilah dan kuatlah! Pikul semua tanggung jawab di atas pundakmu sendiri, dan ketahuilah bahwa kita sendiri adalah pencipta dari nasib kita sendiri. Maka itu buatlah masa depart diri kita sendiri.

Demikianlah beberapa ucapan seorang pemikir Hindu yang juga menginspirasi pikiran para pemimpin bangsa kita memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Pikiran penuh makna, dengan spirit yang kuat dan telah terbukti menggerakkan pemimpin bangsa ini untuk memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Karya-karya sastra besar seperti Ramayana dan Mahabarata memang menghadirkan tokoh-tokoh besar dengan pikiran-pikiran besar pula. Di dalam Ramayana kita menemui tokoh Sri Rama yang meninggalkan kerajaan, pergi ke hutan untuk menempa dirinya, melakukan olah pikiran, bertemu dengan orang-orang suci, para pemikir dan para pertapa, dan akhirnya bertempur dengan Rawana seorang raja yang djkuasai oleh kemabukan. Sesungguhnya di dalam Ramayana yang ingin disampaikan adalah bagaimana karakter para pemimpin tersebut, para pemimpin yang menegakkan kebenaran dan keadilan (sat) disisi lain para pemimpin yang menindas kebenaran dan keadilan tersebut (asat).

Para pemimpin yang memiliki kecemerlangan pikiran, berjalan di jalan yang disinari oleh cahaya ketuhanan, di pihak lain para pemimpin yang berjalan di kegelapan. Sri Rama adalah seorang pemimpin yang memiliki pikiran mahardika, seorang pemimpn yang bebas merdeka dari kemabukan, sementara Rawana adalah seorang pemimpin yang dibelenggu oleh kenafsuan, kesombogan dan kemabukan itu sendiri. Sesungguhnya walaupun Sri Rama hadir dengan fisik yang lemah, beliau adalah seorang pemimpin yang kuat, sementara Rawana yang tampil dengan kekuatan fisik, sesungguhnya adalah pemimpin yang lemah.

Demikian juga halnya apabila kita membaca Mahabharata, karya Bhagawan Wiyasa yang juga menyusun kitab suci Weda. Dalam karya sastra besar ini hadir seorang Dharmawangsa yang didukung oleh kaum Pandawa, sementara Duryodhana di dukung oleh kaum Korawa. Berbagai derita dipikul oleh keluarga Pandawa, diusir dari kerajaan, bertahun-tahun berada di hutan dengan segala derita yang menimpanya. Dengan jiwa Mahardika mereka dapat melewati semua derita, dengan jiwa mahardika mereka menjadi kuat, dan akhirnya dapat mengalahkan kaum Korawa.

Di dalam Mahabharata sesungguhnya kaum Korawa hadir sebagai tokoh yang lemah. Duryodhana dan Dussasana dengan kesombongan dan keculasannya, Sakuni dengan kelicikannya, sesungguhnya adalah simbol dari kelemahannya sendiri. Sementara kaum Pandawa penuh dengan kesetiaan, senantiasa menjunjung tinggi kebenaran atau dharma, adalah simbol daripada pemimpin yang memiliki jiwa yang kuat. Kaum Pandawa kuat berpegang teguh pada dharma, sementara kaum Korawa berpegang pada adharma, tanda kekalahan.

Dengan membaca karya-karya besar tersebut ditambah dengan intisarinya dalam kitab-kitab Nitisastra kita mendapatkan siraman rohani dan kejelasan tentang apa yang sesungguhnya disebut orang-orang mahardika tersebut.

Wiwekananda selalu mengajak kita untuk melihat diri sendiri. Oleh karena itu beliau menyatakan, "Adapun memang baik dan agung jika seorang dapat menaklukkan segala pengaruh-pengaruh alam di luar dirinya, tetapi lebih baik dan lebih agung jikalau ia dapat menaklukkan sifat-sifat di dalam dirinya sendiri. Adalah besar dan baik untuk mengetahui hukum-hukum yang mengendalikan bintang-bintang dan planet-planet, tetapi lebih besar dan lebih baik jikalau seseorang dapat mengetahui hukum-hukum yang mengendalikan nafsu-nafsu, perasaan-perasaan dan kemauan manusia.

Oleh karena itu setiap orang harus menegakkan nilai-nilai kesusilaan, berhati penuh kejujuran dan berani menghilangkan keputusasaan. Demikianlah ketika kita merenungkan makna kemahardikaan di bulan kemerdekaan ini pertama-tama kita diajak untuk masuk ke dalam diri sendiri. Bahwa sesungguhnya manusia itu kuat, bukan lemah. Dengan kekuatan fikiran itu kita mengarungi samudra kehidupan, kita memasuki belantara kehidupan, dan diyakinkan oleh agama bahwa mereka yang memiliki kekuatan pikiran, mereka yang memiliki kemahardikaan akan menemui kejayaan. Orang-orang suci, kitab-kitab suci, susastra suci senantiasa dapat membangun jiwa-jiwa mahardika, jiwa-jiwa yang akan menang dalam menghadapi masa depan. Bangsa besar ini memang harus dipimpin oleh orang-orang yang berjiwa besar, bukan oleh orang -orang pengecut dan lemah. Bukan oleh orang yang dibelenggu oleh kemabukan dan kegelapan pikiran.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi senantisa menuntun kita ke jalan yang benar dan disinari. Om asato ma sad gamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mretyor ma amretam gamaya.

Oleh: Diah
Source: Warta Hindu Dharma NO. 536 Agustus 2011