Nyepi: Mengintip Saldo Rekening Kehidupan

Hanya atas kasih-Nya Hanya atas kehendak-Nya Kita masih bertemu matahari Kepada rumpun ilalang Kepada bintang gemintang Kita dapat mencoba Meminjam catatan-Nya Sampai kapankah gerangan Waktu yang masih tersisa.

Syair lagu Masih Ada Waktu ciptaan Ebiet G Ade di atas mengingatkan kita bahwa ”waktu” adalah mutlak milik Tuhan Yang Mahakuasa. Bilakah kita memulai dan mengakhiri keberadaan kita, sepenuhnya menjadi kehendak-Nya. Yang Mahakuasa pula yang memegang catatan ”rekening” atas perilaku dan perbuatan setiap orang. Setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup, memiliki catatan atas perbuatan (karma) dan hasil perbuatannya (karmaphala) sebagai sebuah hubungan sebab akibat.

Perbuatan baik akan mendatangkan pahala yang baik, sedangkan perbuatan yang tidak baik pasti mendatangkan pahala yang juga tidak baik. Sisa atau saldo hasil perbuatan (karmaphala) setiap makhluk berupa sancita karmaphala akan menjadi takdirnya dalam kehidupan berikutnya. Dalam pandangan Hindu, kelahiran sebagai manusia sungguh sangat utama. Manusia yang dibekali dengan tri pramanayaitu budhi (nurani), manah (pikiran), dan ahamkara (naluri) dalamdirinya memiliki kekuasaan untuk merancang masa depannya. Nyepi Mengintip saldo rekening kehidupan

Selain itu, manusia juga diberi kekuatan dan kemampuan berupa bayu(hidup, bertumbuh, dan berkembang), sabda (berkomunikasi), dan idep(kesadaran). Hanya makhluk yang berbudi dan berkesadaran yang memiliki kemampuan untuk mengingat dan mencermati perjalanan hidupnya yang tercatat dalam ”rekening” tersebut. Dengan meminjam catatan ”rekening” yang ada, kita dapat mengintip berapa besar saldo yang akan menjadi bekal kita menuju keabadian.

Kesempatan terbaik untuk meminjam dan mengintip saldo ”rekening” kita adalah saat mengakhiri dan memulai satu putaran waktu. Karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi umat Hindu untuk menggunakan satu hari khusus dalam satu tahun sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi, refleksi, dan retrospeksi atas perjalanan hidup kita selama satu tahun terakhir sekaligus membuat resolusi untuk satu tahun ke depan.

Hal tersebut tentu akan berjalan dengan baik manakala dilakukan dalam suasana tenang, hening, dan sepi. Untuk itulah, umat Hindu melakukan Nyepi selama sehari penuh dalam mengawali kedatangan tahun baru yaitu Tahun Saka. Nyepi dengan berbagai rangkaian kegiatan ritualnya sejak melasti/melis/mekiis, mecaru/ tawur/tawur agung, nyepi, dan dharma santi merupakan sadhana atau disiplin diri yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesucian diri (bhuwana alit) dan lingkungan alam semesta (bhuwana agung).

Penyucian diri adalah proses pendakian spiritual. Dengan menjaga kesucian diri dan lingkungan, niscaya akan tercapai harmonisasi antara manusia-alam- Tuhan Yang Maha Esa sebagai tiga penyebab kebahagiaan (tri hita karana).

Nyepi yang dilaksanakan dengan catur brata (amati gni–– tidak menyalakan api/lampu, amati karya––tidak melakukan pekerjaan fisik, amati lelungaan–– tidak bepergian, dan amati lelanguan–– tidak menikmati hiburan) serta upawasa–– tidak makan dan minum, mona–– tidak berbicara, dan jagra–– tidak tidur selama sehari penuh dimaksudkan sebagai cara untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita selama satu tahun terakhir sebelum memasuki tahun baru.

Setelah melakukan perenungan, sejenak menoleh ke belakang dan mawas diri (mulat sarira), kita kembali menatap masa depan dengan penuh harapan bahwa apa yang telah dicapai pada tahun yang lalu akan menjadi jauh lebih baik pada tahun yang akan datang sehingga saldo ”rekening” kita semakin bertambah.

Harapan itu tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Harihari ke depan akan semakin berat dengan semakin besar tantangan, rintangan, dan godaan yang mengiringi perjalanan hidup umat manusia. Godaan materi dan kekuasaan kadangkala melemparkan umat manusia ke jurang kenistaan. Dengan menghalalkan segala cara, manusia berebut kekuasaan yang menjanjikan gelimang harta dan materi.

Oknum penguasa dengan berbagai cara berusaha mengambil sebanyak-banyaknya, termasuk yang bukan menjadi haknya. Korupsi dalam berbagai bentuk dan modus semakin menyebar. Kendati demikian, meski dalam keadaan dan situasi yang semakin sulit, hendaknya kita tetap berusaha untuk senantiasa eling lan waspada, dengan landasan moral, etika, dan agama hendaknya mampu memilah mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang hak dan mana yang batil, kemudian dengan keberanian yang kita miliki, kita dengan penuh kesadaran memilih yang benar (dharma) dan meninggalkan yang tidak benar (adharma).

Momentum Nyepi hendaknya dijadikan sebagai kesempatan terbaik untuk bertransformasi menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, bagaikan ulat yang mampu mengubah dirinya menjadi kupu-kupu yang indah dan menawan agar catatan ”rekening” kita senantiasa bertambah baik.

Ajaran Hindu tidak melarang umatnya untuk memiliki harta (artha) dan memenuhi keinginan- keinginannya (kama) karena sesungguhnya tubuh ini sarana untuk mendapatkan harta dan keinginan tersebut sebagaimana dinyatakan di dalam kitab Sarasa muscaya, dharmarta kamamoksanam sariram sadhanam. Namun, upaya, usaha, dan cara pemenuhan tersebut harus berlandaskan dharma agar harta dan kama yang diperoleh membawa kita kepada kebahagiaan sejati (moksa).

Demikian pula, bagi umat Hindu yang sedang mendapat kepercayaan sebagai penguasa, hendaknya kekuasaan tersebut digunakan semata-mata sebagai wahana pengabdian dan pelayanan kepada sesama manusia, masyarakat, bangsa, dan negara. Akhirnya, kepada umat Hindu di mana pun berada, mari kita tinggalkan Tahun Saka 1935 dengan berbagai romantikanya dan kita sambut Tahun Saka 1936 dengan penuh harapan dan optimisme.

Seperti lagu Ebiet G Ade tersebut di atas, kita tidak dapat menjawab, sampai kapan waktu yang masih tersisa bagi kita untuk menambah saldo ”rekening” yang kita miliki. Untuk itu, mari gunakan waktu yang ada dengan sebaikbaiknya dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Nyepi/ Tahun Baru Saka seperti toleransi, persaudaraan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936, semoga semua makhluk berbahagia
(sarwa prani hitangkarah)

Oleh: I Ketut Parwata, Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia l sindonews.com