Nyepi Dalam Kegaduhan

Mari sejenak mengingat alunan mendiang Franky Sahilatua berikut, “Hari ini telah terbaca, Tentang banjir dan gajah mati, Gempa bumi dan para pencuri, Harga harga tinggi.” Syair tersebut merupakan penggalan lagu “Hari Ini Telah Terbaca” yang didendangkan Franky di era tujuh puluhan. Syair tersebut menggambarkan situasi kehidupan bangsa Indonesia masa itu, yang ternyata hingga kini masih banyak terjadi. Bahkan skalanya jauh lebih besar dan berintensitas lebih tinggi.

Ya, banjir hampir meliputi seluruh wilayah. Hal ini tak lepas dari perilaku manusia Indonesia yang semena-mena terhadap alam. Hutan-hutan dikupas dan digunduli dengan berbagai motivasi. Hutan lindung diubah menjadi produksi. Kawasan konservasi berubah fungsi untuk dimanfaatkan. Erosi mengakibatkan pendangkalan dan merusak daerah aliran sungai.

Perubahan fungsi area menjadi lahan perkebunan mengakibatkan konflik berkepanjangan antara hewan-hewan penghuni rimba dan manusia, pemilik. Ribuan gajah mati karena konflik tersebut. Bahkan secara tragis, sekelompok orang menangkap lalu membakar dan mengonsumsi daging orangutan, satwa langka terlindungi.

Gempa bumi sebagai peristiwa alam kerap terjadi sebagai konsekuensi posisi kepulauan Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo Australia. Ketika lempeng-lempeng bumi tersebut bergerak dan bertumbukan, menimbulkan gempa bumi yang tak jarang disertai tsunami yang mengancam kehidupan.

Tambah lagi masyarakat yang semakin tak mau merawat lingkungan. Korban jiwa tentu saja dapat diminimalisasi, andai manusia mengikuti kaidah-kaidah alam. Contoh, jangan tinggal di sempadan pantai. Kemudian rawatlah hutan pantai yang berfungsi sebagai sabuk alami (green belt).

Kerasnya kehidupan, kesenjangan ekonomi, serta keinginan hidup bermewah-mewah melanggengkan keberadaan para pencuri, termasuk maling berdasi alias koruptor. Para pencuri tradisional menjadi semakin sadis dan bengis. Mereka merampok, begal, menganiaya, serta membunuh. Para koruptor seenaknya menyalahgunakan uang rakyat. Mereka tanpa merasa bersalah serta malah tersenyum tatkala disorot kamera televisi.

Televisi sebagai media multifungsi (baca, lihat, dan dengar) leluasa memberitakan apa saja. Tak jarang, pemberitaan yang tidak mengindahkan etika jurnalistik, justru membuat suasana semakin gaduh.

Jika pada era 70-an hanya ada TVIR, kini semakin banyak. Media juga berkembang baik cetak, online, serta media sosial yang justru belum banyak tersentuh hukum. Pemberitaan tak jarang justru meningkatkan eskalasi kegaduhan dalam keseharian.

Terlebih lagi dengan datangnya era kebebasan di Orde Reformasi. Bagaikan kuda lepas dari tali kekang, setiap orang bebas bicara apa dan siapa saja. Konflik horizontal antarindividu dan kelompok semakin kerap. Bahkan konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat tak dapat dielakkan. Orde reformasi menjadi orde kegaduhan.

Gaduh antarmasyarakat, lembaga Negara, bahkan lembaga pemerintah. Para menteri saling sindir. Gaduh antara cicak versus buaya, masalah apel washington, mama minta pulsa, papa minta saham, dan LGBT.

Dalam suasana dan situasi seperti itulah, umat Hindu akan melaksanakan Nyepi menyambut Tahun Baru Saka 1938, Rabu, 9 Maret 2016. Dengan catur brata penyepian menjadi momentum umat Hindu berhenti sejenak. Mereka menepi dari kegaduhan seraya introspeksi dan evaluasi sebagai insan luhur budi. Apakah kehidupan setahun terakhir membawanya ke arah lebih luhur atau justru sebaliknya.

Orde kegaduhan menjadi tantangan setiap umat manusia, termasuk Hindu. Orang harus mampu memilah, memilih situasi dan kondisi yang mendukung peningkatan keluhuran budi.Jangan sebaliknya, justru terperangkap dalam pusaran kegaduhan sehingga terjerembab dalam jurang nestapa berkepanjangan. Maka, ada baiknya melanjutkan penggalan lirik tadi, ”…bukalah catatan diri sendiri. Di sanalah hati nurani.”

Oleh: I Ketut Parwata, Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia l www.koran-jakarta.com