Nyanyian Karawista

Ilalang, alang alang sejenis rumput yang sangat eksotis sehingga sering menjadi bagian dari metafora para kawi sastra. Dalam kepustakaan Hindu rumput dengan ketinggian hampir sedepa, merupakan salah satu sarana penting dalam yadnya. Syahdan, dikisahkan dalam cerita Sang Garuda dalam penggalan Adi Parwa, ilalang adalah rumput suci karena terkena percikan tirtha amertha saat terjadi perebutan tirtha kamandalu.

Alang-alang salah satunya digunakan untuk cirawista lebih umum dikenal dengan karawista. Karawista terbuat dari 3 (tiga) helai ilalang .Satu ujungnya diikat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah lingkaran kecil dengan ujung pucuknya tegak ke atas. Pada simpulnya diselipkan helai bunga warna merah dan putih.

Saat dikenakan, simpul bunga tepat di tengah dahi. Sedangkan tiga helainya ditarik kebelakang. 2 helai di sisi kanan dan satu helai di sisi kiri untuk diikatkan belakang kepala. Simpul karawista yang membentuk lingkaran adalah perlambang windu dan ujungnya yang menyatu dalam satu titik adalah nada sehingga menjadi perlambang aksara suci Om. Warna hijau ilalang, bunga merah dan putih melambangkan Tri Murthi : Brahma, Wisnu, Siwa. Sungguh perlambang suci nan indah dan agung.

Karawista biasanya dikenakan saat orang yang mejaya-jaya berbagai upacara pembersihan diri seperti mewinten, tiga bulanan, mebayuh oton, upacara pernikahan, dan lain-lain. Mengikat karawista di kepala merupakan simbul pengikatan diri agar pikiran terpusat pada yang dipuja yaitu Hyang Widhi.

Bhagawad Gita IX, 34 menulis "Pusatkan pikiranmu hanya pada Ku biarlah kesadaranmu ada pada Ku, setelah itu engkau akan hidup di dalam Ku dan ini tak perlu disangsikan lagi"

Tiap kali kita melaksanakan upacara penyucian diri karawista diikatkan di kepala, kita diingatkan akan makna yang terkandung dalam sloka Gita, untuk selalu memusatkan pikiran pada Hyang Widhi. Selain mempunyai kekuatan mistis setelah mendapatkan doa dan puja mantra Sulinggih, karawista memberi makna mendalam nan indah, agar kita selalu ingat menyatukan pikiran yang beraneka dan berubah-ubah dengan cepat untuk menjadi satu saat memujaNya.

Tanpa disadari karawista telah membahasakan sloka gita tersebut dalam estitika bentuk dan sarat makna. Saatnya kita menjadikannya nyanyian dharma dalam prilaku sehari-hari dengan selalu memusatkan konsentrasi kehadapanNya di "telengin lelata" di tengah-tengah kening. Memang dalam kehidupan saat ini, kemampuan fokus atawa memusatkan pikiran adalah salah satu kunci keberhasilan. Apapun yang dikerjakan jika dilakukan dengan konsentrasi yang penuh, fokus, maka akan membuahkan hasil yang maksimal. Apalagi kalau mampu menjadikan diri kita seakan-akan menjadi satu dengan yang hal dikerjakan. Ketika penyatuan itu terjadi, berarti kita telah melibatkan kekuatan yang tak terbatas yang ada di dalam diri kita. Para maestro ternama dunia yang telah mencapai karya puncak, memiliki kemampuan berkonsentrasi luar biasa dalam menghasilkan karya ciptanya.

Swami Wiwekananda pernah mengungkapkan "there is no limit to the power ofhuman mind. The more concentrated it is the more power is brought to bear on onepoint". Tak ada batasan akan kekuatan dari pikiran manusia. Makin terkonsentrasi pikiran makin besar kekuatan tersimpul untuk merealisasikan angan menjadi kenyataan, seperti yang diisyaratkan 'kaca suryakanta' sanggup membakar dalam diam. Dan nyanyian dharma karawista lembut mengalun menitipkan makna yang dalam tanpa nada, tanpa kata mengingatkan kita.

Source: Agung Suprastayasa l Wartam Edisi 7/September 2015