Nyanyian Cinta Dewi Satyawati

Perkawinan adalah sebuah tangga untuk menggapai salah satu sisi siklus hidup manusia, sebelum masuk ke dalam nirvikalpa mounam (menunggal dengan keheningan). Sebab di bingkai itu terjadi transformasi berkelanjutan dengan dua arah yang sering tak terbatas. Tubuh adalah wahana dari pergulatan yang tak pernah berhenti kecuali mati. Ruang itu menghadirkan sejuta fenomena, yang ditandai oleh jeda perubahan. Misalnya, adaptasi akan melahirkan stabilitas, kemudian stagnasi yang dilanjutkan dengan degradasi dan disintegrasi serta inkubasi, yang pada akhirnya menuju sebuah proses menggapai vivekachundamani (permata wiweka). Dalam rentang itu, terjadi kreativitas yang maha agung, sebagai wujud kebangkitan dan pembaharuan, yang merupakan pelengkap dalam siklus lahir, hidup dan mati. Tanpa siklus alami itu, manusia masuk dalam ketuaan abadi, yang siapapun tak mau mengendakinya.

Di koridor itu perkawinan memiliki banyak dimensi. Dimensi itu bisa jadi dalam bentuk : ruang, waktu dan psikologi, ketiganya terangkai membentuk sebuah lembaga yang sakral. Anehnya, manusia sebagai obyek yang sekaligus subyek sering tak pernah terpisahkan dengan jelas. Disana bergulat dua kultur, antara kultur individu laki-laki dengan individu perempuan di lain pihak. Semua beradu bak juraian benang-benang pembentuk kain warna-warni. Perkawinan sering hadir sebagai gelanggang yang menge-syahkan penyiksaan dan juga sering sebagai arena penghargaan pada figur wanita. Figur wanita sering dipakai fundamen bangunan, dengan seribu alegori yang menyayat hati. Sebab perkawinan adalah sebuah tempat persinggahan untuk berbagai keperluan bagi komunitas peradaban manusia. Bagi yang melanggar adalah keliru tak pernah memahami ketuhanan dalam setiap mahluk (Param bhaavam ajaananto, mama bhutanaheswara).

Peradaban kerap muncul dengan seribu teriakkan dasyat, karena perkawinan sebagai titik orientasi menatap masa depan dengan pancaran paramj-yoti. Di terminal itu, perkawinan tak pernah lepas dari 'alat produksi generasi'. Itu sebabnya perkawinan memungkinkan untuk melakukan prosesi awal tentang bagaimana peradaban manusia hendak diteruskan. Banyak peradaban memiliki roh langsung ',pada prosesi perkawinan yang agung'. Di dimensi tertentu ' perkawinan sering hadir sebagai prosesi perang antar beragam emosi, dan pergolakkan individualitas dengan kebersamaan. Tak ada istilah lain dalam kehidupan manusia yang menyeret demikian banyak emosi, selain dari perkawinan itu sendiri. Itu sebabnya setiap agama menganggap perkawinan adalah sebuah lembaga sakral (Purusasya striyaccaiwa dharmae wartmani tisthatoh).

Tingkat kesakralannya diukur bagaimana prosesi pernikahan itu dilakukan. Disana terbetik sebuah pesan luhur tentang bagaimana wanita itu diperlakukan. Semakin ramah dan sopan maka semakin tinggi kesucian perkawinan itu. Di sinilah paradigma baru mencuat 'alam dan peradaban dunia mengendaki " yang paling bijaksana akan bertahan hidup, mengalahkan prinsip yang lama" yang paling cocok akan bertahan hidup".

Kebijaksanaan Weda memiliki banyak dimensi perkawinan, tradisi ini menghatur bagaimana perkawinan sebaiknya dilakukan, jika manusia mengendaki putra dan penerus generasi selalu menjadi suputra yang ajek menjadi manusia bajik dan menghormati tradisi Weda. Perkawinan hendaknya, memperhatikan aspek kesopanan wanita, pria yang layak dinikahi, penghormatan pada calon mertua, pemilihan waktu yang baik, maka putra yang lahir dari proses pernikahan dengan tuntunan weda itu akan membawa kesejahteraan masyarakat (brahmawarcaswinah putra, jayante cistasammatah). Putra-putra gemilang adalah putra yang luhur dan memahami pengetahuan Weda, serta akan dimuliakan oleh orang-orang budiman. Hal itu dapat digapai melalui perkawinan dengan unsur kebajikan.

Kemuliaannya muncul karena seseorang memahami keutamaan jiwa yang terbersit dalam perkawinan sebagai 'sosok' pembebas spiritual. Namun jiwa dari perkawinan sering bias ditataran makna. Pemaknaan hanya muncul sebatas kegairahan seksual. Padahal, seks adalah sebuah hasrat mencari kebahagiaan. Dalam merunut kebahagiaan itu, banyak instrumen lahir dan bathin yang berkontribusi. Tubuh mehsintesis beragam emosi yang sesuai
dengan vibrasi jiwa. Prabu Sentanu mengalami sintesis kimia yang tersendat ketika melirik Dewi Satyawati yang sedang mandi di tepi sungai Yamuna.

Ketika kabut dan embun pagi masih enggan meninggalkan tanah, Sang Prabu telah mendapatkan jawaban yang cukup bernas, bahwa Dewi Satyawati bisa dimilikinya, hanya bila anak yang lahir dari rahimnya dapat menjadi raja Hastina. Jika tidak perkawinan tak pernah terjadi. Walau pun terasa amat pahit, namun getar-getaran cinta telah menyenandung demikian" merdu di hati Sang Prabu Sentanu, jiwanya tak kuasa dilanda asmara oleh kerdipan mata Dewi Satyawati. Kerdipan demi kerdipan telah terlanjur membuat bunga-bunga hatinya mekar kembali. Hasrat kehidupan mendadak harus sirna kerika syarat yang diajukan melebihi teriknya panas sasih Kartika. Tak dapat disangkal, rambaan gelombang cinta Sang Dewi yang telah menjadi janda muda itu, telah menggoreskan sebuah kegetiran suksma di hati Sang Prabu yang lama tak tersentuh hangatnya cinta wanita. Jiwa sang raja menjadi ambruk oleh derasnya emosi, tubuhnya menggigil dan terguncang, menderita sampai kurus kering.

Cinta Dewi Satyawati membawa efek baik maupun buruk. Itu pun disadari dengan sangat baik oleh sang prabu, kata-kata jenek gumawang tapa. tak berhenti disudut perdebatan semata dalam benaknya. Jiwa kata-kata itu telah masuk ke relung hati yang paling dalam, menjadi hiasan hati bagi Sang Prabu Sentanu yang lama melaksanakan samadhi' sehingga Sang prabu tahu akan etika keprabon bagaimana perkawinan yang membawa berkah bagi generasi yang hendak dilahirkan harus ditempuh. Sang Prabu juga sadar betapa pengendalian akan hal-hal rendah penting dalam situasi yang amat sulit ini. Namun badai cinta telah dihembuskan oleh Dewi Satyawati ketika pertemuan beberapa saat di tepian sungai Yamuna, yang berusaha mengoyak tatanan keindahan hati Sang Raja. Pohon-pohon pengendalian diri Sang Parbu kini semakin terus bergoyang, hendak tercabut dari kekukuhan hati baginda raja. Tak ada yang tahu sejauhmana angin mamiri pita itu memberikan luka dihati Sang Prabu.

Narasi kisahnya memang mengguratkan sesuai yang lain, Sang Prabu kurus kering, Bisma tidak tega melihat peristiwa itu. Sungai Yamuna tetap menjadi saksi bisu betapa dalam kondisi dimana hati terus terbakar oleh anukan cinta, kekukuhan hati sang prabu tetap bertahan, namun badannya tak kuasa melindunginya. Sang Prabu berusaha untuk menghibur diri dengan kata-kata bijak. Sang Prabu merenung dalam deru pertanyaan yang tak terjawab, "Dapatkah engkau memberikan cinta yang tulus kepadaku, adinda, jangan kau pergi datanglah hanya dengan kesetiaan, datanglah dengan kasih tanpa menyiksaku, betapa dunia -tidak adil dan peradaan ku" matanya menerawang jauh ke sosok Dewi Satyawati.

"Oh ..... Dewi, keinginanmu tak segemerlap parasmu, dunia ini tak kuasa menahan derasnya hambisimu, oh ... Dewi, jangan kau siksa diriku"

Suaranya tertelan oleh desiran angin malam yang masuk lewat lorong istana yang lagi sepi, perasaan Sarig Prabu membeku penuh kesedihan. Cinta telah menganyutkan raga dan jiwanya ke ujung duka, ke suatu tempat
gersang yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Cinta memang melahirkan sebuah ambivalensi, manakala ditujukan kepada bentuk dan indahnya karakter, maka cinta sering hadir untuk memberikan sebuah sejarah peradaban yaYig luhur bagi seuatu bangsa, namun cinta bukan sebuah karya yang berdiri dalam ruang khayal namun dia bisa hadir bergerak untuk berkarya tentang sesuatu. Cinta bukan kegatalan, namun dia bisa identik dengan hasrat menghilangkan gatal. Artinya, banyak orang gatal ingin mendapatkan yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak mau menggaruk untuk itu. Aksi adalah akhir dari sebuah cinta, aksi yang tanpa mengharapkan reaksi dalam benak, adalah ideal cinta yang diusung lama oleh populasi manusia yang yakin bahwa hati manusia tak bisa benar-benar hancur. Cinta memang memberi ruang untuk mengekpresi dukanya hati, untuk berkiprah pada dimensi yang membuatnya bangkit kembali. Inilah sebuah misteri cinta yang sedang didendangkan oleh Dewi Satyawati.

Pagi yang asri di tepian sungai Yamuna sedang diselimuti kabut tipis yang hendak meninggalkan muka pertiwi. Kabut seakan menari seperti juraian sutra dari sorga. Gemercik air sungai di antara bebatuan terdengar seperti simponi yang mendayu-dayu. Suara alam semakin lengkap menyajikan kepuasan jiwa yang lagi rindu. Ketika desiran angin menyatu ritmis dengan vibrasi jiwa maka petualangan baru dimulai sebagai jiwa yang bebas dari keterikatan-keterikatan semu (sira tika nirmuka) untuk melangkah dalam domain kehidupan spiritual. Keindahan semacam itulah yang sering dirindukan oleh para bakta Tuhan yang sedang melakukan sadhana 'mamana' (merenungkan) Sang Maha Pencipta.

Dalam suasana pagi yang elok itu, wajah Dewi Satyawati seakan melengkapi keindahan alam, lebih-lebih setelah pertemuannya dengan Sang Prabu Sentanu, yang membuat hatinya mekar bak bunga padma. Apalagi Sang Dewi tahu benar, bahwa Sang Prabu Sentanu sudah tergila-gila kepadanya. Dari sana ada semacam kekuatan yang terus mencuar tiada henti untuk memelihara hambisinya. Kekuatan itu yang akan membawa sejuta harapan lama terpendam kini selangkah lagi terkabul. Dalam pikiran Dewi Satyawati berkelebat bahwa duduk mendampingi Sang Prabu sebagai first lady kerajaan Hastina, bukan harapan kosong. Otaknya bekerja untuk menyukseskan impian itu. Tak hayal kehidupannya semakin bergairah, walaupun dunia sering tampil tak ramah dihadapannya. Sejarah hidupnya memang selalu mengguratkan raut-raut kesedihan dan pergolakan, namun kini semua keindahan tak akan pernah berakhir. Rambutnya yang terjurai melengkapi pemandangan alam menjadi kian asri, sehingga sungguh amat mempesona, lebih-lebih pemandangan indah bersambut dengan okestra angin selatan yang mendesir di antara dedaunan pagi hari.

Di ujung sungai itu hari-hari telah dihabiskan untuk jatuh cinta, mengharap Sang Prabu Sentanu kembali datang untuk menjemputnya.

"Kakanda Prabu datanglah engkau dengan cinta dan penuhi syarat itu, yang merupakan hambisiku. Hambisi seorang perempuan yang hidup lama di pinggiran Sungai yang sepi dan sunyi." Desahnya penuh harap.

Harapan itu menjadi kenyataan ketika rombongan kerajaan datang menjemputnya. Cinta Sang Raja Sentanu pada Dewi Setiawati tak pernah luntur. Sang Prabu telah terbutakan oleh keindahan fisik, yang akhirnya berbuah pada seluruh garis keturunannya, yang beramuk sejuta hambisi untuk merebut tahta. Drestarasta hasil dari kisah cinta buta itu tak bisa meneruskan kerajaan dengan tuntunan kitab Kutara Menawa, namun lebih banyak dibungai oleh hambisi-hambisinya. Cinta buta itu juga menggeser Bisma Putra Gangga, sebagai putra tanpa mahkota. Sebuah nyanyian., cinta yang didasari pamerih memang kerap menjebak pelakunya untuk berperang.

Darah biru Dewi Satyawati harus terputus, yang dalam kisah Mahabarata, berhenti mengalir sebagai keturunan yang duduk disinggasana Hastina. Sebab perang Mahabarata tidak menyisakan keturunannya. Drestarasta untuk memerintah negeri Hastina tak mampu meneruskan darah biru penuh hambisi itu, karena tak satu pun anaknya hidup. Walaupun kemudian Pandawa diakui sebagai keturunan Bharata, namun darah biru Dewi Satyawati secara genekologi tak pernah ada di diri Pandawa. Pandawa sebenarnya adalah keturunan lain (Kahyangan?).

Sejarah menyisakan catatan bahwa cinta buta selalu berakhir tragis, karena mereka tidak mendengar bisikan hati. Nafsu yang sering hadir dengan segala keangkuhannya memang bertentangan dengan dharma raksati raksitah, sebuah senandung mantra ajaib bagi mereka yang melaksanakan kebajikan tak akan pemah ditinggalkan oleh kebenaran. Tuhan akan mengangkatnya sebagai pemenang. Om nama sarwa sadni svaha.

Source: I Nyoman Tika l Warta Hindu Dharman NO. 458 Maret 2015