Nitisastra dalam Tradisi Hindu [2]

(Sebelumnya)

Kenyataanya, Subhasita-ratna-nidhi yang terdiri dari 456-457 aphorisme yang berbeda dalam sembilan bab, tidak diragukan akar Sanskertanya dan bukan akar Cina-nya, meskipun hanya sejumlah kecil aphorisme ini yang dapat ditelusuri sumber Sanskertanya.

Subhasita-ratna-nidhi barangkali dikompilasi tidak hanya oleh satu orang melainkan oleh tiga sarjana. Karva ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Mongolia dan bahasa Kalmuk dan demikianlah kata-kata bijak Sanskerta menjadi terkenal tidak hanya di Tibet melainkan juga di Mongolia. Lama Irdini Maybun Gallishev, yang tinggal di antara orang-orang Buryat pada pertengahan akhir abad kesembilanbelas dan di awal abad keduapuluh, mempersiapkan karyanya

Zertsalo Mudrosti (Cermi kebijaksanaan) yang terdiri dari 979 aphorisme dalam bahasa Buryat; dia sendiri mengakui bahwa karyanya bersumber dari Subhasitha milik Gunga-al-an dalam bahasa Tibet yaitu Subhasita-ratna-nidhi; sejumlah subhasita Sanskerta dapat ditelusuri dalam karya versi bahasa Buryat, juga sedikit subhasita dari Pancatantra. Beberapa waktu yang lalu, karya tersebut diedit di Uni Sovyet oleh T.A. Dugar-Nimaev, Buryatskovo Izda-telstvo,Ulan-Ude. Memanglah akar sastra subhasita India tersebar luas dari Tibet hingga Mongolia.

Nepal.

Nepal tidak memiliki sejarah yang berdiri sendiri hingga 879 S.M., ketika Nepal akhirnya dapat membuang belenggu Tibet. Tanpa pengaruh Tibet, kebudayaan Sanskerta teristimewa melalui ajaran Buddha pun tersebar luas di Nepal. Banyak karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Newari dan Nitisastra India menjadi tersebar luas di Nepal. Tidak hanya karya Katha yang berisikan kata-kata bijak niti, melainkan juga keseluruhan Canakya-niti-samgraha, versi pribahasa Canakya, menjadi terkenal di Nepal. Bahkan barangkali versi ini juga dikompilasikan di Nepal.

Srilanka

Versi lainnya dari aphorisme Canakya, versi kata-kata bijak Canakya pada Canakya-niti-sastra menjadi tersebar luas di Srilanka. Sejumlah teks Sanskerta yang dikenal di Srilanka tidak besar. Karya-karya tersebut masuk ke sana dalam empat periode. Yang pertama masuk pada 1017 S.M. hingga masa penaklukan Srilanka oleh Dinasti Chola yakni periode Anuradhapura; yang kedua sampai abad keenambelas yaitu masa ketika Portugis menaklukan pesisir pantai Srilanka; periode ketiga berlangsung sampai periode modern dimulai pada tahun 1815. Selama periode terakhir, Sanskerta menjadi dikenal dan lebih sering dipelajari oleh orang-orang Srilanka. Dimulai dengan zaman Kandy, beberapa karya Sanskerta dipelajari di sekolah-sekolah utama dan sejumlah lagi dipelajari di sekolah-sekolah Pansala, yaitu sekolah untuk anak laki-laki yang ingin menjadi Bikkhu.

Diantara buku-buku Sanskerta, khusunya ada dua dari koleksi kata-kata bijak niti tersebut yakni Vyasakaraya yang terdiri dari 100 pribahasa dan Pratyayasatakaya yang juga terdiri dari kira-kira 100 kata-kata bijak. Kedua karya ini barangkali masuk ke Srilanka melalui daerah bagian Selatan India dan mungkin dipengaruhi oleh dua koleksi pribahasa niti yang ditulis dalam bahasa Tamil, yang sebagian ditulis dalam bahasa Sanskerta, aslinya. Karya ini adalah Naladiyar dan Nidi-venba. Khusunya karya yang kedua sangat banyak mempengaruhi Pratyayasatakaya.

Sehubungan dengan Vyasakaraya, dimana bagian terbesar dari pepatah niti yang dapat dikenali sebagai pepatah niti Sanskerta, yang berasal dari India Selatan, dapat dilihat dari fakta bahwa sejumlah besar dari pepatah ini termasuk didalam Suktiratnahara, sebuah karya Subhasuta-samgraha dari India Selatan ; yang dtunjukan kepada Raja Surya dari Kalingaraja dan dikumpulkan pada pertengahan abad keempatbelas.

Selain kedua karya ini bahwa keberadaan beberapa subhasita-samgraha dalam bahasa Singhala, khusunya Subhasitaya dalam Alaguyavanna yang terdiri dari 100 syair; Lokopakarya oleh Ranasgalle Thera yang terdiri dari 238 syair; Anuragamalaya yang terdiri dari 65 syair (terlepas dari judulnya, tidak ada kaitan sama sekali dengan unsur erotis); Uparatmalaya yang terdiri dari 60 syair, dan juga buku teks puisi yang ditulis oleh Attaragama-Bandara, serta Vadankavipotayang terdiri dari beberapa syair niti Sanskerta atau versi asalnya, dari bahasa Dravida.

Juga sembilan syair dalam Navaratnaya Sanskerta yang sangat terkenal di Srilanka; Navartna Sanskerta menjadi salah satu dari karya Sanskerta yang dipelajari di sekolah-sekolah Pansala. Meskipun sembilan syair tersebut memiliki beberapa makna etika, karya ini lebih tepat berasal dari akar kavya.

BURMA

Sejarah Burma yang terdahulu dan kaitannya dengan India sangatlah tidak pasti. Meskipun demikian, diketahui bahwa Burma mendapat pengaruh Agama Buddha secara langsung dari India ketika, menurut legenda, dua missionaries, Sona dan Uttara, diutus oleh Dewan ketiga Agama Buddha yang berkumpul di Pataliputra pada masa pemerintahan Asoka untuk pergi ke Suvarnabhumi (Burma atau Timur jauh). Mekipun demikian, Buddhagosa barangkali adalah utusan abama Buddha yang tertama di Burma dan dia melanjutkan misinya dari Srilanka pada pertengahan abad kelima sebelum Masehi.

Elemen utama dalam populasi Burma, para Mramma, yang kemungkinan datang dari Tibet dan secara etnis berhubungan dengan sejumlah besar suku, sekarang berdiam di daerah Timur perbatasan India seperti: Nagas, Kukis, Mismis, Lepchas, Abors dan Bhutivas. Barangkali itu sebabnya saat mereka dalam perjalanan menuju Burma, Mereka terkena pengaruh kebudayaan India. Kemudian para Mramma tersebut terkena pengaruh suku Pyus yang beragama Hindu, dan suku Mons yang tinggal di dataran tinggi Burma dan demikianlah terbentuk Burma Modem.

Agama Brahmin benar-benar telah digantikan oleh Hinayana Buddha di Burma, Pali diadopsi sebagai bahasa klasik yang telah mengembangkan sebuah kesusastraan baru dan melanjutkan pengaruhnya hingga berabad-abad lamanya.

Menurut tradisi, Pali adalah bentuk dialectal dari bahasa Magdhi. Kesusastraan Pali Ortodok yang tersebar di Burma memiliki tiga koleksi peribahasa: Lokaniti, Dhammaniti dan Rajaniti. Karya nih ini dipersiapkan bagi acarya raja dengan tujuan untuk memampukan dia mewacanakan tentang etika dan politik, untuk menyerukan pepatah-pepatah yang bertema moral dan memberikan nasehat-nasehat. Karya ini barangkali ditulis pertama kali dalam bahasa Sanskerta dan Manipurian Puhnas yang telah membawa kitab-kitab itu dari asalnya, dengan kekerasan perang, ke Burma. kitab-kitab tersebut ditulis dalam sekup Bangali namun edisi bahasa Burma-Sanskertanya juga ada.

Yang terpenting dari ketiga karya niti di Burma ini adalah Lokaniti, yang ditulis antara tahun 425 dan 1400 S.M. dan telah dicetak kembali sebanyak ratusan kali. Lokaniti Sanskerta milik Manipurian punnas diawali denganbaitpengantar pertama yang terdapat dalam Hitopadesa akan tetapi bait bait ini di abaikan di dalam versi bahasa Pali, alasan yang paling mungkin adalah karena sulitnya mengadaptasi bait tersebut kedalam pandangan Buddha.

Lokaniti adalah sebuah koleksi khusus dari Subhasitha Sanskerta asalnya dan pengaruh Buddha di dalamnya sangatlah sedikit, bagian kata-kata yang terbesar, yang ditemukan didalam Lokaniti dan juga di dalam kedua karya niti versi bahasa Burma tersebut yakni: Dharmmaniti dan Rajaniti, dapat ditelusuri pada Kesusastraan niti Sanskerta.

Pali Lokaniti Burma diterjemahkan kedalam bahasa Burma dengan judul Niti Kyan. biasanya, setiap bait bahasa Sanskerta, dan belakangan juga bait bahasa Pali, dibagi menjadi dua kalimat dalam bahasa Burma. Oleh karena itu, Niti Kyan memuat dua ratus sebelas kalimat sementara Pali Lokanita hanya terdiri dari seratus enam puluh tujuh kalimat.

Di Burma kita juga mengetahui tentang ekstensi karya lainnya tentang niti yaitu Suttavaddhananiti. Karya ini adalah sebuah koleksi yang lebih baru sebagai perbandingan dan paling banyak berpengaruh oleh pemikiran Buddha, akan tetapi beberapa baitnya juga dapat ditelusuri dalam kesusastraan niti Sanskerta.

Disamping koleksi kata-kata bijak niti ini, keseluruhan versi Canakya-niti-sastra (Sanakya-niti) diterjemahkan kedalam bahasa Burma pada awal abad ini dan bahkan sekarang terkenal di Burma. Di antara bahasa Mon dan Peguan, ada koleksi lainnya tentang pribahasa bertema moral yang beberapa di antaranya berasal dari India, terkenal di Burma. Di antara bahasa on dan Peguan, ada koleksi lainnya tentang pribahasa bertema moral yang beberapa di antaranya berasal dari India, terkenal di Burma, yakni Rajadhiraj. (Selanjutnya)

Oleh: Ludwik Sternbach
Source: Warta Hindu Dharma NO. 524 Agustus 2010