Nitisastra dalam Tradisi Hindu

Kata-kata bijak, peribahasa, pepatah, aphorisme, sangat populer di India sejak awal diciptakan. Biasanya kata-kata bijak dikumpulkan menjadi satu yang disebut subhasila-samgrdlia, yakni kumpulan stanza ber-rima; bahasa yang baik (subhasita). Sir M. Monier Wiliams dalam karyanya Indian Wisdom or Examples ofthe Religion, Philosophical and Ethical Doctrines ofthe Hindus menjelaskan hal ini, "kata-kata bijak, kesusastraan niti India, sebagai acuan yang berkharisma bagi objek-objek alamiah dan kehidupan rumah tangga, dengan pemikiran yang ketat pada waktu tertentu mengenai sifat Tuhan dan keabadian jiwa, demikian pula yang disebutkan di dalam ajaran etika, pada kenyataannya adalah sebuah gudang pemikiran baik yang dapat diterapkan secara sederhana."

Aphorisme, peribahasa, pepatah telah terus-menerus dikutip didalam berbagai percakapan dan membentuk sebuah kekayaan kata-kata bijak yang tak terhingga dan disampaikan oleh tradisi bertutur sampai akhirnya kata-kata itu dikumpulkan menjadi subhasita-samgraha.

Kata-kata bijak ini dulu sering dirangkaikan kedalam cerita-cerita dan termasuk dalam karya katha sehingga karya semacam ini juga menjadi gudang kata-kata bijak. Cara ini bahkan sangat memungkinkan dengan tujuan untuk menciptakan subhasita-samgraha yang lebih layak baca, demikianlah diciptakan karya-karya katha. Hal itu barangkali, dalam kaitannya dengan Pancatantra dan Hitopadesa yang terkenal sebagai karya sastra Niti India, yang pada kenyataanya adalah subhasita-samgraha, subhasita yang dirangkaikan dengan cerita-cerita binatang.

Kata-kata bijak bahasa Sansekerta yang sangat populer dalam karya kesusastraan India, juga menyebar ke negara-negara Barat, Selatan, Utara dan terutam India Timur, dan menjadi terkenal dan populer dikalangan orang-orang yang disebut menjadi bagian "India Yang Lebih Besar".

Adalah fenomena yang alamaiah bahwa kata-kata bijak Sanskerta juga dipengaruhi oleh kesusastraan budaya Dravida dilihat dari sudut pandang simbiosis dua budaya ini. Jadi, keduanya sering bersatu meresap kedalam kesusastraan Tamil, Teluk Kannada, Malayalam, dan karya-karya sastra lainnya di India Selatan.

Kata-kata bijak Sanskerta menjadi terkenal juga di Srilanka, karya-karya ini sampai di Srilanka baik secara langsung maupun melalui koleksi-koleksi kata-kata bijak yang ditulis dalam bahasa Tamil atau bahasa Dravida lainnya yang terutama disampaikan lewat Naladiyar. Kata-kata bijak Sanskerta juga menjadi terkenal di Nepal dan Tibet dan selanjutnya menyatu kedalam kesusastraan bangsa Mongolia.

Oleh Manipurian Punna, kata-kata bijak Sanskerta telah menyebrangi batas-batas ke Burma, termasuk kesusastraan Pali di Burma, teristimewa kedalam Pali Lokaniti yang tersebar ke seluruh Asia Tenggara. Kita mengetahui, misalnya, keberadaan Pali Lc-ditemukan di Siam, Laos, Xieng Mai, Champa, dan sekitarnya. Melalui Pali, Lokaniti juga menjadi dikenal dalam bahasa lokal di Asia Tenggara, contoh terbaik tentang terjemahan Lokaniti kedalam bahasa burma yakni yang terbentuk menjadi Niti Kyan. Kesusastraan niti India seiring perkembangan kerajaan Hindu di Semenanjung Melayu dan diseluruh kepulauan Hindia menyebar juga di Jawa, Sumatera dan Bali.

Subhasita sansekerta menjadi dikenal dalam budaya di wilayah India Tenggara, khususnya oleh kuatnya pengaruh kerajaan Hindu di India Tenggara, baik dalam bentuk kata-kata bijak yang disampaikan secara individual, maupun dalam bentuk subhasita-samgraha yang diterjemahkan kedalam bahasa setempat. Namun sejak dalam Pancatantra dan Hitopadesa atau bagian dari Mahabhrata terdapat sejumlah kata-kata bijak, seperti misalnya pada taduraniti dalam Udyogaparvan, subhasita juga diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa lokal di negara-negara yang mengelilingi India dan bahkan masuk ke negara-negara segala penjuru dari India; kata-kata bijak yang terankai dalam ketiga karya ini menjadi terkenal di sejumlah besar negara.

Sehubungan dengan Pancatantra, kita mengetahui bahwa kira-kira pada tahun 570 SM, versi pertama karya ini diterjemahkan kedalam bahasa Pehlavi oleh seorang tabib, Burzoe, pada pemerintahan Dinasti Sasanid, Raja Khusrus Anushirwan (531-579 SM). Karya ini hilang tetapi isinya kita kenal dari karya terjemahan Syria Kuno dan Arab Kuno. Terjemahan versi Syria Kuno itu disusun oleh seorang pendeta Syria yang bernama Bud, diketahui hanya ada sebagian, sementara itu sebuah terjemahan kedalam bahasa Arab Kuno disusun oleh Ibnu'I-Muquaffa sekitar tahun 750 SM dan berjudul Kalila wa-Dimna (kemudian disebut Dongeng dari Bidpai) yang adalah dasar dari semua terjemahan dan adaptasi yang dibuat di Eropa.

Secara khusus sebuah terjemahan Syria dibuat berdasarkan Kalila wa-Dimna, kira-kira pada abad sebelas sebelum Masehi. Juga pada abad sebelas, Symeon Seth, membuat dari sumber yang sama sebuah terjemahan bahasa Yunani yang daripadanya terjemahan lain dikembangkan yakni oleh: Giulio Nuti orang Italia, Seorang Jerman dan beberapa orang Slovanic; juga merujuk pada terjemahan Arab Kuno yang sama, Rabbi Joel mempersiapkan sebuah terjemahan versi Ibrani pada abad keduabelas, yang menjadi dasar bagi terjemahan versi bahasa Latin oleh Johannis di Capua (pada abad ketigabelas sebelum Masehi; dari terjemahan ini, A. von Pforr membuat terjemahan versi Jerman pada tahun 1483 SM; dari terjemahan latin ini muncul versi Spanyol dan dua terjemahan versi Italia; dan berdasarkan salah satu versi italian ini, terjemahan versi Perancis dan Inggris dibuat.

Pada tahun 1142 SM Abu'I Maali Nasrallah ibn Muhamad ibn Abdal-Hamid membuat terjemahan versi bahasa Persia yang berjudul kitab Kalila wa-Dimana. Terjemahan selanjutnya menjadi dasar bagi terjemahan dan adpatasi bagi versi Turki Timur, Khusunya adaptasi Persia yang disebut Anwari Suhaili oleh Husein ibn Ali Aiwa iz yang selanjutnya menjadi dasar sejumlah terjemahan kedalam versi bahasa Eropa dan asia (Turki, Georgia, Russia Perancis, Swedia, Inggris, Jerman, Belanda, Hungaria, Melayu dll.) Pada abad ketigabelas SM, terjemahan versi Ibraani yang kedua disusun oleh Jacob ben Eleazar dari terjemahan versi bahasa Arabnya.

Di sisi lain, versi daerah Selatan dari Pancatantra diterjemahkan kedalam bahasa Tamil, Kannada, Telugu, Malayalam, Telingaa dan menjadi sangat terkenal di India Selatan, dari padanya terjemahan itu tersebar ke Semenanjung Melayu dan kemudian ke Siam menjadi Nontliuk Pakrana, ke Laos menjadi Mulia Tantai, dan ke Jawa menjadi Tanlri Kamandaka atau Tantravakya atau Candrapingala, dsb. Dan lagi, Hitopadesa diterjemahkan kedalam beberapa bahasa Dravida, bahasa Persia, Newari, dll. dan tersebar ke sejumlah negara yang mengelilingi India. Kita juga menemukan sebuah bagian dari Viduraniti pada Udyogaparvan didalam cerita Mahabharata versi Jawa.

Meskipun demikian, beberapa penerjemah Pancatantra dan Hitopadesa lebih tertarik pada cerita binatang dari pada ajaran niti itu sendiri, subhasita, yang terkandung didalamnya, sehingga di dalam hal ini, hanya beberapa, dan sering hanya sedikit dari kata-kata bijak niti sastra yang terdapat pada kedua karya katha ini menjadi terkenal didalam kesusastraan di negara-negara tempat terjemahannya, namun demikian tidak termasuk terjemahan versi Pehlavi dari Pancatantra dan pengembangan dari akar terjemahan ini, yang didalamnya terdapat paling banyak kata-kata bijak termasuk versi tertua dari Pancatantra yakni Tantrakhayika. Bagimanapun juga yang terlebih penting dari trjemahan karya-karya ini adalah, terjemahan koleksi kata-kata bijak Sanskertanya.

Tibet.

Pada abad kesembilan , kesepuluh dan kesebelas sebelum Masehi, sejumlah karya terbaik yang dikenal di India pada masa itu, tidak harus berkarakteristik Buddha, diterjemahkan kedalam bahasa Tibet dan termasuk juga kedalam bahasa Tanjur. Delapan karya nitisastra termasuk yang berbahasa Tanjur yang adalah terpenting yaitu:

Sesrab brgyapa zhes-bya-bahi rasatu  byed-pa; dalam  bahasa Sanskerta, Prajnasataka nama parakrana nama oleh Nagarjuna;
Lugs-kyi bstan-bcos ses-rab sdon-po zhes-bya-ba; dalam bahasa Sanskerta, Nitisastra prajnadanda nama oleh Ngarajuna;
Lugs-kyi bstan-bcos skey-lbo gso-bahi tigs-pa zhes-bya-ba; dalam bahasa Sanskerta, Nitisastra jantuposanabindu nama, juga oleh Nagarjuna;
Thigs-su bead-pahi mdzod ces-bya-ba; dalam bahasa Sanskerta, Gathakosa nama atau Aryakosa oleh Ravigupta;
Tshing-su bead-pa brgya-pa; dalam bahasa Sanskerta, Satagatha, oleh Vararuci;
Tsa-na-kahi rgyal-pohi lugs-kyi bstan- bcos; dalam bahasa Sanskerta, Canakyanitisastra, oleh Canakya;
Lugs-kyi bstan-bcos; dalam bahasa Sanskerta, Nitisastra oleh Masuraksa

Ketujuh karya di luar delapan nitisastra ini adalah koleksi subhasita atau syair kiasan yang berpengaruh kuat di abad kesembilan, kesepuluh dan kesebelas sebelum masehi di India, beberapa bagian dari karya versi terjemahan Tibet-nya termasuk dalam bahasa Tanjur-nya.

Yang terlebih penting adalah Canakya-raja-niti-sastra versi kata-kata bijak Canakya yang termasuk juga dalam Brhaspati-samhita dalam Garuda Purana dan menjadi sangat berpengaruh di Tibet. Karya ini adalah salah satu dari koleksi yang terindah dalam kesusastraan niti India. Canakyanitisastra Tibet, memuat sejumlah besar kata-kata bijak yang sangat terkenal dan begitu indahnya.

Koleksi yang kedua ditemukan dalam bahasa Tanjur yang berisi sejumlah pribahasa Sanskerta yang berasal dari Nitisastraprajnadanda atau she-rab dong-bu. Di dalam kolofonva karya ini terkait Klu-sgrub yakni Nagarajuna. Winternitz mempertimbangkan adalah kurang tepat bahwa She-rab dong-bu adalah karya Ngarajuna. Meskipun demikian, menurut W.L. Champbell She-rab dong-bu ditulis oleh nagarajuna sendiri. Apabila kita menerima teori Champbell, maka itu berarti She-rab dong-bu ditulis suatu waktu di abad kesatu Masehi, hal ini oleh karena Campbell memperhatikan karya ini sebagai sebuah terjemahan bersyair dalam bahasa Tibet dengan isi pemikiran etika dalam tradisi Sanskerta. Karya ini mungkin saja ditulis dalam bentuk yang ditemukan di versi bahasa Tanjur suatu waktu di abad kesebelas sebelum Masehi.

She-rab dong-bu adalah karya yang terkenal di Tibet, meskipun tampaknya lebih dikenal oleh kalangan terpelajar hanya namanya saja. Karya ini sangat sering dikutip oleh para penulis Tibet. Campbell memperhatikan bahwa penulis-penulis yang kemudian meminjam banvak pemikiran dan terkadang beberapa baris lengkap dan kemudian memasukannya kedalam karya mereka sendiri.

Keseluruhan karya tersebut terdiri dari 260 pepatah yang lebih banyak berhubungan dengan etika dan kebajikan umum. She-rab dong-bu hanya memuat sedikit stanza Bud-dha dan bahkan dalam karya ini banyak kata-kata Sanskerta yang mungkin telah diubah oleh penerjemahnya dengan tujuan untuk menyesuaikan teks tersebut dengan keyakinannya sendiri. Prosedur semacam itu telah diterapkan secara luas dalam teks Canakya-raja-niti versi Tibetnya juga. Bagaimanapun juga, karena kita dapat membandingkan teks yang kemudian dengan teks Canakya-raja-niti-sastra versi Sanskertanya, kita dapat melihat hal-hal mana yang diubah didalam teks Tibet itu oleh pener-jemahnya.

Dalam kasus She-rab-dong-bu, kita bisa saja menganggap keadaan yang terjadi sepert itu. Hal yang serupa seperti penulis Sanskerta yang lain pada karya-karya yang termasuk dalam bahasa Tanjur, She-rab dong-bu mengutip sejumlah stanza dari Pancatantra atau kitab-kitab Katha dan mengikuti pola yang terdapat di dalam banyak antalogi Sanskerta sejauh isi karya tersebut terpelihara.

Niti-sastra karya Mauraksa adalah karya yang hampir tidak terdengar hingga pada tahun 1962 ketika karya itu diedit dalam bahasa Tibet dan Sanskerta dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Sunitikumar Pathak dalam sebuah jurnal ilmiah, Vishva Bharati Annals, Vol.X. (Selanjutnya)

Oleh: Ludwik Sternbach
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010