Niti Yoga

“Tidak ada Tapa sebanding dengan pikiran yang seimbang, dan tidak ada kebahagiaan yang sama dengan kepuasan.
Tidak ada penyakit yang melebihi keingintahuan, dan tidak ada kebajikan yang setara dengan welas asih.”
(Acharya Chanakya)

Seorang pemimpin yang baik adalah sekaligus ia yang mahir dalam Yoga. Rsi Chanakya mengindikasikan hal ini dalam karyanya Kautilya Niti Sastra, sebagaimana kutipan di atas. Chanakya mengatakan bahwa seorang pemimpin mesti memiliki paling tidak empat kualifikasi di dalam dirinya, yakni: pertapa, orang yang telah puas dalam kehidupan duniawi, mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan welas asih  tanpa batas. Jika tidak demikian, pemimpin yang ada akan menjadi sekedar penguasa, bukan pelayan. Hanya orang rakus dan kerdil yang memiliki niat menguasai, sementara orang hebat dan bijaksana senantiasa melayani. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang melayani bukan sebaliknya.

Mengapa keempat kriteria itu penting? Sebab keempat itulah yang menentukan kekuatan seorang pemimpin di dalam mengarahkan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Pertama, seorang pemimpin dengan memiliki kualitas Tapa yang kuat misalnya, ia akan mampu berpikir tenang dalam segala suasana. Dirinya tidak mudah digoyahkan oleh berbagai bisikan di kanan kirinya. Dia akan dengan tenang menghadapi setiap persoalan yang muncul, besar manapun kecil. Pikiran yang tenang tidak akan mudah terpancing oleh hasutan-hasutan yang merugikan.

Kedua, seorang pemimpin adalah dia yang telah content (puas) di dalam dirinya. Puas disini dalam artian segala-galanya. Dia yang sudah tidak lagi menginginkan kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan duniawi lainnya. Dia senantiasa bahagia. Meskipun dia berkuasa tetapi kekuasaan itu bukan atas ambisinya, melainkan swadarmanya untuk mengabdi. Pemimpin yang seperti ini tidak akan membiarkan adanya praktik korupsi di dalam pemerintahan. Dia akan memimpin dengan bersih dan tujuannya hanya melayani masyarakat, bukan pemenuhan ambisi-ambisi pribadinya.

Ketiga, pemimpin harus memiliki penyakit yang lebih hebat dari jenis penyakit yang ada, yakni rasa ingin tahu. Mengapa? Hanya mimpi yang seperti ini mau belajar, memiliki niat yang kuat untuk mengetahui kehidupan masyarakat beserta permasalahannya, dan kemudian mencarikan solusinya secara tepat. Keempat, seorang pemimpin adalah orang yang penuh welas kasih. Pemimpin yang pemarah tidak akan mampu mengurus bawahan dan masyarakatnya dengan baik, sebab ia tidak kuat melihat berbagai perilaku mereka yang beraneka ragam. Seorang pemimpin mesti memiliki rasa welas asih yang tanpa batas, dimana dirinya harus bisa menjadi teladan dan menjadi contoh serta penuntun yang berkelanjutan terhadap baik bawahan maupun masyarakatnya. Rasa kasih yang tak terbatas inilah yang akan menjadikan tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpinnya.

Namun, sudahkah idealisasi kualitas pemimpin tersebut terwujud dewasa ini? Jika kita perhatikan sesuai dengan bukti di lapangan, dimana orang saling berebut dengan menggunakan berbagai cara agar bisa menjadi pemimpin, korupsi terjadi dimana-mana, pembangunan tidak berkelanjutan, ganti pemimpin berganti pula perencanaannya, dan yang lainnya mengindikasikan kualitas diri seorang pemimpin belum seperti apa yang disampaikan oleh Rsi Canakya. Bisa dikatakan bahwa pemimpin yang berkuasa dewasa ini bukanlah seorang pertapa, melainkan seorang yang pikirannya senantiasa bercabang dan tidak tenang, juga bukan mereka yang telah puas di dalam dirinya. Mereka yang menjadi pemimpin masih berambisi untuk mencari materi. Mereka juga tidak memiliki rasa ingin tahu atas masalah masyarakat. Apalagi sifat kasih saying, masih jauh dari itu. Mereka tidak segan-segan melenyapkan lawan-lawan yang dianggap menghalangi niatnya.

Apa yang harus dilakukan? Apa yang telah terjadi tidak dapat diapa-apakan. Apa yang ingin terjadi ke depan masih bisa kita upayakan. Hal yang mutlak diperlukan adalah ajaran Yoga sejak dini. Sifat dan sikap kepemimpinan harus dibentuk sejak dini dengan yoga sebagai ajaran utamanya.

Kemampuan yang paling diperlukan oleh seorang pemimpin adalah kemampuan memimpin dirinya sendiri. Hanya ajaran Yoga yang mampu memberikannya, sebab Yoga sepenuhnya mengajarkan secara bertahap bagaimana seseorang memasuki dan meneliti dirinya. Yoga menuntun mereka untuk mempelajari dirinya, untuk mengetahui siapa dirinya, mengapa dirinya ada, apa tujuannya, dan jalan mana yang tepat untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian hanya seorang pemimpin yang adalah Yogin itu sendiri yang bisa memimpin dengan baik.

Oleh: I Gede Suwantana
Source: Majalah Wartam, Edsisi 29 Juli 2017