Niskama Karma

Bhagavad Gita menyerukan perbuatan tanpa pamerih, niskama karma, lebih dari sekedar kebajikan atau subha karma. Sebagai ajaran moral-etik luhur, dalam Karma Yoga dapat kita temukan jurus-jurus altruistis sejati. Seperti telah disinggung sebelumnya, motivasi yang melatari tindakan, merupakan unsur penentu kwalitas dari perbuatan itu sendiri. Para pekerja institusi-institusi sosial kemasyarakatan misalnya, kendati mereka tidak digaji dalam melakukan tindakan bajik, namun bilamana mereka melakukannya dengan harapan agar 'disebut sebagai orang-orang bajik', maka secara kwalitatif ini belum dapat disebut sebagai tanpa pamerih (niskama).

Gita menganjurkan, bilamana belum benar-benar mampu berbuat bajik yang tanpa pamerih, kebajikan dengan pamerih sekasar apapun masih jauh lebih baik dibanding tidak berbuat samasekali (akarma), apalagi melakukan tindak kejahatan (asubha karma). Sesungguhnya, hanya karena kebodohan, keterbatasan, kelemahan dan daya-daya ilusiflah yang menjadikan kita menyangka bahwa kita telah berbuat sesuatu bagi orang lain. Padahal, apapun yang kita perbuat, apapun yang kita ucapkan, apapun yang kita pikirkan adalah bagi kebaikan diri sendiri.

Sementara itu, Hindu (baca: Advaita Vedanta) mendeklarasikan bahwasanya tak ada diri lain selain Sang Diri Agung, Brahman atau Hyang Widhi Sendiri. Jadi, dalam Hinduisme sesungguhnya tak ada yang dapat disebut sebagai 'orang lain', seperti yang mengawali kemunculan Altruismenya Comte. Hanya Beliaulah yang sesungguhnya berbuat. Puncak dari pandangan altruisme sejati ini sangat kental tersirat dalam Bhagavad Gita. "Setelah menjalani sekian banyak tapa, saya telah mengerti bahwasanya ini adakan Kebenaran Sejati Tuhan hadir pada setiap jiva; tiada Tuhan lain selain Itu. "Siapapun yang melayani jiva, sebetul-nya juga melayani Tuhan,"; ungkapan Swami Vivekananda ini, menyiratkan pandangan Vedantik ini dengan jelas.

"Si aku" (ahamkara) bergandeng an erat dengan "milikku" (mamakara). Ini samasekali tak tergantung berapa banyak seseorang telah memiliki sesuatu, ia lebih merupakan sikap batin yang terkondisi oleh agitasi dari mamakara. Motivasi tumbuh dari sikap batin. Inilah hulunya. Perbuatan atau tindakan hanyalah hilirnya. Hilir tak pernah menentukan hulu; namun sebaliknya, hulu-lah yang menentukan hilir. Terkait dengan ini, Swami Vivekananda menegaskan: "Ketanpa-akuan adalah Tuhan. Seseorang bisa saja hidup di atas tahta, tinggal di istana, namun sepenuhnya tanpa keakuan; maka ia adalah Tuhan. Sementara yang lainnya, bisa saja tinggal di gubuk dan mengenakan kulit kayu, serta tak punya apapun di dunia; namun apabila ia dipenuhi keakuan, maka ia sepenuhmu terbenam di dunia."

Bagi seorang Karma Yogi, apapun yang diperbuatnya adalah perbuatan Tuhan, oleh dan bagi Tuhan Sendiri. Sejauh keakuan masih sedemikian kuatnya mencengkeram kita, tak satu pun dari perbuatan kita dapat disebut sebagai bersifat altruistis sejati. Hanya bila kita memang telah benar-benar mengikis keakuan kitalah, semua perbuatan kita menjadi kebajikan, menjadi altruistis sifatnya. Dan guna menumbuh-kembangkannya, Hindu telah sejak dahulu kala menyodorkan Karma Yoga bagi umat manusia.

 

Source: Anatta l Warta Hindu Dharma NO. 423 Mei 2002