Nilai-Nilai Agama Hindu dalam Tutur Gong Besi

Naskah tradisional Bali yang sarat dengan nilai-nilai agama Hindu salah satunya adalah Tutur Gong Besi. Naskah ini adalah sebuah teks kuna yang- telah didokumentasikan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang pada awalnya berupa lontar dengan aksara Bali berbahasa Jawa Kuna dan kini telah dialihaksarakan ke dalam aksara latin dengan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penyalin/penerjemah. Bagaimana kandungan isi dari naskah tersebut? Berikut ini sekilas dipaparkan isinya adalah nilai-nilai agama Hindu yang bersifat Siwaistik, yang sarat dengan nilai ketuhanan atau brahma vidya (teologi), nilai persembahan atau yajna (ritual), nilai padewasan/nilai baik buruk dewasa (subhasubhacara), nilai spiritual atau kelepasan (kajnanan), serta nilai kebahagiaan (anandam).

Pertama, nilai ketuhanan (brahma vidya atau teologi) yang terkandung dalam tutur gong besi tersirat dalam awal teks yang menegaskan bahwa umat manusia hendaknya memuja Bhatara Dalem. Yang dimaksudkan dengan Bhatara Dalem adalah Hyang Widhi Wasa, atau dalam bahasa Veda disebut dengan Brahman. Bila dalam masyarakat Hindu di India menyebutkan dengan gelar Bhagavan atau Prabhu, yang tiada lain adalah sebut Tuhan juga. Bagi umat di Bali sering dinamakan Sang Hyang Tunggal, yang tiada lain adalah Hyang Siwa atau juga disebut Sang Parama Kawi.

Nama lain dari Bhatara Dalem sesuai Tutur Gong Besi adalah Sang Hyang Triyo Dasa Sakti saat beliau bersthana di Pura Puseh. Disebut Sanghyang Tri Upasedhana jika Beliau bersthana di Pura Desa. Bila bersthana di Pura Baleagung bergelar Sanghyang Bhagawati. Besthana di perempatan jalan bergelar Sanghyang Catur Bhuwana, bergelar Sanghyang Sapuh Jagat saat berstana di pertigaan jalan, saat di kuburan bergelar Bhatara Durga, saat di tempat pembakaran atau pemurnian Beliau bergelar Sanghyang Bherawi, kemudian bersthana di hulu setra bergelar Sanghyang Mrapajati. Lalu saat di laut Beliau bergelar Sanghyang Mutering Bhuwana, saat ada di langit gelarnya Sanghyang Taskarapati, bila bersthana di gunung Agung bergelar Sanghyang Giriputri. Bila bersthana pada panti, penataran, sanggar, parahyangan gelarnya adalah Bhatara Guru. Lalu saat di gunung Lebah gelar Beliau adalah Deun Danu, kemudian sthananya saat di pancuran digelari Sang Gayatri, saat di jurang atau sungai bergelar Bhatari Gangga, saat di tegalan dan sawah Beliau Bhatara Uma, jika di lumbung Beliau Bhatari Sri, saat di bejana tempat beras (pulu) Beliau bergelar Sanghyang Tri Suci. Kemudian pada saat di dapur bergelar Sanghyang Pawitra Saraswati, lalu saat di periuk (tempat air, nasi dan ikan) Beliau disebut Sanghyang Tri Mrtha, lalu sthananya di Kamimitan bergelar Sanghyang Catur Bhoga, Sanghyang Tuduh, Sanghyang Tunggal (yang bisa berujud laki, perempuan, dan banci).

Jika Beliau bersthana di sanggar parahyangan bergelar Sanghyang Atma, pada kamulan sebelah kanan selalu ayah gelarnya Sanghyang Paratma pada kamulan sebelah kiri ibumu bergelar Sang Siwatma, pada kamulan tengah adalah dirinya (raganya) sebagai roh suci menjadi ayah, ibu dan dirinya kembali ke Bhatara Dalem bergelar Sanghyang Tunggal atau Sanghyang Parama Wisesa/Parama Kawi atau Bhatara Dalem Kawi. Jika sehat, sakit, hidup, dan mati berasal dari Bhatara Dalem. Dalam unsur alam berupa air, cahaya, udara dan ether Beliaulah berada bergelar Sanghyang Mutering Jagat. Keharmonisan dan ketidakharmonisan ini Beliaulah penyebabnya, makanya Beliau hendaknya dipuja umat manusia.

Nama Beliau (Tuhan) jika dalam pawukon sesuai Tutur Gong Besi juga beraneka nama atau sebutan, yakni saat wuku Sinta bergelar Sanghyang Yamadipati, Landep bergelar Sanghyang Mahadewa, Ukir bergelar Sanghyang Mahayukti, Kulantir bergelar Sanghyang Langsur, Tolu bergelar Sanghyang Bayu, Gumbreg bergelar Sanghyang Cakra, Wariga bergelar Sanghyang Semara, Warigadean bergelar Sanghyang Maha Resi, Julungwangi bergelar Sanghyang Sambhu, Sungsang bergelar Sanghyang Gana, Dunggulan bergelar Sanghyang Kamajaya, Kuningan bergelar Sanghyang Indra, Langkir bergelar Sanghyang Kala, Medangsia bergelar Sanghyang Brahma, Pujut bergelar Sanghyang Guretno, Pahang bergelar Sanghyang Tantra, Krulut bergelar Sanghyang Wisnu, Merakih bergelar Sanghyang Suranggana, Tanwir bergelar Sanghyang Siwa, Medangkungan bergelar Sanghyang Basuki, Matai bergelar Sanghyang Sakra, Uye bergelar Sanghyang Kuwera, Menail bergelar Sanghyang Citragatra, Perangbakat bergelar Sanghyang Bisma, Bala bergelar Sanghyang Bhatari Durga, Ugu bergelar Sanghyang Singajatma, Wayang bergelar Bhatari Sri, Kelawu bergelar Bhatara Sedhana, Dukut bergelar Sanghyang Agni, dan pada wuku Watugunung Beliau bergelar Sanghyang Anantabhoga dan Sanghyang Naga Gini.

Bila dibandingkan dengan sumber suci purana, yakni dalam pustaka suci Siva Purana, maka gelar Tuhan dinamai Siva. Gelar Siva pun sangat banyak. Lebih dadi seribu nama Beliau. Maka umat Hindu menyebutnya bahwa Tuhan atau Hyang Siva bergelar Siva sahasra namah. Oleh karena Beliau bergelar Sambhu, Sangkara, Brahma, Wisnu, Mahasvara, Mahadeva, Rudra, Isvara, Agni, Candra, Surya, Ravi, Indra, Kuwera, Baruna, Yama, Pasupati, Durga, Sri, Laksmi, Sarasvati, Parvati, Bayu, dan lainnya. Memang nama Beliau banyak tetapi dalam teologi Hindu diyakini bahwa Tuhan adalah esa. Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua yang disebut ekam eva adivityam brahman. Beliau dapat hadir dimana-mana (vyapi vyapaka). Beliau dapat dipuja dimana-mana (vahya adhyatmika puja bhagavan). Beliau pula maha kuasa (prabhu sakti), maha ada (wibhu sakti), maha tahu (Jnana sakti), maha aktif (krya sakti), serta keberadaan Beliau adalah tunggal, tetapi tetap esa (eko narayana na dvityo asti kascit).

Kedua, dalam Tutur Gong Besi juga mengandung nilai ajaran suci tentang persembahan atau ritual (yajna). Secara jelas disuratkan mengenai bagaimana melakukan persembahan terhadap pitara (pitam puja). Secara rinci ada disebutkan mengenai upacara ngarorasin, matuwun, mapegat, mukur yang tergolong upacara uttama terhadap pitara sesuai ucap sastra tutur gong besi, guna menuju jalan dan tempat utama dari sang atma yaitu bertemu Bhatara Dalem.

Mengenai upacara ngaben atau atiwa-tiwa dijelaskan yakni "pada waktu membakar mayat, pada waktu hari byantara patut mengirim. Kalau pada waktu byantara membakar mayat, patut sekarang juga mengirim. Itu kadang mantri namanya. Upacara ngaben pada waktu hari byantara, sekarang juga mengirim, kemudian ngarorasin, selesai sehari, tumandang mantri namanya upacara ini. Itu madhyaning uttama namanya. Lagi kalau membakar mayat, mengirim, mabersih, ngarorasin, selesai dalam sehari. Itu kumandang mantri namanya. Kerjanya yang utama itu, Manywasta upacara itu, sangat utama. Kalau ada orang yang melakukan upacara yang demikian, itu utamanya manywasta namanya" (Tim Penyusun, 2002:67). Upacara nywasta juga dijelaskan lengkap beserta dengan sesajennya. Saat perayaan Galungan juga ditegaskan mengenai sesajen yang dihaturkan ke hadapan pitara yang belum diaben, seperti nasi tumpeng, punjung beserta kelengkapannya.

Mengenai sesajen yang dihaturkan bertempat di sanggar tawang berupa : sesayut prayascita urip dan sesayut putih kuning, suci selengkapnya, panebusan urip, peras, lis, segehan cacahan limang porsi, pisang yayasan, sukla pawitra, tatrag palong, kain untuk kampuh (selimut), dan nasi hidangan selengkapnya, dengan lauk pauknya, dan segehan selengkapnya. Pelaksanaan nywasta, kalau sudah lengkap tentang sesajen nywasta, sesuai dengan ajaran wariga, yang disebutkan dalam sastra (agama), yang menengah itu konon, sangat baik. Sang pitara menjadi selamat, lagi pula mendapatkan jalan yang sempurna kenyataannya. Dianugerahi oleh blmtara di Pura Dalem. Sang Pitara mendapat tempat di Sorga yang utama, disayangi oleh Sanghyang Kasuhun Kidul, widhyadara-widhyadari, selamatlah sang pitara. Lagi pula diberikan anugerah oleh semua bhatara dan bhatari (Tim Penyusun, 2002:67).

Selain itu juga dijelaskan mengenai upacara dewa yajna. Terutama melakukan pemujaan ke hadapan Bhatara Surya yang disebut Surya Sevana. Yang mana saat pemujaan itu tentunya mengikuti perjalanan arah matahari dan bulan menuju ke arah kebaikan yakni subhacara dan subhakara. Pemujaan ke hadapan Sang Hyang Surya merupakan pemujaan yang utama.

Ketiga, nilai padewasan (hari baik buruk dewasa/subhasubhacara) juga terkandung dalam tutur gong besi. Tentang hari baik untuk memuja pitara (pitra puja) dapat dipilih pada sasih karo dan katiga (pada bulan Agustus dan September serta sasih kalima (bulan November) termasuk sasih kanem dan kapitu (bulan Desember dan Januari) saat yang baik untuk melakukan pitra yajna, oleh karena pintunya yamaloka (sorganya Bhatara Yama terbuka).

Kalau bukan waisaka, ke-10 (April), matahari bergerak ke utara, itu semua sama-sama terbuka pintu sorga bhatara namanya. Terus sampai sorga yang tertinggi (siwagamburanglayang), sebab semua dewa mengadakan yoga namanya, baik untuk melaksanakan Dewa Yajna (persembahan kepada para dewa), dan juga membayar kaul. Dan juga melaksanakan Pitra Yajna, mapegat, matuwun, nyekah, mukur. Itu patut diikuti namanya, sebab terbukalah pintu yamaloka (sorga dewa yama). Dan tertutup pintunya pitraloka (sorga para pitra), tidak boleh memuja pitra di kuburan, dan juga membakar mayat, sebab pada waktu itu pertemuan semua bhatara (Tim penyusun, 2002:64). (Lanjutan)

Source: Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 474 Juli 2006