Negeri Merah Putih

Bung Karno agaknya begitu mencintai Pancasila yang memang merupakan hasil prestasi yang luar biasa dalam hidupnya. Dalam pidatonya yang berjudul "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah", pidato bersejarah Bung Karno pada hari ulang tahun ke-21 Republik Indonesia, 17 Agusrus 1966 di Jakarta, beliau dengan berapi-api menegaskan bahwa telah terjadi usaha-usaha dari beberapa tokoh yang mau mengkorek jiwa proklamasi dengan hendak merubah bendera nasional Sang Merah Putih, dan dengan hendak merubah lagu Kebangsaan kita, yaitu lagu Indonesia Raya. Dan sebagai titik terdalam dalam periode krusial tersebut, rakyat dan bangsa Indonesia dihadapkan kepada pergulatan sengit melawan beberapa usaha, beberapa tokoh yang ingin mengganti dasar negara kita yaitu Panca Sila.

Bung Karno tampaknya begitu bangga dengan bendera merah putih. Ketika berpidato di tanah lapang Denpasar pada tanggal 22 September 1955 Bung Karno ada menegaskan bahwa merah putih berhubungan dengan konsep Surya Candra (matahari dan bulan), berhubungan pula dengan konsep laki (putih) dan perempuan (merah). "Manusia ini adalah karena berhubungan laki dengan perempuan. Laki putih, perempuan merah. Merah Putih sampai sekarang saudara", kata Bung Karno.

Konsep tersebut di atas mengingatkan pada konsep lingga yoni, purusa pradana, atau apa yang disebut sebagai rwa bhinedha dalam agama Hindu. Ketika Bung Karno menyatakan bahwa dasar negara yang kita butuhkan adalah pertama: harus satu dasar yang dapat mempersatukan; kedua: satu dasar yang memberi arah bagi peri kehidupan negara kita; katakanlah dasar statis, di atas mana kita dapat hidup bersatu dan dasar dinamis ke arah mana kita hams berjalan, juga sebagai negara; maka segera kita teringat dengan konsep lingga yoni tersebut. Lingga adalah simbol kekuatan statis atau pasif, dan yoni adalah simbol kekuatan aktif, disebut juga sebagai sakti.

Ketertarikan Bung Karno terhadap konsep ini mendorongnya sebagai seorang arsitek untuk melahirkan bangunan Monas sebagai pengejawantahan dari lingga, dan bangunan gedung MPR RI/DPR RI/DPD RI sebagai pengejawantahan dari yoni. Memang Bung Karno sebagai arsitek negara, dan juga sebagai arsitek bangunan benar-benar melangkah dan bertindak berdasarkan konsep-konsep yang mendalam dan tinggi.

Konsep-konsep tersebut adalah juga konsep-konsep yang telah menjiwai kebudayaan kita, kebudayaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu kita tidak heran apabila seorang Bung Karno begitu gemar nonton wayangmisalnya. Ini bukan semata-mata karena namanya identik dengan salah seorang tokoh dalam yaitu Sang Kama (tokoh yang menjadi bagian dari konsep Tri Porno, tiga panutan dalam tradisi kebudayaan Jawa) tetapi benar-benar dalam tradisi wayang terdapat ajaran yang sarat makna. Suatu hari di tahun 1962 presiden pertama RI ini menonton wayang di bawah cerah langit dan bermandikan cahaya purnama. Dalangnya adalah I Nyoman Granyam seorang dalang dari Sukawati, Gianyar yang khusus di undangnya untuk melakonkan kisah Sutasoma karya Mpu Tantular.

Kisah perjalanan seorang Sutasoma, seorang raja muda yang meninggalkan istana, menghadapi Gajahwatra, Nagaraja, Singa Lapar, Purusadha si pemakan manusia dan menghadapi Bhatara Kala, akhirnya kembali ke istana. Semuanya dihadapi dengan jiwa merdeka (Mahardika). Dengan menonton pertunjukkan wayang ini Bung Karno agaknya sangat terkesan dengan ucapan Sang Sutasoma yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kesejahtraan umat manusia. Maka pertunjukan "kecil" ini memiliki makna, besar bagi Bung Karno terkait dengan pandangan religi Bung Karno, atau menyangkut religiusitas atau penghayatan keagamaanya.

Setelah menonton pementasan wayang dengan lakon Sutasoma atau Purusadhasanta (artinya Si pemakan manusia yang ditenangkan), Bung Karno lalu mensitir ungkapan Jawa Kuna dimaksud: "nanging hana pamintaku uripana sahananing ratu kabeh" (tetapi permohonanku hidupkanlah raja-raja itu semua). Itulah ucapan Sutasoma kepada raksasa Purusadha sambil menyerahkan dirinya asal raja-raja itu dibebaskan.

Perhatian yang diberikan oleh Bung Karno pada ucapan Sutasoma yang rela mengorbankan dirinya demi kesejahtraan umat manusia.Ternyata jalan yang sama akhirnya ditempuh oleh Bung Karno demi menyelamatkan bangsanya dari pecahnya perang saudara pada peristiwa gerakan 1 Oktober 1965. Di sini jelas Bung Karno menghayati ajaran yang dikandung di dalam ajaran Sutasoma karya Mpu Tantular.

Semangat berkibar dalam jiwa Bung Karno, semangat merah putih, semangat yang didasarkan oleh nilai-nilai ke. acian. Bung Karno agaknya mengembangkan kesadaran keagamaan yang kini oleh para theolog acap disebut sebagai philosophia perennis yang meyakini bahwa kebenaran abadi berada di pusat semua tradisi spiritual, apakah itu sanatanadharma dalam Hinduisme, al-hikmah al-khalidah dalam istilah sufi Islam, atau logos' spermatikos (benih sabda Illahi) dalam pemikiran patristik Kristeri.

Sesungguhnya kebenaran itu satu dan tidak berbagi, meskipun mewujud dalam simbol-simbol yang secara eksotris berbeda-beda. Prinsip kesunyatan Tantular, oleh Bung karno diterjemahkan secara politis dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Easa dalam pancasila, berbareng bengan ditetap-kannya Bhinneka Tunggal Ika dalam Lambang Negara. Dengan Sila Pertama ini Bung Karno telah membebaskan bangsanya dari cengkraman agama tertentu sehingga tidak menjadi negara Islam, karena bertentangan dengan realitas kemajemukan bangsa, tetapi juga bukan negara sekuler, karena melawan degup hati sanubari rakyat yang sangat religius.

Di negeri yang menjungjung nilai-nilai kesucian ini, maka sesungguhnya tidak ada egoisme agama, dan dengan demikian negara pada dasarnya dipisahkan dengan agama. Agama menjadi milik pribadi, sedangkan negara milik semua. Bung Karno menyatakan, "semua buat semua, bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat golongan Indonesia, ...tetapi Indonesia buat semua.

Di negeri dimana spirit merah putih itu mengakar kita mengetahui betapa bangsa ini meyakini Tuhan ada di mana-mana. Itulah sebabnya dalam ceramahnya tetang Pancasila di Istana Negara pada tahun 1958 Bung Karno mengutip ucapan Bhagawadgita ini: "Saya kembali kepada Bhagawadgita, Bhagawadgita berkata, Aku adalah di dalam geloranya air laut yang membanting di pantai, Aku adalah di dalam sepuinya angin yang sedang meniup. Aku adalah di dalam batu yang engkau sembah, Aku ada di dalam awan yang berarak. Aku ada di dalam api, Aku di dalam panasnya api, Aku ada di dalam bulan, Aku di dalam senvumnya sang gadis cantik. Aku yang tiada mula tiada akhir". Kutipan ini menegaskan bahwa Tuhan ada dimana-mana, sebuah konsep yang sangat umum di dalam Agama Hindu.

Di dalam rangka menjelaskan sila Pri Kemanusiaan, Bung Karno bertemu dengan istilah Tattwamasi, sebuah adigium dalam ajaran Hindu. Bung Karno menyatakan, : Tattwamasi yang berarti aku adalah dia, dia adalah aku, yang dus pada hakikatnya tidak ada perbedaan dan pemisahan antara dia dan aku, bahkan tidak ada perbedaan dan perpisahan antara manusia dan alam semesta ini, bahwa segala isi alam semesta itu pada hakikatnya satu, berhubungan satu sama lain. Rasa kesatuan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta ini disebut adwaita".

Demikianlah Bung Karno telah menggali Pancasila dari bumi pertiwi. Beliau menjelaskan secara panjang lebar dan mendalam semua simbol-simbol negara dengan dasar filsafat dan pemikrran yang tinggi. Beliau juga menyatakan kebanggaanya pada simbol-simbol negara tersebut, dan terus dengan penuh semangat mengibarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti berkibarnya sang saka merah putih, di negeri "merah putih" ini. Negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan juga nilai-nilai kemanusiaan, negeri yang dengan penuh semangat menatap masa depan.

Bangsa yang mengibarkan sang saka merah putih adalah bangsa yang memiliki keberanian berdasarkan kesucian hati. Keberanian menghadapi masa depan penuh tantangan, sekaligus keberanian untuk mempertahankan simbol-simbol negara penuh makna itu, memper¬tahankan setiap jengkal tanah aimya. Di negeri merah putih para pemimpin harus memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran dan menegakkan keadilan. Tidak ada tempat bagi pemimpin pengecut di negeri merah putih. Dirghahayu Republik Indonesia.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 536 Agustus 2011