Nafsu Asmara Jayadratha Kepada Draupadi

Hari berganti hari, setiap musim menumbuhkan bunga-bunga baru. Pada suatu hari, para Pandawa meninggalkan Draupadi sendirian di Ashrama, dan pergi berburu dalam upaya untuk bisa memberi makan kaum Brahmana pengikut mereka.

Saat itu melintas di dekat ashrama Pandawa, Raja Sindu, Jayadratha dengan busana sangat mewah, rencana untuk melangsungkan perkawinan di kerajaan Shalwa; banyak pangeran ikut bersama dalam rombongannya. Beristirahat di dalam hutan Kamyaka, Jayadratha melihat Draupadi sedang berdiri di halaman Ashrama. Sosok Draupadi yang cantik sempurna terlihat menyala di antara pepohonan berwarna gelap di sekitarnya.

Laksana sinar petir menerangi awan-awan gelap. Semua yang melihat Draupadi terkesima, berpikir di dalam hati apakah gadis ini bidadari, atau putri dari dewata, atau hantu yang cantik. Mereka semua terpaku saling memandang.

Namun nafsu asmara membara didada Jayadratha, dan ia berkata kepada Kotika, “Siapa itu apakah ia manusia? Aku tidak ingin kawin kalau aku tidak mendapatkan perempuan itu. Pergilah, tanyakan pada perempuan itu kenapa ia bisa berada di tengah hutan ini, dan siapakah suaminya. Tanyakan padanya, Kotika, jika ia berkenan menerimaku sebagai tuan-nya.”

Kotika meloncat turun dari keretanya, dan mendekati Draupadi. “Wahai perempuan cantik, begitu menawan seperti lentera malam tertiup oleh angin, apakah engkau seorang dewi, bidadari, atau yakshi, putri dari Raja Naga, atau istri dari Daitya, beritahukanlah kami.

Aku adalah putra dari Raja Suratah, namaku Kotika. Dan Raja Jayadratha ada di sini sekarang, bersama dengan pasukan perangnya berjumlah enam ribu kereta.” Draupadi memandang Kotika, ia mematahkan ranting “kadamba”, dan Draupadi memperbaiki posisi kain sutra-nya. “Karena tidak ada orang lain di sini, aku akan menjawab pertanyaanmu secara pribadi, walaupun secara etika aku tahu ini tidak pantas. Aku adalah Draupadi putri dari Raja Draupada, dan istri dari lima Pandawa. Para suamiku sedang pergi berburu, meninggalkan aku sendirian di sini, Yudhishthira ke arah Timur, Bhima ke Selatan, Arjuna ke barat, dan si kembar Nakula-Sahadewa ke arah utara. Yudhishtira akan sangat senang menjumpaimu saat ia kembali dari berburu.”

Setelah berkata demikian, Draupadi yang wajahnya secantik rembulan masuk ke dalam Ashram. “Bahkan kata-katanya telah membuatku jatuh cinta,” kata Jayadratha ketika Kotika melaporkan jawaban Draupadi. “Kenapa engkau kembali dengan tangan kosong? Dengarkan aku, Kotika. Ia telah membuatku mabuk kepayang. Semua perempuan yang lain seperti monyet bagiku! Aku harus melihatnya lagi.”

Seperti kawanan serigala yang memasuki sebuah goa, Jayadratha dan enam anak buahnya memasuki Ashrama. “Perempuan cantik, apakah suami-suamimu semuanya sehat?” tanya Jayadratha kepada Draupadi. “Dan apakah semua yang menyayangimu juga sehat?”

“Mereka semua baik-baik tuan,” sahut Draupadi. “Dan apakah semuanya baik-baik saja menyangkut kerajaanmu, pemerintahanmu, dan semua angkatan bersenjatamu? Ini air untuk membasuh kakimu. Dan ini tempat duduk untukmu. Aku akan memberikan kepadamu limapuluh ternak untuk sarapan pagi para pengikutmu.”

“Engkau menghormatiku dengan persembahan itu. Penawaran diri adalah cukup,” sahut Jayadratha.” Ikutlah denganku naik di atas keretaku dan biarkanlah aku membuatmu bahagia. Wahai perempuan cantik yang berpinggang indah, jadilah istriku, dan marilah berbagi kerajaan Sindhu dan Sauvira bersamaku.”

Draupadi berdiri, ketakutan; ia sangat marah, alisnya mengkerut. “Sangat Memalukan!” Draupadi berteriak penuh kemarahan. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi padaku”. Mengetahui bahwa suami-suaminya segera akan kembali, Draupadi mulai berbicara padanya, mendulang waktu.

Wajahnya merah karena amarah. “Pohon bambu dan tanaman pisang berbuah dan kemudian mati. Engkau bagaikan seekor kepitung yang melahirkan kehancurannya sendiri. Para suamiku akan membunuhmu.”

“Aku telah mendengar tentang Pandawa,” kata Jayadratha, “dan aku tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang. Jangan berpikiran bahwa aku bukan raja yang hebat — bagiku Pandawa tidak ada artinya. Kata-katamu tidak bisa membantu, Draupadi — ikutlah bersamaku. Jangan sampai aku terpaksa harus memaksamu.”

Menyaksikan tangan Jayadratha hendak meraihnya, Draupadi berteriak, “Jauhkan tangan kotor penuh nafsu itu dariku!” Jayadratha meraih baju Draupadi, Draupadi mendorong Jayadratha. Jayadratha jatuh terbanting, namun ia segera bangkit dan menangkap Draupadi lagi. Draupadi terengah-engah kesulitan bernafas. Jayadratha menyeret Draupadi menuju keretanya.

Reshi Dhaumya, pandita para Pandawa, keluar dari pasramannya. Draupadi berlutut menyentuh kaki sang Reshi. “Jayadratha, engkau tahu adat kebiasaan para Kshatriya,” kata Dhaumya. “Engkau harus mengalahkan para suami Draupadi dalam sebuah pertempuran yang adil. Engkau tidak punya hak untuk membawa dia pergi bersamamu. Perbuatan jahatmu telah menguasaimu!”

Reshi Dhaumnya berjalan kaki mengikuti kereta Jayadratha. Ketika para Pandawa kembali, seekor srigala melolong dekat ashrama. Mereka menemukan pelayan Draupadi, Dhatreyika, menangis tersedu-sedu. Sambil mengusap wajahnya yang cantik, ia berkata,’’Jayadratha telah membawa pergi Draupadi. Kejarlah penjahat itu! Jejak-jejak kereta kuda masih basah. Sekuntum bunga telah dilemparkan ke sebuah kuburan! Seekor anjing telah berani menjilat air yang disakralkan! Sekuntum bunga Lily telah dihancurkan oleh srigala! Seorang penjahat sedang mendaratkan ciumannya kepada istrimu yang secantik bulan purnama!”

“Tutup mulut!” perintah Yudhishthira. “Menyingkirlah dari hadapanku.” Para Pandawa mulai mengikuti jejak kereta kuda Jayadratha, dengan nafas memburu, dan menggetarkan tali-tali busur mereka. Mereka menyaksikan gumpalan debu di kejauhan; kemudian mereka menemukan Reshi Dhaumnya; laksana kawanan elang mereka kemudian menerjang pasukan tempur Jayadratha. Dengan dipenuhi kemarahan, para Pandawa menyerang pasukan infanteri Jayadratha yang lari kocar-kacir, langit menjadi gelap dipenuhi oleh anak- anak panah Pandawa, menerjang kereta-kereta kuda, Sampai seluruh pasukan tempur Jayadratha hancur dan berlarian menyelamatkan diri.

Jayadratha juga melarikan diri meninggalkan Draupadi di belakang, di tengah kebingungan ia salah mengambil jalan malah menuju ke arah asrama Pandawa. “Bahkan Dewa Indra-pun tidak bisa menyelamatkan Jayadratha sekarang,” kata Bhima. “Ia akan mati ditanganku.”

“Ingatlah saudari kita Duhshala, dan pikirkan juga Dewi Gandhari,” demikian kata Yudhishthira mengingatkan, “sebelum kalian berfikir untuk membunuh Jayadratha, walaupun memang ia manusia jahat.”

Oleh: Gede Ngurah Ambara
Source: Majalah Media Hindu, Edisi, 166, Desember 2017

Diterjemahkan dari Mahabharata of Vyasa by P. Lai