Mulat Sarira di Hari Kuningan

Di Hari Raya Kuningan saat ini, setelah kita berbhakti kepada leluhur di pagi hari, marilah kita melakukan koreksi diri dengan melakukan mulat saria alias introspeksi diri. Mulat sarira ini penting dilakukan untuk membentengi diri kita agar tidak banyak terpengaruh nafsu-nafsu buruk, baik yang masih di dalam pikiran maupun yang sudah menjadi perbuatan. Bukankah di Hari Raya Kuningan ini kita membuat tamiang di setiap persembahan dan itu adalah simbul kita membentengi diri.

Kita sedang mengarungi zaman yang mengalami krisis multi demensi saat ini. Moral dan etika sudah sangat merosot. Tidak ada lagi rasa kebersamaan, rasa saling memiliki, dan rasa persaudaraan diantara umat manusia. Bom diledakkan di gereja yang sedang ada kebhaktian di Mesir, puluhan orang meninggal. Sekeluarga dibunuh di Sumatra Utara. Penyidik korupsi diteror di depan rumahnya dengan air keras. Banyak contoh kekerasan kemanusiaan yang terjadi belakangan ini.

Sementara itu keserakahan manusia terus berlangsung. Banyak orang yang berharap mendapatkan keinginan atau kesenangan idriawinya, walaupun harus bertentangan dengan ajaran agama. Korupsi masih merebak meski begitu banyak orang yang sudah masuk bui. Punglipun masih terjadi, meski sudah ada yang kena operasi tangkap tangan karena pungli itu. Mari kita yang waras bersama-sama merenung dan mulat sarira, agar prilaku kita tidak melenceng dari kaidah-kaidah ajaran agama yang kita yakini.

Etika atau susila adalah bentuk pengendalian diri dalam pergaulan hidup bersama. Manusia adalah makhluk sosial, mereka tentu mensosialisasikan dirinya dalam hidup bermasyarakat, karena manusia tidak akan dapat hidup sendiri. Dalam kaitan ini sudah pasti konsep kebersamaan dan kesetaraan menjadi hal yang penting. Dalam mensosialisasikan diri itu kita tak bisa membeda-bedakan etnis, agama atau paham apa pun yang ada. Perbedaan itu haruslah dianggap sebagai keindahan, sebagaimana taman yang indah tentu terdapat bunga yang warna-warni. Janganlah menganggap bahwa diri kita yang paling suci dan paling benar, serta menganggap orang di luar kepercayaan kita adalah salah semua. Kebenaran di dunia ini adalah relatif, dalam Weda disebutkan kebenaran datang dari mana-mana, dari segala arah.

Dalam setiap pergaulan kita harus siap untuk menerima perbedaan dan bahkan siap pula untuk berbeda pendapat. Tidak selalu pendapat kita saja yang benar. Di dalam sastra-sastra Hindu dikatakan bahwa setiap kelahiran tercipta oleh dualitas, oleh Purusa Tattwa dan Predhana Tattwa. Karena itu pula setiap kelahiran membawa dualitas yang dalam sastra Hindu disebut dengan citta dan klesa. Dualitas inilah yang menyebabkan setiap orang akan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Orang bijak menyebutkan, tidak ada satupun manusia yang sempurna.

Dengan menyadari setiap kelahiran membawa dualitasnya masing-masing, dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing pula, hendaknya kita harus mampu menerima perbedaan yang ada. Dengan menerima kelebihan dan kekurangan serta perbedaan yang ada akan menambah dan saling melengkapi diri kita dalam kehidupan ini. Kalau kita menyadari setiap kelahiran membawa dualitasnya masing-masing, setiap orang memiliki kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan dan seterusnya, marikita berani menerima atau pun memaafkan kesalahan orang lain. Hari Raya Kuningan ini adalah hari yang baik untuk melakukan hal itu.

Janganlah manakala kesulitan dan kegagalan menimpa diri kita, lalu kita menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Atau bahkan kita menyalahkan Tuhan dengan mengatakan Tuhan tidak adil, Tuhan pilih kasih, dan seterusnya. Lebih baik kita merenung sejenak, dan melakukan introspeksi dan mengevaluasi diri, apa sebenarnya penyebab dari kegagalan hidup kita. Bagian mana dari citta dan klesa yang berlebihan yang harus kita kurangi.

Dengan menyadari kita lahir membawa konsekwensi dualitas (citta dan klesa), kita pun tidak bisa menghindar dari kenyataan hidup. Setiap orang akan pernah mengalami kegagalan, cobaan, dan godaan atau kesulitan dalam menata kehidupannya. Semakin sering kita ditempa oleh cobaan, semakin banyak kita punya pengalaman dan itu menjadi solusi di dalam kita memecahkan kegagalan dalam kehidupan ini. Disitulah pentingnya kita melakukan perenungan diri dan mulat sarira (instrospeksi diri) agar hidup ini tidak kebablasan di era yang krisis multi dimensi ini.

Oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Source: mpujayaprema.com