Misteri Mpu Kuturan

Mpu Kuturan adalah sebuah nama yang dikenal luas oleh masyarakat umat Hindu di Bali khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Beliau hadir di Bali pada pemerintahan Udayana Warmadewa. Dikenal lewat sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh raja tersebut. Namun disamping itu dalam sejumlah lontar "Mpu Kuturan", kita mengenal juga seorang Mpu Kuturan yang berasal dari Majapahit.

Dengan demikian paling tidak kita mengenal "tiga tokoh Mpu Kuturan" yaitu dua dari jaman Udayana, dan seorang dari jaman Majapahit. Dari jaman Udayana kita mengenal Senapati Kuturan yaitu seorang pejabat pemerintahan yang berhubungan dengan "tata kemasyarakatan", dan Mpu Kuturan yang merupakan saudara kandung dari Mpu Baradah. Sementara itu Mpu Kuturan dari Majapahit dikenal sebagai seorang yang akhli dalam bidang pembangunan tempat-tempat suci. Saat ini kita patut memahami lebih jauh tentang siapa Mpu Kuturan dan karya-karyanya, karena jaman Udayana kurang lebih telah berlalu satu millenium yang silam atau seribu tahun yang silam.

UDAYANA WARMADEWA

Dalam prasasti Bebetin berangka tahun 989 M disebutkan nama lengkap dari raja Udayana adalah Sri Dharma Udayana Warmadewa. Kata Warmadewa yang berarti raja pelindung untuk kesejahteraan rakyat (Warma = pelindung, Dewa = sinar suci atau Raja), kita temui juga dalam prasasti Belanjong Sanur berangka tahun 913 M. Pada prasasti tersebut tersurat nama Sri Kesari Warmadewa. Dapat diduga bahwa Udayana Warmadewa adalah keturunan dari Kesari Warmadewa. Raja-raja Bali yang lain yang memakai nama Warmadewa adalah Tabanendra Warmadewa (955M-967M), Jayashinga Warmadewa (mendirikan Tirtaempul Tampaksiring), Janasadhu Warmadewa. Raja-raja dengan gelar Warmadewa tersebut diperkirakan berasal dari Sumatra.

Sementara itu Udayana Warmadewa memperistri dengan Gunapriyadharmapatni. Namanya semula ketika masih di jawa Timur adalah Mahendradatta keturunan Raja Sindok yang memerintah tahun 929-947 M. Dalam prasasti Calcutta nama abiseka Sindok adalah Sri Isana Tungga Wijaya dan terkenal dalam sejarah memindahkan pusat kekuasaan pemerintah Mataram kuna dari Jawa Tengah ke daerah Jawa Timur ± pada tahun 929 M.

Dari perkawinan Udayana dan Gunapriyadarmapatni lahirlah tiga orang putra masing-masing Airlangga, Marakata, dan yang paling bungsu bernama Anak Wungsu. Airlangga diketahui dari prasasti Calcutta dimana disebutkan silsilahnya dan nama kedua orangtuanya yaitu Udayana dan Mahendradatta. Ia dilahirkan pada tahun 1000 M dan setelah berumur 16 tahun diminta oleh pamannya raja Dharmawangsa Teguh untuk datang ke Jawa Timur dengan tujuan untuk dikawinkan dengan putrinya. Tentang Marakata yang tetap memerintah di Bali dapat diketahui dari prasasti Sembiran berangka tahun 1023 M. Dan tentang raja Anak Wungsu yang memerintah dari tahun 1049-1077 M dapat diketahui dari sejumlah prasasti di antaranya prasasti Trunyan.

Demikian gambaran sepintas seputar pemerintahan raja Udayana Warmadewa yang menunjukkan bahwa telah terjadi hubungan yang sangat erat dengan raja-raja di Jawa. Malahan mulai saat pemerintahannya sejumlah prasasti Bali mulai memakai kata-kata Jawa Kuna. Pada saat inilah diperkirakan datangnya Mpu Kuturan dari Jawa. Namun apakah Mpu Kuturan dari Jawa yang merupakan saudara kandung Mpu Baradah adalah juga senapati Kuturan yang menjabat sebagai salah satui senapati dalam pemerintahan "Udayana".

SENAPATI KUTURAN

Dalam pemerintahan Udayana raja dibantu oleh suatu badan penasehat pusat. Dalam prasasti yang tertua (882 M) badan ini disebut dengan istilah "Panglapuan" seperti Somahanda Senapati di Panglapuan. Belakangan penasehat pusat itu disebut dengan istilah "Pakiran-kiran i jro makabaihan" yang beranggotakan: a. beberapa orang senapati, b. beberapa Pendeta Siwa dan Budha.

Dalam kaitannya dengan senapati tersebut antara lain kita dapatkan di dalam prasasti Serai. Dalam prasasti ini disuratkan: Senapati ser nayaka di pasamaksa palapknan maka suprati-baddha makadi mpungku sogata maleswara sarbwa dinganga syumbul da senapati pinatih dyah mahogram, da senapati dalam bunut buncang, da senapati wrasabha tuha pradhana, da senapati Kuturan dyah kuting, da senapati waranasi tuhagato, da senapati maniringin tuha tabu, samgat tuhan jawa, tuha maranjaya, samgat ser krangan tuhan naruh sangat adhi karana pura tuha tangun, ... Artinya: ditetapkan didalam pertemuan dari yang mulia senapati, ser, nayaka dalam persidangan lengkap dan juga dihadiri oleh pendeta Siwa dan Budha dan juga para pejabat yang mulia senapati Pinatih yang bernama Dyah Mohagra, senapati Dalem Bunut bernama Tuha Buncang, senapati Wrasabha bernama Tuha Pradana, senapati Kuturan bernama Dyah Kuting. Senapati Waranasi bernama Tuha Gato, Senapati Maniringin bernama Tuha Tabu, samgat Tuhan Jawa bernama Tuha Maranjaya, samgat ser Kerangan bernama Tuhan Naruh, samgat Adhikaranapura bernama Tuhan Tangun, samgat Nayakan bernama Kalula Tuha Tangun,...

Dalam prasasti ini jelas kita menemui jabatan senapati Kuturan, yang dijabat oleh seseorang yang bernama Dyah Kuting. Jabatan ini berderet dengan jabatan-jabatan lainnya yang ternyata juga berkaitan dengan kerja operasional seperti penentuan batas wilayah, wajib pajak, pembagian air dan sebagainya. Pertanyaan yang muncul adalah adakah jabatan senapati Kuturan seperti itu dijabat oleh seorang Mpu Kuturan dengan nama lain Dyah Kuting?

DANG ACARYA KUTURAN

Dalam jaman Udayana agama tampak hidup dengan subur dan raja benar-benar menjaga tegaknya kehidupan beragama tersebut. Telah diketahui bahwa Gunapriyadarmapatni sang permaisuri adalah pemuja Siwa, antara lain dengan mendirikan patung Durghamahisa Asuramardini, Dewi Durgha yang sangat cantik yang sampai sekarang dapat diketahui berada di Buruan Gianyar.

Prasasti dari jaman Udayana telah menunjukkan bahwa agama Siwa dan Budha hidup berdampingan. Hal ini dapat diketahui pada tokoh yang berasal dari masing-masing agama disebutkan dalam prasasti sebagai "Mpungku Sewasogata" yang merupakan sebutan untuk pendeta Siwa dan Budha. Dalam prasasti pendeta Siwa disebut sebagai "Dang Acarya" sedangkan golongan pendeta Budha disebut "Dang Upadyaya". Umumnya pendeta Siwa lebih menonjol dan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan pendeta Budha.

Adakah Mpu Kuturan menjadi salah satu Dang Acarya atau Dang Upadyaya dari kerajaan pada waktu itu. Inilah pertanyaan penting berkait dengan posisi Mpu Kuturan sebagai seorang pendeta atau rohaniawan. Mpu Kuturan memang dikenal luas bersaudara kandung dengan Mpu Baradah. Mpu Kuturan mempunyai satu-satunya puteri bernama Dyah Ratna Manggali yang kawin dengan putra Mpu Baradah bernama Mpu Bahula. Dari perkawinan ini lahirlah Mpu Tantular yang selanjutnya menurunkan Danhyang Semaranata, Danghyang Kepakisan, yang masing-masing merupakan leluhur para Brahmanawangsa dan Ksatriya Dalem di Bali.

Mpu Baradah yang agaknya menjadi purohita Raja Airlangga di Jawa Timur, kedatangannya ke Bali disuratkan di dalam dua buah prasasti yang kini disimpan di Pura Batumadeg Besakih dan sebuah lagi di Pura Gaduh Sakti desa Selat Karangasem. Kedua prasasti itu memuat bilangan tahun Candra Sangkala. Prasasti di Pura Batumadeg menunjuk tahun Candra Sangkala "hiti watek nawa sanga hapit lawang" yang berarti tahun saka 929 atau 1007 M. Hal ini memberi petunjuk kedatangan Mpu Baradah yang pertama ke Bali ialah untuk menghadiri kemangkatan Gunapriyadharmapatni pada tahun 1007 M, dan merupakan kelahiran anaknya yang terkecil yaitu Anak Wungsu. Kedatangan beliau yang kedua di Bali adalah utusan Raja Airlangga untuk menyarankan agar salah seorang putranya menjadi Raja di Bali. Tetapi rencana ini agaknya ditolak, oleh karena itu Airlangga meminta Mpu Baradah untuk membagi kerajaannya menjadi dua bagian yaitu Janggala dan Kadiri.

Baik Mpu Kuturan maupun Mpu Baradah kini disthanakan di Pura Silayukti Teluk Padang Karangasem. Tempat yang juga dikunjungi oleh Danghyang Nirartha ketika baru datang ke Bali, dan akhirnya beliau juga mendirikan pura disekitar tempat itu.

Dari uraian singkat di atas kita menemui seorang Mpu Kuturan yang benar-benar adalah seorang tokoh agama yang datang ke Bali pada jaman Udayana, sementara adiknya Mpu Beradah menjadi pendeta kerajaan dikerajaan Airlangga yang juga putra raja Udayana.

MPU KUTURAN DARI MAJAPAHIT

Sejumlah lontar yang tersimpan dalam berbagai perpustakaan lontar di Bali menyuratkan bahwa Mpu Kuturan berasal dari Majapahit atau Wilwatikta, datang ke Bali untuk mengajarkan tata cara membuat bangunan suci sekaligus untuk menghidupkan dan menyucikan bangunan tersebut.

Lontar Mpu Kuturan bernomor 172, IIIb tersimpan di Gedong Kertya Singaraja menyuratkan sebagai berikut: Nihan widisastra anugraha de bhatara Jagatnatha ri sira Mpu Kuturan, ya tika hana aji sastragama katama de sang prabhu ring jagat, sangke pawarah Mpu Kuturan witeng wilwatikta, duking sira Mpu Kuturan kutus mara ing basukih, ngawangun meru ring basukih, panembahing ratu Bali, katular meru mas ring giri sumeru, mwang lingganing parhyangan bumi sami pakandanya, waluya ring mahameru, mwang lingganing pasamuan agung, matata lingganing meru, hana cendet, aluhur ring basukih,... Artinya: Inilah ajaran yang merupakan anugrah Sang Hyang Jagatnatha kepada Mpu Kuturan, yaitu ajaran sastra agama yang menjadi pegangan para raja dalam pemerintahannya, lewat ajaran Mpu Kuturan yang datang dari Wilwatikta atau Majapahit, ketika Mpu Kuturan diutus datang ke Besakih, membangun meru di Besakih yang menjadi sungsungan para raja di Bali, dengan mencontoh meru mas di Gunung Sumeru, serta segala bentuk parhyangan diuraikan tata cara membangunnya, sehingga seperti yang terdapat di Gunung Mahameru. Hal itu menyebabkan meru-meru tertata susunannya ada yang pendek namun ada juga yang tinggi, sebagai mana kita temui di Pura Besakih.

Sementara itu dalam Lontar Mpu Kuturan nomor IIIB. 753 yang juga tersimpan di Gedong Kertya Singaraja yang berasal dari Desa Pagesangan Lombok Barat ada disuratkan: Nihan ling nira Mpu Kuturan ring Majapahit, duk angwanguna meru ring Besakih, kramanya yan meru tumpang 5, tumpang 7, tumpang 9. tumpang 11, ikang mangkana ana padagingannya inenah mangkana. Nihang patatannya yan matumpang 11, ring dasarnya mesi pinda prabot manusa mawadah kawali waja, tekaning siap mas mwang selaka, kacang mas, kacang selaka, tumpeng mas, tumpeng selaka, sampyan mas, sampyan selaka, panjeneng mas, panjeneng selaka, bebek mas, bebek selaka. Ring dasar pisan badawang mas, badawang selaka, naga mas, naga selaka, pada mamata mirah, tekeng pripih mas selaka tembaga, jaum 4 katih mas selaka tembaga wesi, mwah podi mirah weh nya manut wilaning tumpang...... Artinya: Ini adalah ajaran Mpu Kuturan yang berasal dari Majapahit, ketika beliau membangun meru di Pura Besakih, mencakup meru bertumpang 5, 7, 9, 11. Ada "Padagingan" yang ditaruh di dalamnya. Tata caranya adalah sebagai berikut, kalau bertumpang 11, pada dasar meru tersebut berisi berbagai simbol perabotan manusia dimasukkan didalam cecupu, termasuk simbol ayam, terbuat dari emas dan perak, biji juga dalam bentuk emas dan perak, simbol gunung dari emas dan perak berbagai hiasan dari emas dan perak, serta itik juga dari emas dan perak. Di dasar meru ditempatkan simbol penyu dari emas dan perak serta simbol naga dari emas dan perak bermata mirah, jarum 4 biji dari emas perak tembaga dan besi serta podi mirah jumlahnya menurut tumpang meru tersebut.

Demikianlah dalam lontar yang terakhir ini diuraikan dengan sangat detail berbagai bentuk upakara dalam rangka membangun tempat suci dan bangunan suci yang diwariskan dan dijadikan pedoman dalam membangun tempat suci sampai saat ini. Maka Mpu Kuturan yang satu ini adalah seorang tokoh agama yang memiliki spesialisasi dalam bidang bangunan suci. Beliau hadir di Bali datang dari Majapahit selanjutnya membangun meru-meru yang ada di Pura Agung Besakih.

Dengan demikian kita mengetahui 3 tokoh bernama Kuturan. Maka Mpu Kuturan adalah sebuah misteri yang patut kita ketahui dengan benar. Sebuah nama yang begitu dikenal ternyata masih sebuah misteri. Dalam hal ini kita memerlukan para ahli sejarah untuk membantu kita membuka tabir misteri tersebut.

 

Source: Ki Dharma Tanaya l Warta Hindu Dharma NO. 418 Desember 2001