Militansi Hindu

Militansi itu awalnya muncul dalam diri, yang memiliki pengertian kegigihan memperjuangakan sesuatu hal yang sangat diyakini, seperti halnya keyakinan berketuhanan. Apalagi aspek Tuhan dalam agama merupakan hal inti, substansial. Umat agama militan membela keyakinan agamanya karena aspek Tuhan itu yang memberikannya semangat ekstra. Pantang mundur ketika berhadapan dengan penentang keyakinannya. Militansi masyarakat Bali misalnya, menjaga tradisi dan agama tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Sejak selesai masak di pagi hari menghaturkan banten saiban. Banten ini mengandung makna rasa syukur bahwa sang penguasa hidup sudah memberkati kehidupan. Oleh karena itu, banten saiban, baik langsung maupun tidak merupakan imbauan menjalankan kehidupan dengan rasa hormat. Pada rasa inilah nilai hampir seluruh rasa syukur itu dicurahkan. Begitu juga dengan segudang hari suci dalam penanggalan Bali.

Kehidupan masyarakat Bali bernafaskan Hindu secara mayoritas. Didalam menjalankan aktifitas religiusnya, masyarakat Bali sangat terbuka terhadap pengaruh theologi luar tanpa mengabaikan tradisi yang telah mengakar kuat yang diwariskan secara turun temurun. Bali dan Nusantara pada umumnya, tidak dibangun berlandaskan agama. Tetapi ia dibangun berdasarkan geo historis dan geo kultural, dengan mengutamakan rasa saling hormat menghormati antar sesama manusia, melakukan keselarasan dalam Alam, serta hubungan keselarasan dengan Tuhannya, lantas ketiga hal ini disebut dengan Tri Hita Karana. Ajaran inilah yang dialirkan para leluhur Nusantara dan Bali pada khususnya.

Berbicara masalah Hindu, ia disusun melalui tiga kerangka dasar yaitu, Tattwa adalah teologi agama, yang berperan sebagai justifikasi terhadap ajaran agama. Susila adalah pengetahuan tentang etika dan moral. Upacara adalah pengetahuan tentang tata cara yadnya atau persembahan suci, inilah inti dari pada makna agama. Selanjutnya dalam Tattwa atau teologi Hindu diajarkan tentang Sradha yang dipahami sebagai kepercayaan atau keyakinan. Sradha dalam agama Hindu berjumlah lima yang disebut Panca Sradha. Lima Sradha itu antara lain; percaya terhadap Brahman, artinya percaya akan adanya Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi. Percaya terhadap Atman, artinya percaya terhadap Sang Hyang Atman atau roh yang menjiwai hidup. Percaya terhadap Samsara, artinya percaya terhadap kelahiran kembali. Sradha yang terakhir adalah Moksa, artinya percaya terhadap kebahagiaan abadi. Jadi Sradha inilah sebagai syarat sebagai manusia Hindu.

Jika menengok kebelakang, mengenai sejarah keruntuhan Kerajaan Majapahit, jelas disebutkan diakibatkan memudarnya militansi para pemimpin Negara terhadap Sradha Kehinduannya, yang dahulu bernama Siwa-Buddha. Keruntuhan Kerajaan Majapahit patut dijadikan bahan renungan, tatkala para penguasa saat itu kehilangan militansinya terhadap ajaran keHinduan yang diwariskan oleh leluhur pendiri Majapahit. Keruntuhan kerajaan Majapahit bukan karena nenek moyang kita seorang yang tidak suka berperang demi kebenaran, namun nusantara ini hancur akibat masuknya ideologi luar yang merongrong pemikiran banyak pemimpin Nusantara yang berakibat pada perang saudara. Selain itu pemimpin saat itu tidak lagi mempedulikan rakyat, hanya mengutamakan pesta-pora, serta lupa terhadap pemujaan terhadap roh para leluhur pendiri bangsa yang disebut upacara Sradha.

Dari hal tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa leluhur masyarakat nusantara bagaikan seorang ibu yang telah berjasa terlampau besar kepada anak-anaknya. Sekalipun jika dihitung secara materi tetap terasa kita tak akan mampu melunasi budi baik orang tua kita dengan cara apapun. Orang tua kita telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan kita hari demi hari hingga dewasa. Sedangkan kita tak pernah bisa melakukan hal yang sama kepada orang tua kita. Demikian halnya dengan para leluhur perintis bangsa. Bahkan kita tak pernah bisa melakukan sebagaimana para leluhur lakukan untuk kita. Apalagi beliau-beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan kita menghadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Diakui atau tidak, banyak sekali kita berhutang jasa kepada beliau-beliau para leluhur perintis bangsa, yang telah mewariskan tatwa yang adi luhung. Sebagai konsekuensinya atas tindakan pengingkaran dan penghianatan kepada leluhur sama halnya perilaku durhaka kepada ibu bumi (pertiwi) kita sendiri yang dijamin akan mendatangkan malapetaka dahsyat. Itulah pentingnya kita tetap memelihara dan melestarikan hubungan yang baik kepada leluhur yang telah menurunkan kita khususnya, dan leluhur perintis bangsa pada umumnya.

Pengkhianatan terhadap leluhur bangsa, sama halnya kita menabur perbuatan durhaka yang akan berakibat menuai malapetaka untuk diri kita sendiri. Sudah menjadi kodrat alam sikap generasi penerus bangsa yang telah mendurhakai para leluhur perintis bumi pertiwi dapat mendatangkan hukuman, malapetaka besar yang menimpa seantero negeri. Sikap yang "melacurkan" bangsa, merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, hutan, sungai, pantai.

Tidak sedikit para penanggungjawab negeri melakukan penyalahgunaan wewenangnya, seperti anekdot jawa mengatakan "ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya agawe rekasa, tut wuri nyilakani", yang artinya mumpung didepan berkuasa, ditengah-tengah membuat rekayasa, dibelakang mencelakai. Seharusnya menjunjung tinggi ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.  Walaupun tidak semua orang melakukan perbuatan durhaka namun implikasinya dirasakan oleh semua orang. Sekilas tampak tidak adil, namun ada satu peringatan penting yang perlu diketahui bahwa, hanya orang-orang yang selalu eling (sadar) dan waspada (hati-hati) yang akan selamat dari malapetaka negeri ini.

Dengan demikian, kita patut menguatkan militansi kita. Bali khususnya merupakan Majapahit kecil sebagai barometer pelestarian Hindu Nusantara. Mulai dari sekarang dan saat ini, kita harus belajar dari pengalaman yang telah terjadi. Karena ilmu pengetahuan serta pemikiran kita tak akan berubah tanpa adanya kegagalan atau ancaman, seperti ungkapan bijak mengatakan besi baja tak akan menjadi pedang tajam dan kuat apabila belum ditempa dengan keras. Begitu halnya dengan pemikiran manusia, tak akan cerdas dan kritis sebelum pernah mengalami kegagalan dan menemui masalah. Dari pemahaman ini pemuda dan pemudi Hindu, mulai saat ini mari pupuk militansi kita, lestarikan agama kita, pertahankan dab lestarikan kearifan lokal kita, mari militan untuk menyelamatkan Budaya leluhur kita.

Oleh: Putu Wawan
Source: Wartam Edisi 16 Juni 2016