Migrasi Galungan

Galungan adalah ritual keagamaan Hindu yang dilaksanakan secara rutin setiap Budha Kliwon Dungulan. Rutinitas ini menandai terjadinya perulangan religiusitas. Artinya, umat Hindu telah lama melaksanakan hari raya Galungan yang dihadirkan kembali pada ruang-waktu sakral. Kehadiran Yang Sakral dalam ritual agama menegaskan ciri religiusnya sekaligus membedakannya denaan aktivitas rutin lainnya yang bersifat profan. Oleh karena itu. perayaan Galungan dapat dipahami dalam dimensi religiusitas umat Hindu sehingga tidak menjadi tradisi yang kaku dan beku. apalagi nihil makna.

Religiusitas menjadi inti agama karena berpusat pada rasa dan kesadaran manusia akan hubungan dan ikatannya dengan Tuhan. Dalam religiusitasnya, manusia menyadari hubungannya dengan Tuhan sebagai Yang Kuasa mencip-takan dan memberikannya eksistensi. Dari kesadaran ini. manusia bersedia mengikatkan diri pada Tuhan melalui ketundukan dan kepatuhan melaksanakan ajaranNya. Dengan demikian, religiusitas menjadi azas, prinsip pengarah, dan penggerak tindakan beragama.

Seiring berjalannya waktu, juga religiusitas manusia mengalami pengenduran, bahkan acapkali terlupakan. Oleh karena itu, diperlukan ruang, waktu manusia merenungkan dan membangun kembali religiusitasnya. Di antaranya, melalui penyelenggaraan ritual keagamaan, baik sehari-hari, berkala, maupun insidental. Melalui ritual tersebut manusia tidak hanya menuntaskan kewajibannya beragama, tetapi yang lebih penting lagi adalah , dan tindakan religius sebagai momentum manusia merenungkan dan membangun kembali religiusitasnya. Di antaranya, melalui penyelenggaraan ritual keagamaan, baik sehari-hari, berkala, maupun insidental. Melalui ritual tersebut manusia tidak hanya menuntaskan kewajibannya beragama, tetapi yang lebih penting lagi adalah memupuk rasa dan kesadaran keagamaan. Singkatnya, ritual merupakan momentum untuk melakukan migrasi religiusitas. Dalam konteks inilah, hadirnya kembali ritual Galungan dalam rutinitas keagamaan umat Hindu perlu dibaca ulang dalam medan pemaknaan yang lebih luas.

Narasi tentang Galungan umumnya dibangun seputar perayaan kemenangan dharma melawan adharma. Pemaknaan ini tampaknya lahir dari hasil pemahaman dan penafsiran para tokoh Hindu terhadap sejumlah teks kesusasteraan Hindu, seperti Sri Aji Jaya Kasunu, Purana Bali Dwipa, Panji Malat Rasmi, dan Sundarigama. Misalnya, upacara Galungan kerapkali dikaitkan dengan mitologi kemenangan Bhatara Indra atas Maya Danawa seperti diceritakan dalam lontar Sri Aji Jaya Kasunu. Malahan ada pihak yang berusaha mengaitkannya dengan perayaan Durgapuja (Nawaratri) dan Sraddha Wijaya Dasami di India. Penggalian makna secara tekstual rupanya, semakin memperkuat narasi tersebut, bahkan berhasil membangun struktur kognitif umat Hindu tentang makna hari raya Galungan.

Walaupun demikian, justru perayaan Galungan dalam teks sosial acapkali menampilkan fenomena yang berbeda. Galungan cenderung identik menjadi ritual keagamaan yang dirayakan dengan penuh suka-cita, bahkan tidak jarang bernuansa foya-foya. Ritual ini telah dipersiapkan begitu rupa sejak jauh hari sebelumnya. Pada satu sisi, perayaan Galungan berhasil mempertontonkan ekspresi religiusitas umat Hindu yang demikian mengesankan. Kegairahan umat Hindu dalam melakukan pemujaan dan persembahan dibalut dengan indahnya atribut-atribut ritual, seperti penjor dan wastra palinggih. Namun pada sisi yang lain, juga Galungan acapkali menjadi arena perayaan hasrat liar manusia, seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Perayaan Galungan seolah-olah menjadi momentum paling tepat untuk melampiaskan hasrat yang sebelumnya terkekang oleh berbagai aturan sosial. Begitu permisifnya dunia sosial terhadap berbagai aktivitas umat Hindu pada saat Galungan, sepertinya hendak menegaskan bahwa "saat Galungan, apapun wajar dan sah dilakukan".

Tampaknya kewajaran yang serba sah tersebut perlu dibaca ulang dalam situasi sosial dan suasana budaya yang berbeda. Untuk itu diperlukan kehati-hatian ketika hendak mengurai kesenjangan yang terjadi antara kondisi ideal dan fenomena aktual dalam perayaan Galungan. Mengingat keduanya memiliki kebenaran masing-masing terutama dalam konteks tradisi. Galungan merupakan tradisi ritual yang telah diwarisi dan dilaksanakan umat Hindu secara turun-temurun. Boleh jadi, perilaku umat Hindu dalam merayakan Galungan pada masa kini merupakan pengulangan tindakan dari masa lalu. Hal ini sejalan dengan pandangan Giddens (2003) bahwa tradisi berkaitan dengan memori kolektif. Artinya, terjadinya pengulangan tindakan merupakan keniscayaan kultural karena tradisi telah mengkonstitusi memori masyarakat mengenai tindakan tersebut. Walaupun demikian, mempertahankan tradisi dengan mengabaikan perubahan ruang, waktu, dan kesadaran, justru berlawanan dengan hakikat tradisi yang senyatanya begitu dinamis dan cair.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi undangan moral bagi umat Hindu untuk segera melakukan 'migrasi Galungan'. Migrasi dimaksud adalah perpindahan dari tradisi lama ke tradisi baru dalam rangka pengembangan religiusitas. Pernyataan ini tidak berarti bahwa umat Hindu harus meninggalkan tradisi Galungan dan mencari tradisi ritual yang baru. Akan tetapi, spirit perayaan Galungan yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi zaman memang harus segera ditinggalkan lalu, menggantikannya dengan spirit baru yang lebih mencerahkan. Migrasi ini mensyaratkan keseriusan dan kesungguhan umat Hindu melakukan reinterpretasi dan rekontekstualisasi Galungan yang selaras dengan kondisi zaman. Dengan cara demikian, tradisi Galungan akan tetap terpelihara dan senantiasa fungsional bagi umat Hindu dalam meniti kehidupan masa kini serta memimpin kehidupan menuju ke masa depan.

Migrasi Galungan harus dimulai dengan kesadaran bahwa tradisi lama sudah tidak mampu lagi menyediakan ruang yang nyaman bagi penyemaian nilai-nilai religiusitas. Degradasi dan dekadensi nilai yang terjadi pada berbagai aspek kehidupan masyarakat telah meluluhlantakkan keluhuran makna Galungan. Dharma yang menjadi inti nilai perayaan Galungan kian sumir dan samar seiring dengan sikap permisif masyarakat terhadap perilaku adharma. Hubungan dan ikatan dengan Tuhan terasa hanya berhenti pada rutinitas ritual yang terbatas pada ruang-waktu tertentu saja. Di luar itu, arena-arena sosial berubah menjadi panggung terbuka bagi perayaan hasrat individu. Malahan nilai ritual itu sendiri, juga semakin terdegradasi seturut dengan menguatnya gejala schizofrenia ('kegilaan') beragama. Bagaimana tidak! Seluruh energi material nyaris dihabiskan hanya untuk merayakan Galungan, apalagi dibumbui aroma persaingan antar individu dengan perilaku jor-joran. Seolah-olah Galungan menjadi kesempatan untuk berpesta menuntaskan segala nafsu-keinginan dan tidak peduli lagi dengan kebutuhan yang semakin berkembang.

Apabila tradisi lama telah menjadi memori kolektif yang sulit dikontrol pengaruhnya, maka perlu dibangun tradisi baru yang dapat dimulai dari kesadaran individu menuju kesadaran kolektif. Melalui reinterpretasi, rekontekstualisasi, dan restrukturisasi tradisi "lama setiap individu dapat menjadikan dirinya aktor sekaligus agen untuk membangun tradisi baru. Tentu saja tradisi baru ini harus menjadi arena yang produktif bagi pengembangan religiusitas individu yang di dalamnya peran perayaan Galungan tidak boleh dilupakan. Religiusitas dikembangkan melalui penataan kembali hubungan dan ikatan dengan Tuhan, sesamanya, dan lingkungannya. Dharma seharusnya menjadi prinsip pengarah dan penggerak tindakan manusia dalam ketiga aspek tersebut demi terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan. Dengan demikian, tradisi baru Galungan benar-benar dapat mencapai maksud dan tujuannya menjadi rumah paling nyaman bagi pengembangan religiusitas umat Hindu.

Kiranya, migrasi Galungan hanya mungkin diwujudkan dalam dan melalui aktivitas praksis. Mengingat hakikat rekonstruksi dan reproduksi sosial adalah tindakan praktis yang berakar pada nilai-nilai keseharian dengan penekanan kuat pada ruang dan waktu. Tradisi Galungan dengan elastisitas dan kedinamisannya harus dipertahankan dengan melakukan reinterpretasi dan rekontekstualisasi nilai secara berkesinambungan. Dengan demikian, dharma yang menjadi inti Galungan senantiasa memimpin tingkah laku umat Hindu dalam mengarungi perubahan zaman. Rahayu!

Source: Nanang Sutrisno l Wartam Edisi 5/Juli/2015