Merunduk Dalam Kemuliaan

Bhavanti namrastaravah
phalagamaih navambubhir bhuri
vilambinoghanah anuddhatah sat-purusah
samrddhibhih svabhava evaisa paropakarinam
(Abhijnana Sakuntala 5.114)

Pepohonan menjadi merunduk rendah sampai menyentuh tanah karena penuh berisi buah yang sangat banyak dan matang manis, mendung menjadi merunduk ke bawah karena penuh dengan air hujan siap membuat bumi ini menguning dan menghijau. Seperti itulah orang-orang bijaksana, sama sekali tidak terganggu oleh kemampuan yang dimilikinya, karena mereka secara alami sudah menjadi tunduk hati.

Ada peribahasa, "Semakin berisi padi semakin merunduk". Rahmatnya sangat sederhana dan hampir tidak ada anak bangsa yang tidak hafal dengan peribahasa ini. Akan tetapi, biasanya apa pun yang sudah terbiasa kita lihat atau kita berdekatan sehari-hari dengannya, maka kita cenderung akan mengabaikan keutamaannya. Peribahasa India mengatakan "Chiraag tale andheraa", orang Barat akan mengatakan "darkness reigns at the foot ofthe lighthouse". Demikian pula dengan peribahasa ini, pada umumnya orang meng-abaikan kepentingan pesan sangat indah yang dibawakan oleh peribahasa ini yang mampu mengubah hidup orang menjadi hidup yang sangat muha. Kita mengabaikan ajaran-ajaran leluhur sebaliknya sangat menggebu-gebu memburu segala sesuatu yang berbau modernisasi.

Selain pesan dalam bentuk peribahasa, leluhur kita sering pula memberikan pesan berupa tindakan-tindakan mulia yang secara langsung sudah menjadi "kitab suci" penuntun hidup. Akan tetapi, tanpa rasa bersalah sedikit pun ternyata kita para keturunannya dengan sangat mudah mengabaikannya, bahkan tidak sedikit pula yang mencibir terhadap ajaran leluhurnya.

Para Rakawi dan orang-orang bijaksana pada zaman dahulu tidak pernah mencantumkan namanya di dalam karya-karya agungnya. Kalau tokh ada, mereka akan menuliskan nama samaran yang mendidik, seperti misalnya Mpu Tantular, Mpu Prapanca, dan lain-lain.

Mpu Tantular menuliskan namanya demi memberikan pengajaran perihal tunduk hati. Tantular berarti dia yang tidak pantas diikuti, tidak patut diteladani. Betapa tunduk hatinya seorang Rakawi hebat seperti beliau. Tidak tinggi hati dan tidak sombong karena keterpelajarannya. Sedangkan Mpu Prapanca berarti beliau yang mempunyai pra (kelemahan) pahca (5), lima jenis kelemahan atau kekurangan. Begitu merendahnya beliau-beliau yang super hebat tersebut. Memiliki segala kehebatan murni tetapi mengatakan diri penuh dengan kekurangan.

Ketundukan hati yang sama juga bisa kita pelajari dari Arjuna ketika menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sri Krsna, "karpanya-doso'pahata-svabhavah prcchami tvam dharma-sammudha-cetah, yacchreyah syan niscittam bruhi tan me sisyas te'ham sadhi mam tvam prapannam." (Bhagavad-gita 2.7).

Arjuna mengatakan bahwa kesadarannya menjadi sangat lemah dan kalut dipenuhi kebingungan tentang kewajibannya. Ia juga mengatakan pikirannya bodoh sempurna, walaupun sesungguhnya ia adalah siswa 'comlaude' yang dibanggakan oleh Guru Drona. Arjuna memohon agar Krsna memberitahukan dengan pasti kepadanya, apa yang lebih baik yang harus dilakukan oleh Arjuna? Ia segera menundukkan diri dengan mengatakan, "Hamba adalah murid Anda, berikanlah pelajaran kepada hamba, dan hamba menyerahkan diri sepenuhnya pada Anda".

Sebagai seorang pangeran, Arjuna adalah orang terpelajar, namun ketika ia menghadapi kebingungan, Arjuna menyerahkan dirinya pada Sri Krsna yang ia nyatakan sebagai gurunya. Walau terpelajar, Arjuna masih merasa memerlukan seorang guru. Sebaliknya, orang-orang kebanyakan yang merupakan produk zaman modern, membiarkan diri "tanpa rem" melaju kencang dalam kecepatan laju globalisasi, teknologi dan informasi. Orang berlomba-lomba untuk menjadi sesuatu yang para leluhur bahkan sering menghindari dan menjauhinya. Sedangkan kebanyakan orang nlodern tidak tertarik bercermin pada cermin jernih leluhur.

Mereka yang ingin menjadikan hidupnya berarti guna lahir dan batin maka mereka tidak akan merasa terkebelakang ketika belajar ke belakang, kepada ajaran dan tradisi leluhur. Kutipan di atas menunjukkan Rakawi India yang sangat hebat dan terkenal bernama Kalidas (a) memberikan pesan bahwa orang-orang yang benar-benar terpelajar, secara alami akan menjadi tunduk hati bagaikan pepohonan lebat buah menjadi merunduk dengan sendirinya (bhavanti namrastaravah phalagamaih). Sebagaimana pepohonan merunduk karena berat oleh buah, seperti itulah orang-orang bijaksana terpelajar menjadi tunduk hati karena "berat" oleh keluasan pengetahuan yang dimilikinya.

Biasanya, orang-orang yang sedikit pengetahuan dan pengala-man akan menjadi kebanggaan berlebihan. Mereka bertingkah yang aneh-aneh memaksakan diri "eksis", padahal mereka tidak kurang dan tidak lebih hanyalah pohon padi yang sudah ditinggalkan oleh isinya. Mereka mencuat ke atas menjadi paling tinggi dan paling kelihatan, padahal dia hanya suatu "kemasan" yang sudah di-"bye-bye" oleh isinya.

Banyak terjadi di dunia, orang-orang zaman sekarang dikenal dan diburu karena "kemasan", sedangkan zaman dahulu orang diburu dan dimuliakan karena "isi". Ketundukan hati merupakan sebuah harta karun sangat penting dan berharga. Bukan hanya pada pergaulan biasa sehari-hari, melainkan juga pada hidup spiritual. Orang tidak mungkin memajukan diri di dalam spiritual ketika mereka gagal dalam menurunkan serta menundukkan egonya. Ketundukan hati merupakan sebuah keharusan untuk meningkatkan diri di dalam pencarian spiritual.

Seorang tokoh spiritual besar di daerah Benggala, India Timur bernama Shri Chaitanya Mahaprabhu dalam karya terkenalnya "Siksastaka" sangat menekankan perihal ketundukan hati di dalam jalan spiritual, "trnad api sunicena", bahkan orang hendaknya menundukkan egonya sedemikian rupa, bila perlu lebih rendah dari rerumputan di jalan.

Leluhur Jawa dan Bali sangat ahli memberikan ajaran tinggi dan muha melalui "malajah sambil magending", dan "magending sambil malajah" alias belajar sambil bernyanyi dan bernyanyi sambil belajar. Siapa yang tidak mengenal Pupuh Ginada berikut? "Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, gaginane buka nyampat, anak sai tumbuh luhu, Uang luhu buke katah, yadin ririh, enu liyu palajahan". (jangan merasa diri mampu, biarlah orang lain yang menilai, kegiatan (belajar) itu bagaikan menyapu, betapa sering muncul sampah, hilang sampahnya debunya masih banyak, walau terpelajar, masih banyak yang (harus) dipelajari).

Untaian lagu sederhana ini mengajarkan ketundukan hati bagi orang-orang yang terpelajar. Walau terpelajar, leluhur kita menghindari meninggikan egonya sambil tetap menambah ilmunya terus, dari mana saja dan dari siapa saja. Mereka berpendapat masih banyak pengetahuan muha lain yang bertaburan di dunia ini yang perlu dipelajari.

Sama dengan Bali, leluhur Jawa pun mewariskan lagu ketundukan hati yang sama. Saya belajar tembang Mijil ini dari almarhum Prof. Drs. Budya Pradipta Ph.D di India, ketika saya membantu mengedit tesis beliau khususnya istilah-istilah Sansekertanya. Tembang Mijil, lagu tradisional Jawa, yang dari turun temurun telah menjadi pegangan hidup bagi seseorang yang hendak memperoleh keahlian dan daya lebih: Dedalane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane, tumungkula yen dipun dukani, bapang den simpangi, ana catur mungkur (Jalan untuk memperoleh keahlian dan daya lebih, haruslah senantiasa tunduk hati, berani mengalah luhur akhirnya, menunduklah apabila dimarahi, rintangan apa pun hendaknya dihindari, (kalau) ada pembicaraan tidak baik abaikanlah.

Pupuh Pangkur berikut yang dikutip dari Serat Wedhatama (asmaraambanguncipta.wordpress.com) juga mengajarkan ketundukan hati yang baik: mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we reseping ati, bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip (demikianlah ilmu yang nyata, senyatanya memberikan ketentraman hati, tidak merana dibilang bodoh, tetap gembira jika dihina tidak seperti si dungu yang selalu sombong, inein d setiap hari. janganlah begitu caranya orang hidup).

Akhirnya, ada pertanyaan untuk kita semua: Jika leluhur kita kaya-raya, mengapa kita tetap miskin?

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Paing, 22 Mei 2016