Merendah Itu Indah

Ada tiga bentuk perilaku untuk mewujudkan kasih sayang, di antaranya, yaitu keikhlasan, keyakinan, dan pengorbanan. Pelaksanaan kasih saying sehari-hari dalam komunikasi di dalam keluarga, masyarakat maupun pemerintahan antara lain: (a) mau mendengarkan dan didengarkan. (b) bagaikan kelenturan air, terutama dalam keadaan normal, tidak mengalah maupun mengalahkan. (c) pohon tidak dipaksa minggir, batu tidak disuruh pergi, namun pada saat yang sama berhasil mengalir penuh kelenturan. (d) sebagai kesimpulan, air mengajarkan kita untuk keluar dari dikhotomi menang-kalah. Air sebagaimana ulasan di atas memiliki tiga ciri pada saat yang sama tidak mengalah, tidak mengalahkan dan berhasil sampai ke tujuan. (e) orang buta yang memegang kaki gajah dan menyebutnya sebatang pohon dan orang buta yang memegang badan gajah menyebut mahluk itu tembok. Jika pertanyaan ini  yang sering digunakan, maka ketiganya keliru. Karena makhluk itu bukanlah ular, bukan batang pohon, dan bukan tembok. Jawaban dalam bentuk gajah lebih mungkin ditemukan jika pertanyaannya “mahluk apa yang memiliki ketiga ciri tersebut pada saat yang sama?”. Dengan kata lain ketiga sudut pandang yang ber berbeda tadi bukannya dipertentangkan, melainkan dipersatukan untuk mencapai tujuan.

Haru, terkejut, sedih bercampur menjadi satu ketika seseorang kakak menelpon dan mengabarkan bahwa ibu tercinta telah tiada. Masih teringat jelas bagaimana sosok ibu melindungi anak-anaknya dalam banyak kesempatan sambil menangis, anak-anaknya yang disusui ibu sampai kelas satu sekolah dasar. Setiap kali pulang sekolah anak-anak mencari pengakuan ibunya untuk meminum susu yang terenak, tersehat, dan terbaik di dunia. Hanya kurang dari sebulan beliau pergi ke tempat yang amat jauh, anak-anaknya masih sempat memapahnya mendekati rangkaian tangga di sebuh tempat sembahyang. Ketika seorang sahabat dekat bertanya, “kenapa mesti anak-anaknya yang memapahnya?” dengan spontan menjawab, “sedang membuat kenangan indah bersama orang yang amat saya cintai. Dan ibu yang berada di sebelah saya hanya bisa tersenyum kecil.”

Masih ada segunung kenangan yang ditinggalkan ibu buat anak-anaknya. Dari sedemikian banyaknya duka kematian yang pernah dialami, kematian seorang ibu termasuk kenangan berat dalam hidup. Tidak hanya memproduksi sekumpulan air mata, gunungan duka, rencana-rencana cinta yang tidak bisa dilaksanakan, tetapi juga hutang-hutang cinta yang belum bisa terbayar.

Sebagaimana manusia lainnya, tidak seorang pun yang dapat membayar hutangnya secara lunas kepada orang tuanya, apalagi ibu. Sudah menjadi kodrat hidup setiap orang kalau kita harus berhutang pada orang tua. Namun hutang menjadi lebih besar lagi kalau kita hidup dalam kuantitas dan kualitas cinta orang tua yang di atas rata-rata. Latar belakang inilah yang membuat seorang anak demikian kehilangan pada saat ibunya wafat. Entah dari mana datangnya inspirasi, ketika keluarga meminta salah seorang anaknya memberi sembah sebelum liang lahat ditutup. Tiba-tiba saja teringat serangkaian kata-kata maaf yang tidak tahu datang dari mana, yang sangat menyentuh hati:

Kereta bukanlah kereta, sebelum ia dijalankan
Nyanyian bukanlah nyanyian, sebelum dinyanyikan
Genta bukanlah genta, sebelum dibunyikan,
Cinta bukanlah cinta, sebelum dilaksanakan

Yang membuat hutang anak-anak kepada ibu demikian menumpuk dan menggunung, karena ia mewariskan sebuah kekayaan hidup yang paling berguna. Cinta yang telah dilaksanakan betapa pun kuatnya emosi ini, air mata siapa pun akan jatuh apabila ditinggal Ibu yang melaksanakan cintanya secara amat mengagumkan.

Ini semua seperti akan bertutur jelas kepada anak-anaknya, bukan genta, bukan kereta yang membuat orang itu dikenang lama, melainkan perangkat-perangkat sikap yang penuh dengan warna cinta dan berbeda dengan kereta dan genta. Sikap-sikap jenis terakhir yang tidak hanya membahagiakan orang-orang yang diberikan, ia juga membahagiakan siapa saja yang melakukannya dengan penuh keikhlasan.

Mekarnya Bunga di Hati

Dalam taman kehidupan manusia manapun ada tertanam pohon-pohon bunga yang bernama Bunga Hati. Begitu kita dilahirkan, bunga itu sudah ada mirip dengan tanaman yang sebenarnya. Pohon-pohon bunga tadi membutuhkan upaya pemeliharaan yang rapid an telaten. Ada kegiatan menyiram memupuk, menyuburkan tanah, dan yang paling penting pohon-pohon bunga (baik yang pengabdian maupun yang sebenarnya) memerlukan sentuhan-sentuhan tangan yang penuh dengan cinta dan kasih saying. Dalam sentuhan cinta dan kasih saying terakhir, tidak ada pohon yang bunganya tidak mekar.

Seperti halnya suatu rumah yang memiliki beberapa pohon bunga, yang karena lokasinya mudah disentuh dan elus sehingga menghasilkan bunga yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pohon bunga yang jarang disentuh. Inilah spiritual bagi siapa saja yang menginginkan bunga-bunga hati ini akan tetap berbau harum meskipun setelah badan kasarnya dinyatakan tiada.

Monument-monumen jehidupan mereka memang tidak menonjol dalam bentuk fisik, tetapi monument-monumen hatinya mempengaruhi kehidupan hati banyak orang. Ada sebuah ciri yang layak untuk diperhitungkan kesediaan untuk hidup jauh lebih tinggi dari sekadar memuaskan diri sendiri.

Kalah itu Indah

Dalam pertandingan, kalah sebenarnya bersifat mulia. Dikatakan bersifat mulia karena di bahu pihak-pihak yang kalah kemuliaan dan kedamaian pertandingan ditentukan. Untuk menang, kita tidak memerlukan kearifan dan kebesaran jiwa. Semuanya serba menyenangkan, bermandikan tepuk tangan, kekaguman orang, dan yang paling penting keluar dari lapangan berselimutkan pujian banyak orang. Jika kalah ceritanya jauh sekali berbeda, kekalahan adalah gurunya kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan yang tidak ada tandingannya. Yang paling penting disini adalah siapa saja yang kalah, kemudiaan bisa keluar dari rasa pertandingan dengan tersenyum ikhlas dan menyalami pememangnya. Merekalah pemimpin yang sebenarnya tanpa jabatan, pasukan, kekuasaan, tahta, pujian dan tepuk tangan orang lain.

Merendah itu Indah

Sebagaimana dikatakan Gede Prama dalam sebuah bukunya (2001), air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Satu-satunya sebab yang membuatnya demikian adalah karena laut berani merendah. Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana yang hidup, dan semua ini peroleh lebih banyak karena keberanian untuk merendah. Kita akan bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati.

Tuhan lebih dari sekadar rumah buat jiwa, ia adalah kuil suci yang tidak hanya perlu dirawat, dibersihkan dan renovasi. Lebih dari itu, Ia adalah sebuah tempat dimana jutaan doa dibacakan, dan yang paling penting tempat dimana Tuhan sering berkunjung.

Ajaran Welas Asih dalam Kehidupan

Jika ada orang yang menyusahkan kita, anggaplah tumpukan rejeki. Mulai hari ini, belajar sedapat mungkin menyenangkan hati orang lain. Walaupun terasa pahit dalam kehidupan, tetapi dengan tujuan mulia itu bahagia. Lari, beralarilah dengan cepat untuk mengejar hari esok yang lebih cerah. Bersyukurlah dan merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini. Setiap ada orang yang memberimu satu berusahalah mengembalikannya sepuluh kalilipat. Hargailah kebaikan orang kepadamu, tetapi lupakanlah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan atau dihukum, maka kamu akan dapat pahala. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan itu merupakan hukuman. Orang yang benar kita bela, tetapi yang salah kita beri nasehat. Jika perbuatan benar kamu difitnah dan dipersalahkan tetapi kamu menerimanya, maka akan datang rejeki kepadamu yang berlimpah. Semua ujian dan cobaan bagi batin dan mental itu akan terhenti, tepat saat kau berhasil menghentikan keluhan-keluhanmu yang berlimpah. Semua ujian dan cobaan bagi batin dan mental itu akan berhenti, tepat saat kau berhasil menghentikan keluhan-keluhanmu atas kesulitan hidup yang kau alami itu. Selama kau masih mengeluh selama itu hidupmu akan dipenuhi ujian dan cobaan.

Jangan selalu melihat mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu mengoreksi diri sendiri, itulah kebenaran. Orang yang baik akan kita ajak bergaul, tetapi orang yang jahat perlu kita kasihani. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka kedua orang itu akan dapat bersahabat sepanjang waktu.

Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan. Apabila engkau rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, janganlah sampai diketahui engkaulah penolongnya. Janganlag membicarakan sedikit pun kejelekan orang dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar. Apabila engkau mengetahui orang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah-lembut hingga orang tersebut menjadi lebih insyaf.

Mala petakan yang paling besar tidak lain adalah perasaan yang tidak pernah puas. Kekeliruan yang paling besar tidak lain karena ingin mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu dia yang merasa puas dengan keadaan memuaskan akan selamanya menikmati kepuasan.

Oleh: Nyoman Mider Adnyana
Source: Majalah Hindu Raditya, Edsisi 240, Juli 2017
Penulis adalah penekun spiritual pengikut perguruan spiritual Jnana Buda Siwa di Asram Lembah Bayam Dusun Bolangan Desa Babahan – Tabanan.